
Kemudian Nathan mengalihkan tatapannya kearah lain karena kesal. Namun seolah ada suara yang memanggil namanya, Nathan pun menoleh kembali. Ia menatap jendela kaca rumah Yulia yang makin menjauh. Samar namun pasti Nathan melihat kepala Ira yang hanya berupa benda bulat gosong kehitaman itu menyembul dari balik gorden dan menatap kearahnya.
Dan saat tatapannya bertemu dengan tatapan mata milik Ira, Nathan melihat kesedihan di sana. Apalagi sesaat kemudian kedua mata itu nampak basah karena mengeluarkan air mata.
"Ira ... menangis ?. Kenapa ?" tanya Nathan dalam hati.
Lamunan Nathan buyar saat Ferdi menegurnya.
"Lo liatin apaan Nath ?" tanya Ferdi sambil ikut menatap rumah Yulia yang makin menjauh.
"Ga liatin apa-apa," sahut Nathan cepat.
"Emang sulit dipercaya Nath. Gue maklum kalo Lo masih ngerasa Ira ada di sana karena Gue juga ngerasa begitu. Mungkin karena di rumah itu lah hidup Ira berakhir," kata Ferdi lirih.
Nathan menoleh kearah Ferdi yang duduk di sampingnya. Saat itu Ferdi tengah memejamkan kedua matanya seolah tidur. Tapi Nathan tahu jika Ferdi hanya ingin melupakan apa yang pernah dilihatnya di rumah Yulia malam itu.
Karena tak ingin mengganggu Ferdi, Nathan pun ikut menyandarkan tubuhnya lalu menatap lurus ke depan. Saat itu suara Ira yang memanggil namanya kembali terdrngar, lirih namun berhasil membuat Nathan menoleh kembali kearah rumah Yulia.
"Pergi lah Ira. Tempatmu bukan di sini. Pergi lah dan jangan kembali ke sini. Kembali lah kepada zat yang memiliki kehidupan karena itu lah tempat terbaik Kita nanti," kata Nathan dalam hati.
Setelah mengucapkan kalimat itu Nathan membaca surah Al Fatihah yang dikirim khusus untuk almarhumah Ira. Entah mengapa setelah selesai membacakan Al Fatihah, suara Ira tak lagi terdengar di telinganya. Nathan pun menghela nafas lega namun terus melantunkan dzikir hingga mobil memasuki area pemakaman.
\=\=\=\=\=
Pemakaman Ira berjalan lancar. Meski tak banyak warga yang mengantar karena pemakaman dilakukan saat jam kerja. Ira dimakamkan lima hari kemudian setelah jasadnya ditemukan.
Sebelum meninggalkan pemakaman, orangtua Ira duduk sejenak di samping makam Ira. Mereka menatap nisan bertuliskan nama Ira dengan perasaan hancur.
"Maafin Ibu ya Nak. Maafin Ibu karena sempat membencimu dan mengutukmu. Tapi Ibu sadar, Kamu juga ga mau menanggung kutukan itu. Sekarang pergi lah dengan tenang. Insya Allah Ibu sama Ayah bakal rajin mengunjungi Kamu nanti," kata ibu Ira di sela isak tangisnya.
"Betul Nak. Ayah sama Ibu emang ga bisa melakukan apa-apa. Hanya doa yang bisa Kami panjatkan dengan harapan itu bisa meringankan dosamu. Pergi lah Nak, Kami menyayangimu. Terima kasih karena udah hadir dan mengisi hidup Kami dengan kebahagiaan. Terima kasih Anakku Sayang," kata ayah Ira dengan suara bergetar sambil mengusap papan nisan bertuliskan nama Ira.
Apa yang dilakukan dan diucapkan kedua orangtua angkat Ira membuat semua orang terharu. Mereka tahu betapa tulusnya kasih sayang suami istri itu pada almarhumah Ira.
__ADS_1
Setelah mengungkapkan perasaan mereka, kedua orangtua Ira bangkit lalu masuk ke dalam mobil. Dan tak lama kemudian iring-iringan mobil pengantar jenasah kembali bergerak meninggalkan pemakaman.
Nathan, Ferdi dan Mario tak ikut masuk ke dalam mobil karena masih bertahan di makam Ira. Mereka sedang menunggu Iis yang saat itu sedang berdoa di makam Ira.
"Lo kenal dia Nath?" tanya Mario.
"Ga kenal, cuma tau kalo Ira cukup dekat sama dia. Soalnya beberapa kali Gue ngeliat Ira ngobrol sama cewek itu di halaman kost oren," sahut Nathan.
"Oh, jadi temen kostnya Diana. Siapa namanya Nath ?" tanya Ferdi.
"Kalo ga salah sih Iis," sahut Nathan bersamaan dengan Iis yang baru saja selesai berdoa.
Iis mengerutkan keningnya melihat tiga pemuda di hadapannya. Jika ditilik dari penampilan dan usia, nampaknya Iis lebih dewasa dari Nathan, Ferdi dan Mario.
