
Flora dan Elang, keduanya melangkah di lorong hotel menuju lobi. Ketika akan keluar dari hotel ada seseorang memanggil Elang membuat langkah Flora dan Elang berhenti.
“Elang.”
Flora dan Elang menoleh ke asal suara.
“Hei, Bella ... kamu di sini? Kapan kamu datang?” Elang sedikit terkejut ketika tunangannya ada menyusulnya ke Bali.
“Surprise dong,” jawab Bella. “Aku baru datang tadi. Aku ke kamar kamu, tetapi kamu tidak ada,” lanjut Bella.
“Ohw,” ucap Elang singkat.
Bella merangkul lengan Elang dan mengarahkan pandangannya ke arah Flora. Ada sedikit rasa kecemburuan pada diri Bella ketika melihat calon suaminya berdekatan dengan perempuan lain.
“Dia siapa, Sayang?” tanya Bella.
“Oh ... dia Flora. Rekan bisnis papamu,” jawab Elang.
“Flora ... perkenalkan dia Bella, tunanganku,” ucap Elang.
Flora mengulurkan tangannya dengan sopan ke arah Bella sambil memperkenalkan diri. “Hai, aku Flora.”
“Aku Bella ... calon istri Elang.” Bella tidak membalas uluran tangan Flora, tetapi justru mengajak Elang pergi dari hadapan Flora.
“Aku sangat merindukan dirimu. Ayo kita habiskan waktu bersama,” ajak Bella.
“Tapi ... tunggu ... Bella ....” Elang berusaha mencegah Bella untuk membawanya pergi dari hadapan Flora dengan cara seperti itu. Namun, sepertinya tunangannya itu dalam mode cemburu.
Flora pun merasa heran dengan tingkah Bella yang bahkan tidak memberikan kesempatan pada dirinya untuk berpamitan kepada Elang.
“Ya sudahlah, mungkin dia sedang cemburu.” Flora tidak ingin mengambil pusing dengan hal itu. Setidaknya keinginannya bayinya untuk bertemu dengan Elang sudah terkabul.
Flora melangkah ke arah lobby tempat kedua asistennya menunggu dirinya.
“Ayo Abi, Susan ... kita segera berangkat ke bandara,” ucap Flora.
Abi membukakan pintu mobil untuk Flora. Dan kembali menutupnya saat atasannya itu sudah masuk ke dalam mobil. Abi pun menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang tepat di samping sopir.
Bersamaan dengan mobil yang melaju, bersama itu pula Flora pergi meninggalkan pulau Dewata, pulau yang memberikan banyak keindahan bersama Gio.
*****
Waktu terus berputar hingga satu minggu setelah Flora kembali dari pulau Dewata. Pagi itu Flora sedang membereskan beberapa berkas yang akan ia bawa ke kantor di kamarnya. Flora fokus pada aktivitasnya hingga membuatnya tidak tahu jika Seruni masuk ke dalam kamarnya.
“Sudah mau berangkat, Nak?” tanya Seruni.
Flora menoleh sekilas ke arah ibunya sebelum kembali fokus pada berkas di hadapannya.
“Iya, Bu,” sahut Flora.
“Ini susunya.” Seruni memberikan segelas susu untuk Flora.
Flora menerima susu yang diberikan oleh Seruni. Flora duduk di sofa di dekatnya sambil meminum susu yang diberikan oleh ibunya.
__ADS_1
“Flora, kamu sudah hamil besar, Nak. Dua minggu lagi juga kita akan mengadakan acara tujuh bulanan. Apa gak sebaiknya kamu cuti dari pekerjaan kamu,” ucap Seruni. “Ibu khawatir sama kesehatan kamu.”
Flora menaruh gelas susu yang sudah kosong ke meja yang ada di sebelahnya. Kini Flora mengarahkan pandangannya ke arah Ibunya.
“Bu ....” Flora menang meraih tangan Seruni dan menggenggamnya. “Ibu tahu 'kan alasan kenapa Flora menghabiskan waktu untuk bekerja?” tanya Flora yang langsung dianggukki oleh Seruni.
“Ibu hanya takut kamu kelelahan dan berpengaruh pada kondisi kehamilan kamu,” ucap Seruni.
“Flora akan usahakan untuk tidak terlalu lelah dan Flora juga berjanji, setelah acara 7 bulanan Flora akan bekerja dari rumah saja,” janji Flora.
Seruni hanya bisa mengangguk untuk merespon perkataan anaknya. Seruni tersenyum seraya mengusap kepala Flora. “Terserah kamu saja, Nak. Yang terpenting kamu harus menjaga diri kamu.”
“Iya, Ibuku sayang.” Flora memberikan kecupan bertubi-tubi di pipi ibunya.
“Ya sudah, Flora berangkat ke kantor dulu. Sebentar lagi mas Abi akan datang untuk jemput Flora,” pamit Flora.
“Ya, Nak,” ajak Seruni dan Flora langsung menganggukkan kepalanya.
Tin Tin Tin
Benar saja saat Seruni dan Flora keluar dari kamar, bunyi mobil yang sering dipakai Abi terdengar di telinga Mereka.
“Itu dia ... jemputan kamu sudah datang,” ucap Seruni. “Apa gak sebaiknya Abi tinggal sama kita, Nak. Biar Abi gak bolak-balik antar jemput kamu,” usul Seruni.
