
Saat perawat pertama tiba di ruang bayi, dia segera membuka pintu dan terkejut menyaksikan para bayi bersimbah darah.
"Astaghfirullah aladziim ..., kenapa bayi-bayi ini berdarah ?! kata sang perawat dengan panik lalu mendekati box bayi terdekat.
Dengan tangan gemetar perawat itu menyentuh kepala sang bayi yang mengeluarkan darah. Kedua mata perawat itu nampak berkaca-kaca saat tahu jika darah yang ada di kepala sang bayi memang darah milik sang bayi.
" Ya Allah, kasian banget sih Kamu Nak ...," gumam perawat itu dengan suara bergetar.
Dengan hati-hati perawat itu meraih sang bayi lalu menggendongnya. Ia menoleh dan terkejut melihat kondisi para bayi yang ada di sana sama persis dengan bayi yang digendongnya.
Tak lama kemudian beberapa perawat juga tiba di kamar bayi dan terkejut. Bahkan tanpa sadar mereka mematung di ambang pintu saking terkejutnya melihat para bayi sedang menangis dengan darah yang bertebaran di beberapa tempat. Di box bayi, lantai juga dinding kamar.
" Jangan bengong di situ. Bantuin Saya nenangin bayi-bayi ini !" kata perawat pertama sambil melotot galak kearah rekan-rekannya.
"I-iya ...!" sahut para perawat bersamaan.
Kemudian para perawat bergegas menghampiri para bayi, menggendong mereka lalu mendekap mereka dengan erat.
Saat para perawat masuk ke dalam kamar bayi, saat itu lah siluman kuyang yang sudah kenyang itu melesat keluar melalui celah pintu kamar yang terbuka.
Siluman kuyang itu melesat cepat di kegelapan malam. Wajahnya nampak menyeringai puas. Bagaimana tidak. Semua bayi di dalam ruangan itu berhasil ia lukai, dan darah semua bayi pun ia cicipi. Kini ia sedang bersenandung riang menikmati keberhasilannya.
Senandung riang sang siluman terdengar mirip lengkingan hewan buas. Terdengar merdu di telinga sang siluman tapi terdengar menyeramkan bagi siapa pun yang mendengarnya.
Dalam waktu singkat Rumah Sakit itu pun gempar. Berita tentang bayi-bayi yang terluka tanpa sebab menyebar dengan cepat. Security pun terpaksa meminta bantuan pihak Kepolisian untuk membantu menangani masalah tersebut. Apalagi orangtua dan keluarga para bayi mengajukan komplain dan meminta kompensasi atas kejadian buruk yang menimpa bayi mereka.
Kini kamar bayi didatangi Polisi dan team forensik. Para bayi dipindahkan ke ruangan khusus bersama ibu mereka agar mudah diawasi.
Sementara itu di dalam kamar rawat inap Rosi suasana nampak tenang. Anna dan Hilya mulai terbiasa dengan keberadaan tubuh Rosi yang tergeletak di lantai itu. Apalagi sekarang tubuh tanpa kepala itu ditutupi selimut sehingga mereka tak harus bergidik ngeri tiap kali melihat kearah yang sama.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan memperlihatkan dokter Yusuf yang baru saja dari luar. Wajah pria itu terlihat sangat tegang. Meski sang dokter diam, namun semua orang yakin telah terjadi sesuatu di luar sana.
"Ada apa dok, kenapa mukanya tegang begitu ?" tanya Nathan.
"Kita salah langkah," kata dokter Yusuf sambil mengusap wajahnya.
"Maksud dokter salah langkah gimana ?" tanya Bayan tak mengerti.
"Di saat Kita sembunyi di sini, siluman itu justru menyerang para bayi ga berdosa itu Pak Bayan !" sahut dokter Yusuf gusar hingga mengejutkan semua orang.
"Apa ?!" kata semua orang di ruangan itu tak percaya.
"Iya. Saya baru dapat kabar kalo ada kejadian aneh di ruang bayi. Semua bayi menangis tiba-tiba secara bersamaan. Saat dicek oleh para perawat, ternyata mereka menemukan para bayi dalam kondisi berlumuran darah. Ada luka di kepala mereka dan luka itu masih mengeluarkan darah sampe sekarang. Dan yang mengerikan adalah karena darah juga menyebar di seluruh ruangan, di box, lantai juga dinding kamar," kata dokter Yusuf dengan suara bergetar.
