Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
68. Ayah Datang


__ADS_3

Nathan dan Ira berjalan berdampingan menyusuri jalan. Mereka melewati deretan rumah kost yang berjajar rapi di sepanjang jalan sambil bicara banyak hal.


"Kamu kok tau kalo Aku ada di Rumah Oren itu ?" tanya Ira penasaran.


"Aku ga tau kalo Kamu di sana. Waktu denger jeritan tadi, Aku langsung keluar dari rumah. Ga taunya ada beberapa warga juga yang mendengar jeritan itu dan semua berjalan menuju ke sana. Pas liat ada Kamu juga di sana, ya Aku ajak pulang sekalian. Aku yakin pasti Kamu juga ga bakal berani pulang sendirian ke rumah," sahut Nathan sambil tersenyum penuh makna.


Ira pun mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Ia bahagia karena Nathan tahu apa yang ia rasakan saat itu. Senyum Ira makin lebar saat Nathan menggandeng tangannya. Dalam kesempatan itu Ira pun menceritakan apa yang ditemuinya tadi.


"Masa sih, Kamu salah liat kali," kata Nathan usai Ira menceritakan penampakan hantu yang mirip Diana di ambang pintu kamar yang pernah ditempati almarhumah Diana.


"Ga lah, mataku masih awas ya. Lagian jarak dari teras ke kamar Diana kan ga sampe seratus meter. Apalagi lampu di rumah itu kan terang benderang. Aku yakin kalo itu hantu," sahut Ira bersikeras.


"Iya iya, Aku percaya kok. Wajar sih, Diana kan lama tinggal di sana dan berakhir mengenaskan alias ga wajar di sana," kata Nathan sambil merengkuh bahu Ira dengan lembut.


"Tapi ...," ucapan Ira terputus karena Nathan memotong cepat.


"Ga usah dibahas lagi. Udah sampe rumah nih," kata Nathan yang diangguki Ira.


Kemudian keduanya masuk ke halaman rumah Ira. Gadis itu tersenyum sambil mengucapkan terima kasih dengan tulus.


"Sama-sama. Aku balik sekarang, Kamu juga istirahat ya," kata Nathan sambil mengusap pipi Ira dengan lembut.


"Ok," sahut Ira cepat.


Saat Nathan akan kembali ke rumah kost, ibu Ira keluar dan menyapa Nathan.


"Makasih udah jemput Ira ya Mas," kata ibu Ira dengan ramah.


"Sama-sama Bu. Kalo gitu Saya pamit ya Bu," kata Nathan.


"Iya," sahut ibu kost.


Setelah Nathan berlalu, Ira dan ibunya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Nathan pun kembali ke rumah kost yang terletak tak jauh dari kediaman Ira. Setelah menutup pagar, Nathan pun duduk di teras untuk melaksanakan 'tugas' barunya menunggui teman-teman sekostnya pulang.


Sementara itu di waktu yang sama di Jakarta. Saat itu Anna sedang sibuk mempersiapkan pakaian suaminya yang akan dibawa keluar kota. Rupanya Bayan harus menemui rekannya di Semarang.


"Kalo tau kaya gini kan mendingan Aku bareng sama Ayah aja pulangnya," kata Nicko dari ambang pintu kamar.


"Ayah juga ga tau kok kalo klien Ayah minta ketemuan di Semarang. Kalo tau kan Ayah pasti minta Kamu buat stay di sana beberapa hari biar bisa pulang bareng Ayah," sahut Bayan.


"Kalian ngomong kaya gitu ga mikirin perasaan Bunda ya ?" tanya Anna sambil menatap anak dan suaminya bergantian.


"Maksud Bunda apaan sih ?" tanya Nicko tak mengerti.


"Kalo Ayah bilang sama Nicko supaya Nicko bertahan di Semarang dan Ayah berangkat ke sana, terus Bunda di sini sama siapa ?. Apa Kalian tega biarin Bunda di Jakarta sendirian ?" tanya Anna kesal.


"Kan Bunda bisa ikut Ayah juga. Jadi Kita kumpul di Semarang. Sambil nunggu Ayah kerja, Bunda kan bisa main sama Aku dan Abang. Kayanya seru tuh," sahut Nicko cepat.


