
Jika Fikri dan Ayu sedang cemas menunggu kepastian tentang positif atau negatif dari hasil tes kehamilan mandiri melalui test pack, maka Bayan justru sedang dipusingkan dengan cerita Fikri tadi. Bayan pun memutar otak agar bisa meminimalisir pengaruh kutukan siluman kuyang pada salah satu keturunan keluarganya itu.
"Ini ga bisa dibiarkan. Harus ada cara mencegah agar kutukan itu ga bisa lagi mengacau keturunan Alan. Kasian dia kalo sampe tau keturunannya harus menanggung kutukan akibat darah siluman yang mengalir di tubuh Istrinya dulu. Untung Alan udah meninggal, jadi dia ga harus menyaksikan Cucunya jadi siluman kuyang," gumam Bayan gusar.
Bayan bangkit dari posisi duduknya lalu melangkah perlahan menuju jendela besar yang ada di ruangannya. Dari sana dia bisa melihat pemandangan kota Jakarta yang indah dan megah saat malam hari. Namun Bayan menghela nafas panjang saat merasa keindahan yang tersaji di depan matanya tak bisa mengalihkan pikirannya dari ancaman siluman kuyang.
Bayan menoleh saat dering ponselnya terdengar. Ia bergegas meraih ponselnya karena yakin sang istri lah yang menghubunginya. Bayan tersenyum saat melihat nama 'Istriku' di layar ponselnya.
Sambil menjawab panggilan telephon, Bayan pun melangkah keluar ruangan. Saat itu kantor telah sepi karena jam kerja telah lama usai.
"Iya Bund. Ini mau otw," kata Bayan di akhir kalimatnya.
Setelahnya Bayan masuk ke dalam lift. Saat keluar dari lift ia berpapasan dengan security kantor dan Yunus yang kini menjadi supir pribadinya.
"Selamat malam Pak," sapa Yunus dan security kantor.
"Selamat malam. Lagi ngobrolin apaan sih, seru banget kayanya ?" tanya Bayan basa basi.
"Cuma obrolan ngalor ngidul aja Pak. Ngobrolin cerita horror sama Bang Yunus ini ternyata seru juga, Saya jadi terhibur," sahut sang security bernama Boris itu sambil tersenyum.
"Ga terbalik ya. Saya yang terhibur karena stock ceritamu banyak banget," sela Yunus tak mau kalah.
"Namanya juga security Bang. Pekerjaan Kami kan lintas ruang dan waktu. Di saat orang tidur Kami melek dan berjaga. Makanya ga jarang Kami ngeliat penampakan makhluk halus. Kalo cuma kunti sama tuyul aja mah biasa buat Kami," kata Boris sambil tertawa.
Bayan dan Yunus pun ikut tertawa. Tapi ucapan Boris membuat Bayan iseng mengujinya.
__ADS_1
"Kalo ngeliat makhluk halus yang biasanya berkeliaran malam hari pernah ga ?" tanya Bayan.
"Wah banyak Pak. Coba tolong Bapak sebutin makhluk apa yang mau Bapak tau. Insya Allah Saya bisa nyebutin dengan detail nanti," tantang Boris.
"Oh nantangin nih ceritanya. Kasih Nus !" pinta Bayan pada Yunus.
Yunus pun mengangguk lalu menyebutkan beberapa jenis hantu. Ternyata sang security bisa menyebutkan citi-ciri semuanya dengan gamblang tanpa rasa takut.
"Kalo kuyang gimana ?" tanya Yunus kemudian.
"Oh kalo makhluk yang satu itu Saya agak sedikit takut Bang," sahut Boris sambil nyengir.
"Kenapa, serem ya ?" tanya Yunus sambil tersenyum mengejek.
"Masa sih. Seserem apa Bor ?" tanya Yunus penasaran.
"Ck. Sebenernya Saya malas buat nyeritainnya Bang. Yah, bisa dibilang Saya trauma. Waktu itu Saya lagi liburan di kampung Istri Saya. Ngobrol sama sodara dan tetangganya sampe larut malam. Pas lagi enak ngobrol, tau-tau ada suara jeritan dari rumah tetangga. Kami lari semua ke sana karena khawatir. Pas sampe di sana udah banyak orang tapi ga ada seorang pun yang berani masuk ke dalam rumah. Katanya di dalam ada paraji lagi bantuin penghuni rumah melahirkan. Saya bingung, udah tau jeritan yang terdengar itu ga wajar tapi warga diem aja," kata Boris sedikit kesal.
