
Flora membelokan laju mobilnya masuk ke kediaman Gio dan memberhentikan laju mobilnya tepat di depan garasi mobil rumah besar itu.
"Ayo kita turun!" ajak Gio yang langsung diangguki oleh Flora.
Keduanya sama-sama melepaskan seatbelt yang melingkar pada tubuh mereka.
Gio menyatukan tangannya dengan tangan Flora ketika mereka sudah berada di luar mobil. Keduanya melangkah bersama untuk memasuki rumah besar itu dengan diiringi senyum bahagia yang terlukis pada bibir mereka.
Sampai di depan pintu utama, Gio ingin membuka pintu, tetapi pintu itu lebih dulu terbuka dari dalam.
"Selamat datang, Mas Gio," sambut seorang pekerja di rumah itu.
"Papa mana, Mbak?" tanya Gio pada pekerja rumahnya.
"Ada di dalam kamarnya," jawabnya. "Mari masuk, Mas."
Gio mengangguk dan kembali melangkah dengan masih tetap menggandeng tangan Flora.
Flora pernah sesekali datang ke rumah itu. Namun, tidak pernah sampai masuk ke dalamnya. Flora terperangah saat melihat desain interior rumah itu. Dari luar sudah nampak sangat besar dan ternyata dalam rumah itu pun lebih besar dan luas.
"Kamu duduk dulu, aku panggil papa sebentar." Gio menyuruh Flora duduk di ruang tengah, sedangkan dirinya berlari kecil menuju kamar papanya.
Sepeninggal Gio, Flora kembali mengedarkan pandangannya. Ia merasa sangat kagum dengan keindahan interior rumah itu. Ia memutuskan untuk beranjak dari duduknya dan berjalan di sekitar tempat itu. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah foto keluarga. Sepertinya itu Farhan dan istrinya saat masih muda. Terlihat pada foto itu Farhan sedang menggendong anak kecil, sepetinya itu Gio.
Flora mengambil salah satu foto yang ada di sana. Ia mengambil foto seorang bayi lalu Flora mengusap wajah bayi di dalam foto itu. Senyumnya mengembang saat melihat betapa imutnya wajah bayi itu.
Ini pasti Gio! Lucu sekali.
Flora terus memperhatikan wajah itu dengan senyum yang sama sekali tidak luntur dari bibirnya.
Ko gak mirip bapak Farhan ya? Mungkin mirip ibunya.
Flora meletakan foto itu ke tempat semua, lalu mengambil foto yang lainnya. Bingkai foto berisi seorang wanita cantik menjadi daya tarik bagi Flora.
Apa ini ibunya Gio? Cantik sekali.
"Itu foto almarhumah mamanya Gio."
Flora menolehkan pandangannya ke asal suara. Ternyata Farhan dan Gio sudah ada di ruang yang sama dengannya. Flora segera meletakan kembali bingkai foto itu dan melangkah menghampiri Farhan. Flora langsung menyalami tangan Farhan.
"Malam, Pak," sapa Flora.
"Malam juga, Flora," sapa balik Farhan. "Bagaimana kabar kamu?" tanya Farhan.
"Baik, Pak. Bapak sendiri?" tanya balik Flora.
"Saya juga baik. Apalagi setelah mendengar kabar baik tentang kalian, saya jauh lebih baik," ucap Farhan.
Flora tersipu setelah mendengar perkataan dari mantan atasannya.
"Flora, boleh saya tanya?" tanya Farhan.
"Bo-leh, Pak," sahut Flora tergagap.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu terjebak dengan anak nakal ini?" ledek Farhan.
Flora tertawa setelah mendengar perkataan Farhan, sedangkan Gio berdecak dan cemberut setelah mendapat ledekan dari papanya.
"Ayolah, papa ... mana ada perempuan yang tidak terpesona dengan seorang Giovanni." Gio membanggakan dirinya. Namun, cibiran yang ia dapat dari papa dan kekasihnya.
"Sudahlah obrolan kita lanjut nanti saja. Kita makan malam dulu," ucap Farhan yang langsung diangguki oleh Gio dan Flora.
Farhan, Flora, dan Gio berjalan bersama menuju ruang makan. Sesampainya di sana, ketiganya menarik kursi yang ada di meja makan sebagai tempat untuk mereka duduk.
Sebagai seorang perempuan sendiri yang ada di meja makan, Flora berinisiatif untuk mengambilkan makanan untuk kekasih dan calon mertuanya. Flora mengambilkan makanan untuk Farhan terlebih dahulu baru kemudian untuk kekasihnya.
"Ayo, Flora, kamu juga makan," suruh Farhan dibalas anggukan kepala oleh Flora.
Bahagia adalah keadaan yang sedang Flora rasakan. Di dalam hidupnya, Flora hanya pernah menjalin hubungan asmara dengan 2 orang saja yaitu dengan Daniel dan juga Gio.
