Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Misi Felicia


__ADS_3

Felicia sedang berjalan menuruni anak tangga. Sebelumnya salah seorang asisten rumah tangga di rumahnya memanggilnya untuk makan malam.


"Mamah masak apa?" Felicia bertanya pada mamahnya setelah ia sampai di ruang makan.


"Adik dan papa kamu ingin makan steak daging. Jadi mamah masak itu saja," jawab Flora. "Atau kamu mau makanan yang lain?"


"Tidak, Mah. Ini saja sudah cukup," jawab Felicia.


Felicia menarik salah satu kursi yang ada di meja makan. Ia mendaratkan bokongnya di atasnya. Bersamaan dengan itu adik, nenek, serta papanya datang.


"Malam semua," sapa Gavindra.


"Malam, Dek, Pah, Nenek." Felicia membalas sapaan Gavindra.


Gavindra, Gio, serta Seruni sama-sama menarik kursi yang masih kosong di meja makan untuk mereka duduki. Saat satu keluarga itu sedang makan, penjaga di rumah itu datang dengan membawa karangan bunga mawar merah di tangannya.


"Permisi, Pak," ucap penjaga itu.


"Ada apa, Pak Joni. Dan bunga dari siapa itu?" tanya Flora.


"Ini, Bu. Tadi bapak Alan datang ke sini dan menitipkan ini untuk mba Feli. Katanya dari Bapak Kenzo," jawab Joni.


Bunga dari Kenzo?


Felicia hampir saja tersedak sendok yang sedang ia gunakan untuk makan saat mendengar Kenzo memberinya karangan bunga.


"Ehemmm, ehemmmm."


Felicia melihat adik, nenek, dan kedua orangtuanya berdehem. Ia tahu jika keluarganya sedang menggodanya.


"Pak Joni cepat berikan bunganya pada Felicia," suruh Flora.


"Iya, Bu." Pak Joni melangkah mendekati Felicia untuk memberikan karangan bunga itu pada Felicia.


"Ini Mba bunganya," ucap Joni.


"Iya, Pak. Terima kasih ya," ucap Felicia.


"Tadi bapak Alan bilang kalau bapak Kenzo juga menitipkan pesan. Beliau meminta maaf karena tidak bisa mengantar Mba Feli pulang," ucap Joni.


Felicia melongo mendengar perkataan pak Joni. Ia seperti sedang bermimpi.


Kenzo meminta maaf? Laki-laki itu memang susah untuk ditebak.


Mata Felicia melihat ada sepucuk surat terselip di antara tangkai bunga itu. Ia mengambilnya dan ingin membacanya.


"Dapat surat cinta tuh," ledek Gavindra.


Felicia langsung memicik tajam ke arah Gavindra yang langsung membuat adiknya tertawa lepas. Felicia mengurungkan niatnya untuk membaca surat itu di depan keluarganya.


"Mah, Pah ... aku ke kamar dulu ya," pamit Felicia.


"Iya, Sayang," sahut Flora.


Felicia pergi meninggalkan ruang makan. Ia merasa penasaran dengan isi surat itu dan ingin segera membacanya.

__ADS_1


Felicia membuka pintu kamarnya setelah masuk Felicia menutupnya kembali. Karangan bunga itu Felicia taruh di atas tempat tidur. Ia kembali membuka kartu ucapan lalu mulai membacanya


Dasar tukang ngadu!


Mata Felicia terbuka lebar. Ia terkejut membaca isi surat itu. Felicia berpikir isi surat itu sebuah kata-kata romantis, ternyata hanya sebuah kata-kata ejekan.


"Apa maksudnya ini?" guman Felicia.


Felicia mengambil ponselnya untuk menghubungi Kenzo. Ia harus mendapatkan penjelasan dari kata-kata itu. Jari Felicia bergerak untuk mencari nomor ponsel Kenzo. Setelah menemukannya segera ia menekan tombol panggil.


Beberapa kali panggilannya tidak diangkat oleh Kenzo. Akan tetapi Felicia tidak menyerah. Ia terus mencoba menghubungi nomor ponsel Kenzo. Usahanya tidak sia-sia, karena Kenzo akhirnya menerima panggilan teleponnya.


(Felicia)


Halo, apa maksud dari kata-katamu ini?


(Kenzo)


Apa maksudmu aku tidak mengerti?


(Felicia)


Kamu mengataiku jika aku tukang mengadu.


(Kenzo)


Itu memang kenyataan. Kamu mengadu pada Kenzi jika aku meninggalkanmu di jalan tadi.


(Felicia)


(Kenzo)


Jangan bohong!


(Felicia)


Percuma bicara denganmu. Kenzi jauh lebih baik darimu dan dia jauh lebih punya hati di bandingkan denganmu.


(Kenzo)


Terserah apa katamu! Awas saja jika sampai kamu mengadu yang bukan-bukan lagi pada Kenzi. Aku akan membuat perhitungan denganmu!


Felicia ingin membalas kata-kata Kenzo, tetapi sambungan telepon itu lebih dulu terputus.


"Huh, dasar menyebalkan!"


