
Terima kasih
Dua kata itu Daniel berikan untuk Maura ketika mereka selesai bercinta. Ternyata ketidaksadaran mereka sebelumnya membuat mereka hanyut dalam permainan panas itu.
Daniel yang sebelumnya selalu bisa mengendalikan dirinya menyerah di hadapan Maura. Maura pun sama, rasa cinta pada Daniel mengalahkan dirinya. Ia membiarkan tubuhnya mengkhianatinya.
Sebelumnya Daniel dan Maura sudah melakukan hubungan itu dua kali. Siang itu Daniel sengaja mengosongkan waktunya untuk menghabiskan waktu bersama Maura sebelum esok hari Maura kembali ke America.
Daniel datang ke apartemen Maura dan kembali menghabiskan waktu mereka untuk bercinta di atas ranjang.
Napas Maura masih tidak beraturan setelah Daniel menghabiskan tenaganya. Dengan memejamkan matanya Maura meraup udara sebanyak mungkin untuk mengisi pasokan oksigen di dalam paru-parunya.
Daniel berguling ke samping Maura. Selimut Daniel tarik untuk menutupi tubuh polosnya dan juga Maura.
Daniel melingkarkan tangannya di sepanjang pundak Maura dan membawanya ke dalam dekapannya. Kecupan kembali Daniel berikan di kening Maura.
"Kamu lelah?" tanya Daniel.
Maura menganggukkan kepalanya.
"Jadi besok kamu kembali ke Amerika?" tanya Daniel.
"Iya," jawab Maura. "Penerbanganku jam 12 malam nanti."
"Kenapa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita bertemu dan harus berpisah lagi," keluh Daniel.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu nanti," ucap Maura.
"Aku juga akan sangat merindukanmu. Dan akan sangat merindukan kebersamaan kita ini." Daniel berbisik di telinga Maura membuat rona merah tercipta di pipinya.
"Kamu menjebakku, Daniel," ucap Maura. "Kamu membuatku tidak bisa menolak ini."
"Kamu yang membuat aku tidak bisa mengendalikan diriku," ucap Daniel.
Keduanya sama-sama tertawa kecil. Mereka masih merasa tidak habis pikir pada diri mereka sendiri. Hal yang tidak pernah mereka bayangan sudah mereka lakukan sebelum janji suci mereka ucapkan.
"Cepatlah kembali," ucap Daniel.
"Tunggu aku," pinta Maura.
"Tentu saja," sahut Daniel.
Mereka sudah tidak sabar untuk mengikat hubungan keduanya dengan ikatan yang sakral. Namun, pekerjaan Maura menghambat mereka.
Bisa saja Maura mundur dari pekerjaannya detik itu juga, tetapi itu tidak bisa. Bukan tidak mampu untuk membayar denda jika Maura mengundurkan diri, tetapi keprofesionalannya akan menjadi taruhannya.
"Aku janji Daniel, setelah kita menikah aku akan mengundurkan diri dari pekerjaanku. Aku hanya akan fokus pada kamu dan anak-anak kita nanti," ucap Maura.
"Terima kasih." Daniel mengecup kening Maura dalam jeda waktu yang cukup lama.
"Aku mencintaimu Maura," ucap Daniel.
"Aku juga sangat mencintaimu Daniel," balas Maura.
*****
__ADS_1
Malam hari pun tiba Daniel serta keluarganya sedang dalam perjalanan menuju ke Bandara. Rencananya mereka akan mengantar keberangkatan Maura untuk kembali ke Amerika.
"Mamah senang kalian sudah memutuskan untuk menikah. Mama rasanya sudah tidak sabar untuk menunggu empat bulan lagi," seru Mariana.
"Daniel, nanti kamu jangan kalah ya sama Gio dan juga Flora. Setelah kamu dan Maura menikah harus cepet punya anak. Kalau perlu kalian bikin siang sampai malam ya," ucap Mariana.
Daniel dan Ardi hanya mampu menggelengkan kepala mereka.
"Mah, kaya gitu mana bisa diprediksi," ucap Daniel.
"Mau kami bikin dari siang sampai malam, kalau memang kami belum dikasih kepercayaan sama Tuhan juga gak bakalan jadi," jawab Daniel.
"Iya juga sih," ucap Mariana.
"Makanya mama jangan terlalu memaksa Daniel sama Maura. Biarkan mereka menjalani kehidupan mereka sendiri," ucap Ardi.
"Lagian Felicia juga cucu mama, 'kan?" ucap Ardi.
"Iya sih, Pah. Tapi mama juga pengin gendong anaknya Daniel, Pah," ucap Mariana.
"Serahkan sama Tuhan saja, Mah," ucap Daniel.
