Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
192. Informasi Baru


__ADS_3

Rosi terbangun saat matahari telah naik. Sinar matahari yang menyelinap melalui celah gorden jendela menyadarkan Rosi jika ia terlambat bangun hari ini.


Rosi pun mengucek mata lalu berusaha bangun dari posisi berbaringnya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya berbaring di lantai dan bukan di atas tempat tidur. Ia panik dan takut. Dengan tubuh gemetar Rosi pun berusaha bangkit sambil berpegangan pada meja.


Kemudian Rosi berhasil berdiri dan tepat saat itu ia berdiri menghadap cermin. Rosi menatap pantulan dirinya di cermin. Tak ada yang aneh di sana. Hanya pakaiannya sedikit berantakan. Rambutnya juga sangat kusut dan itu membuat Rosi meringis saat mencoba menyigar rambutnya dengan jemari tangan.


"Ga bisa. Ini terlalu kusut. Harus keramas kayanya," gumam Rosi sambil meraih handuk dan pakaian ganti dari dalam lemari pakaian.


Tiba-tiba Rosi teringat dengan mimpinya semalam. Rosi bermimpi dirinya berubah jadi monster yang mengerikan.


"Tapi kenapa hanya kepalaku aja yang jadi monster. Kenapa tubuh dan semua anggota badanku tak berubah," gumam Rosi bingung.


Tak ingin membuang waktu memikirkan mimpi anehnya itu, Rosi pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Setelah berdandan seperlunya, Rosi pun keluar dari kamar. Ia menyapa semua karyawan klinik dengan ramah lalu pergi ke dapur untuk menyeduh teh manis dan membuatkan sarapan seperti biasa.


"Ga usah Bu Rosi. Udah dibuatin sarapan dan teh manis sama Mbak Ayu tadi," kata tukang cuci pakaian kotor bernama Reni.


"Oh gitu ya. Duh jadi ga enak Saya kalo tugas Saya udah dikerjain sama yang lain. Padahal kan kerjaan Saya ga banyak di sini," kata Rosi gusar.


"Gapapa Bu, santai aja. Di sini Kita semua kan keluarga. Jadi ga usah pake ga enak segala. Tadi Mbak Ayu emang lagi mual, makanya langsung ke dapur untuk bikin teh hangat. Tapi karena tau Bu Rosi belum bangun, Mbak Ayu sekalian bikinin Kami teh manis. Abis itu keterusan juga bikin sarapan. Naluri perempuan mah emang ga bisa ditentang ya Bu. Sekali masuk dapur, semua yang ada di dapur pasti dilibas," gurau Reni sambil tertawa.


Rosi pun ikut tertawa mendengar gurauan Reni. Setelah meneguk teh manis buatan Ayu, Rosi bergegas ke depan menemui Ayu.


"Makasih sarapan dan teh manisnya ya Mbak Ayu. Makasih udah bantuin ngerjain tugas Saya. Maaf kalo ngerepotin," kata Rosi saat bertemu Ayu.


"Sama-sama Bu Rosi. Ga ngerepotin kok," sahut Ayu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tapi lain kali jangan lagi ya Mbak Ayu. Saya ga mau makan gaji buta di sini karena ga melakukan pekerjaan apa pun. Saya juga khawatir ada yang iri dan salah paham sama Saya nanti," pinta Rosi dengan mimik wajah serius.


"Iya Bu Rosi. Saya janji ga akan kaya gini lagi. Saya ngelakuin itu karena ngeliat belum ada apa-apa di dapur tadi. Biasanya kan Bu Rosi udah siapin semuanya. Saya kira Bu Rosi sakit, makanya Saya inisiatif masak tadi. Tapi maaf kalo itu bikin Bu Rosi ga berkenan," kata Ayu dengan nada menyesal.


Rosi tampak menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tak sampai hati memarahi Ayu karena itu memang salahnya.


"Saya emang bangun kesiangan Mbak Ayu. Saya ga tau kenapa tapi mungkin ini gara-gara Saya susah tidur dan mimpi buruk semalam," kata Rosi.


"Oh pantesan. Kalo boleh tau mimpi buruk apa Bu ?" tanya Ayu penasaran.


