Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Terungkap 2


__ADS_3

“Flora kendalikan dirimu,” ucap Seruni.


Tubuh Flora hampir saja jatuh jika saja Seruni dan Abi tidak menahan tubuh Flora.


“Gio, Bu ....” Flora menangis histeris mengingat apa yang dilakukan oleh Daren terhadap suaminya.


“Iya, Nak. Ibu juga melihatnya, tapi ... ibu mohon kendalikan diri kamu,” ucap Seruni diikuti tangisnya.


Flora mencoba berdiri dengan sisa tenaganya. Amarahnya sudah berada di level akut.


“Aku harus temuin Daren sekarang!” ucap Flora seraya mengusap air mata yang mengalir deras di pipinya.


“Tidak, Flora! Ini sudah malam,” cegah Seruni.


“Iya, Mba. Kita tunggu besok saja,” imbuh Abi.


Pandangan Flora mengarah pada Abi. Flora menatap asisten pribadinya dengan tatapan penuh amarah.


“Apa yang harus kita tunggu, Mas Abi? Kita sudah dapatkan bukti ini?” ucap Flora.


“Aku harus pergi sekarang juga!” Flora melangkah melewati ibunya begitu saja.


Seruni dan Abi tidak berdiam diri saja, mereka langsung mengejar Flora.


“Flora, tunggu!” panggil Seruni.


“Mba ... tunggu! Setidaknya kita tunggu mas Daniel dan pak Adam datang ke sini.” Abi menghadang langkah Flora yang langsung menghentikan langkahnya.


“Menunggu mereka? Kita bahkan tidak tahu kapan mereka akan datang! Bukankah kamu bilang mereka sedang terjebak macet,” ucap Flora.


“Jika kamu tidak mau mengantarku ke sana ... setidaknya jangan halangi aku,” ucap Flora penuh penekanan.


Flora mendorong tubuh Abi dan kembali melangkah menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumahnya.


Rasa sakit pada hatinya dan kemarahannya pada Daren, membuat Flora bersikap keras kepala bahkan lupa jika dirinya sedang hamil besar.


Flora melangkah cepat ke arah mobil. Saat ingin masuk ke dalam Abi menghentikannya.


“Oke, Mba ... jangan pergi sendiri. Aku akan ikut,” ucap Abi.


Flora mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil bersama dengan Seruni. Sementara Abi berjalan memutar ke sisi lain mobil dan duduk di kursi kemudi. Beberapa detik kemudian, mobil berwarna hitam itu melaju keluar melewati pintu gerbang rumah besar itu.


Di dalam perjalanan Flora menghubungi Daniel dan juga Adam. Flora pun meminta Daniel serta Adam untuk langsung menuju ke hotel tempat Deren menginap.


“Dia benar-benar keterlaluan! Apa dia tidak punya perasaan? Gio adalah adiknya!” maki Flora.


“Cukup, Nak. Kendalikan emosimu! Ingat ada bayi di dalam perut kamu,” ucap Seruni seraya mengusap pundak Flora.


Abi yang sedang mengemudi pun diam-diam mengirim pesan kepada Gio. Abi memintanya untuk menyusul ke hotel tempat Daren menginap.

__ADS_1


“Cepatlah, Mas Abi! Aku tidak mau dia sampai kabur lebih dulu,” ucap Flora.


“Baik, Mba,” sahut Abi.


Abi pun menambah kecepatan laju mobilnya agar mereka cepat sampai ke tempat tujuan mereka.


Mobil yang dikendarai oleh Abi sampai di hotel bersamaan dengan Adam dan juga Daniel. Mereka langsung keluar mobil masing-masing dan saling menyapa.


“Ayo segera kita temui Daren,” ajak Flora.


“Tidak, Flora,” cegah Daniel. “Kamu tetap di sini. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan juga kandunganmu,” ucap Daniel.


“Izinkan aku ikut, Daniel. Aku janji ... aku tidak akan berbuat macam-macam yang bisa membahayakan diriku. Aku hanya ingin tahu di mana suamiku dan apa alasan dia melakukan ini. Please,” mohon Flora dengan mata yang berkaca-kaca.


“Baiklah Flora, tapi janji ... jangan mendekati laki-laki itu,” pesan Daniel.


“Aku janji,” sahut Flora.


Tidak menunggu waktu lama lagi mereka pergi ke kamar hotel yang ditempati oleh Daren. Flora melangkah di samping ibunya dengan menahan amarahnya. Tangannya rasanya sudah tidak sabar untuk memukul wajah Daren.


Langkah mereka terhenti saat mereka sampai di depan kamar yang ditempati oleh Daren.


