
Ira nampak meringis sambil menggeliat saat kepalanya berhasil menyatu dengan tubuhnya. Sesekali Ira menggelengkan kepalanya seolah ingin memposisikan kepalanya di posisi yang tepat.
Tak lama kemudian Ira pun bangkit lalu berjalan ke meja rias. Ira nampak tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin. Ira nampak mengagumi wajahnya yang kini terlihat lebih muda dan segar. Ira memang akan menjadi lebih muda tiap kali usai memangsa korbannya.
Karena puas dengan hasil yang dicapainya, Ira pun tertawa kecil sambil berputar-putar. Tanpa ia sadari sepasang mata tengah mengamati pergerakannya dengan tatapan takut sekaligus sedih.
Ira pun berhenti berputar saat menyadari kehadiran seseorang di balik jendela. Namun saat Ira melangkah menuju jendela, ia tak melihat siapa pun di sana.
"Kaya ada orang ga sih. Atau itu cuma perasaanku aja ?" gumam Ira sambil menutup jendela rapat-rapat.
Nathan yang sembunyi di balik dinding pagar balkon nampak menahan nafas agar tak ketahuan oleh Ira. Setelah merasa aman Nathan pun turun dari balkon.
Setelah kedua kakinya menginjak tanah, Nathan pun berlari cepat kearah rumah kost. Ia sigap meraih tasnya yang terjatuh di halaman dan langsung masuk ke dalam rumah setelah membuka pintu dengan anak kunci yang dimilikinya.
Tiba di dalam kamar Nathan melempar tasnya. Kemudian meraih koper besar dari kolong tempat tidur. Detik itu juga, setelah mengetahui siapa Ira sesungguhnya, Nathan memutuskan untuk pindah kost.
Nathan baru berhenti bergerak setelah semua pakaiannya masuk ke dalam koper besar. Nathan nampak duduk di atas tempat tidur sambil menatap nanar ke sekelilingnya. Nafasnya memburu, keringat membanjiri tubuhnya, dan perlahan air mata pun turun membasahi wajahnya. Nathan menangis. Ia menangis karena menyesal telah mencintai orang yang salah.
\=\=\=\=\=
Pagi itu semua penghuni kost gempar saat Nathan menyampaikan niatnya untuk pindah. Mereka terkejut dan tak mengerti mengapa Nathan harus pindah. Apalagi saat Nathan mengatakan telah menemukan tempat yang cocok untuknya, mereka pun tak percaya.
"Mendadak banget Nath,"
"Apa ada masalah ?"
"Mau pindah kemana ?"
"Apa diantara Kita ada yang udah nyakitin Lo dan bikin Lo ga betah Nath ?
Bermacam pertanyaan yang serupa Nathan dengar pagi itu. Tapi semua dijawab dengan santai oleh Nathan hingga membuat teman-temannya mengerti. Atau berusaha mengerti lebih tepatnya.
"Gue bilang mau pindah supaya Kalian ga kaget aja. Soalnya Gue bakal mulai pindahin barang-barang Gue siang ini," kata Nathan kemudian.
"Apa ini gara-gara Ira ?" tanya Mario tiba-tiba hingga mengejutkan Nathan dan semua temannya.
"Ga ada hubungannya sama Ira, Gue emang harus pindah untuk cari suasana baru. Kalian tenang aja. Kita masih bisa ketemu di luar atau Kita bisa saling mengunjungi nanti," sahut Nathan setenang mungkin.
__ADS_1
"Meski pun ini mengagetkan sekaligus menyakitkan, tapi gapapa. Gue dukung Lo kok. Selamat berjuang ya Nath. Semoga bahagia di tempat baru," kata Ferdi sambil memeluk Nathan erat.
Nathan tersenyum dan membalas pelukan Ferdi. Kemudian semua teman melakukan hal yang sama pada Nathan. Suasana pagi yang biasanya cerah pun mendadak berkabut karena kepergian Nathan.
\=\=\=\=\=
Hari itu menjadi hari yang sibuk untuk Nathan. Sebuah Taxi yang disewa Nathan tampak menunggu di depan rumah. Dan itu membuktikan jika Nathan tak main-main dengan ucapannya.
Sebelumnya Nathan telah berpamitan pada pemilik kost. Meski berat, ibu Ira terpaksa membiarkan Nathan pergi. Saat Nathan datang untuk berpamitan, Ira sedang tak berada di rumah.
Dan Ira pun terkejut saat mengetahui kepindahan Nathan. Ia berdiri di depan pagar rumahnya sambil mengamati Nathan yang sibuk memasukkan barang ke bagasi Taxi.
Nathan menoleh kearah Ira. Ia tersenyum lalu berjalan menghampiri Ira untuk berpamitan. Tak banyak kalimat yang ia ucapkan dan itu membuat Ira kecewa. Ira pun bergegas masuk ke dalam rumah saat Taxi yang ditumpangi Nathan melaju meninggalkan rumah kost.
Ira menangis. Ira menduga Nathan memilih pergi karena tak ingin lagi bertemu dengannya setelah kisah cinta mereka kandas tanpa sebab.
\=\=\=\=\=
Malam itu di sebuah kebun kosong.
