
Flora melajukan mobilnya keluar garasi rumahnya. Tujuannya adalah ke salah satu tempat loundry miliknya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 dan cuaca di luar terlihat sangat terik. Flora yang mulai merasa kepanasan, menambah suhu dingin pendingin di mobilnya.
“Hari ini kenapa rasanya panas sekali?” ucap Flora.
Flora memberhentikan laju mobilnya saat lampu lalu menunjukkan warna merah. Kesempatan itu itu digunakan Flora untuk mengirim pesan pada Gio.
Flora : Aku sedang ada di jalan ke tempat ibu.
Tidak ada balasan dari Gio.
“Mungkin dia sedang sibuk,” guman Flora.
Lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau dan Flora pun harus melajukan mobilnya kembali. Flora lebih dulu meletakan ponselnya ke dashboard, sebelum melajukan mobilnya.
Sudah satu jam Flora berada di jalan dan akhirnya sampai di tempat yang ia tuju. Setelah memarkirkan mobilnya, Flora segera turun dari mobil.
“Siang, Bu Flora,” sapa salah seorang pegawai di tempat loundry.
“Siang juga, Nina,” sapa balik Flora. “Ibu aku ada?” tanya Flora.
“Ada, Bu,” jawab Nina.
“Aku ke ruangan ibu aku dulu. Kamu lanjutin kerjanya ya,” ucap Flora.
“Baik, Bu. Oh iya mau dibikinin minum apa?” tanya Nina.
Flora berpikir sejenak. Setelah tahu apa yang ia inginkan, Flora memberitahukannya pada Nina.
“Beliin aku jus jeruk aja di cafe depan ya,” pinta Flora.
“Baik, Bu,” ucap Nina.
Sebelum Flora pergi, ia lebih dulu memberikan Nina uang untuk membeli jus jeruk.
“Beli 10 sekalian. Bawa ke ruangan ibu 3, sisanya kamu bagiin sama karyawan yang lain,” suruh Flora.
“Baik, Bu. Terimakasih banyak,” ucap Nina.
“Sama-sama.” Flora lebih dulu pergi ke ruangan ibunya.
Tok tok tok
Flora mengetuk pintu ruangan ibunya, sebelum masuk ke dalamnya.
“Siang, Ibu,” sapa Flora.
Seruni yang sedang memeriksa keuangan tempat loundry itu menoleh saat mendengar suara anak tunggalnya.
“Flora, kenapa gak bilang kalau mau ke sini?” Seruni beranjak dari kursi dan menghampiri Flora.
“Kejutan dong, Bu,” jawab Flora.
“Ibu, apa kabar?” tanya Flora.
“Ibu baik, Nak,” jawab Seruni. “Kamu sama suami kamu apa kabar?” tanya Seruni.
“Kami baik, Bu,” jawab Seruni.
“Ayo duduk, Nak. Kamu mau minum apa?” tanya Seruni.
“Aku tadi sudah minta Nina untuk beli jus jeruk di depan,” jawab Flora.
“Jus jeruk? Sejak kapan kamu suka jus jeruk?” tanya Seruni.
“Gak tahu, Bu. Mungkin cuaca panas jadi pengin minum yang seger-seger,” jawab Flora.
__ADS_1
“Oh ya sudah,” ucap Seruni.
“Oh iya, kamu ada apa ke sini?” tanya Seruni.
“Biasa, Bu. Aku mau bantuin ibu buat periksa keuangan kita,” jawab Flora.
“Oh iya kebetulan sekali, ibu masih bingung buat ngurus itu semua sendiri. Tante kamu juga belum datang,” ucap Seruni.
“Tumbe, Bu?” Flora pun merasa heran. Biasanya Mariana paling cepat jika menyangkut masalah keuangan.
Baru saja Seruni dan Flora membicarakan Mariana, wanita itu tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.
“Seruni, kamu punya es batu gak?” tanya Mariana.
“Loh Flora, kamu ada di sini?” tanya Mariana saat melihat Flora ada di ruangan yang sama dengannya.
“Iya, baru saja aku sampai,” jawab Flora.
“Tante kenapa? Keliatan cemas sekali?” tanya Flora.
Mariana duduk di sebelah Flora seraya memegangi kepalanya.
“Tante bukan hanya cemas, tapi juga pusing mikirin adik kamu,” jawab Mariana.
“Daniel?” tanya Flora.
“Siapa lagi kalau bukan dia.” Nada bicara Mariana terdengar sangat kesal.
Seruni datang dengan membawa satu mangkok es batu. Lalu memberikannya pada Mariana.
Mariana mengeluarkan sapu tangannya dari dalam tas. Setelah itu Mariana membungkus beberapa es batu dengan sapu tangannya dan menempelkannya ke keningnya.
“Memangnya Daniel kenapa, Tante?” tanya Flora.
“Kamu tahu 'kan, Flora ... Daniel itu anak tante satu-satunya. Tante pengin dia cepat menikah dan memiliki anak. Tante sudah pengin gendong cucu,” ucap Mariana.
Flora dan Seruni tentu saja menggelengkan kepalanya bersamaan.
