
Sudah bisa diduga jika pertemuan Nathan dan Hilya akan berlanjut karena Nathan terus menghubungi Hilya.
"Apa mereka ke Rumah Sakit lagi hari ini?" tanya Nathan melalui sambungan telephon.
"Ga perlu. Mereka udah gapapa kok. Luka mereka udah sembuh. Kalo cuma bekas luka aja kan gapapa karena mereka laki-laki. Lain ceritanya kalo mereka perempuan. Mungkin Aku akan minta Kamu membiayai biaya operasinya sampe sembuh dan mulus seperti semula," kata Hilya cepat.
Ucapan Hilya membuat Nathan tertawa. Meski pun diucapkan dengan ketus, tapi Nathan tahu jika Hilya hanya bergurau. Sedangkan di seberang sana wajah Hilya nampak merona karena bahagia. Ia membayangkan wajah tampan Nathan saat tertawa.
"Kalo gitu Aku tutup dulu ya. Semoga setelah ini Kita masih punya kesempatan untuk ketemu lagi. Kalo suatu saat ketemu di jalan jangan pura-pura ga kenal ya," pinta Nathan sungguh-sungguh.
"Iya," sahut Hilya cepat.
"Tapi ngomong-ngomong boleh kan kalo ngajak Kamu hang out bareng ?" tanya Nathan penuh harap.
"Mmm ... boleh. Tapi jangan dadakan ya. Soalnya Aku masih harus bantuin Nenek sama Kakek," sahut Hilya ragu.
"Siap !" kata Nathan di akhir pembicaraan mereka.
Rupanya selain untuk menanyakan kabar ketiga sepupu Hilya yang bernama Varel, Angga dan Bima itu, Nathan juga punya maksud terselubung pada Hilya. Ia ingin mengenal Hilya lebih dekat dan jika memungkinkan akan melamarnya untuk dijadikan istri.
Niat Nathan itu diceritakan pada sang ayah. Bayan yang khawatir jika Nathan kecewa pun menasehatinya.
"Ga usah buru-buru Nath. Ayah ga mau Kamu kecewa lagi. Selain itu Kami ga maksa Kamu untuk cepat menikah kok. Kami paham kalo Kamu masih butuh waktu untuk melupakan kenangan bersama Mia," kata Bayan bijak.
"Aku ga buru-buru Yah. Aku cuma khawatir cewek itu keburu dinikahin sama orang lain," sahut Nathan gusar.
"Apa Kamu benar-benar jatuh cinta sama gadis itu ?" tanya Bayan.
"Iya Yah. Aku merasa hidupku belakangan ini lebih berwarna karena dihiasi namanya," sahut Nathan cepat.
Namun jawaban Nathan membuat Bayan tersenyum. Ia menepuk bahu Nathan untuk menenangkan sang anak.
"Hati-hati Nak. Kagum dan cinta itu beda tipis. Jangan sampe Kamu menyesal karena salah mengartikan perasaanmu sendiri. Kalo Kamu terlanjur menikahinya, jalan untuk bercerai dan mengakhiri semuanya akan sulit. Jadi sebelum terlambat, pikirkan baik-baik apa yang akan Kamu lakukan," kata Bayan.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Bayan pun berlalu meninggalkan Nathan seorang diri. Ia ingin memberi waktu pada Nathan untuk menyelami perasaannya.
"Ayah benar. Mungkin Aku terlalu terburu-buru mengartikan perasaanku. Hilya memang gadis yang menarik. Dia cantik, tangguh, tegas dan pekerja keras. Kepribadiannya mirip sama Mia. Mungkin Aku merindukan Mia dan secara ga sadar menemukan sosok Mia dalam dirinya. Ini salah. Ga seharusnya Aku menjadikan Hilya sebagai pelarian. Mulai sekarang Aku akan berhenti mengejar Hilya. Jika Kami berjodoh pasti bakal ketemu lagi nanti," gumam Nathan sambil mengusap wajahnya.
Dan malam itu Nathan memutuskan menjaga jarak dari Hilya.
Namun sekuat apa pun Nathan mencoba melupakan Hilya, selalu ada jalan untuk bertemu kembali dengan gadis itu. Seperti hari itu.
Nathan dan teman-temannya usai berlatih untuk menghadapi pertandingan final antar club sepak bola. Mereka menyusuri trotoar menuju halte karena kebetulan Nathan tak membawa kendaraan. Sebenarnya mereka bisa menggunakan Taxi on line agar tiba lebih cepat di rumah masing-masing. Tapi mereka memutuskan untuk jalan kaki karena terasa lebih menyenangkan.
"Balik yuk, udah malam nih," ajak Nathan usai meneguk kopi di gelasnya.
"Sebentar lagi Nath, masih sore nih," sahut salah seorang teman Nathan.
