Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Kekalahan Gio


__ADS_3

“Hah! Kamu benar akan melakukan apa yang diperintahkan oleh tante Mariana, Flora?” tanya Gio dan Flora langsung mengangguk.


“Aku akan melakukan itu jika memang bisa membuatmu sadar dengan apa yang kamu katakan tadi,” jawab Flora.


“Jangan bercanda, Sayang,” ucap Gio.


“Sekarang kamu berani memanggilku 'sayang' setelah sebelumnya kamu ingin menceraikan aku?” Flora mulai melangkah maju ke arah Gio.


Gio yang melihat Flora mulai melangkah maju, ia pun mulai melangkahkan mundur.


“Daniel, bisakah kamu menyelamatkan aku dari kakakmu ini?” tanya Gio seraya melangkah mundur mengitari sofa yang ada di ruang tengah.


“Maafkan aku, tapi ini masalah rumah tangga kalian dan aku tidak ingin ikut campur,” ucap Daniel. “Aku tidak mau ikut terkena masalah jika aku membantumu.”


“Ya benar kata Daniel. Ini masalah kalian,” sambung Seruni.


Daniel, Seruni, Mariana, dan Ardi kembali duduk di tempat semula. Mereka membiarkan Gio dikejar oleh Flora.


“Kamu harus menanggung apa yang kamu berbuat. Salah sendiri kenapa kamu membuat istrimu marah,” ucap Mariana.


“Om Ardi,” panggil Gio.


“Maaf, om lagi sibuk minum kopi,” sahut Ardi seolah tahu maksud keponakannya memanggil dirinya.


Gio berdecak saat tidak ada yang orang yang berada di pihaknya.


“Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu dari kemarahanku, Suamiku,” ucap Flora seraya menyunggingkan senyum miringnya.


Gio berlari menjauh dari Flora lewat pintu samping. Namun, Flora tidak membiarkan itu begitu saja, dengan segera Flora mengejar suaminya masih dengan membawa pemukul baseball di tangannya.


“Jangan berharap aku akan melepaskan dirimu, Gio,” teriak Flora.


Semua orang yang melihat itu tidak bisa menahan tawa mereka lagi.


“Biarkan Flora dan Gio menyelesaikan masalah mereka,” ucap Ardi setelah menghabiskan kopinya.


“Ya itu benar. Sebaiknya kita pulang. Masalah Dini dan Tina juga sudah selesai,” imbuh Mariana. “Aku ingin ke salon untuk perawatan.”


Pandangan Mariana mengarah pada Seruni.


“Seruni, ayo kita ke salon!” ajak Mariana.


Daniel hampir tersedak saat saat mendengar Mariana mengajak Seruni untuk pergi bersama.


“Mamah gak salah ngajak ibunya Flora ke salon?” tanya Daniel.


Tentu saja Daniel heran mendengar mamanya mengajak ibunya Flora ke salon. Mengingat hubungan keduanya dulu seperti apa.

__ADS_1


“Ya gak salah dong. Seruni kan perempuan sama seperti mamah,” jawab Mariana. “Memangnya kamu juga ingin melakukan perawatan kuku kaki dan tangan juga.”


“Bukan itu maksud aku, Mah. Tapi —”


“Apa sih? Kamu curiga, Seruni mau mamah apa-apain?” tanya Mariana.


“Bukan begitu, Mah —”


“Seruni, ayo kita pergi,” ucap Mariana.


Pandangan mereka mengarah pada anak dan suaminya. “Kalian berdua urus pekerjaan kalian saja.”


Mariana dan Seruni beranjak dari tempat duduk mereka dan pergi ke salon kecantikan. Jangan heran dengan kedekatan keduanya, sikap Mariana pada Seruni sudah jauh lebih baik setelah mengetahui jika Flora adalah anak kandung Farhan.


Sementara itu Flora masih mengejar Gio sampai taman belakang rumah itu. Gio yang sudah lelah memilih berhenti.


“Flora berhentilah! Apa kamu tidak lelah terus berlari mengejarku?” Napas Gio sudah tersengal-sengal.


“Aku tidak akan merasa lelah sampai aku bisa memberimu pelajar,” sahut Flora.


Flora mengayunkan pemukul baseball ke lengan Gio beberapa kali. Pekikan Gio pun sama sekali tidak Flora hiraukan.


“Bailkah aku minta maaf. Aku tidak akan mengulangi perkataan itu lagi. Tapi berhentilah memukuliku. Apa kamu benar-benar ingin meremukkan seluruh tulang-tulangku?” pekik Gio.


“Bagaimana aku bisa sangat mencintai laki-laki bodoh seperti dirimu,” ucap Flora di sela kemarahannya.


