Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
76. Palasik !


__ADS_3

Setelah memastikan kondisi aman, Ira pun memadamkan lampu kamar. Hal yang hampir tak pernah ia lakukan meski pun saat akan merubah diri jadi kuyang.


Namun sejak aksinya diketahui Nathan, sejak saat itu lah Ira mulai berhati-hati jika akan meninggalkan tubuhnya di kamar. Ira tak ingin kedua orangtuanya mengetahui apa yang ia lakukan.


Di dalam gelap terlihat Ira mulai membaringkan tubuhnya. Setelah menyelimuti tubuhnya dengan rapat, Ira pun mulai beraksi. Perlahan kepala Ira tanggal lalu melayang sebentar di atas tubuhnya. Sesaat kemudian kepala tanpa tubuh itu melesat keluar kamar melalui jendela kamar yang telah ia buka sebelumnya.


Ira melesat cepat ke satu tujuan yaitu rumah orangtua Yulia. Namun Ira harus menahan keinginannya untuk menikmati janin di rahim Yulia karena banyak orang di rumah itu. Rupanya sedang ada pesta kecil-kecilan di sana. Pesta itu dibuat untuk merayakan keberhasilan suami Yulia yang baru saja diangkat menjadi manager.


Untuk beberapa saat kepala Ira harus melayang-layang tanpa arah. Dan beberapa saat kemudian penantian Ira pun berakhir. Ia tersenyum lebar saat mengetahui Yulia memisahkan diri dari keluarganya karena ingin ke kamar mandi.


Ira melesat cepat lalu mendahului masuk ke dalam kamar mandi yang terletak di bagian belakang rumah. Ia sengaja sembunyi di balik pintu kamar mandi. Karena penerangan yang minim membuat Yulia tak menyadari kehadiran makhluk jelmaan Ira itu di sana.


Ira menyeringai saat melihat Yulia menyingkap pakaiannya. Dan tanpa membuang waktu Ira langsung menghambur ke bagian bawah tubuh Yulia.


Yulia pun menjerit lalu refleks memukul kepala Ira dengan gayung sambil berusaha menutupi perutnya. Tak hanya sekali tapi berkali-kali hingga gayung yang terbuat dari plastik itu pecah. Dan akibat dari pukulan Yulia menyebabkan kepala Ira sedikit bergeser menjauh. Di saat bersamaan pintu kamar mandi didobrak dari luar dan suami Yulia menerobos masuk.


Kemudian suami Yulia melayangkan pukulan ke kepala Ira yang tengah melayang itu dengan besi yang dibawanya. Saat itu suami Yulia belum menyadari benda apa yang dipukulnya. Suami Yulia hanya tahu bahwa benda itu lah yang membuat Yulia menjerit tadi. Setelahnya laki-laki itu mendekati Yulia lalu memeluknya erat.


"Ada apa Lia ?!" tanya ayah dan adik laki-laki Yulia dari ambang pintu kamar mandi.


Saat itu di luar kamar mandi sudah dipadati keluarga Yulia yang berdatangan karena mendengar jeritannya tadi. Yulia hanya menunjuk kepala Ira yang terhempas di lantai dengan jari telunjuknya yang gemetar.


Suami, ayah dan adik laki-laki Yulia menoleh kearah yang ditunjuk Yulia dan terkejut mendapati sosok kepala mirip kepala manusia teronggok di lantai dengan cairan merah kehitaman di sekitarnya. Rupanya kepala Ira terluka dan berdarah akibat pukulan suami Yulia tadi.


"Palasik !. Itu palasik !. Ambil kain dan besi !" perintah ayah Yulia dengan lantang.

__ADS_1


Adik laki-laki Yulia dan semua tamu yang berdiri di dekat kamar mandi pun terkejut lalu sigap mempersenjatai diri dengan benda apa pun yang berada di dekatnya. Ibu Yulia pun refleks menarik sprei yang tengah dijemur lalu melemparnya kearah sang suami.


Kemudian Ayah Yulia melempar selimut ke kepala Ira yang teronggok di lantai, membungkusnya dengan selimut lalu membawanya keluar dari kamar mandi. Adik Yulia yang kesal nampak memukuli kepala yang terbungkus selimut itu dengan besi yang dibawanya berkali-kali. Bisa ditebak bagaimana efeknya. Darah pun merembes keluar membasahi selimut.


Ayah Yulia yang membawa selimut berisi kepala itu pun membiarkan saja aksi pemukulan yang dilakukan sang anak. Ia merasa kemarahannya terwakili oleh aksi adik Yulia itu.


Kemudian ayah Yulia membawa selimut berisi kepala itu keluar rumah. Ternyata di sana para tetangga sudah berdatangan karena terkejut dengan jeritan Yulia tadi.


"Ada apa Pak ?!" tanya beberapa tetangga bersamaan.


"Ada hantu palasik !" sahut ayah Yulia lantang.


