
Kehadiran Felicia menambah kebahagiaan pada diri Flora dan juga Gio. Felicia juga menjadi pelengkap di dalam rumah tangga mereka.
Bukan hanya itu saja, kehadiran Felicia juga membawa banyak perubahan pada diri Gio. Hal itu sangat terlihat jelas di mata Flora. Gio kini bukan hanya menjadi suami siaga, tetapi juga menjadi ayah yang siaga.
Setiap malam Gio selalu siaga jika Felicia menangis. Gio bahkan rela menahan ngantuk demi menemani Felicia yang terbangun pada malam hari. Flora kadang merasa tidak dibutuhkan oleh Felicia saat ada Gio, papanya.
*****
Pagi itu tidur Gio terusik saat suara Flora masuk ke dalam indra pendengarannya.
“Pagi, Papa Gio.” Flora menyapa Gio dengan menirukan suara anak kecil.
Gio yang baru saja bangun langsung menunjukan senyumnya, apalagi saat melihat Felicia.
“Pagi, princes-nya papa.” Gio langsung mengambil alih Felicia yang ada du dalam gendongan Flora.
Gio mendaratkan kecupan berulang-ulang di pipi Felicia yang kini sudah berusia satu bulan. “Ini pipi bikin papa gemes.”
“Sudah ada yang baru, yang lama dilupain nih.” Flora mengerucutkan bibirnya merasa diduakan oleh Gio.
“Cie ... mamah kamu cemburu tuh sama kamu.” Gio berucap pada Felicia seolah bayi satu bulan itu mengerti ucapannya.
“Kamu sekarang kayaknya lebih sayang sama Felicia, aku berasa diduakan sama kamu,” keluh Flora.
“Aku 'kan lagi puasa. Kalau deket-deket sama kamu terus takut aku khilaf,” gurau Gio.
Mendengar perkataan yang baru saja suaminya lontarkan membuat Flora tidak bisa lagi menahan tawanya.
“Duh, kasian,” ledek Flora.
“Seneng ya liat suami kamu tersiksa,” ucap Gio.
Flora mendaratkan kecupan di pipi suaminya, sebagai ucapan selamat pagi.
“Sudah, cepat mandi. Aku akan siapkan pakaianmu dulu,” suruh Flora.
“Baiklah, Ratuku,” ucap Gio.
“Sayang ya papa bobo di sini dulu. Papa mau mandi, nanti setelah itu kita main lagi,” ucap Gio.
Gio menaruh Felicia ke atas tempat tidur. Sebelum turun dari atas tempat tidur Gio lebih dulu mencuri satu kecupan di bibir Flora.
“I love you, Honey.”
Tindakan yang baru saja Gio lakukan membuat Flora menyunggingkan senyumnya. Suaminya memang selalu saja penuh kejutan.
“Kamu itu memang manis banget,” ucap Flora.
“Baru tahu kalau aku manis. Bukannya kamu dulu sering mencobanya,” ucap Gio yang bermaksud menggoda Flora.
“Sudah sana mandi. Jangan mesum mulu pikirannya.” Rona merah muncul di kedua sisi wajah Flora.
Gio menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. “Kapan bisa mandi bareng sama kamu.”
__ADS_1
Flora menahan tawanya seraya menangkup kedua sisi wajah Gio. “Sabar ya, Suamiku. Sebentar lagi.”
Gio mengerucutkan bibirnya, perkataan istrinya terkesan sedang meledeknya.
Gio masuk ke dalam kamar mandi dengan rasa kecewa, sudah satu bulan dirinya merasa dikecewakan oleh takdir.
Flora masih menatap tubuh suaminya dengan menahan tawanya. Pandangan Flora beralih pada Felicia saat suaminya sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.
“Feli yang anteng ya, mamah mau siapin baju untuk papa dulu,” ucap Flora.
Flora melangkah menuju lemari pakaian. Satu setelan jas milik suaminya Flora keluarkan dari dalam lemari.
Selesai menyiapkan seluruh keperluan suaminya Flora beralih kembali pada Felicia. Flora melangkah ke dekat Felicia yang sudah merengek dari tadi.
“Anak mama haus ya?”
Tidak menunggu waktu lagi Flora mengangkat tubuh Felicia, memindahkan bayi kecil itu ke atas pangkuannya. Flora pun mulai memberikan asi kepada Felicia.
Dalam satu bulan itu Flora sudah mulai lincah mengurus Felicia dengan tangannya sendiri. Flora bahkan tidak ingin Felicia dijaga oleh baby sister. Flora ingin melihat perkembangan buah hatinya sendiri.
Felicia sudah tertidur setelah Flora memberinya asi. Bertepatan dengan keluarnya Gio dari kamar mandi.
