
Felicia dan Kenzo sudah berada di lobby hotel. Mereka dan keluarganya sudah bersiap untuk meninggalkan hotel. Felicia merasa kecewa saat dirinya harus langsung pulang ke rumah yang akan ditempatnya bersama dengan suaminya.
"Mah, Pah ... semalam saja aku menginap di rumah kalian," mohon Felicia.
"Tidak bisa, Sayang. Kamu harus pulang ke rumah kamu sendiri," larang Flora.
"Tapi, Mah ...." Felicia merasa kecewa karena permintaanya ditolak oleh kedua orang tuanya.
"Kamu ini sudah punya suami masih merengek seperti anak kecil," ledek Flora.
"Sudah sana, suami kamu sudah menunggu. Jangan biarkan dia menunggu lama," suruh Gio.
Tidak ada pilihan lagi bagi Felicia selain menuruti perintah kedua orang tuanya. Setelah berpamitan kepada kedua orangtuanya dan juga neneknya, Felicia segera melangkah mendekati suaminya.
Segera Felicia masuk ke dalam mobil yang sama bersama suaminya setelah berpamitan dengan semua orang. Felicia menurunkan kaca mobil yang ada di sampingnya, lalu melambaikan tangannya kepada semua orang sebelum mobil itu melaju.
"Daah, semua!" Felicia melambaikan tangannya kepada kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya.
Felicia berada di dalam mobil hanya berdua bersama suaminya yang sedang mengemudi. Sedangkan di belakang mobil mereka ada dua mobil milik Alan dan juga Tania.
Perjalanan mereka hanya diisi oleh keheningan. Keduanya hanya diam tanpa tahu harus bicara apa. Memang apa yang harus mereka katakan?
Setiap kali bertemu keduanya hanya membahas masalah pekerjaan. Jika di luar pekerjaan mereka hanya akan berdebat.
Keheningan masih terus terjadi, hingga suara dering ponsel milik Kenzo memecah keheningan di antar mereka. Kenzo melihat ke ponselnya. Ada nama tidak dikenal muncul di layar ponselnya. Kenzo memilih untuk mengabaikan panggilan itu.
Kenzo masih terus berkonsentrasi mengemudi dan tetap membiarkan ponselnya berdering. Ia merasa malas untuk menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Felicia.
"Dari nomor yang tidak dikenal. Aku malas untuk menerimanya," jawab Kenzo
"Terima saja. Mungkin ada yang penting," suruh Felicia.
Ponselnya masih berbunyi, tetapi kali ini bukan panggilan, melainkan sebuah pesan masuk di aplikasi.
"Sepertinya dia mengirim pesan," ucap Felicia.
"Biarkan saja," sahut Kenzo.
"Tapi bagaimana jika itu penting," ucap Felicia.
"Ck, kenapa kamu cerewet sekali!" Kenzo berdecak saat Felicia terus saja mendesaknya.
Felicia melukiskan senyum di bibirnya. Suaminya menggerutu, tetapi dia tetap mau mendengarkan perkataanya.
Kenzo lebih dulu menepikan mobilnya sebelum mengambil ponsel miliknya yang ada di atas dashboard. Ponsel sudah berada di tangannya Kenzo langsung membaca pesan yang dikirim oleh nomor yang tidak dikenalnya.
Wajah Kenzo menunjukkan kecemasan saat membaca pesan itu. Kenzo terlihat sangat gelisah.
__ADS_1
"Ada apa?" Felicia bertanya pada Kenzo saat melihat kekhawatiran di wajah laki-laki berstatus suaminya.
"Tidak ada apa-apa?" Kenzo menjawab dengan nada gugup lalu meletakan kembali ponselnya ke tempat semula.
"Tapi wajahmu terlihat pucat. Kamu yakin tidak ada masalah?" Felicia kembali bertanya pada Kenzo.
"Hmmm." Kenzo kembali melajukan mobilnya.
"Oke ...." Felicia memilih diam. Percuma saja jika terus mendesak suaminya untuk bicara jujur. Karena suaminya itu tidak akan mengatakan hal sebenarnya pada dirinya. Felicia juga sadar posisinya di mata Kenzo.
Felicia duduk dalam diam, tetapi sesekali Felicia melirik ke arah. Terlihat sekali di wajah suaminya, jika ada sesuatu yang membebani pikirannya.
"Ada apa sebenarnya. Kenapa sikapnya berubah menjadi aneh." Felicia membatin sendiri.
Mobil berhenti melaju membuat Felicia berhenti untuk mencuri pandang pada suaminya.
"Ini rumahnya?" tanya Felicia.
"Iya." Kenzo menjawab dengan singkat.
"Kamu masuk sendiri ya!" suruh Kenzo.