“Dia akan menikah dengan Maura 1 tahun lagi, sampai kontrak kerja Maura berakhir,” jelas Mariana.
“Sabar, Tante,” ucap Flora.
“Iya kamu yang sabar Mariana. Mungkin anak-anak juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri mereka. Mengingat berhubungan juga karena dijodohkan,” imbuh Seruni.
“Ya, kamu benar juga. Tapi menunggu satu tahun lagi itu sangat lama. Iya kalau Maura langsung hamil,” keluh Mariana.
“Oh iya, Flora ... tante mau kasih kamu saran. Sebaiknya kamu nanti punya anak jangan cuma satu. Kalau perlu 2 ... bukan tapi 3 ... eh, 4 kalau perlu 5 deh,” ucap Mariana.
Flora yang mendengar itu hanya menaikan satu alisnya.
“Satu saja belum jadi-jadi,” batin Flora.
Flora merasakan tangannya digenggam oleh ibunya. Flora melihat ibunya memberikan isyarat padanya dengan kedipan mata serta anggukan kepala. Flora pun ikut mengangguk-anggukkan kepala seolah tahu apa yang ibunya perintahkan.
“Iya, Tante. Flora sama Gio minta doanya agar kami cepat diberi momongan,” ucap Flora.
“Amin.”
Tok Tok Tok
Pembahasan mengenai anak terpaksa berhenti saat ketiga wanita itu mendengar suara ketukan pintu.
“Masuk!” suruh Mariana.
“Permisi, saya mau mengantar jus jeruk pesan ibu Flora,” ucap Nina.
__ADS_1
“Jus jeruk? Kebetulan, sini bawa masuk,” pinta Mariana.
Nina masuk dan meletakan 3 jus jeruk yang dipesan oleh Flora.
“Saya permisi,” izin Nina.
“Terima kasih ya, Nin,” ucap Flora yang langsung dianggukki oleh Nina.
Flora, Seruni, Mariana mengambil jus jeruk masing-masing satu gelas. Dalam sekali sedot jus jeruk milik Flora berpindah ke perut Flora.
“Kamu mau lagi, Flora? Punya ibu belum diminum kok,” tanya Seruni.
“Gak apa-apa, Bu?” Flora masih sangat ingin, tetapi Flora merasa tidak enak pada ibunya.
“Gak apa-apa.” Seruni menyerahkan jus jeruk miliknya pada Flora.
“Terima kasih, Bu.” Flora menerima jus jeruk yang diberikan oleh Seruni.
Flora kembali menyedot jus jeruk yang diberikan oleh Seruni dan dalam habis dalam waktu singkat.
“Kamu haus apa doyan?” tanya Mariana.
“Dua-duanya, Tante,” jawab Flora diikuti senyum tipisnya.
“Kalau ada Gio di sini, kita tidak akan kebagian. Dia suka sekali dengan jus jeruk,” ucap Mariana.
Baru saja Mariana mengatakan tentang Gio dan laki-laki itu mengirim pesan pada Flora.
“Gio kirim pesan,” ucap Flora.
“Coba buka. Tante pengin tahu anak nakal itu kirim pesan apa ke kamu,” pinta Mariana.
Flora membuka pesan di aplikasi ponselnya. Dahinya mengernyit saat membaca pesan dari Gio.
Cepatlah kemari! Aku sangat merindukanmu. Jangan lupa kalau ke sini belikan aku es buah sama Bakso.
“Ada apa, Flora?” tanya Seruni saat melihat Flora yang nampak aneh.
“Gio kirim pesan, katanya dia minta dibawain bakso sama es buah,” jawab Flora.
“Ya sudah kamu bawakan saja. Di deretan tempat ini ada yang jual bakso sama es buah,” ucap Seruni.
“Aneh saja sih, Bu,” ucap Flora.
“Aneh kenapa?” tanya Mariana. “Dia gak berulah lagi, 'kan?”
“Gak sih, Tante. Seminggu ini Gio porsi makannya jadi nambah. Malam-malam dia juga sering keluar beli makan,” jelas Flora.
“Mungkin dia kelaparan habis tempur sama kamu,” gurau Mariana diikuti gelak tawanya.
Ucapan Mariana membuat Flora dan Seruni melebarkan matanya.
“Kenapa kalian merasa heran. Itu benarkan, Flora?” tanya Mariana seraya menahan tawanya.
“Tante Ana,” rengek Flora.
Seruni dan Mariana tergelak saat melihat wajah Flora merah, sudah seperti kepiting rebus.
“Sudah sana, temuin suami kamu. Sekalian beliin yang dia minta,” suruh Seruni. “Lagi pula sudah ada tante kamu yang bantuin ibu di sini.”
“Iya, Bu.” Flora beranjak dari sofa lalu menyalami Seruni dan Mariana.
“Aku pergi dulu, Ibu, Tante,” pamit Seruni.
“Dah, Sayang. Hati-hati di jalan,” ucap Mariana. “Salam buat suami kamu. Bilang sama dia juga, usaha tiap malam dikencengin ya, biar cepat jadi,” ledek Mariana.
__ADS_1
“Tante Ana.” Flora merengek, tetapi justru membuat Seruni dan Mariana tergelak.