
Felicia begitu lemah saat melihat mata Kenzo, senyumnya, dan juga saat merasakan sentuhannya. Tidak biasanya dirinya seperti itu, tetapi beberapa hari ini Felicia benar-benar terbuai. Saat Kenzo jauh Felicia sangat merindukannya, ia merasa tidak puas hanya dengan menyentuh fotonya.
Felicia merasa bingung pada dirinya sendiri. Perasaan yang Felicia rasakan itu karena dirinya sudah merasa jatuh cinta pada suaminya atau karena bawaan bayi. Entahlah?
"Ada apa kenapa kamu melihatku seperti itu?" Kenzo bertanya pada Felicia saat melihat istrinya terus menatapnya dalam diam.
"Tidak, aku hanya senang melihat wajahmu saja." Felicia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari Kenzo.
"Jangan terus menatapku seperti itu atau kita akan berakhir dengan —" Belum sempat Kenzo menyelesaikan ucapannya, Felicia lebih dulu menyelanya.
"Berakhir dengan apa?" tanya Felicia.
Pandangan mata Felicia masih bertemu pada satu garis lurus dengan Kenzo. Tidak ada satupun yang ingin mengakhiri pertemuan pandangan itu.
"Kamu belum menjawab pertanyaan dariku, Kenzo," ucap Felicia.
Kenzo menggerakkan tangannya menyusuri sisi wajah Felicia. Ibu jarinya bergerak untuk mengusap sisi wajah Felicia yang terlihat begitu cantik di matanya. Kenzo memajukan wajahnya, mengarahkannya ke sisi wajah istrinya.
"Jika kamu terus menatapku dengan senyummu itu ... aku tidak yakin akan bisa menahan diriku untuk tidak menyentuhmu, Feli. Kamu ingatkan sebelumnya, 'kan? Kamu membuatku kehilangan kendaliku saat melihatmu kamu memakai pakaian tidur yang tipis itu dan saat kamu memakai pakaian renang," ucap Kenzo.
Felicia mengulas senyum di bibirnya. Ia masih sangat mengingat kejadian itu. Bagaimana perasaan Felicia saat itu hanya dirinya sendiri yang tahu.
"Jangan ingatkan aku pada kejadian itu? Aku malu," cicit Felicia.
"Aku senang melihat wajahmu yang merona. Itu terlihat sangat manis. Aku lebih suka melihat wajah imut ini dari pada wajah galakmu," ledek Kenzo.
Wajah kedua masih berada dalam yang begitu dekat. Bibir keduanya hanya tinggal beberapa centimeter saja untuk berciuman.
"Kenzo ...," panggil Felicia.
"Ada apa?" Kenzo berucap dengan begitu lembutnya hingga membuat tubuhnya merinding.
"Ayo kita makan siang. Aku sangat lapar," ajak Felicia.
"Ck, kamu hobi sekali merusak suasana," decak Kenzo.
Felicia memberikan pelukan kepada Kenzo lalu tertawa di sana. "Suamiku kamu terlihat sangat manis saat kamu kesal."
"Sudah lepaskan. Ayo kita makan, aku tidak mau anakku kelaparan," ucap Kenzo.
"Iya, Suamiku." Felicia menarik diri dari pelukan itu.
Felicia lebih dulu berdiri. Niatnya untuk mengambil tas di meja kerjanya tertahan oleh Kenzo. Tanpa Felicia duga Kenzo mendaratkan kecupan di perutnya. Apa yang dilakukan oleh Kenzo membuat getaran aneh dalam diri Felicia.
__ADS_1
"Anak Papa sudah lapar ya?" Kenzo berucap seolah bayi dalam kandung istrinya bisa merespon perkataanya.
"Dengar ya, makanan apapun yang kamu ingin kamu makan akan Papa berikan," imbuh Kenzo.
"Sebenarnya perkataanmu ditunjukan untuk aku atau anak kita?" tanya Felicia.
"Tentu saja anak kita." Kenzo menjawabnya dengan cepat.
Akan tetapi Felicia bisa menebak jika ucapan Kenzo sebelumnya ditujukan untuk dirinya.
Felicia tidak bisa lagi menahan tawanya, ia tertawa bahkan sampai mengeluarkan air mata di sudut matanya. Gengsi dalam diri suaminya kenapa begitu tinggi, hingga suaminya tidak bisa bicara dengan jujur.
"Jangan tertawa terus, ayo kita pergi. Aku tidak mau jika anak aku sampai kelaparan," ucap Kenzo disambut anggukkan kepala oleh Felicia.
"Baiklah ayo kita pergi. Aku juga sudah sangat lapar." Felicia berucap seraya menahan tawanya.
Keduanya keluar dari ruangan kerja Felicia. Mereka melangkah bersama menuju lobby. Sepanjang perjalanan ke lobby tangan Felicia tidak jauh dari lengan tangan Kenzo.
Langkah mereka terhenti ketika sampai di samping mobil milik Felicia yang terparkir di depan gedung kantor itu.
"Kamu masuklah dulu. Aku akan bicara dulu dengan Alan," ucap Kenzo.
"Baiklah." Felicia mengangguk.
Tidak lama menunggu suaminya menyusulnya masuk ke dalam mobil. Suaminya duduk di bangku kemudi tepat di sampingnya.
