Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Kesalahpahaman


__ADS_3

“Bagiamana bisa Rosa hamil?” tanya Flora.


“Apa aku harus menjelaskannnya?” tanya balik Gio.


“Ya.”


“Sama seperti apa yang aku lakukan padamu —” Belum sempat Gio menyelesaikan ucapnya, Flora lebih dulu memukulnya.


“Kamu jahat Gio, kamu jahat,” maki Flora.


Gio terkejut saat Flora tiba-tiba menangis histeris bahkan tidak berhenti memaki dan memukuli tubuhnya.


“Flora ada apa? Kamu kenapa?” tanya Gio.


Gio yang tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya menerima begitu saja pukulan dari istrinya.


Flora menangis meronta-ronta setelah mendengar perkataan Gio. Amarah dalam dirinya membuat Flora tidak berhenti untuk memukul Gio.


Gio makin terkejut saat melihat istrinya menangis histeris.


“Ada Apa denganmu, Flora?” Gio bertanya lagi.


Flora tidak menjawab justru Flora terus memukuli Gio menggunakan bantal guling.


“Kamu jahat Gio! Ternyata kamu belum berubah,” maki Flora.


“Jadi ini alasan sebenarnya kamu pulang malam setiap hari. Kamu bukannya lembur, melainkan menemui Rosa,” ucap Flora.


Gio yang mendengar makian istrinya kembali dibuat terkejut.


“Apa maksudmu, Flora? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Gio.


“Kamu masih bertanya apa yang terjadi padaku? Jadi selama ini kamu masih berhubungan dengan Rosa dan bahkan perempuan itu sedang hamil besar,” ucap Flora.


Mata Gio seketika terbelalak mendengar perkataan Flora. Gio menahan pukulan Flora. Segera Gio merebut bantal guling dari tangan Flora lalu melemparnya ke atas tempat tidur.


“Apa kamu berpikir jika anak yang dikandung Rosa adalah anakku?” tanya Gio. “Jangan bercanda Sayangku,” lanjut Gio.


“Jika bukan ... lalu anak siapa?” jerit Flora.


“Ya anak suaminya,” jawab Gio.


“Bohong!” tuduh Flora.


“Apa kamu menginginkan aku adalah ayah dari bayi yang dikandung oleh Rosa?” tanya Gio.


Flora seketika bungkam, jelas saja Flora tidak menginginkan hal itu terjadi.


“Lalu kenapa saat aku bertanya bagaimana Rosa bisa hamil ... kamu menjawab 'sama seperti apa yang kamu lakukan padaku'.” tanya Flora.


Gio tertawa geli seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku belum selesai bicara dan kamu langsung memukuliku.”


Gio membawa Flora untuk duduk di atas tempat tidur, sedangkan dirinya duduk bersimpuh di hadapan Flora.


“Kamu bertanya bagaimana Rosa bisa hamil, 'kan?” Gio mengulangi pertanyaan Flora.


Flora mengangguk tanpa memandang ke arah suaminya yang ada di hadapannya.


“Sama seperti apa yang aku lakukan padamu. Seperti itu juga suaminya Rosa melakukanya pada Rosa,” jelas Gio.


“Kamu tidak bohong, 'kan?” Kini Flora mau menoleh ke arah Gio.


“Sumpah, Flora!” Gio mengangkat salah satu tangannya ke atas.


“Lalu kenapa kamu berbohong padaku. Waktu siang aku meneleponmu dan katanya kamu sedang meeting bersama klien, padahal aku melihat jelas jika kamu sedang berduaan dengan Rosa?” tanya Flora.

__ADS_1


“Memang benar aku meeting dan klienku itu suami Rosa. Rosa yang mengenalkan aku pada suaminya,” jawab Gio. “Kami waktu itu sedang menunggu Abi yang sedang menjemput suaminya Rosa.”


“Kalau kamu masih tidak percaya ... kamu bisa bertanya pada Abi atau pada Rosa atau bahkan pada suami Rosa,” ucap Gio.


“Baiklah, aku akan menelepon suaminya Rosa.” Gio mengambil ponselnya dan ternyata ponselnya mati.


Gio meletakan ponselnya lalu menggenggam tangan Flora.


“Sayang, percayalah padaku. Apapun yang pernah terjadi antara aku dan Rosa ... itu hanyalah masa lalu kami. Aku bahkan sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan Rosa ataupun perempuan yang lain sebelum aku menjalin hubungan denganmu,” ucap Gio.


“Aku pernah berjanji padamu ... akan aku jadikan kamu perempuan terakhirku dan aku akan melakukan itu,” lanjut Gio.


Flora beberapa kali mengusap air mata air matanya yang jatuh ke pipinya. Sesaat matanya menatap mata Gio. Flora mencari sebuah kebohongan dari Gio melalui matanya.


“Maaf, aku sudah menuduhmu tanpa bukti,” ucap Flora.


Gio menunjukan senyumnya lalu mengusap sisi air mata Flora. “Tidak apa-apa. Aku tahu kamu tidak bermaksud seperti itu padaku.”


“Sekarang jangan menangis dan jangan marah lagi.” Gio berdiri untuk memberikan kecupan di kening istrinya.


“Kamu mau ke mana?” tanya Flora saat suaminya melangkah menjauh darinya.


“Aku mau mandi. Apa kamu mau ikut? Aku tidak akan keberatan,” seloroh Gio.


“Pergi sana!” Flora kembali melempar bantal ke arah Gio.


“Ini aneh sekali. Harusnya aku yang marah karena kamu sudah menuduhku dan memukulku. Tapi ini sebaliknya,” gerutu Gio.


