
Saat jam makan siang ternyata Sofia belum berhasil menyelesaikan berkas yang diminta sang big bos. Hingga dengan terpaksa Nathan bertahan di kantor. Setelah menunaikan sholat Dzuhur, Nathan pun kembali ke kantin.
Saat masuk ke area kantin Nathan disambut rekan-rekan sedivisinya dulu. Dengan senang hati mereka bergeser agar Nathan bisa duduk bersama mereka.
"Kalo rejeki emang ga kemana ya. Ternyata sampe lewat adzan Dzuhur Lo masih aja di sini Nath," gurau salah seorang rekan Nathan.
"Iya. Soalnya Bu Sofia masih harus menyelesaikan berkas yang diminta sama Pak Marco. Daripada bolak-balik mendingan Gue tunggu aja deh. Iya ga ?" kata Nathan.
"Iya lah !" sahut semua rekan Nathan.
"Terus gosip panas apaan yang mau Lo omongin tadi ?" tanya Nathan.
"Penasaran juga kan Lo. Tadi aja sok ga mau denger. Ga taunya sekarang malah nanya," kata rekan Nathan disambut tawa teman-temannya.
"Iya iya, Gue ngaku salah. Terus gimana, ada gosip panas apaan yang bikin semua orang ngebahasnya tanpa kenal waktu ?" ulang Nathan.
"Ini soal Pak Haris," kata rekan Nathan sambil berbisik.
Nathan mengerutkan keningnya karena teringat dengan apa yang dilihatnya tadi pagi.
"Kenapa sama Pak Haris ?" tanya Nathan.
Kemudian mengalir lah cerita dari rekan-rekan Nathan. Mereka bercerita bergantian hingga membuat Nathan takjub.
Ternyata Haris dikabarkan sedang sakit parah. Semacam sakit kulit akut yang membuat kulit Haris mengeluarkan aroma tak sedap walau tak ada luka di permukaan kulitnya.
"Sejak kapan tercium aroma busuk dari badan Pak Haris ?" tanya Nathan.
"Sejak dua atau tiga hari yang lalu," sahut rekan Nathan.
"Kalian yakin kalo bau itu dari badannya Pak Haris ?, siapa tau bukan dari dia. Mungkin dari sesuatu di luar sana atau justru ada di sekitar Kalian. Ya semacam bangk*i tikus gitu lah. Kan kadang ga keliatan tapi baunya kemana-mana," kata Nathan tak ingin menuduh.
__ADS_1
"Awalnya juga Kita mikir kaya Lo Nath. Tapi makin ke sini makin ga bisa disangkal lagi. Badannya Pak Haris tuh bau banget. Setiap kali dia lewat di sekitar Kita, pasti ada bau yang mengikuti. Sumpah, Gue aja sampe mual. Kadang Gue tahan nafas pas dia lewat. Lo tau sendiri kan Pak Haris orangnya gampang marah. Makanya biar aman Gue tahan nafas aja deh," kata rekan Nathan yang lain.
"Kalo gitu kasih tau Pak Haris lah. Mungkin dia ga sadar kalo bau badannya itu mengganggu orang lain. Atau justru di juga ga sadar kalo punya bau badan !" kata Nathan mengingatkan.
"Ck, masa dia ga tau sih kalo badannya bau. Ga mungkin lah Nath," sela rekan Nathan sambil menggelengkan kepala.
"Harus ada yang ngasih tau Pak Haris. Kasian kan dia. Kalo suatu saat Pak Haris diminta presentasi di depan rekan bisnis perusahaan tapi badannya bau, gimana ?. Bisa Kalian bayangin kan gimana malunya dia dan betapa terganggunya semua orang karena baunya itu nanti. Dan kalo itu terjadi, bisa-bisa perusahaan rugi besar dong. Dan kalo itu terjadi, siap-siap aja Lo semua untuk nerima surat PHK," kata Nathan menakut-nakuti hingga membuat semua rekannya terdiam.
"Cara ngomongnya gimana Nath ?. Lo tau sendiri kan gimana Pak Haris. Orangnya egois, galak dan ga suka dikritik," kata rekan Nathan gusar.
"Obrolin empat mata dan bilang kalo aroma tubuhnya sekarang berbeda dari biasanya. Minta dia cek ke dokter kalo perlu. Siapa tau Pak Haris emang mengidap penyakit tertentu yang efeknya bikin badan bau. Ini penting, jadi jangan ditunda lagi !" kata Nathan dengan mimik wajah serius.
