Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
115. Tanda Lahir Itu ...


__ADS_3

Di saat yang sama di atas atap rumah kontrakan Fikri.


Sosok kepala tanpa tubuh tengah melayang di udara. Nampaknya kepala itu milik mak Ejah yang telah berubah jadi kuyang.


Mak Ejah nampak menggeram marah menyaksikan calon mangsanya tak sendiri. Rupanya mak Ejah mengira jika Ayu akan tinggal berdua saja dengan anak batitanya itu. Mengetahui ada orang lain yang menemani Ayu membuat mak Ejah kesal karena aksinya gagal.


Dari atas ketinggian mak Ejah bisa menyaksikan Ayu dan suaminya keluar dari rumah sambil mengamati sekelilingnya. Melihat perawakan suami Ayu yang tinggi besar itu membuat nyali mak Ejah menciut karena ia yakin pria itu akan menghajarnya nanti.


Semula mak Ejah ingin kembali menyerang Ayu yang masih mengalami nifas itu. Namun saat teringat rasa dan aroma darah Ayu membuat mak Ejah mengurungkan niatnya.


Mak Ejah sembunyi beberapa saat lalu melesat cepat meninggalkan tempat itu saat Fikri dan Ayu kembali masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah Fikri nampak mengecek semua pintu dan jendela sekali lagi. Ia ingin memastikan jika pintu dan jendela dalam kondisi terkunci. Melihat sikap suaminya membuat Ayu yakin jika sang suami melihat sesuatu.


"Kamu ... apa Kamu ngeliat sesuatu di jendela Bi ?" tanya Ayu hati-hati.


Fikri membalikkan tubuhnya lalu menatap Ayu lekat.


"Sesuatu apa sih maksud Kamu ?" tanya Fikri.


"Ya sesuatu. Semacam penampakan yang ga wajar, kaya kepala tanpa badan mungkin," sahut Ayu cepat.


Fikri menghela nafas panjang lalu meletakkan Arafah di atas tempat tidur dengan hati-hati.


"Iya Mi. Aku emang ngeliat makhluk yang Kamu ceritain itu," kata Fikri kemudian.


"Oh ya. Terus gimana, Kamu percaya kan sama Aku sekarang?" tanya Ayu.


"Sejak awal Aku percaya kok sama semua cerita Kamu. Kan Allah memang Maha Pencipta," sahut Fikri santai.


"Ck, bukan itu maksudku Biii ...," kata Ayu sambil berdecak sebal.


"Iya iya, Aku paham. Kalo kaya gini ceritanya, ada baiknya Kita pindah dari sini secepatnya Mi," kata Fikri tiba-tiba.


"Kamu serius Bi ?" tanya Ayu.

__ADS_1


"Iya," sahut Fikri cepat hingga membuat Ayu tersenyum.


Kemudian Ayu menghambur ke pelukan Fikri sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali. Ayu bahagia karena akhirnya Fikri mau mengerti keinginannya


\=\=\=\=\=


Fikri bergerak cepat. Ia menyelesaikan pembayaran rumah yang memang ia siapkan sebagai hadiah kejutan untuk istrinya lebih awal. Sedianya rumah itu disiapkan Fikri sebagai hadiah untuk Ayu setelah melahirkan anak kedua mereka dua bulan lagi. Tapi karena situasi yang mengkhawatirkan membuat Fikri merubah rencananya.


Beruntung pemilik rumah sudah mengosongkan rumah itu sejak bulan lalu. Hingga saat Fikri datang melunasi pembayaran rumah, rumah sudah siap ditempati oleh Fikri dan keluarganya.


Saat sedang berbincang akrab dengan pemilik rumah, tiba-tiba Fikri dikejutkan oleh sapaan Nicko.


"Bang Fikri !" panggil Nicko hingga membuat Fikri menoleh.


"Eh Nicko. Kamu darimana Nick ?" tanya Fikri.


"Lho, Aku kan tinggal di sekitar sini Bang. Dua rumah dari sini, yang berpagar hitam itu," sahut Nicko sambil menunjuk kearah Rumah orangtuanya.


"Wah kebetulan banget. Insya Allah sebentar lagi Abang bakal tinggal di sini dan Kita jadi tetanggaan deh," kata Fikri sambil tersenyum.


"Iya," sahut Fikri.


"Kapan mau pindahan Bang. Aku siap Lo bantu-bantu," kata Nicko menawarkan diri sambil memperlihatkan otot lengannya yang tak seberapa itu.


Tingkah Nicko membuat Fikri dan Beni tertawa.


"Sebenernya Abang ga tega sama otot Kamu. Tapi kalo Kamu memaksa, apa boleh buat. Insya Allah lusa Abang pindahan ke sini. Ntar Abang kasih tau alamat rumah kontrakan Abang biar Kamu bisa bantuin ngangkat barang," kata Fikri kemudian.