“Sudahlah, cepat mandi,” suruh Flora. “Atau aku akan memukulmu jika kamu terus menggodaku.”


Gio masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah setengah jam Gio keluar dari dalam kamar mandi dengan bertelanjang dada.


“Pakaianmu sudah aku siapkan?” ucap Flora.


“Terima kasih,” ucap Gio.


Selesai memakai pakaiannya Gio menghampiri Flora


Gio memeluk Flora dari belakang.


“Apa kamu masih marah?” tanya Gio.


“Tidak.” Flora menggelengkan kepalanya.


“Sayang, bolehkah aku bertanya?” tanya Gio.


“Apa yang ingin kamu tanyakan?” Flora balik bertanya pada suaminya.


“Bagaimana jika semuanya yang kamu tuduhkan padaku itu benar?” tanya Gio.


Flora menjauhkan tangan suaminya dari tubuhnya, lalu berbalik ke arah Gio. Kini Flora dan Gio berdiri saling berhadapan.


“Jika semua itu benar ... aku tidak akan segan-segan melenyapkan dirimu dan juga wanita itu,” jawab Flora.


Gio bergidik ngeri membayangkan keganasan istrinya saat dulu hampir saja meremukkan tulang-tulangnya dengan dengan pemukul baseball.


“Kamu sungguh mengerikan, Sayangku,” ledek Gio.


“Jangan coba-coba macam-macam denganku, Suamiku,” ucap Flora penuh penekanan.


“Aku tidak akan berani macam-macam denganmu. Aku masih sayang nyawaku,” ucap Gio.


Perkataan Gio membuat Flora dan Gio tertawa. Setelah itu Gio menarik tubuh Flora, membawa ibu dari calon anaknya ke dalam dekapannya.


“Kamu sudah minum Vitaminmu?” tanya Gio disambut gelengan kepala oleh Flora.

__ADS_1


“Ck, kamu ini ....” Gio melepaskan pelukannya lalu membawa Flora untuk duduk di atas tempat tidur.


“Ayo, minum Vitaminmu.” Gio memasukan satu butir vitamin ke dalam mulut Flora dan setelah itu Gio memberikan air putih kepada Flora untuk membantu menelan satu butir vitamin itu.


“Istirahatlah, aku masih ada pekerjaan,” ucap Gio.


“Apa? Pekerjaan? Pekerjaan apalagi? Kamu barusan sudah lembur di kantor dan sekarang di rumah kamu juga mau bekerja lagi?” tanya Flora.


Gio menangkap kecurigaan di dalam nada bicara Flora. Gio yang sudah beranjak dari duduknya kembali duduk untuk menjelaskan sesuatu pada istrinya.


“Iya, Sayang. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebelum kita pergi ke Amerika. Kamu masih ingat 'kan? Kepergian kita sempat tertunda karena aku masuk rumah sakit,” ucap Gio.


“Dan aku sengaja menyelesaikan pekerjaanku agar kita bisa berlibur juga. Kita akan pergi honeymoon ... eh tidak bukan honeymoon tapi babymoon sekalian kita akan merayakan tahun baru di sana juga,” jelas Gio.


“Kamu serius?” tanya Flora dan Gio langsung mengangguk.


“Yey, papamu akan mengajak kita berlibur,” seru Flora seraya mengusap perut ratanya.


“Apa ini alasanmu lembur hampir seminggu ini?” tanya Flora.


“Iya, Sayangku,” jawab Gio. “Aku lembur agar aku bisa bersenang-senang denganmu nanti, bukan karena aku bersenang-senang dengan perempuan lain.” Gio menarik hidung Flora untuk mengejek istrinya.


“Maafkan aku ... jangan ungkit masalah itu lagi,” rengek Flora.


Gio tertawa geli saat teringat kembali keganasan istrinya beberapa saat yang lalu.


“Jangan menertawakan aku.” Flora memukul lengan Gio. Kebiasaan yang selalu Flora lakukan setiap kali merasa kesal pada suaminya.


“Aku akan selesaikan pekerjaanku dulu,” ucap Gio.


“Aku akan buatkan kopi untukmu,” ucap Flora.


“Baiklah, ayo.”


Gio merangkul pundak Flora, mereka keluar dari kamar mereka bersama-sama. Gio melangkah ke ruang kerjanya, sedangkan Flora menuju ke dapur untuk membuatkan kopi untuk suaminya.


Tidak lama Flora menyusul Gio ke ruang kerjanya dengan membawa secangkir kopi di tangannya.


“Ini kopinya.” Flora meletakkan kopi di depan Gio.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Gio.


Flora melangkah ke belakang Gio. Flora membungkukkan sedikit tubuhnya untuk melingkarkan tangannya ke leher suaminya, serta menempelkan dagunya di pundak Gio.


“Kamu masih lama?” tanya Flora.


“Sebentar lagi,” jawab Gio. “Ada apa?” tanya Flora.


“Main yuk di kamar,” ajak Flora.


Main di kamar? Gio tahu apa maksud dari perkataan Flora.


“Yuk!” Gio langsung menutup layar laptopnya.


“Eh? Pekerjaan kamu bagiamana?” tanya Flora.


“Bisa aku kerjain lagi besok,” jawab Gio.


“Kalau kaya gini aja kamu semangat banget,” cibir Flora.


“Bukan begitu ... aku hanya tidak ingin membuat kamu lama menunggu,” ucap Gio.


“Alasan,” balas Flora diikuti tawa kecilnya.


“Ayolah,” seru Gio.

__ADS_1


“Tapi mainnya pelan-pelan ya,” ucap Flora.


Kwwwwwkwkwkwkwk, nanti aku bakal bikin kalian marah lagi.


__ADS_2