Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Dua Ratus Delapan


__ADS_3

Kenzo masih berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerjanya. Dalam kebingungannya Kenzo dikejutkan oleh kedatangan Kenzi secara tiba-tiba.


"Jika ada masalah duduklah. Pikirkan dengan kepala dingin, jangan mondar-mandir seperti itu. Itu justru akan membuatmu bertambah pusing," ucap Kenzi.


Kenzo menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara. Matanya melihat saudara kembarnya sudah duduk di


salah satu kursi yang ada di hadapan meja kerjanya. Sejak kapan Kenzi berada di tempat itu?


Kenzo berdecak, jika saudara kembarnya datang harinya akan yang buruk akan bertambah buruk.


"Sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Kenzo.


"Sudah cukup lama. Aku bahkan hampir pingsan karena pusing melihatmu berjalan mondar-mandir seperti tadi," gurau Kenzi.


"Tidak bisakah kamu meminta izin padaku sebelum masuk ke sini?" omel Kenzo.


"Aku sudah mengetuk pintu dari tadi, tapi tidak ada sahutan. Jadi aku langsung masuk saja," jawab Kenzi.


"Untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Kenzo.


"Heh, apa kamu lupa? Kamu yang menyuruhku untuk datang ke sini kemarin," jawab Kenzi.


Kenzo menaikkan satu alisnya, dirinya tidak mengingat jika sudah meminta pada saudara kembarnya untuk datang ke kantornya.


"Aku tidak ingat," ujar Kenzo.


"Sejak kapan kamu jadi pelupa seperti ini?" ejek Kenzi.


"Katakan dengan jelas," tekan Kenzo.


"Kamu memintaku untuk membantumu mengawasi perusahaanmu selama kamu pergi ke luar kota. Apa kamu benar-benar tidak ingat?" tanya Kenzi.


Kenzo memutar ingatannya kembali pada hari sebelumnya. Ia baru mengingat pernah menghubungi Kenzi.


"Ck, iya aku ingat." Kenzo menarik napas dalam-dalam dan mendaratkan bokongnya kembali pada kursi yang ada di balik meja kerjanya. Ia merasa gelisah, merasa seperti semua beban di dunia ada di pundaknya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat bingung dan gelisah?" tanya Kenzi.


"Tidak ada apa-apa. Hanya ...." Kenzo meredam ucapannya seraya memijit keningnya.


"Hanya apa?" Kenzi merasa penasaran dengan masalah yang mungkin sedang dihadapi oleh saudara kembarnya.


Kenzo tidak langsung menjawab, ia diam sesaat seraya memandang wajah Kenzi. Ada keraguan untuk mengatakan masalah apa yang sedang dihadapinya.


Kenzo sudah bisa menebak Kenzi pasti akan mengejeknya jika tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Namun, ia juga tidak bisa memendam masalah itu sendiri. Selama ini juga dirinya selalu mencurahkan masalahnya pada dua orang saja yaitu Kenzi dan juga Alan.


"Huuf." Sebelum bicara Kenzo lebih dulu menarik napasnya.


"Cepat katakan saja. Aku akan setia mendengarkan curahan hatimu." Kenzi menaikkan kedua alisnya seolah sedang mengejek saudara kembarnya.

__ADS_1


Melihat wajah tengil saudara kembarnya, Kenzo menjadi ragu untuk bicara.


"Tidak jadi," ucap Kenzo.


Kenzi mendengkus ditempatnya, tetapi Kenzi tidak kehabisan akal. Dirinya masih punya seribu cara untuk memancing Kenzo untuk bicara.


"Baiklah, jika kamu tidak mau mengatakannya aku bisa bertanya pada kakak ipar," ujar Kenzi.


"Awas saja jika kamu benar-benar melakukan itu." Kenzo mengancam Kenzi yang justru membuat saudara kembarnya tergelak.


"Aku menyesal sudah memintamu untuk datang ke sini," dengus Kenzo.


"Itu masalahmu," ledek Kenzi.


"Ck ...." Kenzo menggerutu di dalam hatinya. Ia merasa putus asa jika bicara dengan Kenzi, selalu saja dia memiliki banyak kata untuk membalas perkataannya.


"Jadi ... ayo katakan saja. Seperti tidak biasanya saja," desak Kenzi.


"Oke." Kenzo menyerah dan akhirnya menceritakan apa yang terjadi. "Tadi pagi Felicia mengatakan jika dia mencintaiku," ungkap Kenzo.


"Hah, seriusan?" Kenzi mencondongkan tubuhnya, ia merasa terkejut dengan perkataan Kenzo.


"Iya." Kenzo menundukkan wajahnya, tidak ingin melihat reaksi Kenzi. Ia tahu jika Kenzi pasti akan menertawakan dirinya.


Benar saja tidak lama setelah itu suara gelak tawa Kenzi menggema di ruangan itu.


"Aku tidak menyangka, ternyata kakak iparku sangat berani," ucap Kenzi disela gelak tawanya.


Gelengan kepala Kenzo menjadi jawaban atas pertanyaan Kenzo. Hal itu justru kembali membangkitkan tawa Kenzi kembali.


"Apa tenggorokanmu tidak sakit tertawa seperti itu?" sungut Kenzo.