"Ok, nanti Kita rembukin dulu deh siapa yang mau ngomong sama Pak Haris. Kalo Gue sih jujur aja ga mau. Selain Gue ga deket sama Pak Haris, Gue ga mau jadi sasaran kemarahan Pak Haris nanti," kata rekan Nathan hingga membuat rekan lainnya terdiam.
Di saat rekan-rekan Nathan sedang bingung siapa yang akan bicara mewakili suara hati mereka, tiba-tiba Haris datang mendekat. Dia menegur salah satu rekan Nathan karena belum menyelesaikan tugasnya.
Karena posisi rekan Nathan ada di sebelah kirinya, otomatis Haris berdiri tak jauh dari Nathan.
"Sia*an !. Bau apaan sih nih ?!"
"Dasar jorok !. Masa di kantin tempat orang makan minum ada bau bangk* !"
"Lagi makan nih wooiii !. Yang ngerasa punya bau badan cabut dulu gih !"
Seperti itu lah kalimat yang terdengar saat itu. Beberapa orang bahkan mulai berpatroli mengecek tiap meja untuk mencari sumber bau.
Haris yang tak menyadari apa yang terjadi pun ikut menatap ke sekelilingnya sambil berusaha mengendus aroma di sekelilingnya dengan hidungnya.
"Mereka ngomong apaan sih. Ga ada bau apa-apa kok di sini," kata Haris.
"Jelas aja ga ada bau. Kan bau itu asalnya dari Lo sendiri," batin Nathan kesal.
__ADS_1
Dan saat beberapa orang yang berpatroli tiba di meja Nathan dan rekan-rekannya, mereka tampak menatap tak suka kearah Nathan dan rekan-rekannya itu.
" Rupanya dari sini sumber baunya !" kata salah seorang karyawan dengan sinis.
Semua pengunjung kantin pun menoleh kearah Nathan dan rekan-rekannya. Namun mereka terkejut saat salah seorang karyawan yang berpatroli mencari sumber bau itu menatap Haris dengan tatapan tak terbaca. Antara sungkan sekaligus kesal.
"Ja-jadi ... bau itu dari badan Bapak ?" tanya sang karyawan ragu.
Haris yang terkejut pun naik pitam. Ia tak terima dituduh sebagai sumber bau yang mengganggu di area kantin itu.
"Kurang ajar !. Jaga mulut Kamu ya. Saya ga punya bau badan apalagi sampe bau busuk seperti yang Kalian bilang tadi !" kata Haris sambil melayangkan telapak tangannya kearah sang karyawan.
Nathan bertindak cepat. Dengan sigap ia menangkap lengan Haris yang terayun itu hingga karyawan itu selamat dari amukan Haris.
Seolah punya kekuatan baru karena merasa dibela oleh Nathan, karyawan itu pun kembali bicara lebih lantang dari sebelumnya.
"Saya ga nuduh sembarangan kok Pak. Semua orang di sini jadi saksi kalo bau bangk* itu emang berasal dari Bapak !" kata karyawan itu lantang.
"Kamu !. Lepasin Saya Nathan, jangan halangi Saya buat menghajar mulut sampah karyawan rendahan ini !" kata Haris marah.
Ucapan Haris menyinggung semua karyawan. Mereka pun bangkit lalu berdiri. Sebagian bahkan mendekat untuk melerai Haris dan karyawan yang akan berkelahi itu. Namun saat langkah mereka tiba di dekat Haris, mereka pun menjauh karena tak tahan dengan bau yang menguar dari tubuh Haris.
"Maaf Pak. Tapi bau itu emang beneran dari Pak Haris !" kata salah seorang karyawan sambil menutupi hidungnya.
"Iya. Bau banget Pak !" kata karyawan lainnya saling bersahutan.
Haris pun terkejut sekaligus malu. Wajahnya nampak memucat. Ia bergegas menjauh lalu keluar dari area kantin sambil terus mengendus tubuhnya, ketiaknya juga pakaiannya berulang kali. Kemudian Haris menggelengkan kepalanya seolah tak percaya jika semua orang menganggapnya bau.
Nampaknya Haris tak mencium aroma apa pun dan itu membuat Nathan semakin yakin jika Haris lah orang yang telah mengirimkan santet jahat padanya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1