Felicia melempar telepon genggamnya dan mengambil karangan bunga dari Kenzo. Ditatapnya terus karangan bunga itu seolah ia sedang menatap Kenzo.


"Dengar tuan Kenzo Alviano Pramuja ... jika aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta padaku dan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku, maka jangan panggil aku Felicia Aurora Ferdinand lagi," ucap Felicia.


Felicia menaruh karangan bunga itu ke atas tempat tidur dengan kasar. Napasnya tidak beraturan karena menahan emosinya.


Sementara di tempat lain Kenzo pun sama emosinya seperti Felicia. Karena ancaman dari Kenzi. Saudara kembarnya itu mengancam jika apa yang ia lakukan kepada Felicia akan dia adukan kepada kedua orang tua mereka.


Maka dari itu ia mau meminta maaf kepada Felicia dengan mengirimkan karangan bunga itu. Akan tetapi tidak semudah itu, meskipun ia meminta maaf, tetapi dengan sengaja dirinya menuliskan kata-kata ejekan untuk Felicia.

__ADS_1


"Dasar Menyebalkan!"


****


Mendekati hari pernikahan, Felicia mulai melancarkan misinya untuk membuat Kenzo jatuh ke dalam pelukannya. Berbagai cara sudah Felicia lakukan untuk membuat pria dingin itu jatuh cinta kepadanya.


Namun, seperti yang Felicia pernah katakan pada dirinya sendiri. Jika menaklukkan hati Kenzo adalah hal yang mustahil. Hati laki-laki itu seolah sudah membeku, karena luka hati yang pernah ia rasakan sebelumnya.


"Aku tidak akan menyerah semudah ini." Felicia berjanji pada dirinya sendiri.


Siang itu Felicia sengaja datang ke kantor Kenzo untuk mengiriminya makan siang. Kedatangannya juga sudah Felicia katakan pada Kenzo sebelumnya. Laki-laki itu tidak bisa menahannya untuk tidak datang juga karena Kenzi.


Lift khusus di perusahaan Pramuja terbuka dan memunculkan Felicia dari dalamnya. Perempuan yang memakai pakaian kerja lengkap melangkah anggun ke ruangan bertuliskan presiden direktur. Alan yang ada di depan ruangan Kenzo pun menyapa calon ibu bosnya.


"Selamat siang Ibu Felicia," sapa Alan.


"Selamat siang juga. Apa bos-mu ada di dalam?" tanya Felicia.


"Ada, Bu. Silahkan masuk," ucap Alan.


Felicia masuk ke dalam ruangan kerja Kenzo untuk pertama kalinya. Sampai di dalam, ia mengedarkan pandangannya. Ruangan itu sangat luas, dinding kaca yang ada di ruangan itu membuatnya bisa melihat hampir keseluruhan kota itu.


Pandangan Felicia berhenti pada sosok Kenzo. Laki-laki terlihat serius bekerja sampai tidak melihat keberadaan dirinya, atau memang sengaja tidak ingin melihatnya, entahlah?


Tanpa meminta izin dari pemilik ruangan Felicia duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu. Tangannya ia gunakan untuk menopang dagunya, matanya ia arahkan pada sosok Kenzo yang masih serius dengan laptopnya.


"Apa kamu tidak lelah terus bekerja? Ini sudah waktunya makan siang," ucap Felicia.


"Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Kenzo.


"Ya Tuhan. Makanya jangan terlalu serius bekerja, hingga kamu tidak menyadari kedatangannku," ucap Felicia.


Felicia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Kenzo. Ia menarik tangan Kenzo, membawanya duduk di sofa.


"Aku bawakan makan siang untukmu," ucap Felicia.


"Tidak perlu repot-repot, aku bisa meminta Alan untuk membelinya," ujar Kenzo.


"Aku merasa tidak repot. Aku justru harus sering-sering melakukan ini, karena aku calon istrimu," ucap Felicia.


"Jangan berpura-pura baik. Aku tahu semua perempuan di dunia ini sama saja —" Ucapan Kenzo dipotong oleh Felicia.


"Seperti Vera?" sela Felicia.


Diamnya Kenzo menjadi jawaban untuk Felicia. Rasa kesal mendadak muncul di dalam diri Felicia. Ia tidak suka disamakan dengan Vira.


"Dengar Kenzo ... tidak semua perempuan seperti mantan kekasihmu. Aku dan dia adalah orang yang berbeda dan jelas kami memiliki sifat yang berbeda," ucap Felicia.


"Sebentar lagi kita akan menikah. Jika kamu masih terbelenggu di masa lalumu ini tidak akan baik untuk aku maupun kamu," ucap Felicia.


Kenzo diam tanpa berniat untuk merespon perkataan Felicia dan itu berhasil membuat Felicia semakin kesal.


"Jika kamu masih ingin menikah denganku maka lupakan Vera! Tapi jika tidak ... katakan pada kedua orang tua kita jika kamu ingin membatalkan pernikahan ini," ucap Felicia lagi.


Tidak ada kata-kata lagi yang Felicia katakan. Setelah itu Felicia lebih memilih untuk pergi dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2