Kenzi berhenti tertawa, meksipun masih ada tawa di bibirnya. Kenzi menggeleng kecil, dirinya tidak percaya jika Kenzo sebodoh itu.


"Aku tahu kamu juga mencintai Felicia. Lalu apa susahnya hanya tinggal membalasnya dan mengatakan 'aku juga mencintaimu'," ucap Kenzi.


"Aku tidak yakin akan hal itu," ucap Kenzo.


"Kenapa, apa kamu masih mencintai perempuan itu?" tanya Kenzi.


"Tidak. Perasaanku pada perempuan itu sudah tidak ada lagi. Aku bahkan sudah menyingkirkan dia dari hidupku," ujar Kenzo.


"Lalu apa yang membuat kamu ragu untuk mencintai Felicia?" tanya Kenzi.


Kenzo menyenderkan kepalanya pada punggung kursi dengan meletakan kedua tangannya di belakang kepalanya.


"Sudah aku bilang, aku belum yakin jika aku juga mencintainya," jawab Kenzo.


"Aku hanya takut, jika perasaan yang belum jelas ini akan melukainya," aku Kenzo.

__ADS_1


"Bodoh. Istrimu bahkan lebih berani daripada kamu," ledek Kenzi.


Kenzo terdiam, ia tidak peduli pada ejekan yang Kenzi lontarkan untuk dirinya.


"Bagaimana belum jelas? Dari yang aku lihat kamu sudah mulai mencintainya. Kalian sudah sering bersentuhan secara fisik. Bahkan Felicia sedang mengandung anakmu. Jangan mencoba untuk membohongi dirimu sendiri, Kenzo," ucap Kenzi."


"Atau jangan-jangan kamu melakukan hubungan itu dengan Felicia hanya karena napsu," tuduh Kenzi.


Kenzo terbelalak mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh saudara kembarnya.


"Aku bukan kamu." Kenzo menangkis tuduhan Kenzi.


Kenzo mengubah posisi duduknya, tangannya ia satukan dan menaruhnya di atas meja. Pandangannya menatap Kenzi yang sedang tertawa.


"Dia bilang akan menungguku," ucap Kenzo.


"Jangan terlalu lama menggantung perasan Felicia. Jangan menyakiti perasaan perempuan yang mencintaimu dan perempuan yang sedang mengandung darah dagingmu," pesan Kenzo.


"Felicia itu perempuan yang nyaris sempurna. Banyak laki-laki di luaran sana yang pasti berharap bisa mendapatkannya," ucap Kenzi.


"Ya, aku tahu itu," ucap Kenzo.


"Cepat katakan pada Felicia jika kamu memiliki perasaan yang sama dengannya," suruh Kenzo.


"Kalau kamu tidak berani mengatakannya, aku yang akan mengatakan ini pada kakak ipar. Biar dia tahu betapa pengecutnya suaminya ini," ucap Kenzi.


Kenzo mendongakkan wajahnya, memberikan tatapan tajam pada saudara kembarnya.


"Aku akan melenyapkanmu jika itu sampai terjadi," ancam Kenzo.


Kenzi lagi-lagi tergelak mendengar ancaman Kenzo. Menggoda saudara kembarnya itu memang sangat menyenangkan bagi Kenzi.


"Sudahlah lupakan masalah rumah tanggamu. Katakan apa yang bisa aku bantu di sini," ucap Kenzi.


"Kamu ini menggangguku saja. Apa kamu kira aku tidak punya pekerjaan apa," gerutu Kenzi.


"Cerewet," ucap Kenzo.


*****


Sore hari Kenzo bersama istri dan dua orang kepercayaannya sedang dalam perjalanan menuju bandara. Kenzo duduk di kursi penumpang belakang bersama istrinya. Tangannya menggenggam erat tangan Felicia, mengisi setiap ruang pada sela jarinya, membiarkan istrinya menyenderkan kepalanya di pundaknya.


Kenzo harus mengecek sendiri pembangunan resort di pulau itu, juga menghadiri pembukaan hotel baru rekan bisnisnya di tempat yang sama.


Bisnis yang sudah meluas membuat Kenzo tidak jarang harus pergi ke luar kota dalam waktu lama. Jika biasanya ia bisa bebas pergi dan pulang semaunya, tetapi kini ia sudah memiliki teman hidup, dirinya tidak sebebas dulu, apalagi istrinya sudah mengatakan jika tidak bisa jauh darinya. Akan tetapi sejujurnya dirinya juga tidak bisa jauh dari sang istri. Ia merasa sudah terbiasa dengan istrinya, tetapi tujuan utamanya adalah untuk menghabiskan waktu bersama istrinya dan untuk memantapkan hatinya mengenai perasaannya pada sang istri.


"Tidurlah jika kamu mengantuk," ucap Kenzo.


"Nanti saja saat kita sudah ada di dalam pesawat," ucap Felicia. "Lagi pula sebentar lagi kita sampai di Bandara."

__ADS_1


"Baiklah." Kenzo melepaskan genggaman tangan mereka lalu melingkarkan tangannya di sepanjang pundak Felicia.


Tidak lama mobil yang mereka naiki berhenti di depan bandara. Mereka langsung masuk ke dalam bandara dan masuk ke dalam pesawat pribadi yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan mereka.


__ADS_2