"Apa ...?!" jerit warga lantang.


"Palasik tuh hantu kepala tanpa badan yang biasanya disebut kuyang Mas Ferdi," sahut salah seorang warga.


"Oh, kuyang. Bukannya dia nyerang bayi dan Ibu hamil ya ?. Di sini kan ga ada bayi ...," ucapan Ferdi terputus karena adik Yulia memotong cepat.


" Tapi di sini emang ada yang hamil. Mbak Yulia kan lagi hamil muda Fer, hamil Anak kedua !" kata adik Yulia gusar hingga membuat semua orang termasuk Ferdi mengangguk paham.


"Terus hantunya mau diapain Pak ?" tanya Ferdi.


"Dibakar Mas," sahut ayah Yulia sambil menuangkan bensin ke bungkusan selimut itu.


"Apa ga dibuka dulu Yah ?. Saya penasaran siapa sih yang udah menjelma jadi palasik dan berniat menyakiti Yulia tadi ?" tanya suami Yulia.

__ADS_1


"Ga perlu. Kalo bungkusnya dibuka bisa kabur dia. Kita bakar dulu aja. Ga lama lagi Kita bakal tau siapa orang yang nganut ilmu hitam ini. Karena badan aslinya juga pasti membusuk kalo kepalanya ga balik lagi," sahut ayah Yulia kesal.


Suami Yulia pun mengangguk karena tak ingin menentang keputusan mertuanya itu. Nampaknya ia mengerti mengapa sang mertua semarah itu. Rupanya sang mertua juga punya pengalaman buruk. Dulu saat ia bertugas di Sumatra, anak dan istri pertamanya meninggal dunia karena menjadi korban keganasan kuyang atau palasik. Dan kehadiran makhluk serupa yang kini mengancam anak perempuan dan cucunya membuat kemarahannya kembali berkobar.


Setelah menuang bensin ke bungkusan kepala itu, ayah Yulia melempar sebatang korek api yang telah menyala kearah selimut. Api pun berkobar dengan cepat membakar selimut berikut kepala Ira yang terbungkus di dalamnya.


Kuyang jelmaan Ira itu menjerit kesakitan. Suaranya melengking memecah malam. Semua orang nampak membisu dengan bulu kuduk meremang menyaksikan kepala kuyang itu terbakar.


Semula selimut kain itu yang terbakar. Lalu perlahan api merambat membakar rambut dan kulit kepala Ira hingga ke wajahnya. Ira menangis karena marah dan kesakitan. Ia berusaha kabur. Namun tiap kali kepalanya melayang, saat itu lah adik dan ayah Yulia menghantamnya dengan besi hingga kepala Ira kembali terhempas ke tanah. Setelahnya kelala itu ditendang oleh kerabat Yulia bergantian. Bak bola api yang menggelinding ke sana kemari, begitu lah kepala Ira diperlakukan oleh kerabat Yulia.


Karena iba menyaksikan pembakaran kepala kuyang itu, Ferdi pun memilih pulang ke rumah kost. Sepanjang jalan ia menggerutu karena merasa apa yang dilakukan oleh keluarga Yulia sudah di luar batas kewajaran.


"Kenapa harus main hakim sendiri sih. Kan bisa panggil Polisi buat ngawal dan menyelesaikan semuanya," kata Ferdi kesal.


"Ga bisa Mas. Sampe saat ini belum ada hukum yang mengatur tata cara memperlakukan siluman kuyang. Jadi orang yang membakar dan memusnahkan kuyang ga bakal dihukum karena keberadaan kuyang itu bisa dianggap tak kasat mata dan sulit dibuktikan," sahut seorang warga hingga membuat Ferdi terkejut.


"Maksud Saya, apa ga bisa lebih manusiawi sedikit. Membakar kepala kuyang kaya gitu kan sama aja membakar manusia secara utuh. Apa mereka ga mikir gimana rasa sakit yang harus ditanggung sama siluman itu ?" tanya Ferdi.


"Tapi rasa sakit itu ga sebanding dengan rasa sakit yang udah kuyang itu lakukan Mas. Bayangin rasa sakit yang dirasakan ibu-ibu hamil yang kehilangan anaknya karena direnggut paksa sama kuyang. Bayangin bayi-bayi yang meregang nyawa karena kebuasan makhluk itu. Kalo Saya sih, lebih baik ga berkomentar banyak karena tau gimana sakitnya kehilangan," sahut warga dengan ketus.


Ferdi pun terdiam karena sadar telah salah bicara. Ia berhenti melangkah lalu menatap warga yang melangkah cepat mendahuluinya.


Setelah menghela nafas panjang Ferdi pun kembali melangkah. Lagi-lagi suara jeritan kuyang yang dibakar itu terdengar oleh telinga Ferdi. Ferdi nampak menggedikkan bahunya lalu mempercepat langkahnya agar bisa segera tiba di rumah.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2