Namun tawa Ira terhenti saat mendengar suara nafas memburu di balik pohon. Dan saat Ira menghampiri pohon itu, ia terkejut karena melihat Nathan di sana.
"Nat-Nathan ...?!" panggil Ira gugup dengan suara tertahan.
"Iya. Ini Aku Ra," sahut Nathan dengan suara bergetar.
Kemudian Nathan keluar dari tempat persembunyiannya. Ia menatap Ira dengan tatapan tak terbaca sambil melangkah mendekati Ira.
Ira panik. Dengan kaki gemetar ia mundur menjauhi Nathan. Ira khawatir Nathan mengetahui siapa dirinya sesungguhnya. Namun sebelum kekhawatiran Ira hilang, Nathan telah mengatakan sesuatu yang membuat Ira terkejut bukan kepalang.
"Jadi kuyang itu Kamu Ra ...," kata Nathan lirih.
"A-apa. Kamu bilang apa barusan ?" tanya Ira pura-pura tak mendengar ucapan Nathan.
"Aku liat semuanya tadi Ra !. Aku liat proses saat kepala Kamu menyatu dengan tubuhmu. Aku juga liat saat Kamu tertawa puas setelahnya !" kata Nathan sambil menatap Ira dengan tatapan tajam.
Ira pun menghela nafas panjang. Ia tak menyangka jika ada orang lain yang melihat wujud aslinya dan orang itu adalah Nathan, pria yang hingga detik ini masih ia cintai.
__ADS_1
"Kenapa Ra, kenapa harus Kamu ?" tanya Nathan dengan suara bergetar.
Ira terdiam sesaat karena bingung bagaimana cara menjelaskan apa yang terjadi pada Nathan. Dan tiba-tiba Ira ingat dengan kepergian Nathan yang mendadak itu.
"Jadi karena ini Kamu menjauh dan pergi dari Aku Nath. Sejak kapan ?, sejak kapan Kamu tau kalo Aku ....,"
"Sejak malam saat Ayahku menginap di rumah !" potong Nathan cepat hingga membuat Ira membeku.
Rupanya setelah Nathan pergi dari rumah kost milik ibu Ira, Nathan masih terus mengintai Ira dari jauh. Dan malam ini adalah kali kedua Nathan melihat langsung perubahan Ira dari kuyang menjadi manusia.
Awalnya Nathan ingin menyangkal penglihatannya sendiri. Ia tak percaya jika kekasihnya adalah wanita yang menjelma jadi siluman pemangsa bayi saat malam hari. Namun kenyataan yang terjadi di depan matanya kali ini membuat Nathan tak bisa berkelit lagi.
Untuk sejenak Nathan dan Ira saling menatap dalam diam. Ira memang menyayangi Nathan. Tapi ia harus menghabisi Nathan karena ia khawatir Nathan menceritakan rahasianya pada orang lain. Namun ssbelum itu terjadi, Ira dibuat gusar saat mendengar Nathan mengucapkan sesuatu.
"Bertobat lah Ra. Bertobat lah selagi bisa," pinta Nathan sungguh-sungguh.
"Gimana caranya Nath. Ini kutukan, ga akan bisa hilang kecuali Aku ... mati," sahut Ira putus asa.
"Mati ?" tanya Nathan tak percaya.
"Iya. Dan hanya itu cara mengakhiri semuanya. Tapi Aku belum ingin mati Nath, Aku ga mau mati sekarang karena masih ada yang ingin Kucapai," sahut Ira sambil membuang tatapannya kearah lain.
Nathan menghela nafas panjang karena merasa lelah dan iba di waktu bersamaan.Saat Nathan tengah merenungi nasib Ira, ia dibuat terkejut karena Ira menyerangnya tiba-tiba. Beruntung Nathan berhasil menghindar hingga serangan Ira hanya mengenai angin.
Ira terus menyerang Nathan dengan cakar dan tendangan membabi buta. Nathan masih berusaha menahan diri dengan tak membalas serangan Ira.
"Apa-apaan ini Ra. Kenapa Kamu nyerang Aku ?!" tanya Nathan marah saat ujung kuku Ira berhasil melukai lengannya.
"Maaf Nath. Aku ga bisa biarin Kamu hidup karena Kamu tau rahasiaku !" sahut Ira lantang sambil terus menyerang Nathan.
Ucapan Ira membuat Nathan sadar jika Ira menginginkan nyawanya. Tak ingin mati konyol, Nathan melakukan perlawanan. Dan tak butuh waktu lama Nathan berhasil menghentikan Ira. Ia mendorong tubuh Ira ke pohon sambil menahan kedua lengan gadis itu ke belakang. Ira tak bisa bergerak karena saat itu wajah dan bagian depan tubuhnya menempel erat dengan batang pohon.
Tak ingin menyakiti Ira lebih jauh, Nathan mengeluarkan alat kejut listrik dari balik pakaiannya lalu menempelkannya di tubuh Ira.
Sesaat setelah tubuhnya bergetar hebat, Ira pun jatuh ke tanah dalam kondisi tak sadarkan diri. Perlahan Nathan menjauhi tubuh Ira lalu pergi meninggalkannya begitu saja tanpa mau menoleh lagi.
\=\=\=\=\=
__ADS_1