
Para karyawan, F.G group di bagian tertentu bersorak gembira saat mendapat kabar baik jika mereka akan mendapatkan liburan gratis ke Bali selama 1 minggu. Liburan itu sebagai bentuk apresiasi pihak perusahaan karena karyawan di bagian itu bekerja dengan sangat baik.
Diantara para karyawan itu ada Flora dan juga Mutya. Mereka sangat antusias menantikan hari saat mereka akan pergi ke Bali.
"Aku gak sabar pengin cepet ke sana," seru Mutya diangguki oleh Flora.
"Kamu mah enak, sekalian bisa menghabiskan waktu sama si bos," ujar Mutya.
"Kamu pedekate saja sama mas Abi, dia lagi jomblo loh," ucap Flora disambut delikan mata Mutya.
Melihat ekspresi wajah sahabatnya, Flora tergelak bahkan sampai memegangi perutnya.
"Yang benar saja, dia galaknya melebihi bos Gio," ucap Mutya yang makin membuat Flora tergelak.
"Lihatlah! Anak haram ini! Dia terlihat sangat bahagia."
Flora mendengar perkataan atau lebih tepatnya sindiran dari seorang perempuan yang merupakan rekan kerjanya. Mereka adalah Yola dan 2 temannya yang lain.
"Kamu lagi." Mutya tersenyum sinis melihat tiga orang karyawati yang selalu menganggu dirinya dan juga Flora.
"Kalian tidak bosan apa selalu menganggu kami." Flora memutar bola matanya karena merasa jengah.
"Apa sih yang kamu lakuin sama pak Gio dan juga pak Daniel hingga mereka bisa bertekuk lutut sama kamu?" Sindir Yola.
"Pengin tahu saja," sahut Mutya.
"Aku gak bicara sama kamu, dasar penjilat," maki Yola.
"Kamu ngomong apa tadi?" Mutya beranjak dari kursinya dan ingin menghampiri Yola. Namun, Flora mencegahnya.
"Aku tahu Mutya, kamu mau berteman dengan anak haram ini karena dia itu deket sama si bos 'kan?" tuduh Yola.
"Mungkin itu yang ada di pemikiran kamu, tapi itu bukan aku," balas Mutya.
Yola menunjukan senyum sinisnya dan pandangannya beralih pada Flora yang sedang menahan tangan Mutya.
"Dan kamu Flora, aku tahu kamu menjual tubuh kamu pada pak Gio. Karena tidak mungkin jika pak Gio itu cinta sama perempuan seperti kamu," tuduh Yola.
"Apa itu bukan sebaliknya?" Kini Flora yang memberikan senyum sinisnya pada Yola. "Aku tahu kamu pernah merayu kekasihku itu dan rela memberikan apa saja termasuk tubuhmu demi gaya hidup mewah kamu, tapi sayang dia tidak tertarik dengan tubuh bekas orang," balas Flora tidak mau kalah.
Bukan hanya Yola dan kedua temannya yang melotot mendengar perkataan Flora, mata Mutya hampir melompat keluar saat mendengar perkataan pedas Flora. Mutya hampir tidak percaya jika Flora lah yang baru saja mengatakan kalimat pedas itu.
"Kamu ...." Yola ingin maju dan melakukan sesuatu yang buruk pada Flora.
"Mau apa kamu?" Flora menaruh kedua tangannya ke pinggangnya dengan tatapan menantang Yola.
Yola ingin menampar Flora. Namun, dengan cepat Flora menahan tangan Yola. Flora memelintir tangan Yola dan mendorongnya hingga tersungkur ke lantai.
Mutya yang melihat itu langsung bertepuk tangan dan berjingkrak kegirangan.
"Jangan karena kamu kekasih si bos, aku tidak berani membalas mu." Yola berusaha berdiri dan kembali ingin menyerang Flora. Namun, tindakannya terhenti saat suara seseorang menggema di kantin perusahaan itu.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?"
Semua orang menoleh ke asal suara yang ternyata Gio. Keributan itu terhenti seketika. Gio berjalan melewati para karyawan yang menyingkirkan dengan sendirinya untuk menghampiri Flora.
"Ada apa, Sayangku? Kamu terlihat sangat marah?" tanya Gio.
"Tidak ada, hanya pertengkaran kecil," jawab Flora.
"Dia sudah menghina dan menganiaya saya." Perkataan Yola membuat Gio mengalihkan pandangannya dari Flora.
"Benarkah itu, Sayangku?" tanya Gio.
"Iya, aku menyebutnya bekas orang dan mendorongnya hingga jatuh ke lantai," jawab Flora.
"Gadis nakal." Sudut bibir Gio tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
Kelinciku berubah menjadi kucing liar.
