Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
188. Siapa Rosi ?


__ADS_3

Diantara orang-orang yang berkerumun terlihat security klinik yang tadi berbincang dengan Rosi. Ia nampak khawatir akan keselamatan Bayan dan Anna.


"Apa Bapak dan Ibu baik-baik aja ?" tanya sang security yang bernama Riza itu dengan cemas.


"Alhamdulillah Saya dan Ibu baik-baik aja, makasih Riz," sahut Bayan sambil tersenyum.


"Keliatannya bannya selip, makanya sedikit oleng tadi," kata salah seorang warga.


Bayan hanya mengangguk mendengarkan ucapan warga yang mengerumuninya. Kemudian ia menoleh kearah Anna yang masih mematung sambil menggenggam lengannya.


"Kamu gapapa kan Bund ?" tanya Bayan sambil menyentuh jemari Anna yang menggenggam lengannya itu.


"A-Aku gapapa Yah. I-itu tadi apa Yah, kenapa mobil Kita hilang kendali ?" tanya Anna gugup.


"Maafin Ayah ya Bund. Ayah agak hilang fokus tadi," kata Bayan penuh sesal.


Anna masih ingin bertanya apa maksud ucapan suaminya itu. Namun ia urungkan karena melihat warga yang berdatangan. Sempat terjadi pembicaraan antara Bayan dan warga. Dan sesaat kemudian Bayan pun menoleh kearah istrinya.


"Maaf ya kalo kepulangan Kita ke rumah tertunda Bund. Kita terpaksa menepi sebentar untuk ngecek kondisi mobil," kata Bayan.


"Iya Yah," sahut Anna cepat.


Kemudian Bayan memarkirkan mobil di halaman Klinik Bersalin Hilya. Ia turun dari mobil untuk menyapa warga disusul Anna.


Seorang karyawan bengkel yang terletak tak jauh dari Klinik Bersalin Hilya pun dipanggil untuk mengecek kondisi mobil Bayan. Tak lama kemudian montir itu nampak mengacungkan jempol sambil tersenyum pertanda mobil dalam kondisi baik.


"Alhamdulillah ...!" kata Bayan dan warga bersamaan.


"Makasih ya Mas," kata Bayan sambil menyelipkan uang ke tangan sang montir.


"Ga usah Pak. Saya cuma ngecek sebentar aja kok tadi, ga ada yang diperbaiki jadi Bapak ga perlu bayar," tolak sang montir.


"Gapapa ambil aja. Ini bisa buat jajan Anakmu kan ?" kata Bayan memaksa hingga membuat sang montir tersenyum.


"Kalo gitu Saya terima deh. Makasih ya Pak, Bu," kata sang montir sambil memasukkan uang tersebut ke saku bajunya.

__ADS_1


Setelah sang montir pamit, warga yang berkerumun pun ikut membubarkan diri satu per satu lalu kembali ke tempat masing-masing.


"Untung Bu Hilya udah pulang ya Pak. Kalo ga, beliau pasti panik ngeliat kejadian tadi," kata Riza.


"Iya. Hilya emang panikan apalagi kalo itu melibatkan keluarganya," sahut Bayan sambil tersenyum bangga.


"Keliatannya klinik lagi sepi ya Riz ?" tanya Anna sambil menatap kearah klinik.


"Iya Bu. Malam ini ga ada pasien yang nginep di sini. Pasien terakhir yang melahirkan udah pulang sore tadi," sahut Riza cepat.


"Jadi Kamu sendirian di Klinik Riz ?" tanya Anna.


"Ga Bu. Ada karyawan kebersihan yang tugas shift malam dan Bu Rosi. Sejak Bu Rosi tinggal di Klinik, Saya ga sendirian lagi kalo jaga malam," sahut Riza.


"Bu Rosi ?" tanya Bayan dan Anna bersamaan.


"Iya. Bu Rosi itu karyawan juga. Udah sekitar tiga bulanan kerja di sini. Usianya memang ga muda lagi, makanya Bu Hilya ga ngasih kerjaan khusus sama dia. Bu Rosi cuma bantu-bantu aja di Klinik. Kadang buang sampah kaya tadi, bantuin gotong pasien ke kamar bersalin dan nyeduhin kopi atau teh untuk semua karyawan. Pokoknya kerjaan ringan lah," sahut Riza cepat.


"Oh gitu. Tapi Hilya ga pernah cerita tuh. Iya kan Yah ?" tanya Anna sambil melirik kearah suaminya yang nampak menatap lekat ke dalam klinik.


"Iya Bund," sahut Bayan cepat.


"Mungkin juga. Soalnya kalo sampe rumah kan udah larut. Karena capek biasanya Hilya langsung istirahat di kamar," kata Anna yang diangguki Bayan.


