
Gio berdiri lalu kembali mendekati Flora. Gio berdiri di hadapan Flora dan kembali menekuk kedua lututnya untuk mensejajarkan tingginya dengan Flora.
Diraihnya tangan Flora untuk Gio genggam. Meskipun Flora mencoba untuk melepaskannya, tetapi Gio tetap menggenggamnya.
“Itu memang rencana tante Dini, tapi percayalah Flora ... aku membawamu ke sini atas dasar keinginanku sendiri bukan karena tante Dini,” ucap Gio.
Flora tetap mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tidak ingin melihat suaminya.
“Aku hanya ingin menjauhkan kamu dari mereka agar kejadian buruk yang kamu alami kemarin tidak terjadi lagi,” lanjut Gio.
Dan perkataan Gio yang selanjutnya itu membuat Flora langsung melihat ke arah Gio.
“Apa maksudmu?” tanya Flora.
“Kecelakaan itu sudah direncanakan oleh tante Dini. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraannya dengan seseorang di telepon,” jawab Gio.
“Bukan hanya itu saja, Flora. Karena kebodohanku perusahaan kita sedang dalam masalah,” lanjut Gio.
Gio pun akhirnya menceritakan masalah apa yang sedang terjadi. Seseorang sudah mengambil berkas penting yang harusnya diserahkan kepada perusahaan milik keluarga Alandra dan orang yang mencurinya menjualnya ke perusahaan lain.
“Mereka merasa dirugikan oleh karena itu kita harus membayar ganti rugi kepada perusahaan itu. Dan itu tidak sedikit, Flora.”
“Awalnya aku tidak merasa curiga pada tante Dini, tapi setelah kecelakaan yang kamu alami, dan tante Dini yang terus menerus mendesak agar harta itu bisa segera dicairkan, membuat rasa curiga itu timbul Flora. Apalagi setelah aku tahu suami tante Dini sedang menjadi buronan polisi karena dia sudah melakukan tindakan penipuan,” jelas Gio.
“Tante Dini, dia mengira dengan memiliki separuh dari harta papa, maka dia akan bisa menyelamatkan hidupnya dari kebangkrutan,” jelas Gio.
“Dia sengaja ingin menciptakan masalah di antara kita agar perhatianku teralihakan dari masalah itu. Agar aku tidak merasa curiga dengan tindakannya, Flora,” lanjut Gio.
Flora masih tetap diam, ia masih terkejut dengan apa yang baru saja Gio jelaskan. Hal itu terlalu rumit untuknya.
Gio sendiri tahu Flora tidak mungkin bisa percaya begitu saja pada dirinya.
“Aku tahu Flora kamu tidak akan semudah itu untuk percaya padaku. Kamu bisa bicara dengan Daniel dan om Ardi, mereka tahu masalah ini.”
Hening mengambil alih suasana di antara mereka berdua. Flora pun masih tetap diam, karena tidak tahu harus mengatakan apa.
“Flora aku mohon untuk saat ini kamu tetap di sini. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa.” Gio berdiri lalu memberikan kecupan di ujung kepala Flora. “Beri aku sedikit waktu lagi untuk mengumpulkan bukti jika tante Dini bersalah,” pinta Gio.
Setelah mengatakan itu, Gio keluar dari kamar itu untuk memberikan waktu sendiri untuk Flora.
Sementara di dalam kamar, Flora masih duduk dalam diam. Pikirannya mendadak tidak bisa bekerja dengan baik. Flora merasa bingung harus percaya atau tidak dengan semua perkataan yang baru saja Gio katakan.
__ADS_1
“Aku harus mengubungi Daniel.”
*****
Tidak terasa sudah 4 hari Flora dan Gio berada di vila itu. Ketegangan di antara mereka juga sudah sedikit mereda, hanya saja hubungan mereka masih belum kembali seperti semula.
Tepat pada jam 11 malam Flora masih berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Flora sedang berpikir tindakan apa yang harus ia ambil selanjutnya.
Saat sedang berpikir keras, telinga Flora tiba-tiba mendengar suara benda pecah.
Prank
Flora terkejut dan segera keluar dari dalam kamarnya. Flora mengedarkan pandangannya mencari asal suara benda pecah itu. Matanya melihat Gio sedang berada di dapur. Flora pun langsung mendekatinya.
“Awwww!”
Flora mempercepat langkahnya saat mendengar suara pekikan Gio.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Flora.
“Tidak ada apa-apa. Hanya tadi aku mau membuat kopi, tapi tidak sengaja gelasnya tersenggol sikuku,” jawab Gio.
