Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
194. Positif ...


__ADS_3

Persalinan Ayu berjalan lancar. Saat Ayu mengejan untuk yang ketiga kalinya, sang bayi pun lahir. Suara tangisan bayi yang melengking itu membuat semua orang di ruangan tertawa.


"Kenceng banget nangisnya Nak," kata Intan sàmbil tertawa.


Ucapan Intan membuat Fikri dan Ayu ikut tertawa. Fikri pun mendaratkan kecupan di kening sang istri sambil mengucap hamdalah berkali-kali.


Namun saat tangan bidan Intan terulur untuk mengangkat sang bayi, tiba-tiba lampu dalam ruangan padam. Ruangan menjadi gelap gulita dan tentu saja itu membuat semua orang panik.


Fikri yang memang masih belum bisa tenang makin panik saat mendengar suara dari bawah tempat tidur tempat Hilya melahirkan.


"Duk ... dukkk ...," suara sesuatu yang membentur kaki tempat tidur yang terbuat dari besi itu terdengar beberapa kali.


Dan sesaat kemudian bayi yang dilahirkan Hilya berhenti menangis. Khawatir terjadi sesuatu pada bayinya, Fikri pun merangsek maju.


"Abi ... Kamu mau kemana Bi ...?" tanya Ayu lirih dengan tangan yang berusaha menggapai dalam gelap.


"Tolong jaga Istri Saya Suster !" kata Fikri lantang hingga membuat sang perawat terkejut.


"Ba-baik Pak," sahut sang perawat dengan gugup.


Setelahnya Fikri langsung mendekat kearah Intan yang mematung karena melihat sesuatu. Kedua tangan sang bidan juga menggantung di udara dalam posisi terulur kearah bagian bawah tubuh Ayu. Fikri tahu jika saat itu sang bidan akan mengangkat bayinya namun terhenti karena ada sesuatu di sana.


Tak ingin 'kecolongan' oleh sesuatu yang diduganya ada di sana, Fikri pun mengibaskan untaian tasbih yang digenggamnya ke bagian bawah tubuh Ayu. Fikri tersentak kaget karena merasa menyentuh sesuatu saat tangannya terulur tadi. Sesuatu mirip rambut yang lebat dan kaku, dan Fikri yakin rambut itu bukan milik bayinya.


"Laa haula wala quwwata ilaa billahill aliyyil adziim ..., Allahu Akbar !" kata Fikri lantang dengan tangan yang menerobos ke bagian bawah tubuh Ayu.


Dengan sedikit paksa Fikri menarik bayinya lalu mendekapnya erat. Tak ia pedulikan darah yang melumuri bayi yang sebagian melekat di pakaiannya. Dan saat sang bayi berada di dekapan ayahnya, tiba-tiba bayi itu kembali menangis hingga membuat semua orang menghela nafas lega.


Bersamaan dengan itu lampu yang semula padam kembali menyala terang benderang. Semua orang yang ada di ruangan itu refleks memicingkan mata karena silau.


Saat semua orang berusaha menutupi mata dengan lengan masing-masing, saat itu lah Fikri melihat sosok kepala tanpa tubuh menyelinap keluar dari ruangan bersalin. Sosok kepala yang diyakini Fikri sebagai kuyang itu melayang di bawah dekat lantai lalu melesat keluar. Karena saat itu semua orang fokus membantu persalinan, maka tak seorang pun menyadari kehadiran sosok kepala tanpa tubuh itu.


Fikri tersentak kaget saat Intan menepuk lengannya.


"Kemarikan bayinya Pak. Kami belum memotong tali pusatnya," kata Intan sàmbil tersenyum.


"Oh iya, maaf Bu Bidan. Karena gelap Saya khawatir, makanya Saya refleks gendong bayi Saya tadi," sahut Fikri.


"Gapapa Pak. Itu refleks yang bagus. Karena setelah itu kan bayi ini kembali menangis," sahut bidan Intan.


Fikri mengangguk dan membiarkan sang bidan menyelesaikan tugasnya. Kemudian Fikri kembali mendekat kearah Ayu yang menatapnya dengan tatapan cemas.

__ADS_1


"Apa Anak Kita baik-baik aja Bi ?" bisik Ayu.


"Alhamdulillah ssmua aman Mi. Kamu ga usah khawatir ya," sahut Fijri sambil mengusap kepala Ayu dengan lembut.


"Tapi Aku denger sesuatu tadi Bi. Apa makhluk itu ...," ucapan Ayu terputus karena Fikri meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Ayu.


"Ga ada apa-apa Sayang. Itu cuma suara alat yang macet karena listrik padam tadi. Tolong jangan bahas itu lagi ya, Aku ga nyaman dengernya," kata Fikri sambil menggelengkan kepala.


Ayu pun mengangguk hingga membuat Fikri tersenyum. Fikri pun memeluk Ayu sejenak lalu mundur saat sang perawat mendekati Ayu untuk membantunya membersihkan diri.


\=\=\=\=\=


Fikri duduk sambil menatap Ayu yang terlelap bersama bayinya. Berkali-kali ia menghela nafas kuat karena tak menyangka baru saja melewati saat yang menegangkan.