Puas memukuli Gio, Flora membuang pemukul baseball itu. Lalu kemudian Flora menarik kerah kemeja yang Gio pakai.


“Saat aku tahu kamu kakakku, aku hampir saja gila karena tidak bisa menerima kenyataan itu,” lanjut Flora. “Dan saat sekarang kita menikah ... kamu ingin menceraikan aku, Hah!”


“Bukankah dulu kamu pernah mengatakan, jika aku mau menikah denganmu maka kamu akan membuat hidupku bahagia dan dan juga tenang. Lalu kenapa kamu sekarang justru menyakiti hatiku,” ucap Flora.


“Apa sekalipun kamu tidak ingin bertanya padaku apa yang aku inginkan?” ujar Flora.


Flora sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya. Dengan sekuat tenaganya, Flora menarik tangan kerah kemeja Gio seraya terisak.


Gio yang melihat air mata Flora menundukkan wajahnya. Terasa sakit setiap kali melihat Flora menangis. Bukan maksudnya untuk menyakiti hati Flora. Namun, Gio hanya ingin Flora hidup bahagia bersama orang yang layak untuk dirinya.


Flora menundukkan wajahnya di dada bidang Gio. Tubuhnya terlihat bergetar membuat Gio langsung memeluknya.


“Bukan maksudku untuk menyakitimu, Flora. Aku hanya ingin kamu mendapatkan laki-laki layak,” ucap Gio.


“Apa kamu bisa menjamin jika aku menikah dengan laki-laki lain maka hidupku akan bahagia?” tanya Flora.


Flora mendongak menatap wajah Gio dengan matanya yang basah.


“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Gio. Saat aku belum tahu siapa ayahku, saat semua orang menyebutku sebagai anak haram, apakah kamu peduli dengan itu? Tidak, 'kan. Kamu tetap mencintaiku. Lalu kenapa aku harus peduli dengan apa yang terjadi padamu,” ujar Flora.

__ADS_1


“Bagiku, kamu laki-laki playboy kesayanganku. Revaldo Giovanni Ferdinand,” lanjut Flora.


“Katakan padaku, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?” tanya Flora.


“Aku masih sangat mencintaimu, Flora,” jawab Gio.


“Lalu kenapa kamu ingin pergi dariku ....” Flora berucap dengan suara lirih. Namun, Gio masih bisa mendengarnya.


“Maafkan aku, Flora. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maaf, maaf, maaf.” Gio menyatukan kedua tangannya untuk memohon maaf pada istrinya.


“Enak saja hanya meminta maaf,” ucap Flora.


“Apalagi yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku. Kamu bahkan sudah hampir membuat semua tulang-tulangku remuk,” ucap Gio.


“Aku tidak memukulmu dengan keras.” Flora memukul lengan Gio menggunakan genggaman tangannya.


“Aww!” jerit Gio.


“Gio kamu tidak apa-apa, 'kan?” Flora terkejut saat mendengar Gio menjerit dan memegangi lengannya.


“Kenapa dari dulu kamu suka sekali memukulku,” ucap Gio.


“Karena aku suka,” jawab Flora nyeleneh.


“Apa? Kamu —”


Flora tertawa melihat Gio kesakitan.


“Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga,” ucap Gio.


“Jangan terlalu dramatis, aku hanya memukulmu dengan kayu itu saja.” Dengan matanya Flora menunjuk pemukul baseball yang tergeletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


“Aku tidak percaya ini. Kamu sungguh istri yang kejam,” ucap Gio. “Awas saja, aku akan membalasnya nanti,” lanjut Gio.


“Apa? Jadi kamu juga akan memukulku dengan pemukul baseball itu?” tanya Flora.


Gio berpikir sejenak sebelum akhirnya Gio memilih untuk menarik pinggang Flora untuk mengikis jarak di antara mereka. Jarak mereka begitu sempit dan hanya dibatasi oleh kain yang menempel pada tubuh mereka.


“Gio apa yang kamu lakukan? Nanti ada yang lihat.” Flora mencoba untuk meloloskan diri dari Gio.


“Aku akan membalas perbuataanmu ini setelah 7 hari nanti.” Gio mengedipkan satu matanya untuk menggoda Flora.


Flora tahu apa yang Gio inginkan setelah 7 hari. Rona merah pun langsung muncul pada kedua sisi wajah Flora.


“Apa sih?” Flora menyembunyikan wajah malunya di dada bidang suaminya.


Gio merasa gemas melihat tingkah malu istrinya. Tanpa permisi Gio langsung mengangkat tubuh Flora dan membawanya masuk ke dalam rumah mereka.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya.


__ADS_2