Percakapan mereka harus terhenti saat mereka tiba di bandara. Setelah memarkirkan mobil, ketiganya segera turun dan berjalan masuk ke pintu masuk Bandara.
Daniel menghampiri Maura saat ia melihat kekasihnya.
"Hai," sapa Daniel.
"Hai," balas Maura.
"Sudah check in?" tanya Daniel.
"Belum. Aku menunggumu," jawab Maura.
Daniel tersenyum tipis untuk menganggapi jawaban dari Maura.
Daniel dan Maura meminta izin pada orang tua mereka untuk mengobrol.
"Jaga dirimu baik-baik di sana," ucap Daniel.
"Iya." Maura menganggukkan kepalanya.
"Jika ada sesuatu kamu langsung hubungi aku," ucap Daniel.
"Maksudmu sesuatu itu ... jika aku hamil?" tanya Muara yang langsung dianggukki oleh Daniel.
"Ini terdengar lucu, Sayang. Kita belum resmi menikah dan kamu sudah sangat berharap aku hamil." Maura berucap diikuti tawa kecilnya.
Daniel menarik tengkuk Maura lalu mendaratkan kecupan di kening Maura. "Cepat kembali."
Maura memejamkan matanya saat Daniel mengecup keningnya. Dari kecupan itu seolah ada ketenangan yang mengalir di sekujur tubuhnya.
Daniel menarik dirinya lalu membawa Maura ke dalam dekapannya.
"Daniel, Maura ... kalian sudah selesai mengobrol."
__ADS_1
Suara Diki memaksa Daniel dan Maura saling menarik diri. Keduanya melihat orang tua mereka berjalan ke arahnya.
"Ayo Maura, cepat pergi dan selesaikan kontak kerjamu. Kami sudah tidak sabar untuk memiliki cucu," ucap Diki.
"Apaan sih, Pah." Maura tersipu malu dan menjadi salah tingkah.
"Ayo aku antar kamu untuk check in," ajak Daniel.
Maura mengangguk untuk menerima ajakkan Daniel. Sebelum itu Maura berpamitan dengan kedua orang tuanya juga kedua calon mertuanya.
"Aku berangkat dulu," pamit Maura.
"Iya, Sayang. Kamu jaga dirimu baik-baik di sana. Kasih kabar ke kami selalu," ucap Talita.
"Iya, Mah," sahut Maura.
Daniel membantu Maura membawa barang-barangnya. Keduanya melangkah menuju tempat untuk melakukan check-in.
"Aku berangkat," ucap Maura. "Jaga hatimu untuk aku."
"Tentu saja, kabari aku jika sudah sampai di sana," ucap Daniel yang langsung diangguki oleh Maura.
Genggaman tangan Maura dan Daniel yang awalnya erat mulai mengendur sebelum akhirnya lepas.
Maura melambaikan tangannya pada semua orang saat masuk ke dalam bandara. Semua orangpun membalas lambaian tangan Maura.
*****
Dua bulan sudah berlalu sejak kepergian Maura. Ada kabar baik, dari Maura. Pekerjaan yang awalnya berakhir empat bulan lagi akan selesai satu bulan lebih cepat.
Dua keluarga itu pun langsung bergerak cepat untuk mempersiapkan pesta pernikahan Maura dan juga Daniel.
Bahagia? Itu jelas.
Daniel tidak mengira dirinya akhirnya menyerah pada Maura. Awalnya Daniel hanya ingin meluapkan Flora melalui Maura.
Sampai pada akhirnya dirinya harus benar-benar melupakan Flora karena status Flora dan dirinya adalah yang kakak beradik.
Daniel tengah berdiri di dekat jendela kamarnya. Ia sedang menatap foto Maura bersama dirinya.
Penantiannya selama lebih dari satu tahun akan segera berakhir. Ia usap wajah cantik Maura yang tergambar jelas di layar ponselnya. Senyumnya mengembang saat melihat senyum Maura.
Mendadak Daniel berdecak saat ada notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya yang jelas mengganggunya. Akan tetapi rasa kesal itu sirna saat ia tahu Maura lah yang mengiringinya pesan.
Daniel tidak sabar untuk melihat pesan yang masuk ke aplikasinya.
"Maura mengirim foto?" Daniel mengklik foto yang Maura kirim untuk membukanya.
Setelah menunggu sesaat gambar yang Maura kirim terbuka. Terlihat jelas di layar ponselnya gambar yang Maura kirim, sebuah alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah.
Aku hamil.
Jantung Daniel bergetar, ada getaran dalam dirinya yang Daniel sendiri tidak tahu perasaan apa itu saat membaca pesan dari Maura.
"Aku akan menjadi seorang ayah," guman Daniel.
__ADS_1
Sudah selesai part Daniel dan Maura.