"Tapi besok Gue kan kerja. Biar pun itu perusshaan Bokap Gue, ga mungkin Gue libur gara-gara kesiangan bangun. Ga profesional itu namanya. Kalo Lo masih mau di sini, Gue duluan ya !" kata Nathan sambil mulai melangkah.
"Nathan betul. Besok kan masih hari kerja, diantara Kita ada dua orang yang masih kuliah. Lebih baik Kita balik sekarang. Kalo mau begadang kan bisa cari hari lain," sahut teman Nathan menengahi.
Melihat teman-temannya mengikuti langkahnya, Nathan pun tersenyum. Saat asyik berbincang Nathan dan teman-temannya melihat kerumunan orang di tengah jalan. Mereka pun bergegas mendekat karena mengira ada kecelakaan. Apalagi saat itu terlihat beberapa pria menggotong seorang wanita yang menjerit kesakitan.
"Ada apaan Pak ?!" tanya Nathan.
"Ada cewek mau melahirkan Mas," sahut pria itu.
"Oh gitu. Kenapa ga dibawa ke klinik atau Rumah Sakit terdekat aja Pak ?" tanya Nathan.
"Ga sempet Mas. Bayinya udah nongol. Untung ada Bu Bidan yang kebetulan lewat jadi bisa nanganin persalinan darurat itu," sahut pria itu sambil berkali-kali menoleh ke jalan raya seolah menunggu sesuatu.
"Terus Bapak cari apaan ?" tanya Nathan sambil mengikuti arah tatapan pria itu.
"Ambulans. Saya udah telepon Rumah Sakit tadi tapi Ambulansnya belum sampe juga. Kata Bu Bidan wanita itu harus segera dibawa ke Rumah Sakit setelah melahirkan nanti," sahut pria itu gusar.
"Biar Saya bantu telephonin Rumah Sakit lain ya Pak," kata Nathan sambil mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
"Iya Mas, makasih," sahut pria itu sambil tersenyum.
Sementara itu di belakang mereka terdengar seorang wanita memberi aba-aba tentang apa yang harus di lakukan warga. Suara rintihan wanita yang hendak melahirkan pun terdengar mengiringi. Nathan dan teman-temannya bersama warga berdiri membelakangi untuk melindungi wanita yang sedang menjalani proses persalinan darurat itu agar tak terlihat.
"Iya begitu. Tarik nafas ya Bu, terus dorong ...," kata wanita yang diduga Nathan sebagai bidan yang dimaksud warga tadi.
Mendengar suara sang bidan membuat Nathan mengerutkan keningnya karena merasa pernah mendengar suara itu. Saat Nathan sedang berpikir siapa bidan itu, terdengar wanita di belakangnya mengejan lalu disusul suara tangis bayi melengking memecah malam. Warga pun bersorak gembira mengetahui bayi laki-laki yang lahir dengan selamat di sana.
"Alhamdulillah ...!" seru semua orang di tempat itu sambil tertawa bahagia.
"Jangan bubar dulu ya Bapak-bapak. Saya masih harus mengurus bayinya sebentar," kata sang bidan.
"Siap Bu Bidan ...!" sahut warga bersamaan.
Tak lama kemudian sirine Ambulans terdengar di kejauhan. Nathan pun tersenyum melihat logo Rumah Sakit swasta yang ia hubungi tadi di kaca depan Ambulans. Itu artinya Ambulans yang ia hubungi datang lebih cepat dari dugaannya.
Petugas dari Rumah Sakit pun turun untuk mengevakuasi Ibu dan bayinya. Sang bidan nampak ikut serta membantu. Ia menggendong bayi lalu menyerahkannya kepada petugas Rumah Sakit. Bidan itu bicara sebentar dengan petugas Rumah Sakit. Dan saat itu lah Nathan bisa melihat dengan jelas siapa bidan yang dimaksud warga.
"Hilya ...?!" panggil Nathan hingga membuat gadis itu menoleh.
"Eh, Kamu. Ngapain di sini ?" tanya Hilya.
"Kebetulan lewat. Jadi Kamu Bidan yang bantuin Ibu itu melahirkan ?" tanya Nathan.
"Iya. Maaf Aku harus pergi ke Rumah Sakit sekarang," kata Hilya.
"Biar Aku antar !" kata Nathan sambil menadahkan telapak tangannya meminta kunci motor milik Hilya.
Tanpa pikir panjang Hilya menyerahkan kunci motor miliknya kepada Nathan karena ia tak mungkin pergi ke Rumah Sakit dalam kondisi berlumuran darah tanpa ditemani.
Nathan pun menoleh kearah teman-temannya yang nampak mengangguk karena mengerti apa yang ia lakukan. Tak lama kemudian Nathan pun melajukan motor menuju Rumah Sakit dengan posisi Hilya duduk di belakangnya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1