Rosi nampak ragu untuk menceritakan mimpinya pada Ayu. Ia khawatir Ayu menertawainya. Namun perbincangan mereka terpaksa berhenti karena ada dua orang pasien yang mendekat kearah mereka.


Dalam hati Rosi bersyukur karena bisa lepas dari pertanyaan Ayu yang menyudutkannya itu. Diam-diam Rosi menyingkir dari meja Ayu lalu pergi ke luar klinik untuk membantu menyiram tanaman seperti biasa.


\=\=\=\=\=


Rama dan Riko nampak duduk di hadapan Bayan. Ketiganya tengah berbincang santai sambil menikmati makan siang di ruangan Bayan.


"Nih yang Lo minta. Akhirnya bisa Gue dapetin walau pun susahnya minta ampun," kata Rama.


"Susah gimana maksud Lo ?" tanya Bayan tak mengerti.


"Ya susah karena semua orang yang Gue temui berusaha menutup-nutupi siapa Rosi sebenarnya. Mungkin di masa lalu dia pernah punya hubungan gelap sama pejabat atau sejenisnya. Makanya identitasnya tuh susah banget didapet," sahut Rama sambil mengunyah makanannya dengan cepat.


Bayan mengangguk lalu mengulurkan tangannya untuk meraih map tersebut.


"Kenapa Lo penasaran banget sama Rosi, Yan. Jangan bilang karena dia mirip sama Senja," kata Riko menyudahi makan siangnya.

__ADS_1


"Emang itu salah satu alasannya Gue nyuruh Rama buat nyari tau," sahut Bayan santai.


"Ck, buat apaan sih Yan. Apa Lo ga bisa berdamai sama keadaan. Inget, Senja udah meninggal puluhan tahun lalu. Lo juga udah punya Anna sekarang. Dua Anak, dua menantu dan Cucu yang cantik. Bersyukur lah. Jangan cari-cari masalah karena Gue ga bakal bisa bantu kalo Anna sampe kecewa lagi kali ini," kata Riko mengingatkan.


"Iya iya. Makasih udah ngingetin Gue. Tapi Gue nyari tau cuma untuk menuntaskan rasa penasaran Gue aja kok. Andai Rosi emang Senja, ya gapapa. Toh Gue juga ga bakal balikan sama dia," sahut Bayan tegas.


Ucapan Bayan membuat Rama dan Riko saling menatap sejenak. Mereka berharap Bayan menepati janjinya kali ini.


Bagaimana pun Rama dan Riko sangat mengenal Bayan seperti mengenal diri mereka sendiri. Mereka tahu bagaimana terpuruknya Bayan saat Senja meninggal dulu. Dan mereka tak ingin Bayan terpuruk untuk kedua kalinya karena kehilangan Anna nanti. Mereka yakin Anna pasti kecewa saat tahu Bayan mencari informasi tentang Rosi. Dan mereka khawatir Anna pergi meninggalkan Bayan karena merasa dikhianati.


Sementara itu Bayan nampak mulai membaca satu per satu kalimat yang ada di berkas yang diberikan Rama tadi. Tak ada yang terlewat karena Bayan melakukannya dengan hati-hati.


Namun saat Bayan membaca point penting tentang kesehatan Rosi, Bayan pun terkejut. Di sana tertulis jika Rosi pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena gangguan mental dan halusinasi.


"Apa info ini akurat Ram ?" tanya Bayan sambil memperlihatkan lampiran berkas dari salah satu Rumah Sakit Jiwa.


"Oh itu. Gue juga nanya gitu kemarin. Tapi nara sumber Kita yakin kalo data ini emang asli. Kita bisa cek langsung ke Rumah Sakit itu nanti andaikan Lo masih ragu," sahut Rama cepat.


"Kenapa Rosi dirawat di sana ?" tanya Bayan penasaran.


"Katanya sih karena depresi usai dicerai sama Suaminya. Sumber lain bilang Rosi dicerai karena melakukan kesalahan fatal," sahut Rama.


"Kesalahan fatal apa ?" tanya Bayan.


"Ga tau. Itu yang harus Lo cari tau sendiri nanti," sahut Rama sambil menggedikkan bahunya.


Bayan mengangguk kemudian menyudahi semuanya. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju jendela.

__ADS_1


"Harusnya setelah ini semuanya jelas kan," gumam Bayan penuh harap.


\=\=\=\=\=


__ADS_2