“Ya, Bu. Nanti coba Flora tanya sama mas Abi,” ucap Flora. “Ya sudah Flora berangkat dulu,” pamit Flora.
Flora menyalami tangan dan mencium punggung tangan ibunya sebelum berangkat bekerja.
“Ayo, ibu antar sampai depan,” ucap Seruni.
“Hati-hati, Nak,” pesan Seruni.
“Ya, Bu.” Flora yang sudah masuk ke dalam mobil melambaikan tangannya ke arah ibunya.
“Ayo Mas Abi ... kita berangkat,” perintah Flora.
“Baik, Mba,” sahut Abi.
Abi lebih dulu membunyikan klakson mobil yang ia kendarai sebelum melajukan mobil itu meninggalkan kediaman Flora.
Waktu sudah menunjukkan jam berangkat kerja. Jalanan yang Flora lalui pun sudah terlihat ramai.
“Mas Abi, apa sudah ada kabar tentang keberadaan suamiku?” tanya Flora.
“Belum, Mba,” jawab Abi. “Mas Daren bilang tidak ada petunjuk satu pun dan membuat orang-orangnya dan orang-orang kita susah untuk melacak keberadaan mas Gio,” jelas Abi.
“Aku hanya ingin tahu keberadaan suamiku. Meskipun dia sudah tiada sekalipun,” ucap Flora.
“Iya, Mba. Saya pun mendapat pesan dari Tuan Samuel ... beliau juga akan membantu. Tapi beliau minta agar kita tidak membocorkan hal ini pada siapapun. Beliau takut jika ada orang terdekat kita yang terlibat,” jelas Abi.
“Baiklah, nanti aku akan mengirimkan e-mail pada beliau untuk mengucapkan terima kasih,” ucap Flora.
“Penyelidikan orang-orang kita di sana tentang Brian bagaimana?” tanya Flora.
__ADS_1
“Nihil, Mba. Brian memang sepertinya tidak terlibat,” jawab Abi yang membuat Flora mendesah. Nampak sekali jika Flora sangat kecewa.
Pandangan Flora mengarah ke luar mobil. Bersamaan dengan itu Flora menarik napas berat seraya memejamkan matanya.
Laju mobil yang dikendarai oleh Abi berhenti ketika sampai di lobi kantornya. Flora keluar dari mobil setelah seorang penjaga membukakan pintu mobil untuknya.
Flora melangkah ke dalam gedung kantornya dan membalas setiap sapaan dari para karyawannya. Sampai di depan ruangan kerjanya, Flora kembali membalas sapaan dari Sekertarisnya, Susan.
“Selamat pagi, Bu Flora,” sapa Susan.
“Selamat pagi juga, Susan,” balas Flora.
“Maaf, Bu. Ada paket untuk Ibu dari seseorang,” ucap Susan.
“Paket? Sepagi ini?” tanya Flora.
“Sebenarnya paket itu datang kemarin. Saya lupa memberikannya pada Ibu,” jawab Susan. “Saya mohon maaf.”
“Tidak apa-apa. Saya masuk dulu,” ucap Susan.
Susan mendorong pintu ruangan kerja Flora lalu mempersilahkan atasannya masuk.
“Susan, tolong pesankan aku jus mangga,” pinta Flora.
“Baik, Bu,” sahut Susan.
Braaak
Susan yang tadinya akan keluar dari ruangan itu mengurungkan niatnya saat mendengar suara benda jatuh.
“Ibu, ada apa?” tanya Susan panik saat melihat amarah pada di wajah Flora.
“Jika ada paket untuk aku kamu harus lihat dan periksa dulu, Susan. Jika ada paket atas nama Daren ... kamu langsung buang saja.” Ada amarah pada nada bicara Flora.
“Dan tolong ambil benda itu, aku mau kamu buang jauh-jauh benda itu,” perintah Flora.
“Ba-baik, Bu.” Susan hanya bisa menuruti apa kata Flora tanpa banyak bertanya. Apalagi setelah melihat kemarahan pada diri atasannya itu.
Susan langsung memungut paket yang ternyata berisi sebuah kalung. Bisa dipastikan rantai emas itu harganya sangat mahal.
“Sayang sekali benda semahal ini harus dibuang,” batin Susan.
Namun, Susan tidak ingin mencari masalah dengan tetap menyimpan benda mahal itu.
Flora duduk dengan menyandarkan tubuh belakangnya di punggung kursi yang sedang ia duduki. Rasa kesalnya tercipta saat ia membaca sepucuk surat dari Daren.
Dalam surat itu Daren mengatakan rasa sukanya pada Flora. Daren bahkan secara terang-terangan menyuruh Flora untuk melupakan Gio yang Daren anggap sudah tiada.
“Dia sungguh sudah kehilangan akal,” ucap Flora dalam kemarahannya.
“Apa dia tidak berpikir jika aku ini adalah adik iparnya?”
Flora mengepalkan telapak tangannya dengan erat untuk meredam emosinya. Sebenarnya itu bukan kali pertamanya Daren mengungkapkan rasa sukanya pada Flora. Hanya saja selama ini Flora tidak pernah menganggapnya serius.
__ADS_1
Namun, menurut Flora kali ini Daren sudah keterlaluan. Flora tidak bisa tetap mendiamkan Daren. Meskipun benar jika Gio sudah tiada, dirinya tidak akan pernah mau menerima cinta Daren.