"Ok deal ...!. Kalo gitu Aku jalan dulu ya Bang. Mari Pak Beni," kata Nicko dengan santun.


"Iya," sahut Fikri dan Beni bersamaan lalu kembali masuk ke dalam rumah untuk melihat-lihat.


\=\=\=\=\=


Mak Ejah masih penasaran dan ingin mencicipi darah Arafah. Saat malam datang, mak Ejah kembali bersiap-siap. Tapi kali ini Mak Ejah tak ingin gegabah. Ia pun pergi keluar rumah karena ingin mencari tempat aman untuk meninggalkan tubuhnya agar tak dicurigai tetangga nanti.

__ADS_1


Mak Ejah memilih rumah kosong yang sudah lama tak dihuni yang terletak persis di belakang rumah kontrakannya.


Sesaat setelah meninggalkan tubuhnya di sana, kuyang jelmaan Mak Ejah itu melesat cepat menuju rumah Fikri lalu sembunyi di talang rumah. Dari tempat persembunyiannya Mak Ejah bisa mengamati aktifitas Fikri, Ayu dan Arafah dengan leluasa.


Karena sibuk menata barang yang harus dibawa pindah, maka Fikri dan Ayu sedikit lalai menjaga Arafah. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh mak Ejah. Kuyang jelmaan mak Ejah menyamar menjadi bola lalu menyelinap masuk ke dalam rumah melalui pintu yang terbuka.


Arafah yang bermain di lantai nampak senang saat sebuah bola berwarna hitam menggelinding kearahnya. Tangan mungil Arafah pun terulur kearah bola itu. Saat jemari mungilnya akan menyentuh bola berwarna hitam itu, tiba-tiba bola itu berbalik dan memperlihatkan wajah kuyang yang menyeramkan dengan mulut yang dipenuhi taring.


Arafah pun menjerit sekencang-kencangnya hingga membuat Fikri dan Ayu terkejut. Fikri bergegas ke ruang depan dan terkejut melihat Arafah sedang melindungi wajah dan kepalanya dari serangan kuyang. Batita cantik itu menangis dan menjerit sambil mengibaskan tangannya di atas kepala karena kuyang itu terus berusaha menyakiti kepalanya.


"Astaghfirullah aladziim ... Arafah !" panggil Fikri sambil menendang kuyang itu dengan sekuat tenaga hingga membentur dinding.


Setelahnya ia menggendong Arafah dan memeluknya dengan erat. Ayu yang baru tiba pun terkejut melihat pemandangan di depannya. Tubuhnya langsung menggelosor di lantai karena mengenali sosok kuyang yang telah memangsa bayinya. Hingga akhirnya Ayu menangis tanpa suara karena terlalu shock.


"Ummi ...!" panggil Fikri lantang sambil bergegas menghampiri istrinya lalu memeluknya erat.


Saat itu Fikri benar-benar panik. Karena khawatir, Fikri pun menjerit memanggil tetangga sambil terus memeluk anak dan istrinya.


Jeritan Fikri membuat kuyang jelmaan mak Ejah yang semula tak bergerak karena terluka akibat benturan dengan dinding tadi pun bangun. Ia menatap nanar ke depan dan terkejut saat melihat tanda lahir berwarna coklat di dekat cuping telinga kiri Fikri. Meski pun tertutup jambang, namun mak Ejah masih bisa melihatnya dengan jelas.


Untuk sesaat kuyang jelmaan Mak Ejah itu membeku di tempat. Bayangan saat ia menyusui anaknya kembali terlintas. Ternyata Fikri adalah anak yang selama ini ia cari. Dan ia tak percaya jika batita yang hampir ia sakiti tadi adalah anak Fikri yang berarti adalah cucunya sendiri !.


Sesaat kemudian warga pun berdatangan. Mereka terkejut melihat kondisi Fikri yang masih memeluk anak dan istrinya. Dan yang lebih mengejutkan adalah warga melihat sosok kepala tanpa tubuh terkapar di lantai. Warga pun merapatkan barisan lalu perlahan mendekat kearah kuyang jelmaan Mak Ejah itu.


"Makhluk apaan ini. Saya ga pernah ngeliat yang kaya gini sebelumnya,"


"Masih hidup atau udah mati sih ?"


"Yang berdenyut itu apanya, kenapa mirip jeroan sapi ?"


Suara warga yang saling bersahutan itu membuat Mak Ejah panik dan berussha kabur. Sambil menggeram kuyang itu melesat cepat ke atas. Warga beramai-ramai menghadang namun gagal. Kuyang itu berhasil mengecoh warga lalu melesat keluar dengan cepat.


Kuyang jelmaan mak Ejah terus melesat cepat di langit malam dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Jeritan dan tangisan sang kuyang kembali terdengar. Sangat memilukan. Namun tenggelam diantara hingar bingar kota yang tak pernah mati itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2