Fikri menoleh saat sebuah ketukan terdengar di pintu kamar. Ia tersenyum saat melihat Bayan dan Anna di sana.


"Selamat ya Nak, akhirnya keinginanmu untuk punya Anak laki-laki terwujud," kata Bayan sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Fikri.


"Alhamdulillah, iya Yah," sahut Fikri sambil membalas pelukan sang ayah.


"Yang penting Ibu dan bayinya sehat kan Fik ?" tanya Anna saat Fikri mencium punggung tangannya.


"Alhamdulillah mereka sehat Bund," sahut Fikri cepat.


"Eh, ngomong-ngomong dimana Kak Hilya ?" tanya Dhanti.


"Hilya lagi istirahat di ruangannya. Keliatannya dia sakit," sahut Fikri.


"Hilya sakit ?, sakit apa Fik. Nathan udah tau belum ?" tanya Anna cemas karena seingatnya Hilya baik-baik saja tadi.


"Udah Bund. Sekarang Nathan lagi membujuk Hilya supaya mau berobat," sahut Fikri.


"Bukan berobat yang Kak Hilya butuhin Bang. Mungkin dia kelelahan dan perlu istirahat," sela Nicko yang diangguki semua orang di ruangan itu.


"Betul. Sejak pulang dari Bogor sampe hari ini kan Hilya belum sempet istirahat. Alasannya ya itu, list pasien yang akan melahirkan udah panjang. Dia harus tetap stay supaya bisa membantu mereka melahirkan nanti. Saking semangatnya, pas giliran Kakaknya yang melahirkan dia malah ambruk," kata Anna disambut tawa semua orang.


"Udah siapin nama untuk si kecil Bang ?" tanya Nicko sambil menatap bayi laki-laki yang terbaring di samping Hilya itu dengan tatapan lembut.


"Udah dong. Namanya Muhammad Fahri Azhari. Ada inisial namaku dan Ayu di sana. Artinya Laki-laki mulia yang patut dibanggakan yang lahir setelah Ashar," sahut Fikri sambil tersenyum bangga.


"Wah nama yang bagus. Dipanggil Fahri boleh Bang ?" tanya Nicko antusias.

__ADS_1


"Iya," sahut Fikri cepat.


Seolah mengerti dengan apa yang tengah dibicarakan. Tiba-tiba bayi mungil yang kemudian dipanggil Fahri itu pun menangis keras. Fikri langsung menggendongnya sedangkan yang lain tertawa sambil berusaha menghiburnya bergantian.


Sementara itu di ruangan Hilya.


Nathan masih berusaha bersabar menghadapi sikap Hilya yang tak bersahabat itu. Meski tampak tak menyukai kehadiran suaminya, namun Hilya mengijinkan Nathan untuk berada di sana.


Tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihatkan Anna di ambang pintu. Hilya tersenyum melihat mertuanya. la berusaha bangkit dari posisi berbaringnya.


"Bunda denger Kamu lagi sakit Nak. Sakit apa ?" tanya Anna sambil mendekati Hilya lalu menyentuh keningnya dengan lembut.


"Ga sakit Bund. Cuma kecapean aja," sahut Hilya sambil tersenyum.


"Tapi Kamu demam lho Hil. Udah minum obat belum ?" tanya Anna cemas.


"Susah Bund. Daritadi dibujuk susah banget. Udah gitu marah-marah terus sama Aku. Padahal Aku ga punya salah apa pun," sela Nathan kesal.


"Apa pun ?" ulang Anna sambil tersenyum mengejek.


Nathan nampak memutar matanya karena tahu sang bunda sedang menyindirnya. Namun berbeda dengan Nathan, Hilya justru tertawa dan itu membuat Anna ikut tertawa.


"Sejak kapan Kamu kesel sama Suamimu Nak ?" tanya Anna sambil merapikan anak rambut Hilya.


"Mungkin semingguan ini Bund," sahut Hilya salah tingkah.


Tentu saja pengakuan Hilya membuat Nathan terkejut. Ia tak menyangka sejak beberapa hari belakangan ternyata sang istri memusuhinya.


Saat Nathan akan membuka mulut untuk melayangkan protes, tiba-tiba Anna mengajukan pertanyaan yang membuat Nathan terpaku.


"Udah coba tes urin belum ?" tanya Anna hati-hati.


"Udah Bund," sahut Hilya sambil menundukkan kepala.


"Terus gimana hasilnya ?" tanya Anna.


Untuk sejenak ruangan hening karena Hilya tak kunjung menjawab pertanyaan sang mertua. Anna tersenyum kemudian mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Hilya dengan lembut.


"Mmm ..., positif Bund," sahut Hilya lirih namun membuat Anna dan Nathan bersorak bahagia.


"Alhamdulillah ...!" kata Anna dan Nathan bersamaan.

__ADS_1


Nathan pun bergegas menghambur mendekati Hilya lalu memeluknya dengan erat. Nathan nampak menciumi kepala sang istri bertubi-tubi. Semua pertanyaan yang memenuhi benaknya hari ini terjawab sudah dengan pengakuan Hilya tadi.


\=\=\=\=\=


__ADS_2