Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Kepergian Gio


__ADS_3

Happy reading


Flora duduk termenung di kursi panjang dekat jendela apartemen Gio. Pandangannya nampak kosong, tetapi air matanya menetes. Berulang kali Flora menarik napas untuk menetralkan rasa sesak di dalam dadanya.


Jika saja ia lebih dulu mengetahui jika Farhan adalah ayah kandungnya, maka dirinya tidak akan mencintai seorang Gio. Dan setelah semua itu, rasa cinta yang Flora miliki dan impian-impiannya hidup bersama Gio sebagai suami istri juga harus Flora kubur.


"Kamu sudah bertemu dengan ayah kandung kamu kenapa masih sedih?"


Flora mendongak dan melihat Gio ada di sampingnya. Flora sedikit bergeser untuk memberikan tempat duduk untuk Gio.


"Tapi kenapa aku harus membayar mahal untuk ini?" ucap Flora tanpa mengalihkan pandangannya dari Gio.


Gio mengadap Flora, diusapnya cairan bening yang menetes dari mata Flora.


"Kadang kita harus membayar mahal jika ingin mendapatkan sesuatu, yang berharga, Flora."


Wajah Flora tertunduk sebelum ia mengangguk.


Gio menunjukan senyumnya, lalu mengusap kepala Flora. "Flora ... aku akan jadi kakak yang baik untukmu. Aku akan carikan laki-laki yang baik untukmu nanti ... untuk menjadi suamimu."


Gio mencoba untuk mencairkan suasana dan Flora tahu itu.


"Tapi jangan laki-laki playboy seperti dirimu," imbuh Flora.


Kedua mencoba tertawa meski hati mereka sebenarnya sakit luar biasa.


Gio mendaratkan kecupan pada kening Flora sebelum memeluknya. Tidak sengaja Flora melihat koper besar milik Gio. Flora langsung menarik tubuhnya menjauh dari Gio.


"Koper ini ...." Flora menoleh ke arah Gio. " Jangan bilang kamu mau pergi?"


Gio mengangguk dengan wajah yang tertunduk.


"Tapi kenapa, Gio?"


"Jujur aku butuh waktu untuk menerima ini, Flora," jawab Gio dengan suara lirih, tetapi Flora masih bisa mendengarnya.


Gio beranjak dari kursi untuk menghampiri Flora.


"Jangan bersedih, Flora." Gio mengusap air mata Flora yang kembali mengalir.


"Selamat ya kamu sudah menemukan ayah kandung kamu. Aku minta tolong jaga papa," pesan Gio.


Gio mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan air matanya. Namun, Flora mengetahui itu.


Flora menggerakkan tangannya untuk mengusap air mata pada pipi Gio.


"Gio ...."

__ADS_1


Tidak kuat menahan perasaannya, Flora langsung memeluk Gio. Menangis di pelukan laki-laki yang amat ia cintai.


"Jangan pergi!" punya Flora.


Jika biasanya Gio akan menuruti apapun keinginan Flora. Namun, kali ini Gio tidak sanggup untuk tidak pergi. Dirinya butuh waktu untuk sendiri.


"Maaf, Flora ... aku tidak bisa."


Setelah mengatakan kalimat itu, Gio menarik diri dari Flora. Tangannya menggenggam gagang koper dengan erat.


"Selamat tinggal, Flora. Jaga dirimu baik-baik."


Gio berjalan melewati Flora dengan menyeret kopernya. Meski Flora terus saja memanggilnya, Gio tetap tidak berbalik dan terus melangkah untuk pergi.


Flora menjatuhkan dirinya ke lantai setelah bayangan Gio lenyap dari pandangannya.


Tidak bisakah kali ini aku bersikap egois.


-


-


-


Flora sedang dalam perjalanan pulang. Setelah seharian berada di apartemen Gio, ibunya berulangkali mengubungi dirinya memintanya agar segera pulang. Flora akan berusaha untuk menerima apa yang terjadi. Mungkin dirinya dan Gio memang ditakdirkan sebagai kakak-beradik, bukan untuk menjadi pasangan hidup.


"Ini, Pak ongkosnya." Flora memberikan uang sesuai nominal yang diberitahukan oleh supir taksi. "Kembaliannya buat bapak saja."


"Terimakasih, Mbak."


Flora membalas ucapan supir taksi dengan senyuman ramahnya. Setelah membayar ongkosnya, Flora turun dari taksi itu.


