
Bayan dan Fikri masih bersiap menghadapi serangan kuyang yang diduga jelmaan Rosi itu. Namun meski Fikri bersedia membantunya, Bayan tak memberitahu siapa kah orang yang mereka curigai. Dan hingga hari itu Fikri belum tahu sama sekali jika mereka sedang mengejar Rosi yang menjelma jadi siluman kuyang.
Karena merasa mengejar sesuatu yang abstrak, Fikri pun menyerah.
"Aku ga bisa kaya gini Yah. Mengejar sesuatu yang Aku ga tau bagaimana wujudnya, bentuknya atau warnanya," kata Fikri malam itu.
"Apa maksudmu Fik ?" tanya Bayan pura-pura tak mengerti.
"Ayo lah Yah. Ayah minta Aku membantu menangkap siluman itu. Tapi Ayah ga ngasih tau Aku seperti apa ciri-cirinya. Jangan bikin Aku bingung dong Yah. Buatku ini seperti membuang waktu alias sia-sia," sahut Fikri kesal.
"Maafkan Ayah Fik. Harusnya sejak awal Ayah memang ga usah melibatkan Kamu," kata Bayan tak enak hati.
"Kenapa Yah ?. Apa karena Aku ga sanggup atau jangan-jangan siluman kuyang itu adalah orang yang Aku kenal ?" tanya Fikri penasaran.
"Maaf Fik, Ayah ga bisa kasih tau Kamu. Bukan karena ga ingin tapi ini demi kebaikanmu dan keluargamu," sahut Bayan sambil menggelengkan kepala.
"Jadi itu artinya Ayah akan menghadapi siluman itu sendirian. Begitu kan Yah ?" tanya Fikri tak suka.
"Mau ga mau memang Ayah yang harus menyelesaikan semuanya Fik. Jadi dengan atau tanpa Kamu dan Nathan, Ayah tetap akan maju," sahut Bayan cepat.
"Tapi kenapa Nathan boleh tau sedangkan Aku ga boleh tau Yah ?" tanya Fikri.
"Karena dia lebih siap dan kuat," sahut Bayan.
Fikri mengangguk karena paham apa maksud sang ayah. Fikri akui Nathan memang lebih banyak tahu tentang kuyang dibandingkan dirinya termasuk bagaimana cara menghadapi siluman itu.
"Tapi Ayah juga ga ingin Kamu berlepas tangan Fik. Saat Ayah menghadapi siluman itu, bantu lah Ayah dengan doa. Ayah pikir itu cara terbaik Kita membagi tugas. Bagaimana Fik ?" tanya Bayan.
"Baik Yah. Aku memang ga piawai menghadapi siluman tapi insya Allah Aku sanggup berdzikir dan berdoa sepanjang yang Aku bisa," sahut Fikri sambil tersenyum.
Bayan pun senang karena berhasil membuat Fikri tersenyum dan tak merasa terabaikan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Malam itu Bayan kembali ke Klinik Bersalin Hilya. Ia sengaja datang ke sana saat menjelang tengah malam. Tak ada seorang pun curiga karena Bayan adalah mertua Hilya. Apalagi Bayan juga masuk melalui pintu depan seperti biasa seperti pengunjung pada umumnya.
Saat Bayan berhasil masuk ke area klinik, Bayan langsung dihadapkan pada suasana tak menyenangkan. Ia harus menyaksikan kelahiran bayi yang tak pada tempatnya.
Ibu sang bayi rupanya tak sanggup lagi menahan rasa sakit menjelang melahirkan hingga ia mengejan begitu saja saat akan dibawa ke ruang bersalin. Bidan Intan dan perawat tampak panik karena mereka khawatir dengan keselamatan sang bayi. Apalagi saat itu sang ibu hanya datang seorang diri tanpa didampingi suami atau saudaranya.
"Gimana nih Bu Bidan. Bayinya udah lahir setengah !" kata perawat dengan panik.
"Bantu Saya angkat Ibu ini ke atas tempat tidur Suster. Hati-hati, tahan bayinya supaya ga jatuh ke lantai," kata bidan Intan.
Dua perawat nampak berusaha keras membaringkan sang ibu ke tempat tidur tapi selalu gagal karena wanita itu kesulitan mengangkat kakinya. Bayan yang melihatnya pun iba dan bergegas membantu.
"Kalo boleh ijinkan Saya membantu Bu Bidan !" kata Bayan lantang.
