
Flora adalah gadis beruntung yang bisa dicintai oleh seorang seperti Gio. Namun sayangnya Flora tidak menyadari akan hal itu. Flora juga tidak tahu jika semua peryataan cinta yang pernah Gio utarakan pada dirinya adalah benar bukan hanya sekedar main-main.
Gio sendiri tidak tahu kapan dan bagaimana rasa cinta pada Flora bisa tumbuh dalam dirinya. Gio berpikir jika mendapatkan Flora sangatlah mudah seperti ia mendapatkan perempuan lainnya, tetapi pemikiran Gio ternyata salah, Flora adalah satu-satunya gadis yang sulit untuk Gio dapatkan. Dengan melakukan apapun untuk Flora, ia berpikir akan membuat gadis itu sadar akan rasa cintanya. Namun, tenyata tidak. Kini Flora justru kembali menjalin hubungan dengan Daniel. Tangan Gio mengepal ketika mengingat akan hal itu.
Gio mengusap wajahnya kasar karena merasa frustrasi jika mengingat Flora. Sudah berulang kali dirinya mencoba untuk melupakan Flora. Namun tetap saja dirinya tidak mampu untuk melakukan hal ini. Gio berdecak, karena rindu untuk menggoda Flora, merindukan senyumnya, dan wajah galaknya. Akan tetapi setiap melihat Flora, ia akan kembali mengingat cintanya yang tidak terbalas.
Patah hati!
Keadaan itulah yang sedang dirasakan oleh Gio. Untuk pertama kalinya ia merasakan jatuh cinta dan pertama kalinya juga merasakan patah hati. Gio tersenyum getir ketika mengingat sudah berapa banyak perempuan yang sudah ia buat patah hati. Mungkin itu adalah karma untuk dirinya karena sudah sering kali mematahkan hati seorang perempuan, bahkan Gio sampai tidak mengingat berapa jumlahnya.
Gio yang masih berdiri di balkon apartemennya, tiba-tiba tersentak ketika merasakan ada tangan yang melingkar di perutnya membuat lamunannya terbuyar.
"Kamu di sini rupanya."
Dari suaranya saja Gio tahu jika pemilik suara itu adalah Rosa.
"Hmmmmm."
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Rosa dengan suara manjanya.
"Merenung," jawab singkat Gio.
"Apa yang kamu renungkan?"
Gio berdecak kesal lalu menjauhkan tangan Rosa dari tubuhnya. Gio berbalik dan menatap perempuan yang baru saja ia jadikan pelampiasan.
"Pergilah dari sini. Dan menjauhkan dariku dan hidupku," ucap Gio.
Rosa terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. "Apa maksudmu? Apa salahku aku tidak ingin menjauh dari mu."
"Aku sudah merasa bosan saja," jawab santai Gio.
"Gio ...." Rosa tidak terima dengan keputusan Gio. Rosa menarik kaos Gio. "Setelah apa yang selama ini dan baru saja kita lakukan ... kamu ingin mengakhiri ini, kamu mau mencampakkan aku? Hah!"
"Sudahlah Rosa, jangan terlalu mendramatisir ini. Jangan kira aku tidak tahu alasan kamu ingin dekat denganku." Gio tersenyum sinis. "Kita hanya saling membutuhkan saja ... kamu butuh uangku dan aku butuh tubuhmu." Gio menjauhkan tangan Rosa dari pakaiannya.
"Kamu jahat, Gio!" maki Rosa.
"Harusnya kamu sudah tahu konsekuensinya sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan dengan ku, Rosa," ucap Gio tidak mau kalah.
Gio menghela napas lalu memegang kedua pundak Rosa. " Percayalah kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari ku, Rosa."
Gio segera pergi dari hadapan Rosa dan kembali melangkah menuju kamarnya. Meski Rosa memanggilnya Gio tidak ingin berhenti ataupun berbalik, ia ingin mengakhiri semua.
Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Flora masih berada di rumah Daniel. Laki-laki berstatus sebagai kekasihnya itu mengajaknya untuk makan malam bersama di rumah keluarganya. Awalnya Flora merasa ragu. Namun, Daniel memohon padanya membuat Flora merasa tidak enak hati.
"Ayo Flora makan malam sudah siap," ajak Daniel.
__ADS_1
Flora yang sedang melihat foto-foto yang ada di ruang tengah menoleh kepada Daniel.
"Iya," sahut Flora.
Daniel menggenggam tangan Flora lalu membawanya ke ruang makan. Di ruang makan sudah ada Ardi yang sudah duduk pada kursi utama di meja makan. Namun Mariana belum terlihat.
"Pah, kok Papa sendirian? Mama mana?" tanya Daniel.
"Mamah kamu bilang tadi mau nyusul ke sini, tapi kok belum datang juga ya?" sahut Ardi.
"Biar aku yang panggil mamah," ucap Daniel.
"Tidak usah kamu duduk saja," cegah Ardi.
Ardi memanggil salah satu asisten rumah tangganya. "Bi, tolong panggil ibu untuk datang ke meja makan."
"Baik, Pak." Asisten rumah tangga itu segera melangkah menuju kamar majikannya.
Tidak lama asisten rumah tangga itu kembali, tetapi tidak bersama dengan Mariana.