"Ga wajar gimana maksud Kamu ?" tanya Bayan tak mengerti.
"Ya ga wajar Pak. Suara jeritannya itu beda banget sama suara orang yang mengejan saat melahirkan. Saya tau karena Saya kan udah dua kali nemenin Istri Saya melahirkan. Menurut Saya itu lebih mirip suara orang ketakutan. Karena ga sabar, akhirnya Saya pura-pura pergi dari sana padahal sebenernya Saya cari jalan buat masuk ke rumah itu. Akhirnya Saya nemu jalan pintas. Saya deketin rumah itu dari arah belakang. Dan pas saat itu Saya ngeliat jendela kamar yang terbuka sedikit. Saya ngintip aja ke dalam dan ...," Boris menghentikan ceritanya lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Dan apa ?!" tanya Bayan dan Yunus tak sabar.
"Saya ngeliat hantu kepala alias kuyang lagi menggigit kepala bayi yang baru lahir itu Pak. Mengunyahnya dengan lahap sambil mengeluarkan suara-suara menjijikkan. Bayi itu menggelepar tanpa suara sedangkan Ibunya melotot ketakutan sambil tangannya berusaha menggapai kearah bayinya. Setelahnya kuyang itu melepaskan bayi yang udah ga bernyawa itu lalu menerobos masuk ke jalan lahir Ibunya si jabang bayi itu untuk menguras darah wanita itu. Wah, pokoknya horror banget deh Pak. Kalo inget itu Saya sampe ga bisa tidur !" kata Boris gusar.
__ADS_1
Bayan dan Yunus saling menatap sejenak karena terkejut mendengar cerita Boris.
"Terus kemana paraji yang katanya bantuin wanita itu melahirkan ?" tanya Bayan kemudian.
"Nah itu yang Saya bingung Pak. Saat itu Saya ga ngeliat siapa pun di kamar selain bayi dan Ibunya juga kuyang itu," sahut Boris cepat.
"Aneh. Terus gimana reaksi orang-orang pas tau apa yang terjadi ?" tanya Yunus.
"Gempar Bang. Ternyata warga baru sadar telah terjadi sesuatu yang aneh ya dua jam setelah kejadian. Tapi terlambat. Bayi dan Ibunya udah meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan. Kepala bayi berlubang tanpa isi kepala. Kondisi Ibu si bayi juga kaya kehabisan darah gitu karena saat ditemukan badannya kering dan membiru," sahut Boris sendu.
"Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun ...," kata Bayan dan Yunus prihatin.
"Sedih kan dengernya. Saya aja sedih ceritainnya. Makanya menurut Saya, hantu yang paling serem ya si kuyang itu. Karena ga hanya menyerang bayi dan ibu hamil, dia juga membunuh mereka tanpa ampun," kata Boris sambil tersenyum kecut.
"Apa hantu kuyang itu masih berkeliaran sampe sekarang Bor ?" tanya Bayan cemas.
"Saya ga tau pasti. Tapi menurut Saya, kuyang bakal berkeliaran mencari mangsa selama orang yang menganut ilmu kuyang itu masih hidup Pak," sahut Boris.
"Terus, apa warga di sana punya cara jitu untuk menghadapi siluman itu ?" tanya Bayan penasaran.
"Kayanya sih iya Pak. Tapi Saya ga tau persis gimana caranya karena besoknya Saya langsung ngajak Istri dan Anak-anak Saya pulang ke Jakarta. Saya ga pernah mau datang ke sana saat malam hari. Kalo Kami kemalaman dan terpaksa menginap, lebih baik Saya keluar uang sedikit untuk nginep di penginapan yang ga jauh dari kampung daripada ngebiarin Anak-anak Saya dimangsa kuyang Pak," sahut Boris cepat.
Bayan mengangguk paham karena ia pun akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi Boris.
\=\=\=\=\=
__ADS_1