Tok tok tok


Dengan penuh kemarahan, Daniel mengetuk pintu kamar Daren. Tidak lama pintu itu mulai terbuka dari dalam dan langsung menampakkan wajah Daren.


Buuk


Daren sangat terkejut mendapat serangan dadakan dari Daniel.


“Daniel, apa yang kamu lakukan?” tanya Daren seraya memegangi pipinya yang terkena pukulan dari Daniel.


Daniel tidak menjawab melainkan kembali memberi pukulan ke perut Daren hingga membuatnya terbatuk-batuk. Tidak puas dengan itu, Daniel mendorong tubuh Daren hingga terbentur ke dinding.


“Aku gak pernah menyangka jika kamu adalah orang yang mencelakai Gio.” Daniel mencengkram kerah kemeja Daren.


“A-pa maksudmu?” tanya Daren.


“Jangan bersandiwara lagi, Daren! Aku sudah melihat rekaman video saat kamu menyuruh anak buah kamu untuk memukuli suamiku,” sela Flora.


“Ini bohong, Flora,” kilah Daren.


Pandangan Daren mengarah pada Adam, papanya. Sejujurnya Daren merasa terkejut saat melihat Adam ada di antara Daniel, tetapi Daren mencoba untuk bersikap biasa saja.


“Pah ... ini fitnah,” ucap Daren.


Adam menundukkan wajahnya sebelum menggelengkan kepalanya. “Maaf, Daren ... tapi justru papa yang memberitahukan pada mereka jika kamu adalah orang yang mencelakai Gio. Papa tidak sengaja mendengar perkataan kamu dan anak buah kamu.”


“Pah ....” Daren menunjukan senyum sinisnya pada Adam.

__ADS_1


“Kamu sudah tidak bisa mengelak lagi, Daren. Bukti itu sudah ada di tangan kami,” ucap Daniel.


Jika mereka sudah sangat yakin memegang bukti jika dirinya bersalah, maka Daren merasa dirinya sudah tidak memiliki kesempatan untuk berbohong lagi.


“Kenapa Papah seperti ini?” tanya Daren. “Kenapa, Pah!” teriak Daren.


“Kamu yang kenapa, Nak! Kenapa kamu tega melukai adik kamu sendiri?” tanya Adam.


“Dia bukan adikku!” teriak Daren.


Flora yang sedari tadi diam akhirnya ikut angkat bicara. Flora melangkah menghampiri Daren dan mendaratkan tamparan di pipi Daren.


Plaaak


“Di mana suami aku sekarang?” tanya Flora. “Di mana?” teriak Flora.


“Suami kamu sudah mati,” jawab Daren dengan berteriak.


Plaaak


Flora kembali memberikan tamparan di wajah Daren dan Daniel pun kembali memukul perut Daren.


“Kamu jahat, Daren!” maki Flora.


“Kalian yang jahat! Kalian tega memenjarakan ibuku!” teriak Daren.


Daren ingin membalas pukulan Daniel. Namun Daniel berhasil mencegahnya. Daniel memberikan pukulan di wajah Daren hingga membuatnya tersungkur tepat di bawah kaki Flora.


“Bangun! Ayo bangun!” Daniel kembali mencengkram kemeja Daren, kali ini Daniel dibantu oleh Abi.


“Papah tega melihat mereka memukulku seperti ini?” tanya Daren pada Adam.


“Maaf Daren ... papah sudah janji pada mereka. Papah tidak akan membela kamu, karena kamu memang bersalah,” ucap Adam.


“Papah jahat, dari dulu Papah memang tidak pernah membela aku. Papah lebih sayang kepada Gio,” ucap Daren.


“Bahkan sampai dia mati pun ... Papah tidak pernah membelaku, tidak pernah menyayangiku,” ucap Daren.


“Daren itu tidak benar ...,” ucap Adam.


“Diam!” bentak Daren.


Kini giliran Flora yang melampiaskan kemarahannya terhadap Daren. Flora mencengkram kerah kemeja Daren penuh amarah.


“Kenapa kamu tega melukai suami aku, ayah dari anak aku, dan adik kamu sendiri?” tanya Flora. “Kenapa kamu tega memisahkan aku dari suamiku, memisahkan anakku yang belum lahir ini dari papanya? Kenapa!”


“Dia bukan adikku! Dia hanyalah bukti dari kesalahan papaku dan juga tante Rita,” jawab Daren penuh dengan kebencian.


“Daren ... maafin papa, Nak,” ucap Adam.

__ADS_1


“Dia tidak pantas untuk mendapatkan semua kebahagian itu. Dia pantas untuk mati!” ucap Daren penuh dengan kemarahan.


“Tapi sayangnya aku masih hidup, Daren.”


__ADS_2