Setelah mengatakan itu dokter Yusuf terduduk di sofa lalu menunduk dalam. Nampaknya sang dokter sangat shock mengetahui para bayi yang sedang berusaha ia lindungi justru telah menjadi korban siluman kuyang.
Untuk sejenak suasana di dalam kamar itu menjadi hening, tak ada suara. Hanya suara nafas yang memburu yang terdengar karena saat itu semua orang merasa sangat marah. Semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Bayan bangkit lalu menghampiri dokter Yusuf.
"Tapi nyatanya siluman itu justru berpesta di ruang bayi Pak Bayan !" sahut dokter Yusuf dengan kedua mata memerah menahan tangis.
"Iya, Saya minta maaf untuk itu. Tapi ...," ucapan Bayan terputus saat dokter Abraham memotong cepat.
"Mereka akan baik-baik saja dokter !" kata dokter Abraham lantang.
"Apa maksud dokter ?" tanya dokter Yusuf tak mengerti.
"Tadi kan dokter Yusuf bilang kalo semua bayi terluka. Itu artinya siluman itu melukai mereka secara bergantian. Mungkin benar dia sedang berpesta. Tapi pesta sendirian dengan makanan yang jumlahnya banyak tak akan maksimal bukan ?. Sama seperti manusia pada umumnya yang memiliki sifat serakah. Maka siluman itu juga pasti hanya mencicipi semua hidangan untuk memuaskan rasa penasarannya. Ingat hanya sedikit !" kata dokter Abraham dengan tenang.
"Artinya siluman itu tak mengonsumsi darah para bayi dalam jumlah banyak. Para bayi menangis karena sakit dan takut melihat siluman itu, dan itu adalah hal yang wajar. Apalagi penampakan siluman itu memang menyeramkan," kata Bayan menambahkan.
__ADS_1
"Betul !" sahut dokter Abraham.
"Jadi ga seharusnya Kita terprovokasi oleh aksi siluman kuyang itu. Dia pasti sengaja melakukannya untuk menarik perhatian Kita dan memaksa Kita keluar dari sini," kata Nathan.
"Dan Kita ga akan keluar dari sini karena sebentar lagi dia akan kembali untuk menemui potongan tubuhnya itu," kata dokter Yusuf kemudian.
Semua orang mengangguk lalu tersenyum mendengar ucapan dokter Yusuf. Mereka senang karena dokter Yusuf kembali fokus pada tujuan awal mereka.
"Jadi mari bersiap menyambut kedatangan siluman itu," kata Bayan sambil tersenyum.
"Dan saat dia tertangkap nanti, dokter bisa melampiaskan rasa kesal dokter lho," gurau Nathan.
"Saya bukan melampiaskan rasa kesal Saya Mas Nathan. Tapi Saya mewakili para bayi yang sudah disakiti oleh siluman itu tadi untuk membalas dendam," sahut dokter Yusuf sambil tersenyum getir.
"Juga bayi-bayi lainnya di luar sana dok !" kata Hilya mengingatkan.
"Betul Mbak Hilya. Juga bayi-bayi di luar sana yang telah menjadi korban kekejaman siluman itu !" sahut dokter Yusuf geram sambil mengepalkan telapak tangannya.
Semua orang di ruangan itu pun tertawa melihat reaksi dokter Yusuf. Namun tawa mereka berhenti saat Bayan menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Sssttt ..., dia datang. Semua bersiap di posisi masing-masing ya," kata Bayan dengan suara pelan.
"Siap ...," sahut semua dengan suara yang tak kalah pelannya dari suara Bayan.
"Bagus. Tolong awasi bayi-bayi ini saat Kami menghadapi siluman itu nanti ya Bund, Hil ...," pinta Bayan sambil menatap Anna dan Hilya bergantian.
"Siap Yah," sahut Anna dan Hilya cepat.
Bayan mengangguk lalu merangsek maju ke jendela bersama dokter Abraham. Keduanya menunggu di sana dengan sebilah besi di tangan masing-masing. Sedangkan Nathan dan dokter Yusuf berdiri di tengah ruangan dan di samping tubuh Rosi yang tanpa kepala itu. Semuanya menatap kearah jendela dan bersiap menyambut kedatangan siluman itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=