"Mana mamah, Bi?" tanya Daniel.
Rasa tidak enak terlihat pada wajah wanita itu. "Ibu tadi bilang ... jika masih ada mba Flora ... ibu tidak akan makan di sini."
Daniel dan Ardi menghela napas berat. Ardi menggeleng seraya memijit keningnya. "Ya sudahlah kita mulai makan malam nya saja."
"Maaf sebaiknya, saya pulang saja. Saya merasa tidak enak jika gara-gara saya ibu Mariana tidak makan bersama kalian," ucap Flora.
Flora berdiri dari meja makan dan mengambil tasnya yang ada di sebelahnya. "Permisi."
"Flora ... tunggu." Daniel menahan tangan Flora untuk mencegahnya pergi.
"Please, jangan pergi," mohon Daniel.
"Iya Flora, kamu tidak perlu merasa tidak enak seperti ini," sambung Ardi.
"Tidak, Om saya tidak mau seperti ini," ucap Flora.
"Untuk apa kalian memohon pada gadis itu. Kalau dia mau pergi ya silahkan." Secara tiba-tiba Mariana datang ke meja makan.
Pandangan Flora, Daniel, dan Ardi teralihkan.
"Mah, tolong jangan seperti ini," mohon Daniel.
"Mamah sudah berulangkali mengatakan jika sampai kapanpun bahkan sampai mamah mati ... mamah tidak akan merestui hubungan kalian," ucap Mariana.
"Mah ...." Ardi berdiri dan menatap wajah istrinya. "Mau sampai kapan mamah seperti ini? Apa mamah tidak kasihan pada anak kita satu-satunya ini?"
__ADS_1
"Mamah sayang sama anak kita, Pah. Makanya mamah tidak ingin anak kita hidup bersama perempuan yang tidak pantas seperti dia." Mariana menunjuk Flora dengan semua rasa bencinya.
"Tapi, Mah ... aku cinta sama Flora," jelas Daniel.
"Cinta? Omong kosong!" hina Mariana.
Tidak tahan melihat itu, Flora memilih untuk mengalah dan pergi.
"Sebaiknya aku pulang ... permisi, Om," pamit Flora.
"Flora ...." Daniel mengejar Flora.
Daniel terus memanggil Flora. Namun kekasihnya itu tidak mau berhenti. Daniel mempercepat langkahnya, tangannya meraih tangan Flora untuk menghentikan langkah kekasihnya.
"Flora, aku akan mengantarmu," tawar Daniel.
"Tidak usah, aku bawa mobil sendiri," tolak Daniel.
"Tapi ...."
"Daniel ... jangan memperkeruh keadaan. Ibumu akan semakin marah jika kita terus saja melawannya."
"Tapi kamu belum makan, Flora."
"Tidak masalah, lagu pula jika situasinya seperti ini terus bagaimana aku bisa makan." Flora meraih tangan Daniel. "Jangan khawatir ... semuanya akan baik-baik saja."
Daniel mengangguk sebelum mendaratkan kecupan pada kening Flora.
"Baiklah, kamu hati-hati di jalan," ucap Daniel yang langsung diangguki oleh Flora.
Daniel mengantar Flora sampai ke samping mobilnya. Dengan segera Daniel membukakan pintu mobil untuk Flora.
"Kabari aku jika sudah sampai rumah," ucap Daniel.
Flora mengangguk dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah besar kekasihnya. Jangan mengira Flora tidak sedih akan hal itu karena sepanjang perjalanan cairan bening terus saja mengalir dan membanjiri pipinya. Harus berulang kali Flora mengusap matanya untuk untuk memperjelas pandangannya.
Flora menghentikan laju mobilnya tepat di depan tempat tinggalnya. Sebelum turun, Flora lebih dulu mengusap jejak air matanya agar tidak membuat ibunya khawatir.
"Bu, Flora pulang," ucap Flora saat ia sudah berada di dalam rumah.
"Sudah pulang?"
"Iya, Bu. Flora masuk ke kamar dulu," ucap Flora yang langsung diangguki oleh Seruni.
Flora membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali setelah berada di dalamnya. Flora membuang tasnya ke atas tempat tidurnya, lalu ia melangkahkan kakinya menuju dekat jendela. Flora memejamkan matanya dan kembali mengingat semua perkataan Mariana tentang dirinya. Seburuk itukah dirinya di mata ibu dari kekasihnya?
Flora membuka matanya lalu bersandar pada pinggiran jendela. Flora menarik napas dalam-dalam, di saat perasaan sedang kacau seperti itu seseorang selalu saja hadir untuk mengganggunya dan membuat dirinya lupa akan masalahnya dan orang itu adalah Gio.
__ADS_1
Flora menepuk keningnya sendiri. Kini ia baru sadar akan hal itu. Flora menoleh melihat ke arah bunga yang masih segar yang katanya pemberian dari Gio. Flora melangkah mendekati bunga mawar merah itu, ia sentuh salah satu kelopak indah itu. Bibir Flora tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman, ketika mengingat semua kelakuan konyol Gio. Dan kini Flora merasa merindukan sesuatu yaitu panggilan 'sayangku' yang selalu Gio ucapkan ketika memanggilnya.