“Lalu kenapa jarimu bisa terluka?” Nada bicara Flora terdengar begitu cemas.
Flora menarik tangan Gio untuk melihat lukanya. “Ikut aku, biar aku obati lukamu ini.”
Flora membawa Gio ke kursi yang tidak jauh dari dapur. Setelah itu, Flora mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Gio.
“Kenapa tidak memintaku untuk membuatkannya?” tanya Flora seraya menempelkan plaster ke jari Gio.
“Aku kira kamu sudah tidur dan juga aku tidak ingin ... merepotkanmu,” sahut Gio.
Jawaban Gio membuat Flora menarik napasnya dalam-dalam. Flora pun beranjak dari kursi dan melangkah ke arah dapur. Tidak lama Flora kembali ke tempat Gio duduk dengan membawa secangkir kopi di tangannya.
“Ini minumlah!” Flora meletakkan secangkir kopi ke hadapan Gio.
“Terimakasih, Flora,” ucap Gio.
Sesaat suasana di antara mereka menjadi hening. Sampai pada akhirnya Flora memutuskan untuk mengawali pembicaraan.
“Aku dengar kamu menjual apartemen dan mobilmu, serta menggadaikan vila yang ada di Ciawi?” tanya Flora. “Untuk apa semua itu?”
__ADS_1
“Kamu tahu 'kan aku butuh uang banyak untuk mengganti kerugian perusahaan Alandra. Aku tidak bisa memakai uang perusahaan karena itu pasti berdampak buruk pada karyawan kita,” jelas Gio.
“Aku akan coba minta bantuan pada pengacara ayah untuk mencairkan uang yang ada di rekening ayah. Itu mungkin bisa menambah uang ganti rugi itu,” ucap Flora.
“Tapi itu hak kamu, Flora. Itu milikmu!” ucap Gio.
“Aku tidak peduli, Gio. Yang aku pedulikan saat ini adalah perusahaan yang ayah bangun, tidak hancur,” balas Flora.
“Dan maaf untuk surat wasiat itu. Sebenarnya aku dan tante Mariana yang meminta pengacara ayah untuk merubah itu,” aku Flora.
“Aku tidak berpikir ke arah sana, Flora. Aku juga tidak perduli dengan semua itu. Lagi pula papa sudah meninggalkan hartanya yang sangat berarti untuk aku,” ucap Gio.
“Harta yang berarti? Apa itu?” tanya Flora merasa penasaran.
Gio mengulurkan tangannya ke arah wajah Flora lalu mengusap sisi wajah Flora menggunakan ibu jarinya. “Harta itu adalah kamu, Flora.”
Mendadak Flora menjadi salah tingkah setelah mendengar perkataan Gio. Rasanya Flora ingin memeluk Gio, tetapi harga dirinya seolah menahannya.
“Apa ini masih sakit?” Flora menunjuk ke arah jari Gio yang terluka.
“Tidak apa-apa. Hanya luka kecil saja,” jawab Gio. “Lebih sakit jika melihatmu menangis, Flora.”
“Ck, kamu selalu saja berucap manis untuk merayuku,” decak Flora.
“Aku serius, Flora.” Gio membawa Flora ke dalam pelukannya, lalu mendaratkan kecupan di bagian ujung kepala Flora.
Flora memejamkan matanya merasakan kenyamanan di dalam pelukan Gio. Apalagi wangi parfum yang selalu Gio pakai, itu adalah favoritnya.
“Maafkan aku, karena aku sempat tidak mempercayai dirimu,” ucap Flora di dalam dekapan Gio.
“Tidak apa-apa, Flora. Aku tahu itu sulit untukmu mengingat apa yang sudah aku lakukan padamu selama ini,” balas Gio.
“Gio ....” Flora mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah suaminya.
“Ada apa?” Gio menunduk wajahnya yang langsung mempertemukan pandangannya dengan istrinya.
“Apa tante Dini dan Tina tahu tentang apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Flora.
“Tidak, mereka tidak tahu. Aku juga sudah menyuruh orang untuk mengawasi mereka. Jadi, biarkan saja mereka memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya dan aku akan di sini untuk menghabiskan waktu bersamamu,” ucap Gio.
“Mereka ingin mempermainkan kita, jadi kenapa kita tidak membalas mempermainkan mereka.” Gio mengedipkan satu matanya untuk menggoda Flora.
__ADS_1
Datang lagi deh sikap tengilnya.
Flora tertawa kecil diikuti oleh tawa Gio. Mereka saling memandang dengan pandangan penuh cinta seperti dulu, lalu saling mendekatkan wajah mereka untuk menyatukan bibir mereka.