
Gio tergelak saat Daniel mengatakan jika Maura tengah hamil. Entah apa yang membuat laki-laki itu tergelak bahkan sampai memegangi perutnya.
"Apa yang menurutmu lucu sehingga kamu tertawa?" tanya Daniel.
Daniel yang duduk di hadapan Gio merasa kesal karena kakak sepupunya justru menertawakan dirinya.
"Bagaimana Maura bisa hamil?" Gio balik bertanya pada Daniel tanpa ingin berhenti tertawa.
"Apa yang kamu lakukan pada Flora hingga istrimu itu bisa melahirkan Felicia?" Daniel balik bertanya pada Gio.
"Itu beda, Daniel. Kami melakukannya setelah kami menikah," jawab Gio.
"Sedangkan kamu ...." Gio menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Biasanya kamu bisa menahan diri kamu, tapi sekarang Maura bahkan hamil sebelum kalian menikah. Itu lucu, 'kan?"
Daniel duduk bersandar di punggung kursi yang sedang ia duduki. Pandangannya ia arahkan ke langit-langit ruangan kerja Gio. Memang benar yang dikatakan oleh kakak sepupunya itu, terdengar sangat lucu dengan apa yang sedang terjadi.
"Apa kedua orang tua Maura sudah tahu tentang ini?" tanya Gio.
"Kamu orang yang pertama tahu tentang ini setelah aku," jawab Daniel.
"Rencananya aku dan Maura akan memberitahukan hal ini setelah kami resmi menikah," ucap Daniel.
"Mereka pasti akan sangat senang, karena mereka tidak akan menunggu lama untuk memiliki seorang cucu," ucap Gio. "Terutama tante Mariana, beliau pasti akan sangat senang."
"Ya," sahut Daniel.
Tok tok tok
Ketukan pintu di depan ruangan itu menghentikan obrolan Gio dan Daniel.
"Masuk," suruh Gio.
Pintu terbuka dan memunculkan Abi dari baliknya.
"Permisi, Mas Gio ... ada titipan makan siang dari mba Flora," ucap Abi.
"Taruh saja di meja," suruh Gio.
"Baik, Mas," sahut Abi.
"Abi, kamu sudah mengantar Flora dan Felicia ke klinik?" tanya Gio.
"Sudah, Mas," jawab Abi.
"Ke klinik? Felicia sakit?" sela Daniel.
"Tidak, dia tidak sakit. Hari ini jadwalnya Felicia imunisasi," jawab Gio.
"Ohw." Daniel manggut-manggut untuk merespon perkataan Gio.
"Nanti kalau kamu sudah punya anak pasti kamu akan merasa sangat bahagia. Terkecuali kalau menangis di saat yang tidak pas. Sangat merepotkan dan menjengkelkan," ucap Gio.
Daniel tertawa kecil, ia tahu apa yang maksud dari ucapan kakak sepupunya.
"Lupakan pembicaraan tentang bayi dan istri. Sebaiknya kita makan siang dulu," ajak Gio.
__ADS_1
Gio dan Daniel beranjak dari kursi mereka dan berpindah ke sofa yang ada di ruangan itu. Mereka memakan makan siang yang dibawakan oleh Flora.
Hari sudah senja dan sudah memasuki jam pulang kerja. Gio sudah bersiap-siap untuk keluar dari kantornya.
"Silahkan, Mas." Abi mempersilahkan bos-nya untuk masuk ke dalam mobil.
Mobil kembali melaju setelah Abi masuk kembali ke dalamnya. Mobil yang Gio naikin sudah masuk ke jalanan kota dan berkutat dalam kemacetan bersama kendaraan lainnya.
Gio memutuskan untuk memejamkan matanya seraya menunggu kemacetan yang terlihat akan sangat lama itu. Namun, suara klakson kendaraan lainnya mengganggu ketenangannya.
"Kenapa mereka berisik sekali? Apa mereka pikir hanya mereka yang ingin cepat sampai ke tempat tujuan mereka," gerutu Gio. "Apa dengan membunyikan klakson kemacetan ini akan sirna dalam sekejap?"
Abi yang sedang memegang kemudi hanya tersenyum tipis untuk menanggapi ocehan atasannya. Banyak perubahan yang atasannya alami setelah memiliki seorang anak.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Gio pada Abi.
"Eh tidak ada, Mas. Hanya—" Ucapan Abi terpotong oleh Gio.
"Hanya apa?" tanya Gio.
"Hanya saja aku melihat banyak perubahan di dalam diri Mas Gio. Setelah menikah dengan mba Flora dan setelah memiliki Felicia. Mas jadi lebih baik dan dewasa," ucap Abi.
"Kamu memuji apa sedang meledek?" Gio bertanya seraya menatap Abi dengan tatapan yang mengerikan.
"Dua-duanya, Mas," jawab Abi diikuti tawanya.
Gio mendengkus setelah mendengar jawaban asisten pribadinya.