Flora melangkahkan kakinya ke arah rumah dan di depan rumahnya sudah ada Seruni yang menunggunya.


"Flora, kamu tidak apa-apa, 'kan?" Seruni merasa cemas melihat keadaan anaknya.


"Gak apa-apa kok, Bu," jawab Flora.


"Kok kamu pulang sendiri? Katanya lagi sama Gio?" tanya Seruni.


Mendengar pertanyaan dari ibunya mendadak Flora kembali ingin menangis.


"Gio pergi, Bu," jawab Flora dengan wajah yang tertunduk.


"Pergi! Pergi ke mana?" tanya Seruni lagi.


"Flora juga gak tahu, Bu. Gio bilang dia butuh waktu untuk sendiri," jawab Flora seraya menahan air matanya agar tidak tumpah.

__ADS_1


Seruni sedikit terkejut mendengar jawaban dari Flora. Namun, Seruni mencoba menyembunyikannya.


"Kami yang sabar ya, Nak. Semuanya pasti akan baik-baik saja," ucap Seruni seraya mengusap lengan Flora.


"Ya sudah kamu masuk lalu makan. Ibu sudah siapin makan malam buat kamu," ucap Seruni.


Flora menggeleng, "Flora gak laper. Aku mau istirahat saja."


"Ya sudah."


Seruni melingkarkan tangannya ke tubuh Flora, mengantarkan anaknya ke kamarnya sendiri.


"Kamu istirahat saja. Kalau butuh sesuatu panggil ibu," ucap Seruni seraya menyelimuti tubuh Flora dengan selimut.


Flora hanya menganggukkan kepalanya untuk merespon perkataan ibunya.


Seruni tidak tega melihat keadaan anaknya. Ingin sekali ia memberitahukan hal yang sebenarnya pada anaknya. Akan tetapi ia dan Farhan sudah sepakat untuk memberi mereka sebuah kejutan jika waktunya sudah tiba.


*****


Satu minggu setelah kepergian Gio, keadaan Flora sudah lebih baik. Selama itu pula Gio sama sekali tidak memberinya kabar, begitupun juga Flora. Flora ingin sekali mengubungi Gio. Namun, ia juga memikirkan perasaan Gio. Flora tahu ini juga berat bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk Gio.


Flora mengela napas panjang untuk menetralkan perasaannya. Setelah merasa lebih baik, Flora kembali bersiap. Flora duduk di depan cermin untuk berdandan, ia akan pergi untuk menghadiri acara pertunangan Daniel dan Maura. Flora ikut bahagia mendengar kabar itu.


Jika dirinya sampai di rumah Daniel nantinya, Flora ingin berterimakasih pada Mariana karena telah menghalangi hubungannya dengan Daniel. Tenyata selama 5 tahun ia berhubungan dengan adik sepupunya sendiri.


Selesai bersiap Flora keluar dari kamarnya dan menghampiri ibunya yang tengah memasak.


"Ibu beneran gak mau ikut?" tanya Flora.


"Gak, Nak. Kamu saja," jawab Seruni.


Flora tahu kenapa tidak ingin ikut bersamanya. Ibunya takut jika ikut datang ke sana pasti akan membuat Mariana marah dan bisa-bisa terjadi masalah di sana.


"Baiklah, Bu. Flora jalan dulu," pamit Flora.


Sebelum keluar dari rumahnya Flora lebih dulu menyalami tangan ibunya. Sampai di luar rumah, Flora segera masuk ke dalam mobil dan melaju ke rumah mantan kekasihnya yang ternyata adalah adik sepupunya.


Harusnya Flora berangkat lebih awal agar tidak terjebak oleh kemacetan. Karena masih memikirkan hubungannya dengan Gio membuat Flora tidak bersemangat untuk pergi.


"Kenapa lama sekali." Berulangkali Flora melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Flora berangkat dari rumah pukul setengah tujuh dan kini waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8. Berarti dirinya sudah terjebak dalam kemacetan selama satu jam.


"Akhirnya jalan juga." Flora menghembuskan nafas lega setelah mobilnya kembali melaju.


Setelah jalannya sudah longgar, Flora kembali melajukan mobilnya dengan sedikit kencang. Tepat pukul 8 malam, Flora sampai di rumah Daniel.

__ADS_1


Maaf gaes baru sempat up, di samping lagi minim ide, juga lagu banyak kegiatan di RL, persiapan lebaran. Kwkwkkejw


__ADS_2