"Betul juga. Bunda sama Ayah bisa tinggal di hotel dan Kamu tinggal sama Abang. Gitu kan maksud Kamu ?" tanya Anna yang diangguki Nicko.


Bayan pun tersenyum mendengar rencana anak dan istrinya itu.


" Iya Yah," sahut Nicko sambil menepi agar sang ayah bisa lewat.


Bersamaan dengan itu terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumah. Tak lama kemudian Yunus masuk ke dalam rumah dan memberi tahu jika Rama datang untuk menjemput Bayan.


Bayan pun mengangguk lalu berpamitan pada anak istrinya. Kemudian Anna dan Nicko mengantar Bayan hingga ke teras rumah.


"Ayah emang keliatan buru-buru banget ya Bund," kata Nicko saat mobil Rama berlalu.


"Iya. Klien Ayah juga ga punya waktu banyak di Indonesia, makanya Ayah harus gercep biar ga kehilangan investor kakap," sahut Anna.


"Ribet ya. Makanya Aku ga suka bisnis. Aku lebih suka melukis," kata Nicko sambil berlalu.


Anna tersenyum mendengar ucapan si bungsu. Setelah menutup pintu, Anna pun menyusul Nicko masuk ke ruang tengah.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Saat pagi hari Nathan dikejutkan dengan kehadiran Bayan dan Rama di ruang tamu. Saking senangnya Nathan menghambur ke pelukan ayahnya. Rama yang menyaksikan Nathan memeluk ayahnya pun tertawa.


"Kangen banget ya sama Ayahnya," ledek Rama.


"Iya, apa kabar Om ?" tanya Nathan yang langsung mencium punggung tangan Rama usai memeluk ayahnya.


"Alhamdulillah baik. Semoga Kamu juga baik ya Nak. Gimana kuliahnya, lancar kan ?" tanya Rama sambil mengusap kepala Nathan dengan sayang.


"Alhamdulillah lancar Om. Terus kenapa Ayah sama Om ga ngasih kabar kalo mau ke sini. Kalo tau bakal ke sini kan biar Nicko Aku tahan di sini. Sayangnya Nicko udah balik ke Jakarta dua hari yang lalu," kata Nathan sambil duduk di samping ayahnya.


"Ini mendadak Bang. Nicko juga ngomong gitu sama Ayah semalam. Tapi gapapa, insya Allah lain waktu Kita atur waktu biar bisa kumpul di Semarang ya," sahut Bayan sambil tersenyum.


"Iya Yah," sahut Nathan.


Kemudian Nathan masuk ke dapur lalu menyeduh kopi untuk Bayan dan Rama. Sedangkan Rama dan Bayan sedang berbincang dengan teman-teman sekost Nathan yang keluar untuk menyambut mereka.


Melihat suasana dan situasi rumah kost yang ditempati Nathan membuat Bayan dan Rama senang. Mereka tak perlu khawatir Nathan akan mengalami kesulitan karena punya teman yang bisa diandalkan seperti Ferdi, Mario dan lainnya.


Tak lama kemudian Nathan keluar sambil membawa nampan berisi dua gelas kopi dan sepiring gorengan.


"Masa jauh-jauh dari Jakarta disuguhin ginian doang sih Nath," protes Mario.


"Sabar dong. Baru ini yang Gue temuin di dapur," sahut Nathan cepat.


"Ya udah, Gue aja yang beli. Sebentar ya Om, Saya cariin cemilan enak buat temen kopi," kata Mario.


"Ga usah repot-repot, Om ga lama kok di sini," sahut Bayan sambil tersenyum.


"Ga repot kok Om !" sahut Mario dan dua temannya yang berjalan keluar rumah.


Bayan dan Rama pun mengangguk senang melihat sikap teman-teman Nathan itu.

__ADS_1


Tiba-tiba suara seorang wanita terdengar memberi salam. Semua menjawab salam bersamaan. Nathan nampak tersenyum lalu bergegas melangkah menuju pintu. Aksi Nathan membuat Bayan menoleh kearah pintu. Ia terkejut melihat seorang wanita cantik berdiri malu-malu di teras.


\=\=\=\=\=


__ADS_2