
Bayan dan Yunus membisu di dalam mobil yang dikemudikan Yunus. Keduanya nampak sibuk dengan pikiran masing-masing.
Yunus berdehem sambil melirik kearah sang majikan melalui kaca spion. Ia ingin memastikan jika kondisi Bayan baik-baik saja sebelum ia mulai membuka pembicaraan.
"Ehm ..., apa Bapak ga curiga sama paraji itu Pak ?" tanya Yunus tiba-tiba.
Bayan menoleh kearah Yunus sambil mengerutkan keningnya karena tak menyangka Yunus akan bertanya seperti itu.
"Kamu masih mikirin ceritanya Boris Nus ?" tanya Bayan.
"Iya Pak. Saya penasaran gimana cerita itu berakhir. Kayanya Boris tau sesuatu tapi dia sengaja menutupinya dari Kita. Mungkin dia takut atau diancam oleh seseorang. Apa dugaan Saya benar Pak ?" tanya Yunus.
Bayan tersenyum mendengar ucapan supir pribadinya itu. Ia senang karena setidaknya Yunus bisa diajak bicara tentang siluman kuyang selain Nathan tentunya.
"Masuk akal juga. Kan sepanjang cerita Boris ga sekali pun nyebutin gimana ciri-ciri si paraji itu. Menurut perkiraan Saya mungkin si paraji adalah orang yang disegani di kampung itu. Makanya Boris memilih tutup mulut. Dia keceplosan ngomong soal hantu kuyang karena Kita bertanya tadi, makanya dia terpaksa cerita biar Kita ga curiga. Tapi dia emang ga nyebut seperti apa si paraji itu," kata Bayan.
"Betul Pak. Jangan-jangan paraji sama orang yang nganut ilmu kuyang itu bekerja sama. Dan paraji lah yang ngasih kesempatan siluman kuyang itu untuk masuk ke kamar. Terus dia pura-pura ngumpet atau bahkan pura-pura pingsan supaya ga disalahin nanti," kata Yunus kesal.
"Keliatannya sih begitu. Saya juga penasaran sama cerita lanjutannya Nus. Kalo ada waktu, coba Kamu minta si Boris buat lanjutin ceritanya ya," pinta Bayan saat mobil mulai memasuki halaman rumah.
"Baik Pak," sahut Yunus cepat.
"Oh iya jangan lupa tanya juga gimana cara warga di sana menumpas kuyang. Saya perlu tau karena Kita kan pernah kedatangan siluman itu juga dulu. Saya hanya ingin berjaga-jaga karena Saya punya Cucu sekarang," kata Bayan sambil membuka pintu mobil.
"Siap Pak. Saya akan paksa Boris buat cerita lagi nanti," sahut Yunus hingga membuat Bayan tersenyum.
"Tapi ga usah pake kekerasan ya Nus. Kasian dia. Dan tolong rahasiakan tentang ini dari siapa pun. Cukup Kita dan Nathan aja yang tau," kata Bayan yang diangguki Yunus.
Kemudian Bayan turun dari mobil. Ia tersenyum saat melihat Anna berdiri menyambutnya di ambang pintu rumah. Hal yang selalu disukai Bayan karena dengan melihat senyum Anna rasa lelahnya usai bekerja seolah menguap entah kemana.
\=\=\=\=\=
Hilya nampak sibuk membantu pasien yang akan melahirkan hingga mengabaikan telephon suaminya. Nathan yang tahu jika istrinya sedang berada di ruang bersalin pun memilih duduk menunggu di ruang tunggu klinik.
__ADS_1
Ayu yang melihat Nathan duduk di ruang tunggu pun mendekat untuk menyapa.
"Udah lama Nath ?" tanya Ayu.
"Baru aja sampe Mbak. Hilya mana ?, lagi sibuk ya ?" tanya Nathan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan istrinya.
"Iya. Padahal pasiennya udah kontraksi daritadi dan pembukaan hampir sempurna tapi bayinya belum ada tanda-tanda mau keluar," sahut Ayu.
"Kok bisa ?, bukannya kalo udah pembukaan hampir sempurna artinya bayi udah siap lahir ?" tanya Nathan tak mengerti.
"Iya. Kayanya bayi itu lagi nunggu seseorang atau sesuatu. Ini sih cuma mitos, tapi kadang bisa dipercaya juga," sahut Ayu.
Nathan pun mengangguk karena sesungguhnya ia meragukan mitos itu. Kemudian Nathan menanyakan keberadaan Afiah untuk mengalihkan pembicaraan.
"Udah dibawa pulang sama Abinya tadi. Sebentar lagi jam kerjaku abis, tolong anterin Mbak sebentar ya Nath," pinta Ayu.
"Siap Mbak," sahut Nathan cepat.
