Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Cahaya Dalam Kegelapan


__ADS_3

Happy reading


Flora, Seruni, dan Farhan, mereka sedang berada di ruangan seorang Dokter. Mereka sedang menunggu hasil tes DNA antara Flora dan Farhan.


Flora berdiri di sudut ruangan itu dengan rasa cemas. Sesekali Flora melihat ke arah Farhan, memperhatikan laki-laki tua itu. Flora merasa senang jika Farhan adalah ayah yang selalu ia impikan. Namun, dalam hatinya Flora berharap jika Farhan bukanlah ayah kandungnya. Flora merasa tidak akan sanggup untuk berpisah dengan Gio.


"Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Seruni.


Flora hanya bisa menganggukkan kepalanya untuk merespon pertanyaan ibunya.


Tidak lama pintu ruangan itu terbuka. Seorang petugas Laboratorium rumah sakit itu masuk ke dalam ruangan itu.


"Ini hasil tesnya, Dok." Petugas Laboratorium itu memberikan sebuah amplop putih pada dokter kenalan Farhan.


"Terimakasih."


Setelah petugas Laboratorium itu keluar dari ruangan itu, Dokter itu membuka amplop yang masih tersegel itu.


Dokter itu membaca hasil tes itu secara rinci dan serius.


"Hasilnya menyatakan jika DNA bapak Farhan dan mbak Flora cocok. Itu artinya memang mbak Flora ini kandung Anda, Bapak Farhan," jelas Dokter itu.


Farhan bernapas lega mendengar perkataan Dokter itu. Flora langsung meminta hasil tes itu dan melihatnya sendiri. Memang benar sembilan puluh sembilan persen menyatakan dirinya adalah anak dari ayah kekasihnya.


"Tidak mungkin." Flora menggeleng tidak percaya.


Dengan rasa kesal dan kecewanya Flora pergi meninggalkan ruangan itu tanpa memperdulikan panggilan ibunya.


"Flora ... Flora, Nak," panggil Seruni.


Seruni merasa khawatir saat Flora tidak mau mendengarnya.


"Seruni biarkan saja, mungkin dia sedang merasa terkejut. Berikan dia waktu untuk sendiri," ucap Farhan.


"Tapi ...."


"Ikut saya! Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu," ucap Farhan dibalas anggukan Seruni.


Farhan dan Seruni keluar dari ruangan Dokter itu setelah mengucapkan 'terimakasih' pada Dokter.


Sementara Flora masih berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit itu dengan rasa kecewanya. Hasil tes DNA itu mengatakan jika Farhan memang ayah kandungnya, dan itu berarti jika Gio adalah kakaknya.


Aku mencintai kakakku sendiri.


Flora tidak bisa membendung air matanya sendiri. Air mata itu tumpah hingga menutupi penglihatannya. Sudah berulang kali Flora mencoba untuk mengusapnya, tetapi air mata itu tidak mau berhenti mengalir juga.

__ADS_1


Flora tiba di pintu keluar rumah sakit dan tangannya langsung ditarik oleh seseorang yang ternyata Gio.


Gio membawa masuk Flora ke dalam mobilnya yang terparkir di pelataran rumah sakit. Gio melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit.


Gio melajukan mobilnya ke arah apartemen pribadinya. Dan ketika sampai di parkiran bawah tanah, Gio memberhentikan laju mobilnya dengan mendadak. Membuat suara decitan rem mobil itu terdengar dan membuat tubuh keduanya terhuyung ke depan. Namun, perasaan yang mereka rasakan kala itu membuat mereka tidak memikirkan akan hal itu.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Gio tanpa melihat ke arah Flora.


Tangannya menggenggam kuat gagang setir. Napasnya tidak beraturan dan jantungnya berdegup kencang menanti jawaban dari Flora.


Flora menolehkan pandangannya ke arah Gio dengan mata basahnya. Hatinya sakit melihat laki-laki yang amat ia cintai itu.


"Hasilnya ... DNA aku papa kamu sembilan puluh sembilan cocok. Itu artinya aku memang anak kandung papa kamu," jelas Flora dengan bibir yang bergetar.


Dunia Gio seakan runtuh seketika. Ia menjatuhkan kepalanya pada gagang setir dengan tangan yang masih menggenggam kuat gagang setir itu. Gio menyembunyikan air matanya di balik wajahnya yang tertunduk itu.


Jadi ... selama ini aku mencintai adikku sendiri.


"Ini tidak adil Gio ... tidak adil," ucap Flora dengan suara seraknya.


Flora bahkan sudah hampir kehilangan suaranya karena menangis dan


Dengan rasa penuh kecewa dan marah, Flora mencoba untuk melepas cincin yang diberikan oleh Gio saat dia melamarnya.


"Kenapa susah sekali ...." Bukan susah hanya saja rasa tidak relanya membuat cincin itu tidak bisa terlepas dari jari Flora.


Gio yang mendengar jeritan Flora langsung mendongak, mengarahkan pandangannya pada Flora.


