Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
50. Mengungsi


__ADS_3

Bayan tak melajukan kendaraannya menuju pasar tradisional seperti yang diucapkan Anna pada Nicko tadi. Bayan sengaja membawa istrinya ke sebuah taman untuk bicara tentang anak mereka.


"Kenapa Kita ke sini Yah ?" tanya Anna saat mereka telah duduk di kursi taman.


"Aku udah putuskan untuk mengungsikan Nathan Bund," kata Bayan tiba-tiba.


Ucapan Bayan mengejutkan Anna. Ia menatap suaminya dengan tatapan intens. Ia tak menyangka jika solusi yang diambil suaminya adalah dengan 'membuang' Nathan.


Sesaat kemudian Anna menggeleng dan Bayan mengerti jika itu artinya Anna menolak keputusannya.


"Kenapa Bund ?" tanya Bayan tak mengerti.


"Kamu yang kenapa. Kenapa Kamu justru mengungsikan Nathan ?. Kenapa bukan cari solusi lain yang ga merugikan Kita. Kamu tau kan kalo Aku ga bisa jauh dari Anak-anak ?!" tanya Anna gusar.


"Ini cuma sementara aja Bund," sahut Bayan sambil menyentuh bahu Anna.


Anna menepis tangan Bayan lalu berdiri.


"Sementaranya tuh sampe kapan Yah ?. Kenapa harus Kita yang ngalah, kenapa bukan makhluk sia*an itu yang Kita usir ?!" tanya Anna marah.


Bayan menghela nafas panjang sebelum menjelaskan maksudnya mengungsikan Nathan. Itu ia lakukan demi kebaikan Nathan. Menurut Bayan itu adalah solusi terbaik. Alih-alih pindah ke tempat baru, Bayan justru memilih opsi tadi.


"Sambil jalan Kita bisa cari cara untuk menjauhkan makhkuk itu selamanya dari Nathan Bund. Kita jangan kalah siasat sama makhluk itu Bund. Kalo dia bisa ngikutin Nathan tanpa ketauan selama ini, Kita juga bisa sembunyiin Nathan sampe dia kebingungan dan nyerah nyariin Nathan. Setelah itu dia pasti pergi dan ga akan balik lagi. Atau Kamu justru mau Kita sskeluarga pindah ke tempat lain untuk menghindari hantu itu. Kalo itu mau Kamu, Aku ga setuju !. Itu sama aja artinya Kita nunjukin kelemahan Kita sama hantu itu. Padahal Kita tau kalo derajat manuska lebih tinggi daripada hantu !" kata Bayan panjang lebar.


Anna nampak terdiam mendengar penjelasan suaminya. Setelah berpikir sejenak akhirnya Anna pun mengangguk.


"Ok, Aku setuju. Terus Kamu mau ungsiin Nathan kemana Yah ?" tanya Anna.


" Biar Aku pikirin dulu ya Bund," sahut Bayan.

__ADS_1


"Kalo bisa jangan lama-lama Yah. Aku khawatir makhluk itu keburu melukai Nathan nanti," pinta Anna.


"Insya Allah secepatnya Kita bisa nemuin tempat yang cocok untuk Nathan ya Bund. Sekarang lebih baik Kita cari waktu yang tepat buat nyampein ini sama Nathan. Ayah ga mau dia kecewa apalagi salah paham sama Kita dan mengira Kita berniat membuang dia," kata Bayan yang diangguki Anna.


Setelah sepakat, Bayan dan Anna pun keluar dari taman. Agar tak membuat anak-anak mereka curiga, Anna pun membeli sesuatu untuk dibawa ke rumah.


\=\=\=\=\=


Setelah membicarakan niatnya kepada Rama dan Riko, akhirnya Bayan mendapat tempat untuk ia mengungsikan Nathan.


Awalnya Rama bersikeras ingin agar Nathan tinggal bersamanya untuk sementara waktu. Namun saat Riko mengingatkan jika di rumahnya lah Nathan melihat penampakan menyeramkan yang membuatnya ketakutan, Rama pun sadar. Ia terpaksa merelakan Nathan tinggal bersama Riko untuk sementara waktu.


"Tapi Nathan ngerti kan kenapa dia harus tinggal jauh dari orangtua dan Adiknya untuk sementara waktu Yan ?" tanya Riko.


"Iya Rik, Alhamdulillah Nathan ngerti dan sangat kooperatif. Justru Anna yang awalnya keberatan. Tapi sekarang semuanya udaĥ Ok kok," sahut Bayan sambil tersenyum.