"Bapak jangan berpihak pada Flora hanya karena dia kekasih Anda," pinta Yola.
"Jangan libatkan masalah pribadi dengan pekerjaan," ujar Flora.
"Kamu dulu yang memaki Flora," bela Mutya. "Bapak Gio, kalau Anda tidak percaya tanyakan saja pada karyawan yang lain."
"Saya tidak peduli siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang saya tahu kalian sudah membuat keributan di area kantor, jadi kalian harus di hukum," ucap Gio.
"Apa?" protes Yola.
"Tapi, Pak ...." Yola berusaha untuk protes, tetapi melihat tatapan tajam dari Gio, Yola akhirnya bungkam.
Flora sendiri tidak akan bisa protes karena ia sendiri juga merasa bersalah. Flora segera menyelesaikan makan siangnya dan setelah itu ia membatu membersihkan kantin kantor itu.
"Kamu bersihkan saja sendiri." Yola meninggalkan Flora setelah mengepel setengah dari lantai di kantin itu.
Flora melihat Yola membuang alat pel begitu saja, ia hanya bisa mengela napas panjang serta menggelengkan kepalanya.
Flora memilih melanjutkan hukumannya untuk membuktikan jika meski Gio adalah kekasihnya, tetapi dia tidak memihak dirinya.
"Huff, akhirnya selesai juga." Flora membereskan alat pel dan menaruhnya ke tempat semula.
"Bu, saya sudah selesaikan semuanya. Saya permisi ya," pamit Flora.
"Iya, Mbak Flora. Terimakasih sudah membantu saya," ucap pengurus kantin itu.
Flora kembali ke meja kerjanya bertepatan dengan jam makan siang selesai. Sebenarnya Flora masih merasakan lapar, karena hukuman itu Flora tidak sampai menyelesaikan makan siangnya. Sampai pada meja kerjanya, Flora melihat ada kotak makanan.
"Kotak makan punya siapa?" guman Flora.
Dering telepon di meja kerjanya mengejutkan Flora. Segera Flora mengangkat panggilan yang terhubung dengan ruangan kerja bosnya.
"Halo, Pak Gio ... ada yang bisa saya bantu?" tanya Flora.
__ADS_1
"Aku beri kamu waktu 5 menit untuk menyelesaikan makan siangmu." Dan panggilan langsung terputus.
Flora meletakan kembali gagang telepon ke tempat semula. Senyumnya mengembang saat melihat kotak makan siang yang ternyata dari Gio.
"Bosku, kekasihku. Kamu manis sekali." Tidak membuang waktu lagi Flora melahap makan siang itu sebelum melanjutkan pekerjaannya.
-
-
Jam pulang kerja tiba, Flora membereskan pekerjaannya bertepatan dengan datangnya Mutya.
"Sudah selesai?" tanya Mutya.
"Sudah," sahut Flora.
"Kamu gak pulang sama pak Gio?"
"Gak, dia lagi urusan di luar kantor." Flora beranjak dari kursi lalu melingkarkan tas ke pundaknya. "Yuk kita pulang!" ajak Flora diangguki oleh Mutya.
Kedua sahabat itu melangkah bersama ke tempat kendaran mereka terparkir. Sambil berjalan mereka membahas acara liburan mereka yang akan di langsungkan 3 hari lagi.
"Aku pulang dulu, kamu hati-hati di jalan," ucap Mutya.
"Kamu juga hati-hati." Flora dan Mutya salig mencium pipi kanan dan pipi kiri satu sama lain sebelum berpisah di area parkir itu.
-
-
"Bu, Flora pulang," sapa Flora saat sampai di rumahnya.
Flora menyalami tangan lalu mencium punggung tangan ibunya.
"Bu, Flora dapat liburan gratis dari kantor ke Bali. Rencana 3 hari lagi kami berangkat ke Bali," ucap Flora.
"Iya, Nak. Kamu jaga diri baik-baik di sana," ucap Seruni.
"Jadi Ibu mengizinkan aku pergi?" tanya Flora dengan mata yang berbinar.
"Tentu saja, Nak. Ada kesempatan kenapa di sia-siakan," ucap Seruni.
"Terimakasih, Bu." Flora langsung memeluk tubuh Seruni.
"Oh iya, Bu ... kapan Ibu akan ikut bertemu dengan bapak Farhan? Beliau sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ibu," ucap Flora.
"Yang gak sabar bapak Farhan atau kamu yang pengin jadi menantunya," ledek Seruni.
"Ibu ...." Flora merasa malu dan menyembunyikan wajahnya ke pundak ibunya.
Seruni tertawa melihat anaknya merasa malu. Sudah lama Seruni tidak melihat kebahagiaan seperti itu di diri anak perempuannya itu.
__ADS_1