"Jangan harap aku akan memberikanmu cuti diakhir tahun nanti ya." Gio mengeluarkan ultimatum untuk membalas perkataan Abi.
"Yah, Bos kejam amat." Abi mendesah pasrah seraya berkonsentrasi mengemudi.
Setelah terjebak kemacetan cukup lama akhirnya Gio sampai juga di rumahnya. Gio keluar dari dalam mobil setelah Abi menghentikan laju mobilnya.
Gio masuk ke dalam rumahnya karena sudah tidak sabar bertemu dengan anak dan juga istrinya. Langkahnya baru sampai di ruang tamu, tetapi Gio sudah bisa mendengar tangisan Felicia.
Langkah Gio semakin cepat untuk segera melihat Felicia.
"Sayang, kenapa Felicia menangis kencang sekali?" Gio bertanya pada Flora.
"Mungkin dia merasa tidak nyaman setelah diimunisasi," jawab Flora.
"Bukannya sebelumnya Felicia juga diimunisasi? Tapi dia tidak seperti ini?" ucap Gio.
"Beda, Sayang. Yang sebelumnya imunisasi BCG itu tidak membuatnya demam. Dan sekarang Dokter memberinya imunisasi DPT dan katanya bisa membuat Felicia demam," jelas Flora.
"Kamu sudah memberinya obat?" tanya Gio.
"Sudah," jawab Flora.
"Sebaiknya kamu mandi dan ganti bajumu. Setelah Felicia tidur aku akan menyiapkan makan malam untukmu," suruh Flora.
"Baiklah," sahut Gio.
Flora masih menimang Felicia. Sudah hampir dua jam Flora menggendong Felicia karena bayinya tidak mau turun dari gendongannya. Rasa lelahnya terbayarkan setelah Felicia berhenti menangis dan tertidur.
__ADS_1
"Akhirnya dia tidur juga," guman Felicia.
"Felicia sudah tidur, Nak?" tanya Seruni.
"Sudah, Bu," jawab Flora.
"Bu, aku minta tolong jagain Felicia sebentar ya. Aku mau siapin makan malam," ucap Flora.
"Baiklah, Nak," sahut Seruni. "Sini berikan Felicia sama ibu."
Flora memberikan Felicia pada Seruni. Setelah itu Flora melangkah ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Meskipun sudah ada beberapa asisten rumah tangga di rumah itu, tetapi Flora tidak sepenuhnya menyerahkan semuanya kepada para asisten rumah tangga. Ia juga ingin mengurus keluarganya dengan tangannya sendiri.
Flora bergerak cepat untuk memasak, karena takut Felicia akan terbangun lagi. Flora merasa lega saat ia selesai memasak ia tidak mendengar rengekan bayinya.
"Flora kamu sudah selesai?" tanya Seruni.
"Eh, Bu ... sebentar lagi," jawab Flora.
"Sini ibu bantu," ucap Seruni.
"Felicia belum bangun, Bu?" tanya Flora.
"Sudah," jawab Seruni.
"Tapi aku gak denger dia menangis," ucap Flora.
"Felicia kalau sudah sama papanya ya anteng." Seruni menjawab dengan diikuti senyumnya.
"Iya, kalau sudah besar dia pasti akan menurut sama papanya," imbuh Flora.
Beberapa saat kemudian semua makanan sudah tertata rapi di atas meja makan. Setelah melepas celemek yang menempel di tubuhnya Flora kembali ke kamarnya untuk melihat suami dan juga anaknya.
"Sayang, makan malamnya sudah siap. Kamu sebaiknya makan dulu," suruh Flora.
"Iya sebentar lagi. Aku masih mau main sama Felicia," sahut Gio.
Flora ikut merebahkan tubuhnya di samping Felicia. Ia ambil termometer dari laci meja nakas untuk mengecek suhu tubuh Felicia.
Tarikan napas Flora terasa begitu lega saat termometer itu menunjukkan demam Felicia sudah turun.
"Syukurlah demamnya sudah turun," ucap Flora.
Flora mengangkat tubuh Felicia. Memindahkannya ke atas pangkuannya.
"Ayo, Sayang kamu minum ASI yang banyak, supaya demam kamu cepat sembuh," ucap Flora.
"Memang kalau banyak minum ASI demamnya akan segera sembuh?" tanya Gio.
"Kata Dokter begitu. Jika bayi demam harus banyak minum ASI agar cepat sembuh," ucap Flora.
"Kalau begitu saat aku demam nanti berikan itu saja, jadi demam aku cepat sembuh." Gio menarikturunkan alisnya untuk menggoda Flora.
Mata Flora membulat mendengar ucapan Gio. Matanya memicik tajam ke arah suaminya yang sedang menaikturunkan alisnya seolah sedang menggodanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa gemesin banget ya. Aku berasa ingin memakanmu." Nada bicara Flora seolah sedang menahan sesuatu di dalam dirinya.
"Sebelum kamu memakanku ... aku yang akan lebih dulu memakanmu." Tanpa permisi Gio menarik tengkuk Flora dan meraup bibir Flora.