"Walau sekolah sama rumah Gue letaknya lumayan jauh, tapi Gue janji bakal usahain anter Nathan lebih awal biar dia ga terlambat masuk sekolah Yan," kata Riko.


"Jangan kaya gitu Yan. Harusnya Lo main cantik. Kalo selama ini Lo berhasil dikelabui sama makhluk itu, gantian Lo yang siasatin dia dong," sela Rama.


"Maksudnya gimana sih Ram ?" tanya Bayan tak mengerti.


Kemudian Rama menjelaskan jika Bayan harus membiarkan Riko datang menjemput Nathan. Saat Riko pulang, Nathan bisa ikut diam-diam di dalam mobilnya. Rama juga berniat datang dengan mobilnya agar upaya mereka menybunyikan Nathan berhasil.


"Nanti tas berisi pakaian dan alat sekolah Nathan dibawa Riko, sedangkan Nathan ikut sama Gue. Lo tenang aja, Gue yang bakal anter Nathan ke rumah Riko. Dengan begitu makhluk yang mengikuti Nathan akan terkecoh. Mungkin dia akan mengira Nathan ada di mobil Riko, padahal Sebenernya dia ada sama Gue. Ntar Kita ambil jalan berbeda untuk mengecoh makhluk itu Rik," kata Rama.


"Betul juga tuh idenya Rama, Gue setuju Yan !" sahut Riko.


"Masuk akal sih. Ok, Gue juga setuju deh," kata Bayan.

__ADS_1


"Tapi ga usah bilang rencana ini sama Anna ya Yan. Anggep aja ini Rahasia. Bukan apa-apa, sekarang Kita ga bisa main-main. Karena dinding juga punya telinga lho," kata Rama sambil tersenyum penuh makna.


Riko dan Bayan saling menatap sejenak kemudian mengangguk karena paham apa maksud ucapan Rama.


\=\=\=\=\=


Waktu yang ditentukan pun tiba. Rama dan Riko datang berkunjung ke rumah Bayan sore harinya. Mereka disambut Anna dan Nathan di depan pintu.


Tanpa membuang waktu Rama pun segera membagi tugas. Saat Anna ingin mengantar Nathan hingga ke teras rumah Bayan mencegahnya.


"Kenapa sih Yah. Aku cuma mau nganterin Nathan ke depan pintu aja," kata Anna bingung.


"Tolong iyain aja dulu ya Bund. Please ...," pinta Bayan karena malas berdebat.


Anna pun menghela nafas panjang lalu mengangguk pasrah. Ia pun memeluk Nathan erat dengan perasaan sedih. Namun saat Nathan membisikkan sesuatu, Anna hanya tertawa.


Nicko yang juga ada di ruangan itu nampak tak lagi bisa menguasai diri. Ia menangis saat Nathan memeluknya erat.


"Kenapa Abang harus pindah sih. Abang ga suka ya sama Aku. Emangnya Aku nakal sama Abang ?. Kalo gitu Aku janji ga nakal dan gangguin Abang lagi deh. Yang penting Abang jangan pindah dari sini Bang," kata Nicko di sela tangisnya.


"Abang mau sekolah bukan pindah. Ntar juga Abang balik lagi ke sini kok. Semua pakaian dan buku Abang kan masih ada di kamar, ga dibawa semuanya. Jadi Kamu ga usah khawatir. Udah, sekarang hapus air matanya. Katanya jagoan, tapi ditinggal sebentar aja nangis," kata Nathan sambil mengusak rambut sang adik dengan gemas.


Nicko pun tersenyum lalu bergegas menghapus air matanya. Kemudian Nicko memeluk sang kakak dengan erat sebelum Nathan berangkat.


Meski bingung Nicko hanya bisa menatap kepergian Nathan dari balik jendela. Ia tak mengerti mengapa harus melepasa kepergian sang kakak dengan cara yang aneh seperti ini.


Tanpa mereka ketahui, di atas langit sana sosok kepala tanpa tubuh tengah mengamati pergerakan mereka.


Bayan yang menyadari dirinya tengah diawasi oleh makhluk itu pun berusaha bersikap tenang.

__ADS_1


Tak lama kemudian mobil Rama dan Riko nampak meninggalkan pekarangan rumah Bayan dengan tujuan yang berbeda. Jika Rama mengambil jalan kearah kanan, maka Riko membelokkan mobilnya ke kiri. Bayan yang menyaksikan aksi kedua Sahabatnya pun tersenyum diam-diam.


\=\=\=\=\=


__ADS_2