Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
29. Security Baru


__ADS_3

Saat mendengar suara adzan Subuh berkumandang, Bayan pun mengakhiri lamunannya. Ia bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk menunaikan sholat berjamaah di musholla.


Setelah berwudhu dan mengenakan baju koko serta sarung, Bayan pun keluar dari rumah lalu mengunci pintu. Sambil melangkah menuju pintu pagar, Bayan menyempatkan diri mengamati sekelilingnya dan terkejut saat melihat sosok hitam yang melayang persis di depan jendela kamarnya.


Bayan berhenti melangkah. Ia mengambil batu lalu melemparkannya kearah sosok hitam yang masih melayang itu.


"Pletaakkk !"


Batu yang dilempar Bayan tepat mengenai sasaran dan itu membuat Bayan bersorak dalam hati.


Sosok hitam itu nampak melayang dengan limbung. Seolah sadar jika kehadirannya diketahui pemilik rumah, sosok hitam itu melesat cepat ke angkasa dan hilang di tengah kegelapan.


Bayan masih berdiri mematung sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Tatapannya terpaku kearah hilangnya sosok hitam itu. Bayan baru tersadar saat beberapa orang tetangga melintas dan salah seorang diantara mereka menyapanya.


"Mau ke musholla juga Mas Bayan ?" tanya sang tetangga.


"Eh, i-iya Pak," sahut Bayan gugup.


"Kalo gitu bareng aja yuk," ajak sang tetangga.


Bayan mengangguk sambil tersenyum lalu bergegas menutup pintu pagar. Sambil melangkah, beberapa kali Bayan menoleh kearah rumahnya. Ia berharap bayangan hitam tadi tak datang lagi karena Bayan tahu betul jika makhluk malam seperti itu akan lari saat adzan Subuh berkumandang atau saat matahari terbit.


\=\=\=\=\=


Karena bingung harus melakukan apa di rumah tanpa istri dan anak-anaknya, Bayan pun memilih pergi ke kantor lebih awal tadi. Meski pun Bayan sudah berusaha memperlambat laju kendaraannya, toh ia tetap tiba satu jam lebih awal dibanding biasanya.


Bayan tersenyum saat para karyawan yang berpapasan dengannya menyapa dengan hormat. Salah seorang OB bernama Yunus yang baru saja selesai membersihkan ruangan, nampak menyambut Bayan dengan tatapan bingung.

__ADS_1


"Kenapa bengong ngeliat Saya, aneh ya kalo Saya datang lebih awal dari yang lain ?" tanya Bayan.


"Oh, ga kok Pak. Maaf kalo sikap Saya bikin Bapak ga nyaman," sahut Yunus.


"Gapapa, Saya juga udah dapat tatapan yang sama sejak masuk kantor tadi," sahut Bayan sambil tersenyum.


Ucapan Bayan membuat Yunus salah tingkah. Untuk mencairkan suasana, Bayan pun meminta Yunus membuatkannya kopi. Yunus mengiyakan permintaan Bayan lalu bergegas pergi ke pantry untuk menyeduh kopi sedangkan Bayan masuk ke dalam ruangannya.


Setelah meletakkan tas di atas meja kerja, Bayan melangkah menuju jendela besar sambil menatap keluar gedung. Bayan nampak tersenyum menikmati suasana paginya yang terasa berbeda kali ini. Dari atas gedung Bayan bisa melihat jalan raya yang berkelok menyerupai ular besar di bawah sana. Sayangnya jalan itu dipadati kendaraan. Bahkan saking padatnya seluruh kota dipenuhi asap kendaraan bermotor hingga nampak berkabut.


Bayan menoleh lalu tersenyum saat Yunus berdiri di ambang pintu yang ia biarkan terbuka tadi. Setelah Bayan mengangguk pertanda mengijinkannya masuk, Yunus pun berani melangkah memasuki ruangan untuk meletakkan cangkir berisi kopi pesanan sang bos tadi.


Melihat sikap Yunus dan mengingat loyalitasnya dalam bekerja selama ini membuat Bayan tertarik. Bahkan Bayan berniat menjadikan Yunus sebagaj security di rumahnya. Saat Yunus pamit untuk melanjutkan pekerjaannya, Bayan pun menahannya.


Kemudian Bayan meminta Yunus duduk dan menanyai beberapa pertanyaan padanya. Yunus yang tak curiga jika sang bos sedang 'menginterviewnya' secara pribadi pun nampak menjawab semua pertanyaan dengan lugas dan lancar.