Meski lama menjalin hubungan dengan Daniel, Flora sama sekali tidak pernah merasakan sebuah kehangatan dan keramahan dari keluarga Daniel. Dan kini meski baru menjalin hubungan bersama Gio, Flora mendapatkan kehangatan dari keluarga dari kekasihnya.
Makan malam sudah selesai, obrolan mereka kini berpindah ke ruang tengah. Flora dan Gio duduk di samping kanan dan kiri Farhan.
"Flora, saya senang akhirnya kamu bisa bersama anak saya," ucap Farhan.
Flora senang mendengar jika Farhan merestui hubungannya dengan Gio. Namun, masih ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya membuat Flora memberanikan diri untuk bertanya.
"Bapak tahu 'kan masa lalu saya dengan ibu saya dan juga mengenai hubungan saya dengan keponakan Bapak ... apa Bapak tidak keberatan dengan itu?" tanya Flora.
Farhan lebih dulu menunjukan senyumnya sebelum Farhan menarik tangan Flora dan juga Gio, lalu menyatukannya.
"Saya sangat merestui hubungan kalian," lanjut Farhan.
"Terimakasih, Bapak Farhan," ucap Flora.
"Terimakasih, Pah," ucap Gio.
"Sama-sama," balas Farhan.
"Oh ya Flora ... boleh saya bertanya?" tanya Farhan dengan wajah yang cukup serius membuat jantung Flora berdegup kencang.
"Apa, Pak?"
"Apa kamu tidak ingin berubah pikiran, saya tidak kalah ganteng dari anak saya ini loh," ucap Farhan dengan membusungkan dadanya untuk membanggakan dirinya.
"Gak usah macam-macam, Pah." Gio melirik tajam ke arah Farhan yang membuat Flora dan Farhan tertawa.
"Baiklah, saya mau ke kamar dulu. Silahkan kalian lanjutkan obrolan kalian," ujar Farhan.
Farhan beranjak dari sofa. Namun, Flora mencegahnya.
"Pak Farhan ...," panggil Flora.
"Ya, Flora," sahut Farhan.
"Ini sudah malam ... saya mau sekalian pamit," ujar Flora.
__ADS_1
"Pamit? Kok buru-buru?" ujar Farhan.
"Iya, Pak. Ini sudah malam," ujar Flora.
"Baiklah, tapi kapan-kapan mainlah lagi ke sini. Dan kalau bisa bawa ibu kamu. Saya ingin bertemu dengan ibu kamu," ucap Farhan seraya mengusap pundak Flora.
Flora mengangguk, "Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi."
Flora menyalami tangan Farhan dan mencium punggung tangannya.
"Kamu hati-hati di jalan," ucap Farhan.
"Iya, Pak. Selamat malam," ucap Flora.
"Selamat malam, Flora," balas Farhan.
"Pah, Gio antar Flora dulu," ucap Gio dibalas anggukan kepala oleh Farhan.
Gio merangkul pundak Flora lalu mengantarnya ke depan rumahnya. Keduanya berhenti melangkah ketika sampai di samping mobil Flora. Gio menjauhkan tangannya dari pundak Flora dan berganti dengan menggenggam tangan perempuan berstatus sebagai kekasihnya.
"Kamu yakin gak mau aku antar sampai rumah?" Tanya Gio.
Flora menggeleng, "Gak usah. Kamu keliatan capek banget."
"Ya sudah hati-hati di jalan. Kabari aku jika sudah sampai di rumah dan salam untuk ibu," ucap Gio.
"Siap, Bos." Flora memberikan hormat pada Gio dengan meletakan tangannya pada sisi kepalanya.
"Dasar kamu ...." Gio menarik hidung Flora karena merasa gemas dengan tingkah kekasihnya.
"Gio ...," panggil Flora.
"Hmmm," human Gio.
"Terimakasih."
"Untuk?"
"Untuk semuanya."
Gio hanya memberikan senyumnya lalu menarik tengkuk Flora dan mendaratkan kecupan pada kening kekasihnya.
Flora sendiri hanya mampu memejamkan matanya, seolah merasakan kehangatan yang mengalir ke seluruh tubuhnya karena kecupan yang Gio berikan.
Gio menarik diri dan memberikan usapan pada sisi wajah Flora. Namun, mendadak Gio menepuk pipi Flora dan mengusirnya pulang.
"Sudah sana pulang!" usir Gio.
Flora mengerucutkan bibirnya mendapat pengusiran dari Gio.
"Tadi sikapnya manis, sekarang berubah jutek," gerutu Flora.
Akan tetapi hal itulah yang selalu Flora rindukan dari seorang Gio. Gio mampu memberikan warna dalam kehidupannya.
__ADS_1