"Kalian temennya Ira ya ?. Dan Kamu ... Kamu pasti Nathan pacarnya Ira. Iya kan ?" sapa Ira lebih dulu.
"Mantan pacar lebih tepatnya Mbak," sahut Nathan sambil tersenyum kecut.
"Oh gitu. Terus kenapa masih di sini ?. Kenapa ga ikut rombongan tadi ?. Jarak dari makam ke jalan raya lumayan jauh lho. Apa Kalian ga khawatir nyasar ?" tanya Iis.
"Justru Kami yang khawatir sama Mbak karena berada di sini sendirian. Oh iya, kenalin Saya Ferdi. Ini Mario dan yang mantan pacarnya Ira namanya Nathan," kata Ferdi memperkenalkan diri.
Iis pun balas menjabat tangan Ferdi yang terulur kearahnya. Kemudian Nathan dan Mario ikut menjabat tangan Iis sebagai salam perkenalan.
Setelah berbasa-basi ketiganya pun melangkah bersama meninggalkan area pemakaman. Nathan dan Iis berjalan di depan, sedangkan Ferdi dan Mario mengekor di belakang.
"Saya ga percaya sama gosip yang beredar yang bilang kalo Ira itu ternyata jelmaan siluman kuyang Mas," kata Iis membuka percakapan.
"Saya dan teman-teman Saya juga ga percaya Mbak. Soalnya selama ini Kami mengenal Ira sebagai sosok yang baik dan ramah. Ga ada tanda-tanda kalo dia punya ilmu hitam," sahut Nathan.
"Betul. Kalo ternyata Ira adalah kuyang, jangan-jangan dia juga yang udah memangsa Diana dan bayinya. Kamu inget kan Diana meninggal karena apa ?" tanya Iis gusar.
Kemudian mengalir lah cerita dari mulut Iis tentang Ira.
__ADS_1
"Ira adalah orang pertama yang bilang kalo Diana itu lagi hamil. Waktu itu Saya ga percaya. Saya emang ga suka sama Diana karena menurut Saya Diana itu cewek manipulatif yang memanfaatkan kecantikannya untuk menggaet pria. Tapi Saya yakin Diana bisa menjaga diri kok. Makanya waktu Ira meyakinkan Saya tentang kehamilan Diana, Saya jadi kesel. Saya cuma ga mau rumah kost tempat Saya tinggal dijadiin tempat sembunyi perempuan murahan kaya Diana. Maaf ya Mas, Saya sebut murahan karena Diana kan hamil tanpa Suami," kata Iis ketus.
"Iya Gapapa Mbak. Terus apa Mbak Iis ga curiga kenapa Ira bisa tau kalo Diana hamil. Padahal saat itu Diana merahasiakan kehamilannya. Ga ada yang tau sampe Diana melahirkan di kamar mandi itu," kata Nathan.
"Mmm ..., harusnya Saya curiga ya. Soalnya sejak Ira bilang kalo Diana hamil, Ira jadi sering main ke kost an Kami. Bahkan Ira baru pulang kalo Kami udah mau tidur," sahut Iis cepat.
"Oh ya. Apa yang Ira lakukan di kost an Mbak ?" tanya Nathan.
"Ga ada. Dia cuma duduk aja di ruang tamu sambil ngobrol. Saya pikir wajar. Selain anak tunggal, kost milik Ibunya juga kan kost khusus pria. Kayanya Ira kesepian, makanya cari teman ngobrol di rumah kost Kami yang isinya emang cewek semua," sahut Iis.
Tiba-tiba Iis tersentak saat teringat sesuatu.
"Oh iya !. Ada satu kejadian yang bikin Saya kaget setengah mati. Dan harusnya Saya tanggap karena saat itu Ira menampilkan gelagat yang ga biasa !" kata Iis tiba-tiba.
Nathan, Ferdi dan Mario pun saling menatap sejenak lalu menatap Iis karena berharap mendapat petunjuk.
"Ada apa Mbak, apa yang Ira lakukan ?" tanya Nathan tak sabar.
Iis pun menceritakan keanehan yang ia lihat.
Seperti biasa, saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, Ira pamit pulang. Namun saat tiba di teras rumah Ira berpapasan dengan Diana yang baru saja tiba. Entah mengapa Ira langsung memeluk Diana. Namun Diana menjerit karena merasa tangan Ira meremas perutnya. Kemudian Diana mendorong Ira lalu lari ke dalam rumah.
Saat itu Ira nampak menyeringai sambil menjilati bibirnya. Kemudian Ira menatap Diana yang menjauh itu dengan tatapan beringas. Tentu saja itu mengejutkan Iis.
"Kamu kenapa Ra ?!" tanya Iis lantang.
Pertanyaan Iis membuat Ira yang sedang menatap Diana terkejut.
"Gapapa Mbak. Kalo gitu Aku pulang ya," kata Ira kala itu.
"Setelah itu Ira pulang. Saya masih ngeliat Ira menoleh berkali-kali seolah mencari Diana," kata Iis gusar.
Entah mengapa cerita Iis membuat bulu kuduk Nathan, Ferdi dan Mario meremang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=