
Karena Bayan tak kunjung siuman ditambah kondisinya yang memburuk, maka malam itu Bayan dilarikan ke Rumah Sakit. Nathan pun meminta Ponco mengurus semua hal yang berkaitan dengan kebakaran rumah lama sesaat sebelum pergi menemani ayahnya ke Rumah Sakit.
"Ke Rumah Sakit mana Mas ?" tanya Ponco.
"Ke Rumah Sakit langganan keluarga Kami di Jakarta Pak. Nanti tolong diurus semuanya ya Pak. Masalah kebakaran itu, Bapak tau kan apa yang harus dilakukan ?" tanya Nathan.
"Siap, Mas Nathan tenang aja. Mas fokus aja sama Pak Bayan, biar urusan di sini Saya yang tanganin," sahut Ponco sambil tersenyum.
"Ok makasih Pak," kata Nathan sambil menjabat erat tangan Ponco lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
Setelah itu Nathan melajukan mobil secepat mungkin untuk mengekori Ambulans yang membawa ayahnya. Dalam perjalanan Nathan juga menghubungi sang bunda dan tentu saja itu membuat Anna terkejut bukan kepalang.
"Sekarang Ayah dimana Nath ?!" tanya Anna lantang hingga membuat semua anak dan menantu yang masih bersamanya terkejut.
"Ayah ada di Ambulans Bund. Lagi dalam perjalanan ke Rumah Sakit tempat Hilya dirawat kemarin," sahut Nathan.
"Terus gimana keadaan Ayah, apa belum siuman juga sampe sekarang ?" tanya Anna cemas.
"Kayanya sih belum Bund. Aku ga tau pasti karena Aku lagi bawa mobil dan ga sama Ayah sekarang. Keliatannya masih ditangani sama team medis tuh," sahut Bayan cepat.
"Ya udah. Hati-hati di jalan ya Nath, ga usah ngebut. Nanti kalo udah sampe Jakarta tolong kabarin Bunda ya," pinta Anna.
"Siap Bund," sahut Nathan lalu kembali mempercepat laju mobilnya.
\=\=\=\=\=
Bayan masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Setelah lima hari dirawat di Rumah Sakit Bayan tak kunjung membuka mata. Istri, anak, menantu dan cucu bergantian datang menjenguk namun selalu berakhir sia-sia.
"Apa yang sebenernya terjadi Nath. Kenapa Ayah sampe ngedrop kaya gini ?" tanya Anna untuk ke sekian kalinya.
Lagi-lagi Nathan memberi jawaban yang sama seperti yang selama ini dia lakukan. Tentu saja itu membuat Anna kecewa. Anna merasa Nathan dan Bayan menyembunyikan sesuatu.
Anna pernah bertanya apa yang terjadi di peternakan. Dan Ponco memberi jawaban yang juga tak memuaskan rasa keingin tahuannya.
__ADS_1
Karena gagal mengorek keterangan dari anak sulungnya itu, Anna pun memilih keluar dari ruang rawat inap Bayan untuk mencari udara segar. Kini tinggal Nathan yang menemani sang ayah.
"Maafin Aku Bund. Aku udah terlanjur janji sama Ayah kalo Aku ga bakal buka semuanya. Biar lah ini jadi rahasia abadiku sama Ayah," batin Nathan sambil menatap sang bunda lekat.
Kemudian Nathan menoleh kearah sang ayah yang masih berbaring tak bergerak itu.
"Ayah ..., nyenyak banget sih tidurnya. Pasti lagi mimpi indah ya," kata Nathan lirih sambil mengusap kepala sang ayah dengan lembut.
Dalam tidurnya Bayan pun tersenyum. Ia memang sedang mimpi indah. Mimpi yang membuatnya enggan terjaga.
Dalam mimpi itu Bayan seperti dibawa ke masa lalu saat pertama kali bertemu dengan Senja. Seperti dulu, Bayan merasa jatuh cinta dan penasaran pada sosok Senja. Ia terus mengejar Senja dan berharap gadis itu membalas cintanya.
Bak gayung bersambut, akhirnya Senja mau menerima cintanya karena ia pun memiliki perasaan yang sama.