Setelah mengatakan itu Anna pun mengajak suaminya untuk pulang dan Bayan setuju. Ia melambaikan tangannya kearah warga untuk berpamitan. Setelahnya Bayan masuk ke dalam mobil sedangkan Riza membantu mengarahkan Bayan keluar dari area klinik.


Sebelum meninggalkan klinik, Bayan menoleh sekali lagi ke dalam klinik seolah mencari sesuatu. Karena sesuatu yang dicarinya tak ditemui, Bayan pun segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Di perjalanan Bayan dan Anna sama-sama terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Jika Anna masih sibuk menetralisir debar jantungnya yang berpacu cepat akibat insiden tadi, maka Bayan tampak berusaha mengingat penyebab kejadian kecelakaan kecil itu.


"Siapa wanita itu. Kenapa wajahnya mirip dia ?. Bukan kah dia udah meninggal ?" batin Bayan gusar.


Namun setelah lama berpikir, Bayan tak juga mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu. Bayan pun menghela nafas panjang lalu menoleh kearah Anna yang saat itu juga tengah menatapnya.


"Kenapa Bund ?" tanya Bayan.

__ADS_1


"Kamu yang kenapa. Kok malah balik nanya," kata Anna ketus.


"Apa sih Kamu. Udah malam ga usah main tebak-tebakan deh," kata Bayan santai.


"Siapa yang main tebak-tebakan. Aku malah mau langsung nanya aja sama Kamu," kata Anna cepat.


"Mau nanya apa sih Bund ?" tanya Bayan masih berusaha tenang.


"Tapi dijawab ya," pinta Anna.


"Kalo emang Aku punya jawabannya, ya dijawab. Tapi kalo ga punya, ya mohon maaf kalo ga bisa jawab," kata Bayan dengan enggan.


"Ck. Jawaban macam apa itu, tapi gapapa. Pertanyaanku sederhana kok. Siapa Rosi, Kamu kenal dia dimana ?!" tanya Anna sambil menatap Bayan dengan tatapan tajam.


Pertanyaan Anna membuat Bayan terkejut. Beruntung ia masih bisa menguasai diri hingga mobil tetap berada di bawah kendalinya.


"Kok Kamu nanya gitu. Aku ga tau siapa Rosi. Kan Kita sama-sama baru denger nama itu tadi," sahut Bayan.


"Kalo Aku sih emang baru kali ini denger namanya. Tapi Kamu, Kamu kayanya udah kenal sama dia dan cuma pura-pura ga kenal aja tadi. Iya kan ?!" kata Anna kesal.


Bayan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang istri. Ia tak mengerti mengapa Anna menuduhnya kenal dengan Rosi. Apalagi itu dilakukan dengan nada cemburu. Padahal mereka jelas sama-sama baru tahu jika wanita bernama Rosi itu bekerja di Klinik Bersalin Hilya.


"Kamu jangan asal nuduh Bund. Kalo ga kebukti nanti malu lho," kata Bayan sambil mengulum senyum.


"Aku ga asal nuduh karena Aku punya buktinya Yah. Seinget Aku, Kamu kehilangan kendali saat Kamu ngeliat wajah wanita bernama Rosi itu !. Nah itu artinya Kamu kenal sama dia atau pernah kenal. Dan yang menyebalkan adalah karena Kamu punya hubungan kan sama dia ?!" kata Anna marah.


Bayan berdecak sebal mendengar tuduhan istrinya. Ia mengabaikan pertanyaan Anna karena tak ingin ribut di jalan. Namun rupanya Anna terlanjur emosi. Ia memaksa Bayan menjawab pertanyaannya itu.


"Udah malam Bund. Bisa kan kalo ga teriak-teriak. Malu didenger tetangga," kata Bayan berusaha sabar.


"Kenapa harus malu. Kita lagi ngebahas masalah rumah tangga Kita dan bukan masalah orang lain. Kalo mereka denger, mereka juga pasti maklum kok," sahut Anna sewot.


Bayan pun mempercepat laju mobilnya karena ingin segera tiba di rumah dan menyelesaikan kesalah pahaman ini. Saat Bayan turun untuk membuka pagar, saat itu Anna juga turun lalu menyelinap masuk ke dalam rumah lebih dulu.


Bayan pun menggeram marah karena sadar ia akan mendapat perlakuan tak menyenangkan dari Anna nanti. Bayan hapal betul bagaimana sikap Anna saat dilanda cemburu seperti sekarang.

__ADS_1


Setelah memarkirkan mobil dan mengunci pintu pagar, Bayan pun bergegas masuk ke dalam rumah menyusul Anna.


\=\=\=\=\=


__ADS_2