
Berawal dari sebuah kecupan di bibir sampai akhirnya mengundang hasrat dalam diri mereka. Kini Gio dan Flora sedang bergulat di atas tempat tidur.
Malam itu tidak adanya Felicia di rumah dan kamar itu, maka tidak ada yang akan mengganggu keduanya untuk menghabiskan malam yang panjang itu.
Flora menahan suaranya agar suara laknat tidak keluar dari mulutnya. Setelah mandi bersama, Gio langsung mengguncang tubuhnya, memberikan kenikmatan yang selalu bisa memuaskan dirinya.
Keringat sudah mengucur dari tubuh keduanya. Padahal suhu di kamar itu sangat dingin. Napas mereka juga sudah nampak tidak beraturan, tetapi mereka masih ingin menghabiskan waktu dengan bercumbu.
Flora sudah memutuskan untuk segera memberi Felicia seorang adik. Awalnya Flora masih belum ingin memberikan Felicia seorang adik karena takut perhatian untuk Felicia akan terbagi. Namun, setelah berpikir sepertinya Felicia juga membutuhkan teman untuk bermain di rumah.
Rasa lelah menghampiri mereka memaksa keduanya untuk segera mengakhiri permainan panas itu. Keduanya menahan suaranya saat ada sesuatu yang meledak di dalam diri mereka. Ledakan itu terasa begitu nikmat hingga rasanya membuat tubuh mereka serasa melayang.
Gio masih berada di atas tubuh istrinya, mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal. Bersamaan dengan itu Gio memberikan kecupan di kening Flora sebagai ucapan terima kasihnya. Setelah napasnya kembali normal Gio menggulingkan tubuhnya ke samping Flora.
Kecupan kembali Gio berikan di pundak polos istrinya seraya mengucapkan kata terima kasih kepada istrinya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Gio.
Flora merespon ucapan suaminya dengan anggukkan kepalanya.
"Aku puas sekali." Gio berbisik untuk menggoda istrinya.
Flora menolehkan pandangannya ke arah Gio. Wajahnya nampak terlihat memerah karena merasa malu.
"Mau lagi gak?" Gio masih saja berusaha untuk menggoda istrinya.
"Ck, kamu selalu saja seperti itu." Dalam hatinya padahal Flora selalu menantikan kebersamaan yang seperti itu bersama suaminya.
Gio menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan sang istri yang masih polos. Lalu menarik tubuh Flora masuk ke dalam dekapannya.
"Tidur, yuk," ajak Gio.
Flora kembali mengangguk lalu mendekatkan tubuhnya ke dekat suaminya. wajahnya ia sembunyikan ke perpotongan leher suaminya.
"Aku mencintaimu, Gio?" Flora berbisik di dekat telinga suaminya.
"Itu manis sekali," ucap Gio. "Aku juga mencintaimu, Istriku."
Tidak ada yang bersuara lagi. Keduanya membiarkan perasaan mereka yang berbicara. Hingga rasa lelah membawa mereka ke alam mimpi bersama-sama.
*****
Empat bulan kemudian
Flora sedang berada di dalam kamar mandi dengan memegang sebuah benda pipih berukuran kecil di tangannya. Cairan bening menetes dari matanya, tetapi senyumnya mengembang. Flora melihat dua garis berwarna merah di atas benda pipih yang merupakan alat tes kehamilan.
__ADS_1
"Aku hamil," guman Flora.
Flora bersorak gembira dalam hatinya saat mengetahui ada kehidupan lagi di dalam perutnya.
"Aku harus memberitahukan ini pada Gio. Dia pasti akan sangat senang," ucap Flora.
Tidak sabar ingin memberitahukan kabar baik itu pada suaminya Flora keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa. Di dalam kamarnya Flora melihat suaminya sedang memakai pakaian kerjanya. Dengan senyum di bibirnya Flora berjalan mendekati suaminya dan memeluknya dari belakang.
Flora menempelkan sisi wajahnya di punggung suaminya. Matanya terpejam seraya memberitahukan pada Gio tentang kehamilannya.
"Papa Gio ... aku hamil," ucap Flora.
Gio menghentikan gerakan tangannya saat sedang mengikat dasinya. Tubuhnya membeku saat istrinya mengatakan kabar baik kepada dirinya. Jantungnya berdegup begitu kencang, tetapi masih ada rasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Kamu kenapa diem saja? Kamu gak senang ya?" tanya Flora tanpa mengubah posisinya.
Gio menjauhkan tangan Flora dari dadanya sebelum berbalik. Kini suami-istri itu berdiri saling berhadapan dengan pandangan lurus menatap satu sama lain. Gio menggerakkan tangannya untuk menangkup kedua sisi wajah istrinya sebelum memberikan kecupan lembut di bibir istrinya.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Gio.