“Kamu sudah selesai?” tanya Flora.
“Yah, Felicia sudah tidur lagi. Padahal aku masih pengin main sama dia,” ucap Gio disambut kekehan oleh Flora.
“Aku taruh Felicia ke box bayinya dulu ya,” ucap Flora.
Flora bangun dari tempat tidur dengan membawa Felicia di gendongannya. Flora berjalan ke arah kamar Felicia yang ada tepat di sebelah kamarnya.
“Sini aku bantu.” Flora mengaitkan kancing kemeja yang dipakai oleh suaminya.
“Jangan jauh-jauh.” Gio menarik pinggang istrinya untuk mengikis jarak di antara mereka.
“Nanti aku bawa Felicia ke rumah tante Ana ya,” izin Flora. “Mulai hari ini persiapan pesta pernikahan Daniel dan Maura mulai dilakukan.”
“Akhirnya si kulkas itu menikah juga,” ucap Gio.
“Kamu ini selalu saja suka mengejek adik kamu,” ucap Flora.
Gio selalu terkekeh jika istrinya sudah mulai mengomel.
“Aku kadang masih tidak percaya jika aku seberuntung ini,” tutur Gio.
“Kenapa?” Flora bertanya pada suaminya.
“Aku dan Daniel pernah bertaruh untuk mendapatkan dirimu. Pada akhirnya aku yang menjadi pemenangnya karena sebuah takdir,” ucap Gio.
Flora mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya, setelah selesai mengaitkan kancing kemeja yang dipakai oleh Gio.
“Aku juga hampir gila waktu itu, saat aku mengira jika kamu adalah kakakku. Aku tidak bisa membayangkan jika semua itu benar terjadi.” Mata Flora sudah memerah karena menahan air mata.
“Kalau sampai itu terjadi maka Felicia tidak akan lahir,” ucap Gio yang bermaksud mencairkan suasana.
__ADS_1
“Ya, itu benar. Aku tidak akan mendapatkan bayi secantik itu,” imbuh Flora.
“Ayo, ini sudah siang. Kamu harus pergi ke kantor,” ucap Flora. “Aku akan buatkan kopi untukmu.”
Flora menjauhkan tangannya dari leher Gio. Flora ingin pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk suaminya. Namum, Gio ternyata menahannya.
Gio makin mempererat pelukannya hingga tidak ada batas lagi di antara mereka.
“Buru-buru amat,” ucap Gio.
“Sayang, lepaskan aku. Ini sudah siang. Bagaimana jika kamu nanti terlambat ke kantor.” Flora mencoba melepaskan diri dari suaminya.
“Terlambat sedikit itu tidak masalah, Sayangku,” ucap Gio.
“Aku masih ingin bersamamu,” goda Gio.
“Nanti malam 'kan kita bertemu lagi,” ucap Flora.
“Baiklah, aku akan melepaskanmu. Tapi ....”
“Tapi apa?” tanya Flora.
“Berikan aku ciuman,” pinta Gio.
“Baiklah.” Flora mendaratkan kecupan sekilas di bibir Gio. “Sudah.”
“Apa itu? Pelit sekali,” protes Gio. “Aku tidak akan bersemangat jika hanya itu yang kamu berikan untukku.”
“Memangnya aku harus bagaimana?” tanya Flora.
“Sini aku tunjukkan.”
Gio mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Flora. Gio mengecup bibir Flora dengan begitu lembut. Gio memperlakukan Flora layaknya bibir istrinya itu adalah barang yang mudah rapuh.
Sepertinya Flora sudah mulai terbawa suasana, ia terbuai oleh sentuhan suaminya. Perlahan Flora mulai membalas kecupan suaminya.
Keduanya sudah benar-benar hanyut dalam ciuman itu. Hingga ciuman lembut itu berubah menjadi jauh lebih menuntut.
Pada akhirnya Gio menarik diri lebih dahulu. Gio pun menjatuhkan kepalanya di pundak istrinya.
“Kamu benar-benar menyiksaku,” rengek Gio.
Flora terkekeh mendengar itu. “Kamu sendiri yang memulainya.”
“Kamu sungguh tega, Sayangku,” ucap Gio.
“Tinggal satu minggu lagi. Kamu pasti kuat,” balas Flora.
“Bagiku satu minggu itu seperti tujuh tahun,” ucap Gio lagi.
“Aku akan memberikan service lebih nanti,” ucap Flora.
Mendengar tawaran istrinya Gio seakan memiliki tenaga ekstra. Gio menjauhkan wajahnya dari pundak istrinya agar bisa menatap wajah istrinya dengan jelas. “Seriusan?”
__ADS_1
“Kamu itu kalau masalah begini saja langsung semangat.”
“Itu sudah pasti.”