"Jadi kalo ada tawaran kerja ringan yang gajinya lebih besar, apa Kamu mau ?" tanya Bayan.


"Bagus. Nanti sore Kamu ikut Saya ke rumah Saya ya. Dan mulai besok Kamu ga perlu jadi OB lagi di kantor ini karena Kamu akan jadi security di rumah Saya. Gimana, Kamu mau ga ?" tanya Bayan sambil menatap Yunus lekat.


Ucapan Bayan membuat Yunus terkejut. Ia terdiam dengan mulut ternganga hingga membuat Bayan tersenyum. Setelah Bayan bertanya untuk kedua kalinya, Yunus pun mengangguk setuju.


"Saya siap Pak. Saya senang akhirnya cita-cita Saya kesampean. Sebenernya waktu awal melamar di perusahaan ini Saya melamar jadi security. Tapi ga tau kenapa, waktu lolos seleksi Saya justru ditempatkan jadi OB," kata Yunus dengan wajah berbinar.


"Oh ya. Harusnya Kamu komplain waktu itu karena ditempatkan di posisi yang ga seharusnya," kata Bayan.


"Saya ga berpikir begitu Pak. Buat Saya saat itu yang penting Saya punya pekerjaan supaya gajinya bisa biaya berobat Ibu Saya," sahut Yunus malu-malu.

__ADS_1


Jawaban Yunus lagi-lagi membuat Bayan terkesan. Dalam hati ia bersyukur bisa memberi Yunus pekerjaan yang lebih baik dan dengan gaji yang lebih besar pula.


\=\=\=\=\=


Bayan dan Rama nampak berbincang santai di sebuah rumah makan usai makan siang. Ketidak hadiran Riko yang tanpa kabar membuat Bayan dan Rama sedikit tak nyaman.


Saat Rama mencoba menghubungi Riko, sang sahabat tak merespon. Bayan menduga terjadi pertengkaran antara Rama dan Riko seperti biasanya hingga Riko ngambek dan tak memberi kabar sama sekali.


"Ga ada masalah apa-apa kok. Kemaren Gue juga yang nganterin Riko pulang karena motornya mogok. Bahkan terakhir ketemu dia masih sempet ngeledekin Gue. Harusnya kan Gue yang marah bukan dia," kata Rama.


"Kok aneh. Ga biasanya Riko ngilang kaya gini. Soalnya Gue telephon juga ga diangkat, chat juga ga dibales. Jangan-jangan terjadi sesuatu sama dia Ram," kata Bayan.


Ucapan Bayan membuat Rama cemas. Ia pun bergegas meraih ponselnya lalu mencari nomor telepon istri Riko yang bernama Mona itu untuk menanyakan kondisi sang sahabat. Sayangnya Mona juga tak merespon saat dihubungi. Tentu saja hal itu membuat Rama dan Bayan bertanya-tanya.


"Kita samperin ke rumahnya aja ntar sore yuk Yan," ajak Rama.


"Sorry ga bisa Ram. Gue udah janji sama Yunus mau ngajak dia ke rumah," sahut Bayan.


"Yunus yang mana, yang OB itu ?" tanya Rama.


"Iya. Gue ada rencana jadiin Yunus security di rumah Gue. Soalnya belakangan ini rumah Gue diterror sama orang ga dikenal. Kasian Yumi dan Arti ketakutan sampe ga berani keluar rumah. Malah pas Gue pulang ke rumah, Yumi sampe minta temenin Arti buat buka pintu," kata Bayan menjelaskan.


Bayan sengaja tak mengatakan alasan sebenarnya mengapa ia membutuhkan security. Bayan juga tak menceritakan apa yang terjadi di kediamannya secara gamblang karena tak ingin Rama panik.


Mendengar penuturan Bayan membuat Rama mengangguk tanda setuju. Seperti Bayan, Rama pun menilai Yunus sebagai pribadi yang baik dan bertanggung jawab. Bahkan Bayan, Rama dan Riko pernah membahas penampilan fisik Yunus yang memang lebih cocok untuk jadi security dibandingkan OB.


Karena Bayan tak bisa mengantarnya ke rumah Riko, Rama pun memutuskan pergi seorang diri ke rumah Riko nanti sore.

__ADS_1


Setelah mengatakan niatnya, Rama dan Bayan pun kembali ke kantor karena jam istirahat hampir usai.


\=\=\=\=\=


__ADS_2