"Tunggu Hilya di ruangannya aja Nath. Dia lebih senang ngeliat Kamu di sana daripada di ruang tunggu lho," kata Ayu mengingatkan.
"Iya Mbak," sahut Nathan sambil bangkit dari duduknya.
Ayu mengamati Nathan hingga sang adik ipar masuk ke dalam ruangan Hilya. Ia kagum dengan sikap Nathan yang mau meluangkan waktu menjemput sang istri setiap hari. Kemudian Ayu mengusap perutnya yang sedikit membuncit itu sambil tersenyum.
"Om Kamu sama banget sama Abi Kamu lho Nak. Sama-sama perhatian dan sayang sama Istri. Meski pun kadang terasa berlebihan, tapi jujur Ummi suka," gumam Ayu.
Sejak mengetahui dirinya hamil, Fikri memang jadi sedikit over protektif. Pria itu tak mengijinkan Ayu melakukan pekerjaan berat dan bepergian seorang diri meski pun jaraknya dekat seperti dari klinik ke rumah.
Biasanya Fikri akan mengantar jemput Ayu dan Afiah ke Klinik Bersalin Hilya. Jika pulang bekerja lebih awal, ia akan menjemput Afiah pulang agar tugas Ayu bisa sedikit lebih ringan. Lalu saat jam menunjukkan pukul delapan malam, Fikri akan kembali ke klinik untuk menjemput sang istri.
Setengah jam kemudian Hilya nampak keluar dari ruang bersalin dengan wajah lelah. Akhirnya ia berhasil membantu pasiennya melahirkan. Meski pun setelahnya sang pasien pingsan karena kelelahan.
Hilya melangkah ke ruangannya untuk menemui suaminya. Sebelumnya seorang perawat memberitahunya jika Nathan sudah datang dan menunggunya di ruang kerjanya.
__ADS_1
Melihat suaminya duduk sambil menatap ponsel, Hilya pun tersenyum. Ia terharu dengan pengertian Nathan.
Hilya mendaratkan tubuhnya di sofa di samping Nathan hingga membuat Nathan terkejut. Namun senyum Nathan pun mengembang saat tahu siapa yang telah berani mengejutkannya itu.
"Udah selesai ?" tanya Nathan sambil mengecup kening Hilya.
"Alhamdulillah selesai," sahut Hilya sambil menyandarkan tubuhnya di tubuh sang suami.
"Capek ya ?" tanya Nathan sambil merapikan anak rambut di kening Hilya.
"Banget. Soalnya si bayi sempet nolak untuk dilahirkan tadi. Kayanya dia nunggu sesuatu. Pas Aku tanyain sama pasien alias Ibunya si bayi, ternyata dia emang selalu mensugesti bayinya agar mau lahir saat Ayah si bayi datang. Itu kan merepotkan plus membahayakan. Bayangin gimana jadinya kalo dia keukeuh sama niatnya itu padahal bayinya udah harusnya lahir beberapa menit yang lalu. Bisa-bisa kan bayinya meninggal di jalan lahir," kata Hilya kesal.
"Tapi dua-duanya selamat kan ?" tanya Nathan.
"Alhamdulillah selamat. Cuma Ibunya sempet pingsan karena kelelahan terlalu lama menahan bayinya di jalan lahir," sahut Hilya sambil menghela nafas panjang.
"Syukur lah kalo gitu. Udah makan belum, mau makan ga ?" tanya Nathan.
"Kamu bawa apa emangnya ?" tanya Hilya karena biasanya Nathan membawakan makanan untuknya.
"Aku ga bawa apa-apa. Aku mau ngajak Kamu makan malam aja di luar nanti. Tapi jam delapan nanti Aku nganterin Mbak Ayu pulang sebentar ya," kata Nathan.
"Ok," sahut Hilya sambil tersenyum.
Hilya pun memejamkan matanya dan Nathan tak ingin mengganggu. Ia iba dengan kondisi Hilya yang kelelahan dan hampir tak punya waktu untuk dirinya sendiri.
"Kenapa Kamu ga cari Bidan lagi untuk bantuin tugas Kamu Sayang. Kamu kan juga perlu istirahat. Kalo ada Bidan lain kan Kamu bisa bagi shift sama dia," kata Nathan.
"Iya. Aku udah buka lowongan sejak beberapa hari yang lalu kok, tapi belum nemu yang sreg. Aku masih nyeleksi beberapa pelamar yang datang. Aku ga mau rekan kerjaku punya atittude yang buruk kaya Ersa. Kapok !" sahut Hilya dengan mimik wajah lucu.
Nathan pun tertawa melihat mimik wajah sang istri saat membicarakan mantan rekan kerjanya itu. Dalam hati Nathan berharap istrinya segera menemukan rekan kerja yang baik agar bisa diajak berbagi tugas di klinik itu nanti.
\=\=\=\=\=
__ADS_1