"Apa yang kamu lakukan, Flora." Gio menghentikan Flora untuk melepaskan cincin di jari manisnya.


Gio melihat ruam merah pada jari Flora karena Flora memaksa untuk melepaskan cincin pemberiannya.


"Kenapa Gio ... kenapa? Kenapa Tuhan mempermainkan perasaan kita." Flora meronta di dalam mobil itu.


Gio menarik tubuh Flora, membawanya ke dalam pelukannya.


"Aku sangat mencintaimu, tapi ternyata kamu kakakku." Flora menangis histeris di pelukan Gio.


Aku juga sangat mencintaimu. Tapi kenapa semua harus seperti ini.


"Flora kendalikan dirimu." Gio mengusap punggung Flora, sesekali Gio juga memberikan kecupan pada ujung kepalanya Flora berharap bisa menenangkannya.


Cukup lama Gio dan Flora berada di dalam mobil. Gio juga masih memeluk Flora berharap bisa menenangkan dirinya. Suara tangisan Flora pun tidak lagi terdengar. Namun, tubuhnya masih terasa bergetar.


Gio pun sama hancurnya seperti Flora. Hanya saja ia tidak bisa menunjuknya. Ingin menangis, tetapi air matanya terasa kering. Ingin berteriak, tetapi karena lukanya terlalu dalam membuat suaranya tertahan.

__ADS_1


"Ayo aku antar kamu pulang," ajak Gio.


Flora menggelengkan kepalanya, "Aku tidak ingin pulang. Aku masih ingin di sini ... bersamamu."


Karena Flora tahu, mungkin kebersamaannya dengan Gio akan berakhir setelah hari itu. Atau mungkin sudah berakhir setelah tahu, jika dirinya dan Gio kakak beradik, hanya saja berat untuk mengakuinya.


"Baiklah, ayo turun kita masuk ke apartemen," ajak Gio.


Gio mengecup ujung kepalanya Flora dengan jeda waktu yang cukup lama sebelum menarik diri dari pelukan itu.


*****


Sementara di tempat lain, Seruni dan Farhan duduk dalam keheningan. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka ucapkan satu sama lain setelah lama tidak bertemu.


Farhan akhirnya mengakhiri keheningan itu. Setelah menarik napas dalam-dalam, Farhan mulai bicara.


"Maafkan saya Seruni. Maaf untuk apa yang sudah saya lakukan padamu. Karena saya kamu mengalami banyak kesulitan," ucap Farhan.


Seruni tidak bergeming.


"Waktu saya bertemu dengan kamu dulu, saya sedang ada masalah dengan mamanya Gio, istri saya. Waktu itu saya sangat kecewa mengetahui jika istri saya selingkuh," ucap Farhan. "Maka dari itu saya mengaku belum menikah."


"Waktu itu saya ingin meninggalkan istri saya dan mencoba mencari wanita lain. Tapi saat saya mendengar Gio sakit ... saya langsung kembali ke Jakarta dan mencoba menata rumah tangga saya lagi," jelas Gio. "Saya benar-benar tidak menduga jika Flora akan tumbuh di rahim kamu."


Seruni melihat raut wajah Farhan yang penuh dengan rasa penyesalan. Terlalu egois bagi Seruni jika ia tidak memaafkan laki-laki yang sudah meninggalkannya dalam keadaan hamil.


"Ferdi ... maaf, maksud saya Farhan ... saya sudah memaafkan kamu. Saya berterimakasih karena kamu sudah menghadirkan Flora dalam hidup saya," ucap Seruni.


"Saya memang sangat kecewa jika mengingat hal itu, tetapi saya sekarang lebih memikirkan tentang anak-anak. Bagaimana dengan mereka nantinya. Kamu mengerti maksud saya, 'kan?" lanjut Seruni.


"Inilah yang ingin saya bahas dengan kamu, Seruni," ucap Farhan.


"Sebenarnya Gio bukan anak kandung saya. Gio ternyata anak dari selingkuhan istri saya," ungkap Farhan.


Seruni menutup mulutnya karena merasa terkejut. Meskipun begitu, Seruni merasa ada cahaya dalam kegelapan setelah mendengar pengakuan dari Farhan.


"Apa Gio tahu tentang ini?" tanya Seruni.


"Tidak, hanya saya dan orang dari keluarga mendiang istri saya yang mengetahui akan hal ini," jawab Farhan.


"Itu artinya Gio dan Flora bisa menikah," ucap Seruni yang langsung dianggukki oleh Farhan.


"Saya harus memberitahukan ini pada Flora." Seruni beranjak dari kursi. Namun Farhan mencegahnya.


"Jangan, saya ingin memberikan kejutan pada mereka," ucap Farhan.

__ADS_1


Promo gaes, jangan lupa mampir ke karya baruku, Mendadak Nikah.


Jangan lupa tekan Love, jempol, dan komentarnya setelah membaca.


__ADS_2