
Meninggalnya ayah Hilya membuat rencana Nathan untuk mengajak istrinya berbulan madu tertunda. Ia tak sampai hati bergembira di atas penderitaan Hilya. Meski pun Hilya terlihat baik-baik saja karena toh selama ini hubungannya dengan Heri tidak harmonis, namun Nathan memutuskan menunda rencananya itu.
Kini Nathan lebih fokus memperhatikan kesehatan mental Hilya. Ia tahu istrinya itu adalah sosok yang tak suka mengeluh dan selalu berusaha kuat. Namun Nathan juga tahu jika jauh di lubuk hatinya Hilya juga sosok yang rapuh. Apalagi ia baru saja kehilangan orang yang sangat penting dalam hidupnya.
"Apa ga ada yang mau Kamu omongin sama Aku Sayang ?" tanya Nathan sambil memeluk Hilya dari belakang.
Saat itu Hilya tengah melipat pakaian. Ia menyusun ulang semua pakaian Nathan karena mereka akan berbagi lemari mulai sekarang.
Rupanya Anna meminta Nathan untuk tetap tinggal di rumah itu saat menikah nanti. Dan saat Nathan menyampaikan keinginan sang bunda pada Hilya, istri cantiknya itu nampak tak mempermasalahkan dimana mereka akan tinggal. Dan Hilya manut saja saat Nathan mengajaknya tinggal di rumah kedua orangtuanya itu.
"Jangan kaya gini dong, Aku jadi susah bergerak nih," rengek Hilya manja hingga membuat Nathan tersenyum.
Sebelum melepaskan pelukannya, Nathan mendaratkan ciuman singkat di bibir Hilya hingga membuat wanita itu terkejut lalu menggelengkan kepala.
"Kenapa ?" tanya Nathan dengan mimik wajah lucu.
"Curi kesempatan terus," sahut Hilya ketus.
"Abis kalo ga dicuri susah dapetnya," kata Nathan santai.
"Masa sih. Bukannya Aku udah serahin semuanya secara suka rela ?" tanya Hilya.
"Belum semua Sayang. Kan Kita belum melakukan itu," sahut Nathan sambil menatap tubuh Hilya dengan tatapan penuh damba.
Ucapan Nathan membuat wajah Hilya bersemu merah. Hilya berdehem untuk menetralisir rasa gugupnya sedangkan Nathan masih menunggu apa yang akan Hilya ucapkan. Karena lelah menunggu, Nathan pun berbaring di tempat tidur sambil mengamati aktifitas sang istri.
Hilya pun mempercepat pekerjaannya karena tahu Nathan menunggunya. Ini adalah hari ke delapan pernikahannya, namun hingga detik ini ia belum memberikan hak sang suami.
Setelah memasukkan semua pakaian miliknya dan Nathan ke dalam lemari, Hilya pun bergegas ke kamar mandi. Nathan tampak mendengus kecewa karena mengira Hilya masih akan menghindarinya.
Karena tak ingin memaksa Hilya yang saat ini masih berduka, Nathan pun memutuskan tidur agar bisa menekan hasratnya. Meski pun begitu telinganya masih bisa mendengar gerakan yang Hilya lakukan. Nathan yakin saat ini Hilya sedang mengenakan krim malam di wajahnya seperti kebiasaannya selama ini.
Nathan membenamkan wajahnya di bantal karena tak ingin terusik dengan aroma Hilya yang 'menggugah selera' itu. Sedangkan Hilya masih mematut diri di depan cermin untuk menekan rasa gugupnya. Rupanya Hilya bertekad akan mempersembahkan dirinya malam ini. Dan kini ia tengah bersiap agar bisa tampil sebaik mungkin saat melakukan malam pertamanya.
__ADS_1
Hilya menyisir rambutnya perlahan sambil terus berdzikir. Entah mengapa ia merasa takut meski ia tahu akan melewati fase ini. Hilya mengamati sekali lagi wajahnya yang terlihat fresh dengan sentuhan make up tipis. Setelahnya Hilya memadamkan lampu kamar dan hanya menyisakan lampu nakas yang ada di samping tempat tidur.
Perlahan Hilya membaringkan tubuhnya di samping Nathan yang tampak menutupi wajahnya dengan guling. Hilya memiringkan tubuhnya agar bisa menatap suaminya.
"Sayang ...," panggil Hilya sambil mengusap kepala Nathan dengan lembut.
"Hmmm ...," sahut Nathan tanpa merubah posisinya.
"Kok hmmm doang sih. Apa Kamu ga mau dengerin Aku ?. Kan Kamu tadi nanya apa Aku mau ngomong sesuatu atau ga," kata Hilya.