Karena kondisi mendesak, bidan Intan pun mengangguk setuju. Dia dan dua perawat tak bisa kemana-mana lagi. Bahkan untuk memanggil security pun rasanya mustahil karena ibu sang bayi sudah nampak kepayahan.
Bidan Intan dan dua perawat pun memberi kesempatan pada Bayan untuk membantu mengangkat wanita itu ke atas tempat tidur dan berhasil. Setelahnya dua perawat bergegas mendorong tempat tidur masuk ke dalam ruang bersalin.
Bidan Intan nampak tersenyum sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali sebelum akhirnya masuk ke ruang bersalin.
Bayan menghela nafas panjang saat menyadari pakaian yang ia kenakan kotor karena terkena noda darah. Bayan bergegas pergi ke toilet untuk membersihkan diri.
Saat pertama kali masuk ke toilet Bayan sudah merasakan ada sesuatu yang tak beres. Namun Bayan berusaha tenang karena sudah bisa menduga apa yang menyebabkan rasa tak nyaman itu.
Bayan melepas kemejanya yang kotor lalu mencucinya dengan sabun di bawah air mengalir. Sesekali ia melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada sesuatu yang menyerangnya dari belakang.
Setelahnya Bayan membersihkan dirinya dengan sabun sambil mengamati sekelilingnya. Saat Bayan menoleh kearah ventilasi, ia terkejut melihat sejumput rambut menjuntai di sana. Rambut itu bergerak ke atas perlahan seolah ada sesuatu yang menariknya ke atas.
"Rambut ?. Bergerak ke atas, artinya dia sembunyi di atas sana," gumam Bayan sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
Bayan menyudahi aksinya membersihkan diri lalu mengenakan pakaian yang tadi dicucinya. Meski basah Bayan tak peduli. Setelahnya Bayan bergegas keluar untuk mengejar siluman kuyang yang ia yakini sembunyi di sekitar klinik.
Bayan menyelinap keluar tanpa menarik perhatian semua orang. Ia melangkah ke samping kamar mandi untuk mencari sosok siluman itu.
Bayan mendongakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mencari sesuatu. Hal yang sama juga dilakukan seorang security yang kebetulan bertugas malam itu. Bayan pun menyapa sang security karena ingin tahu apa yang pria itu cari.
"Lagi nyari apa Pak ?" tanya Bayan.
"Eh, Pak Bayan. Saya kaya ngeliat binatang mirip musang ngumpet di sini tadi," sahut sang security sambil menyorot senter ke atap kamar mandi klinik.
"Musang ?" tanya Bayan tak percaya.
"Mirip, tapi kok gede banget ya Pak," sahut sang security sambil menggedikkan bahunya.
Bayan mengangguk lalu ikut mencari sosok musang yang dimaksud sang security. Meski pun Bayan terus bicara, namun kedua matanya terus mengamati ke sekelilingnya. Dan tak lama kemudian suara Nathan terdengar memanggilnya.
"Ayah !" panggil Nathan hingga membuat Bayan menoleh.
"Hai Nak. Sini, bantu Kami cari musang !" kata Bayan lantang.
"Musang ?. Mana mungkin ada musang di kota besar kaya gini Yah ?" tanya Nathan tak percaya.
"Awalnya Saya juga mikir gitu Mas. Masa iya di kota besar ada musang. Tapi Saya yakin ngeliat binatang itu di atas kamar mandi tadi. Warnanya hitam, pekat, nemplok aja di atas kamar mandi. Kayanya musang itu sakit karena gerakannya ga lincah. Saya khawatir musang itu masuk ke dalam dan bikin panik semua orang. Saya yakin kalo perempuan ngeliat binatang model gitu pasti menjerit ketakutan. Daripada bikin gaduh, Saya mau tangkap aja Mas," sahut sang security menjelaskan.
Jawaban sang security membuat Nathan terkejut lalu menatap Bayan lekat. Sang ayah nampak menganggukkan kepala mengiyakan ucapan security.
"Ini bukan musang kan Yah ?" bisik Nathan saat security menjauh.
"Iya. Ayah lagi ngejar siluman itu tadi. Setau Ayah dia bertengger di atas kamar mandi. Waktu Ayah keluar ternyata ada security dan dia bilang ngeliat musang di atas kamar mandi. Dugaan Ayah siluman itu ada di sini dan tampil dengan wujud lain di depan security itu," sahut Bayan.
Nathan membulatkan matanya dan bersikap siaga. Kali ini Nathan bertekad menyudahi terror siluman kuyang yang membayangi Klinik Bersalin Hilya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=