"Aku hamil." Flora membawa tangan suaminya ke perutnya yang masih rata.
"Kamu serius?" Gio bertanya lagi untuk memastikan kebenaranya.
"Iya, Sayangku ... aku hamil." Flora memperlihatkan alat tes kehamilan yang menunjukan garis dua kepada Gio.
Bibir Gio melengkung membentuk sebuah senyuman. Kebahagian terlihat jelas di wajah Gio. Rasa bahagia yang Gio rasakan membuatnya tidak bisa bicara. Gio tidak tahu bagaimana cara menggambarkan kebahagiannya.
"Terima kasih, Sayangku," ucap Gio. "Aku benar-benar bahagia sekali."
Gio mengecup perut istrinya secara berulang-ulang. Rasanya dirinya sudah tidak sabar untuk menantikan kelahiran anak kedua mereka.
Gio membopong tubuh Flora, membawanya ke atas tempat tidur. Sampai di tepi tempat tidur Gio merebahkan tubuh istrinya di sana. Gio mengambil posisi duduk di samping istrinya. Tangannya tidak berhenti untuk mengusap perut istrinya yang masih rata.
"Sudah berapa bulan?" tanya Gio.
"Aku juga belum tahu. Tapi kayaknya baru sekitar dua bulan," jawab Fakta.
"Nanti aku akan periksakan ke Dokter," ucap Flora.
"Aku akan menemanimu," ucap Gio.
"Tidak usah. Aku tidak mau mengganggumu. Aku akan pergi bersama ibu nanti," ucap Flora.
"Tidak, Sayangku. Aku juga ingin mengetahui keadaan anakku," ucap Gio.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membuat janji dengan Dokter Marisa lebih dulu," ucap Flora. "Sekarang kita sarapan. Anakmu pasti akan marah jika tahu papanya sedang bermesraan dengan mamanya seperti ini."
Gio tertawa mendengar ucapan istrinya. Felicia memang akan merasa cemburu jika melihat dirinya dan Flora bermesraan.
"Baiklah, ayo kita keluar." Gio mengajaknya Flora untuk keluar dari kamar mereka.
Gio menuntun Flora keluar dari kamar mereka. Keduanya melangkah ke arah ruang makan. Di tempat itu sudah ada Felicia yang sedang memakan sarapannya.
Flora duduk berdekatan dengan ibunya, karena tidak mau mengganggu kedekatan Felicia dengan Gio. Kehamilannya juga Flora beritahukan kepada ibu dan juga anaknya.
Seruni sangat senang mendengar dirinya akan kembali memiliki seorang cucu. Sedangkan Felicia nampak biasa saja. Justru anak berumur lima tahun itu bertanya bagaimana adiknya bisa ada di perut mamanya, dan bagaimana bisa adiknya keluar dari perut mamanya nanti.
"Nanti kalau Felicia sudah besar pasti Felicia akan tahu jawabannya," ucap Gio.
Felicia tidak semudah itu untuk diam. Gadis kecil itu terus bertanya ini dan itu yang membuat kedua orangtuanya serta neneknya bingung sendiri untuk menjawabnya.
"Felicia cepat berangkat ke sekolah ya. Nanti telat loh," ucap Flora. "Pertanyaannya dilanjutkan nanti saja."
"Iya, Mah," sahut Felicia.
Flora, Gio, serta Seruni menarik napas panjang karena merasa lega. Akhirnya Felicia berhenti untuk bertanya.
"Ayo, ibu akan mengantarmu ke mobil." Flora beranjak dari tempatnya duduknya dengan menggandeng tangan Felicia.
Gio sendiri menyusul anak dan istrinya setelah berpamitan pada ibu mertuanya.
"Kamu hati-hati." Flora berucap pada Gio seraya merapikan bentuk dasinya.
"Iya, kamu juga jaga diri kamu baik-baik. Kabari aku jika kamu akan ke rumah sakit," ucap Gio disambut anggukan kepala oleh Flora.
"Iya, Sayangku." Flora merasa gemas pada suaminya. Setelah suaminya tahu mengenai kehamilannya pasti sikap posesifnya akan semakin bertambah.
Senyum yang tadinya mengembang di bibir Gio mendadak meredup saat Gio teringat akan sesuatu.
"Flora," panggil Gio.
"Ada apa?" tanya Flora.
"Aku tidak akan mengidam seperti dulu, 'kan?" tanya Gio.
Wajah Gio mendadak terlihat pucat. Ada kecemasan di wajah tampannya.
Flora melipat bibirnya untuk menahan tawanya. Akan tetapi karena melihat ekspresi wajah suaminya yang terlihat sangat lucu membuat Flora tidak lagi bisa menahan tawanya.
"Suamiku, kamu lucu sekali." Flora langsung melingkarkan tangannya ke leher suaminya dan memberikan kecupan di pipi suaminya.
__ADS_1