Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
166. Solusi Untuk Ayu


__ADS_3

Setelah mendengarkan semua curahan hati Ramadhanti, Nicko pun mengerti. Ia berjanji akan menyelesaikan masalah ini segera. Namun saat Nicko mengajak istrinya itu untuk pulang, sang istri menolak.


"Aku janji mau menyelesaikan ini secepatnya Sayang. Masa Kamu ga percaya sama Aku sih ?" tanya Nicko gusar.


"Bukan ga percaya Mas. Ini udah terlalu malam buat Nira. Apa Kamu tega Nira kena angin malam ?" tanya Ayu.


"Jadi Aku pulang sendirian nih ceritanya. Terus Aku jemput Kamu jam berapa besok ?" tanya Nicko.


"Ijinin Aku di sini beberapa hari ya Mas. Percuma Aku pulang besok. Kalo Mbak Ayu datang lagi ke rumah, Aku pasti kaya gini lagi. Aku ga bisa marah sama Mbak Ayu karena Aku ga ingin dia terluka. Lagian Aku kan bisa istirahat sebentar di sini karena ada Wak Idrus yang bakal bantu ngawasin Nira nanti," pinta Ramadhanti.


Nicko nampak berpikir sebentar kemudian mengangguk. Ia setuju untuk menitipkan anak dan istrinya sementara waktu di rumah Wak Idrus. Ia juga berharap bisa menemukan solusi untuk masalahnya ini agar bisa berkumpul lagi dengan keluarga kecilnya itu.


"Ok deh, Aku ijinin Kamu tinggal di sini. Cuma beberapa hari aja ya. Tapi tolong jangan larang Aku buat datang menjenguk Kamu dan Nira di sini," kata Nicko akhirnya.


"Iya, makasih Mas. Tapi tolong jangan kasih tau Mbak Ayu kalo Aku di sini ya. Aku ga mau dia nyusul ke sini dan malah dimarahin sama Wak Idrus nanti," kata Ramadhanti.


"Iya," sahut Nicko sambil merebahkan tubuh di samping bayinya hingga membuat Ramadhanti mengerutkan keningnya karena bingung.


"Kamu kok malah tiduran sih Mas. Kamu ga mau pulang sekarang ?. Ini udah larut lho," kata Ramadhanti mengingatkan.


"Justru itu Sayang. Ini udah terlalu larut buat pulang ke rumah tanpa Kalian. Makanya Aku mau tidur di sini aja malam ini," sahut Nicko sambil mengecup pipi sang bayi dengan hati-hati.


"Ck. Kalo gitu sama aja dong. Aku jauh-jauh ke sini kan karena mau menghindar sebentar supaya ga ribut sama Kamu Mas. Eh, Kamunya malah tidur di sini," kata Ramadhanti sambil berdecak sebal.


"Sssttt ..., udah ga usah berisik. Udah malam, tidur ...," kata Nicko sambil menarik lengan istrinya dengan lembut agar berbaring di sampingnya.


"Jangan tidur dulu Mas. Cuci kaki, tangan dan muka dulu sana," pinta Ramadhanti.


Nicko pun bangkit lalu bergegas keluar dari kamar. Ramadhanti hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya. Namun sesaat kemudian ia tersenyum senang karena tahu Nicko tak akan bisa jauh darinya dan bayi mereka.


Di luar kamar Nicko bertemu Wak Idrus. Ia menyampaikan keinginan Ramadhanti untuk tinggal di sana beberapa hari. Tentu saja Wak Idrus menerimanya dengan senang hati. Dan saat Nicko mengatakan akan ikut menginap malam itu, wak Idrus pun tertawa.


"Emang ga enak kalo jauh sama Istri ya Nick. Ribut sih boleh, pisah kamar juga ok, asal masih satu rumah sih santai. Yang penting masih bisa ngeliat wujudnya. Tapi kalo udah minggat kaya gini, repot juga jadinya," kata wak Idrus di sela tawanya.

__ADS_1


"Iya Wak. Aku malah bingung mau ngapain," sahut Nicko malu-malu.


"Ya ya, Uwak juga pernah ngalamin kaya Kamu kok Nick. Sekarang udah malam, sebaiknya Kamu istirahat ya," kata wak Idrus.


Nicko pun mengangguk lalu melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajah, kaki dan tangannya sesuai permintaan istrinya tadi.


\=\=\=\=\=


Karena harus bekerja, Nicko memutuskan akan membicarakan masalahnya nanti. Ia berencana menemui ayahnya sekaligus meminta bantuannya untuk menengahi Ayu dan Ramadhanti setelah pulang bekerja. Namun ia sempat menghubungi Bayan dan menceritakan sebagian kecil keluhan istrinya itu.


Bayan pun setuju untuk membicarakan itu nanti.


"Ga enak kalo dibahas lewat telephon Nick. Insya Allah Ayah senggang bada Ashar nanti. Kamu datang aja ke kantor," kata Bayan.


"Siap Yah," sahut Nicko sambil tersenyum.


Dan siang itu Ayu kembali mendatangi rumah Nicko. Ia mengerutkan keningnya saat mendapati rumah dalam kondisi sepi dan pintu pagar terkunci. Ayu pun mengucap salam sambil memanggil nama Dhanti berulang-ulang, namun ia kecewa karena tak mendapat respon.