Cinta Bayan dan Senja terajut dengan indah. Penuh bunga dan taburan kebahagiaan. Namun semua keindahan itu sirna saat awan hitam datang bergulung menghampiri mereka. Awan hitam itu datang bersama sesosok makhluk menyeramkan berwujud kepala tanpa tubuh yang mengoyak kebahagiaan Bayan dan Senja.
Tiba-tiba Bayan mengepalkan tangannya. Ia marah, kecewa dan sedih bukan kepalang saat Senja direnggut paksa darinya.
Tak lama kemudian seorang dokter dan dua orang perawat masuk ke dalam ruangan. Nathan nampak mengamati saat sang dokter mengecek kondisi ayahnya.
"Gimana dok ?" tanya Nathan.
"Masih sama Mas. Pasien masih enggan untuk bangun. Nampaknya Ayah Mas Nathan masih nyaman berkelana dalam mimpinya," sahut sang dokter sambil menggelengkan kepala.
"Apa yang harus Kita lakukan supaya Ayah Saya bisa cepet siuman dok ?" tanya Nathan tak sabar.
"Ga ada Mas. Kita hanya bisa menunggu beliau siuman. Ngomong- ngomong Mas dan keluarga ga bermaksud mencabut semua alat bantu yang melekat di tubuh pasien kan ?" tanya sang dokter sambil menatap Nathan curiga.
"Astaghfirullah aladziim ..., ga dok. Kami ga punya niat kaya gitu. Ga pernah terbersit di kepala Kami untuk mengakhiri hidup Ayah Saya dengan cara extrim begitu !" sahut Nathan dengan suara tinggi namun membuat sang dokter dan dua perawat itu tersenyum.
"Ga usah tegang begitu Mas Nathan. Saya cuma bercanda kok. Insya Allah nanti malam atau besok pagi Pak Bayan bakal siuman," kata sang dokter.
"Yang bener dok ?!" tanya Nathan antusias.
__ADS_1
"Iya. Tapi tolong jangan ditanyain macem-macem saat beliau siuman ya. Biarkan pasien istirahat dan mengingat semuanya sendiri tanpa dipaksa," kata sang dokter mengingatkan.
"Baik dok. Saya akan ingat pesan dokter. Makasih ya dok, Suster ...," kata Nathan sambil tersenyum lebar.
"Sama-sama," sahut dokter dan dua perawat bersamaan.
Setelahnya sang dokter dan dua perawat itu keluar dari ruang rawat inap Bayan. Nathan pun melepas kepergian mereka dengan senyum mengembang.
Meski pun telah menerima kabar menggembirakan, namun Nathan sengaja menyimpannya sendiri karena ingin memberi kejutan pada keluarganya.
Dan malam itu Nathan meminta semua orang berkumpul di ruang rawat inap Bayan kecuali Hilya dan si kembar.
"Ada apa Bang, kenapa Abang ngumpulin Kita semua di sini ?" tanya Nicko tak sabar.
"Tau nih Nathan, bikin deg-degan aja sih," sahut Fikri.
"Jangan bilang kalo Ayah yang minta sama Kamu supaya ngumpulin Kita di sini Nath. Kalo emang iya, itu artinya Ayah udah siuman tadi. Terus kenapa Kamu ga kasih tau Bunda Nath ?!" kata Anna kesal.
"Jangan salahin Nathan Bund ...," kata Bayan tiba-tiba dengan suara lirih.
Semua orang di ruangan itu terkejut lalu menoleh kearah Bayan. Saat itu Bayan tampak sedang berusaha membuka masker oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya.
"Ayaaahh ...!" panggil semua orang bersamaan sambil menghambur kearah Bayan.
"Eehhh ..., mau ngapain Kalian. Mundur !" kata Nathan galak sambil mendorong semua orang agar menepi kecuali sang bunda.
"Pelit amat sih Kamu Nath. Kami kan mau liat Ayah dari dekat sekaligus menyapanya. Kami kangen tau !" kata Ayu kesal.
"Maaf Mbak, bukan Aku ga sopan. Tapi ini pesan langsung dari dokter yang merawat Ayah. Beliau bilang supaya Ayah cukup istirahat dan jangan ditanyain macem-macem dulu saat baru siuman," sahut Nathan cepat.
Ucapan Nathan membuat semua orang saling menatap kemudian mengangguk. Nampaknya mereka percaya karena sesaat kemudian mereka nampak menjauh dari Bayan.
\=\=\=\=\=
__ADS_1