"Besok aja ya, Aku ngantuk," sahut Nathan.
"Besok ?, yakin ga nyesel ?" tanya Hilya sambil mulai mencumbu Nathan.
Mendapat perlakuan mesra Hilya membuat Nathan berdecak sebal. Sebab ini bukan pertama kali Hilya melakukannya. Dan biasanya Nathan harus menelan kecewa karena Hilya menolaknya saat ia mulai merespon dan menuntut lebih.
Nathan pun bergerak untuk pindah posisi. Kini ia berbaring membelakangi Hilya hingga membuat Hilya tertawa. Karena terganggu dengan tawa Hilya, Nathan pun membuka matanya lalu menoleh kearah sang istri.
"Tapi Aku ga bisa tidur," sahut Hilya manja.
Dan saat itu Nathan tersadar jika penampilan Hilya sedikit berbeda dari biasanya.
"Kamu mau kemana, kok cantik banget ?" tanya Nathan sambil mengamati Hilya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Ga kemana-mana kok. Aku mau di sini nemenin Suamiku tidur," sahut Hilya sambil tersenyum penuh makna.
Nathan pun ikut tersenyum lalu memperbaiki posisi tubuhnya menghadap Hilya agar bisa menatap istrinya lebih leluasa.
"Cuma nemenin tidur ?" tanya Nathan sambil mulai menciumi wajah Hilya.
"Iya. Emang apa lagi ?" tanya Hilya pura-pura tak tahu.
"Tapi Aku maunya banyak lho Sayang. Aku ga cuma minta ditemenin tidur tapi minta yang lainnya juga," kata Nathan sambil menarik Hilya agar lebih dekat dengannya.
__ADS_1
"Mau minta apaan sih malam-malam begi ...?" pertanyaan Hilya terputus karena Nathan telah membungkam bibirnya dengan ciuman panjang.
Hilya yang semula diam pun mulai membalas ciuman sang suami hingga membuat Nathan tersenyum senang. Perlahan namun pasti kedua insan itu larut dalam gairah. Dan malam itu mereka akhirnya bisa menjalankan kewajiban pertama mereka di atas tempat tidur.
Er*angan dan desah*n manja terdengar saling bersahutan memenuhi ruangan. Hingga beberapa jam kemudian Nathan dan Hilya ambruk di atas tempat tidur dengan tubuh berpeluh.
"Ya Allah ..., capek Sayang. Udahan yaa ...," pinta Hilya lirih.
"Iya. Aku juga mulai ngantuk nih," sahut Nathan.
"Baru mulai ngantuk ?, kalo Aku udah daritadi ngantuk. Cuma karena ga enak sama Kamu makanya Aku bertahan," kata Hilya sambil menguap.
Nathan pun tersenyum lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos itu. Dan saat ia menoleh kearah Hilya usai merapikan selimut agar bisa menutupi tubuh mereka dengan baik, ternyata sang istri telah terlelap. Nathan pun tersenyum lalu mendaratkan kecupan di kening sang istri.
"Makasih Sayang," bisik Nathan sambil memeluk Hilya dengan erat.
Tak lama kemudian dengkuran halus terdengar di ruangan itu pertanda kedua penghuninya telah terlelap.
Malam itu Nathan mimpi indah. Teramat indah hingga membuatnya enggan terjaga meski pun ia mendengar suara-suara yang memanggilnya.
Dalam mimpi Nathan seolah bertemu dengan Mia, mantan tunangannya yang telah meninggal dunia. Dalam mimpinya itu Mia tampak tersenyum sambil melambaikan tangan. Nathan pun mendekat untuk memenuhi panggilan Mia. Setelahnya Mia menunjukkan sebuah tempat yang damai dan indah kepada Nathan.
"Aku bahagia di sana sekarang. Jadi lanjutkan hidupmu dan bahagia lah seperti Aku," kata Mia.
"Iya. Aku berusaha bahagia dan memang bahagia bersamanya," sahut Nathan sambil tersenyum menatap Hilya yang sedang tertawa dari kejauhan.
"Aku percaya. Dia gadis yang baik. Bersamanya Kamu akan bahagia," kata Mia lirih.
Nathan merasa suara Mia kian jauh. Dan saat ia menoleh, Nathan tak mendapati Mia lagi di sana. Hanya tempat kosong yang dingin dan sepi.
Nathan terbangun dalam posisi kepala menoleh. Ia tersenyum saat melihat Hilya tengah berdoa usai menunaikan sholat Subuh. Perlahan Nathan bangkit dari posisi berbaringnya lalu bergegas ke kamar mandi untuk mandi hadast besar karena khawatir tertinggal waktu sholat Subuh nanti.
\=\=\=\=\=
__ADS_1