"Maaf, Dhanti kemana ya Bu. Kok daritadi Saya panggilin ga keluar ?" tanya Ayu pada warga yang kebetulan melintas.


"Oh gitu, makasih ya Bu," kata Ayu sedih.


Warga pun mengangguk sambil tersenyum. Setelahnya Ayu melangkah meninggalkan rumah Nicko dengan lesu.


\=\=\=\=\=


Sore itu Bayan mengundang Fikri untuk datang ke kantornya. Nathan yang tiba lebih dulu nampak tersenyum menyambut kehadiran sepupunya itu. Tak lama kemudian Nicko pun tiba dan langsung mencium punggung tangan Bayan, Nathan dan Fikri bergantian.


" Ada apa nih Yah. Kok tumben Kita dikumpulin di sini ?" tanya Fikri karena mencium ada sesuatu yang penting yang akan dibahas saat itu.


"Ini tentang pernikahan Nathan dan Hilya. Apa Kalian udah siap buat membantu Nathan ?. Kan diantara Kalian bertiga Nathan adalah yang terakhir menikah, jadi Ayah pikir dia perlu sedikit pengarahan," sahut Bayan sambil melirik kearah Nathan.


"Insya Allah siap Yah," sahut Fikri dan Nicko bersamaan.

__ADS_1


"Bagus. Apa ada yang mau Kamu tanyain Nath ?" tanya Bayan.


"Kayanya ga ada Yah. Saat ini Aku cuma perlu mempersiapkan mental aja menuju hari H. Aku bisa tanya Bang Fikri atau Nicko kalo ada yang ga paham nanti," sahut Nathan.


"Betul. Kalo soal malam pertama kan ga perlu diajarin Yah. Itu mah naluri, iya kan Nick ?" gurau Fikri.


"Iya Bang," sahut Nicko sambil tertawa.


Bayan pun ikut tertawa sedangkan Nathan nampak salah tingkah. Karena sudah janji akan menjemput Hilya, Nathan pun pamit lebih dulu.


Setelah Nathan pergi, Bayan pun mulai membicarakan keluhan Ramadhanti. Fikri nampak mendengarkan dengan serius dan itu membuat Nicko tak enak hati. Ia menduga Fikri akan marah nanti.


Ternyata dugaan Nicko salah. Fikri nampak menganggukkan kepala lalu menghela nafas panjang.


"Abang minta maaf karena udah bikin Kamu sama Dhanti ga nyaman ya Nick. Abang udah nasehatin Mbak Ayu supaya jangan terlalu sering berkunjung ke rumah Kamu tapi dia tetap ngeyel," kata Fikri.


"Kalo sekedar berkunjung sih ga masalah Bang. Dhanti juga seneng kok. Tapi masalahnya Mbak Ayu mengusik ketenangan Nira. Itu bikin Nira rewel dan Dhanti jadi kesel. Padahal menurut Dhanti, Mbak Ayu kan tau kalo bayi yang baru lahir itu butuh istirahat dan tidur yang cukup supaya bisa tumbuh dengan baik. Tapi gara-gara Mbak Ayu selalu mengusik Nira dan mengajaknya bicara, Nira jadi rewel bahkan demam saat malam hari," sahut Nicko hati-hati.


Fikri terdiam beberapa saat. Ia mengerti mengapa Ayu bertingkah seperti itu. Namun karena telah membuat resah, Fikri berpikir untuk membawanya berobat ke psikiater.


"Maaf Bang. Apa keputusan Abang ga berlebihan ?" tanya Nicko.


"Maksud Kamu apa Nick ?" tanya Fikri.


"Maksudku, Mbak Ayu ga sakit jiwa Bang, jadi ga perlu dibawa ke psikiater. Mungkin dia memang sedikit depresi karena kehilangan Arafah dan Adiknya. Apa ga sebaiknya dilakukan pendekatan secara Islami biar Mbak Ayu ga kebablasan," kata Nicko hati-hati.


"Ayah setuju sama Nicko. Selain itu keliatannya Istrimu itu perlu diruqyah Fik. Mungkin karena terlalu shock karena kehilangan Anaknya, pikirannya jadi ngelantur kemana-mana dan dimanfaatkan oleh setan. Terus setan menyusup dan menuntun Ayu agar melakukan sesuatu yang ga semestinya," kata Bayan.


Ucapan Nicko dan Bayan membuat Fikri terdiam. Ia nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk setuju.


"Kalo gitu Aku bakal minta tolong Abi untuk membantu meruqyah Ayu. Makasih Yah, Nick. Makasih karena ga membenci Ayu," kata Fikri dengan tulus.


"Jangan berlebihan Bang. Mbak Ayu kan keluarga Kita, mana mungkin Kami abai sama kondisi kesehatannya. Iya kan Yah ?" kata Nicko yang diangguki Bayan.

__ADS_1


Fikri pun tersenyum mendengar ucapan Nicko. Dalam hati ia sedikit menyesal karena terlambat bertindak. Namun ia berharap agar Ayu bisa kembali hidup normal setelah diruqyah nanti.


\=\=\=\=\=


__ADS_2