"Kamu mau makan apa?" Kenzo bertanya seraya menyalakan mesin mobilnya.
"Aku ingin makan makanan Jepang dan es cream," jawab Felicia.
"Baiklah, sesuai keinginanmu," ujar Kenzo.
Mobil berwarna silver milik Felicia melaju meninggalkan gedung perkantoran milik F.G Group. Mobil itu melaju dan bergabung bersama kendaraan lainnya di jalanan kota. Memasuki jam makan jalanan kota mulai dipadati oleh kendaraan dan menimbulkan kemacetan.
Untuk menghindari kemacetan Kenzo memilih mencoba melewati jalan tikus. Usahanya tidak sia-sia, mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan elite dengan cepat. Setelah berputar-putar, akhirnya mereka menemukan tempat untuk memarkiran mobilnya.
"Di sini ada restoran yang menjual makanan Jepang, dan rasanya juga sangat enak." Kenzo melepas seatbelt yang melingkar di tubuhnya baru setelah itu Kenzo membantu melepaskan seatbelt yang melingkar di tubuh istrinya.
"Ayo kita turun. Aku sudah sangat kelaparan," seru Felicia.
Kenzo dan Felicia turun dari mobil secara bersamaan, tetapi melalui pintu yang berbeda. Felicia berlari kecil untuk menghampiri Kenzo. Tangannya langsung ia lingkaran kembali ke lengan Kenzo.
"Bisa tidak untuk tidak berlari. Ingat kamu sedang hamil! Bagaimana jika sesuatu terjadi pada anakku," omel Kenzo.
__ADS_1
"Jangan berlebihan. Aku tidak akan kenapa-napa hanya dengan berlari kecil," bela Felicia.
Kenzo memutar bola matanya, kenapa istrinya menjadi sangat keras kepala.
"Terserah kamu. Tapi awas saja jika anakku sampai kenapa-kenapa," ujar Kenzo.
"Ck, Suamiku. Ini anak aku juga. Tidak mungkin aku membuatnya celaka," ujar Felicia.
"Sudahlah, hentikan berdebatan ini. Ayo kita masuk ...." Ucapan Felicia terhenti saat matanya melihat dua orang yang sangat dirinya kenali.
Kenzo merasa heran saat langkah istrinya terhenti tiba-tiba. Kerutan muncul di antara alisnya saat melihat istrinya sepertinya sedang melihat sesuatu.
"Kamu lagi lihat apa sih?" Kenzo mengalihkan pandangannya ke arah yang sama dengan istrinya.
Kenzo tersenyum sinis saat melihat Wibowo dan Vera ada di hadapan mereka. Dua pasangan suami-istri itu saling memandang. Mereka berempat berdiri dengan saling berhadapan dan dalam kebisuan.
"Ayo, Sayang kita pergi." Wibowo memilih untuk meninggalkan tempat itu lebih dulu dengan menarik tangan istrinya. Namun, langkahnya terhenti saat Kenzo memanggilnya, mencegahnya untuk pergi dari tempat itu.
"Tuan Wibowo," panggil Kenzo. "Sepertinya kita harus bicara."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan," tolak Wibowo.
"Ada. Sepertinya ada yang harus kita luruskan di sini, Tuan Wibowo." Kenzo berdiri dengan satu tangan ia masukan ke dalam saku celananya. Ia menunjukkan kewibawaannya pada Wibowo dan juga Vera.
"Jika Anda memiliki masalah dengan saya, temui saya secara langsung, jangan ganggu istri saya. Dia sedang hamil dan saya tidak ingin dia terlalu banyak pikiran," ujar Kenzo.
"Istri saya juga sedang hamil. Apa Anda tidak berpikir sebelum menamparnya," balas Wibowo.
"Saya meminta maaf untuk hal itu. Saya kehilangan kendali diri saya setelah mengetahui perempuan itu yang sudah mencelakai istri saya," jelas Kenzo.
"Dan untuk masalah anak yang sedang perempuan itu kandung saya benar-benar tidak ada hubungannya," jelas Kenzo.
Bibir Kenzo menunjukan senyum miringnya. Pandangannya ia arahkan kepada mantan kekasihnya yang sedari tadi tidak berani memandang dirinya.
"Vera, saya benar-benar tidak menyangka jika kamu serendah itu. Tidakkah kamu berpikir dengan mengatakan mengatakan anak yang ada di dalam kandungmu itu bukan anak dari suamimu sendiri itu sudah merendahkan kamu dan juga suamimu," ujar Kenzo.
Kenzo masih menanti respon dari Vera dan juga suaminya, tetapi keduanya masih membisu. Kenzo bisa menebak jika mereka tidak punya kata-kata yang bisa mereka katakan.
"Terserah jika Anda masih tidak mempercayai perkataan saya, Tuan Wibowo. Tapi satu hal yang harus Anda tahu ... saya tidak suka barang bekas." Mata Kenzo melirik ke arah Vera dengan senyuman yang seolah sedang mengejek Vera.
Mulut Felicia menganga, perkataan suaminya apa tidak keterlaluan.
"Ayo, Sayang kita pergi. Jangan membuang waktu kita di sini," ajak Kenzo yang langsung diangguki oleh Felicia.
__ADS_1