"Memang kamu mau ke mana?" tanya Felicia
"Aku ada pekerjaan mendadak," jawab Kenzo. "Aku akan suruh Alan untuk menemanimu sampai aku pulang."
"Oke." Felicia menyahut dengan nada lirih.
Felicia sendiri masih berdiri di depan gerbang rumah barunya. Matanya masih memperhatikan mobil yang Kenzo kendarai.
"Mau ke mana dia sebenarnya? Kenapa juga tadi dia merasa sangat gelisah." Felicia bertanya pada dirinya sendiri. "Kenapa juga aku harus peduli. Terserah dia mau ke mana saja. Lagi pula itu bukan urusanku."
Di mulutnya Felicia mengatakan tidak peduli, tetapi hatinya masih merasa khawatir. Karena sebelumnya Felicia melihat Kenzo sepertinya sangat cemas. Felicia masih berdiri di tempatnya sambil terus memperhatikan mobil milik Kenzo yang sudah mulai hilang dari pandangannya.
Tin tin tin
Suara klakson mobil milik Alan mengejutkan Felicia. Pandangan Felicia yang tadinya melihat ke arah mobil Kenzo, kini beralih pada mobil yang Alan kendarai. Tidak lama Felicia melihat pintu mobil terbuka dan memunculkan Alan dari dalamnya.
"Ibu kenapa sendiri? Bapak ke mana, Bu?" Alan bertanya pada istri bos-nya.
"Dia pergi. Katanya ada pekerjaan mendadak," jawab Felicia.
"Pekerjaan?" Alan nampak heran. Biasanya atasannya itu akan memberitahukan kepada dirinya jika ada urusan yang berkaitan dengan pekerjaan.
"Alan kamu kenapa seperti orang yang sedang kebingungan?" tanya Felicia
"Tidak ada apa-apa, Bu. Tumben saja bapak tidak memberitahukan pada saya jika ada urusan perkejaan," jelas Alan.
"Tadi bos kamu mengatakan jika kamu harus tetap tinggal di sini sampai dia kembali," ucap Felicia.
__ADS_1
"Oh baiklah, Bu," sahut Alan.
"Sekarang lebih baik buka gerbangnya. Aku ingin masuk dan beristirahat," perintah Felicia.
"Baik, Bu." Alan melangkah menjauh dari ibu bos-nya untuk membuka pintu gerbangnya.
Sementara Alan membuka pintu gerbang, Felicia memilih masuk ke dalam mobil Alan. Mobil milik Alan kembali melaju saat pemiliknya masuk kembali ke dalam mobil.
Felicia memperhatikan rumah barunya dari dalam mobil. Rumah itu memang tidak sebesar rumah kedua orangtuanya, tetapi rumah itu memiliki halaman yang cukup luas. Rumput hijau di halaman depan makin menambah suasana asri rumah barunya.
"Seleranya cukup bagus." Felicia memuji Kenzo di dalam hatinya.
"Bu, mari kita turun," ajak Alan.
Felicia merasa terpesona dengan rumah barunya hingga tidak menyadari jika Alan sudah memberhentikan laju mobilnya.
"Iya." Felicia membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Rasanya ia tidak sabar untuk masuk ke dalam rumah itu.
Pandangan Felicia mengarah pada asisten pribadinya yang baru saja turun dari dalam mobilnya. Felicia meminta pada Tania untuk masuk ke dalam rumah bersama-sama.
"Silahkan masuk, Ibu Feli," ucap Alan setelah ia membuka pintu utama rumah itu.
Felicia terperangah saat melihat bagian dalam rumah itu. Dari luar nampak kecil, tetapi saat masuk bagian dalam rumah itu ternyata sangat luas.
"Wow! Ini seperti sebuah kejutan," seru Felicia.
"Silahkan jika Anda ingin melihat-lihat rumah ini. Biar saya yang akan membereskan barang-barang Anda," ucap Tania.
"Tentu saja." Felicia langsung melangkah menyusuri rumah barunya. Sungguh Felicia merasa terpesona dengan rumah itu.
Terpesona pada rumahnya atau terpesona dengan yang memilih rumah itu?
Tidak terasa waktu terus berjalan hingga waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Felicia masih belum tidur karena Kenzo belum juga pulang. Berapa kali ia menghubungi nomer ponsel Kenzo, tetapi tidak ada jawaban.
"Ke mana dia?" batin Felicia.
Felicia memutuskan untuk kembali menghubungi nomor ponsel Kenzo. Kali ini Kenzo menerima panggilannya. Namun, Felicia terkejut saat mendengar suara dari seberang panggilannya.
Kenzo ini pakaianmu. Pakai kembali pakaianmu.
"Suara perempuan? Siapa dia?" batin Felicia.
Vera ini sudah malam, aku harus pulang. (Kenzo)
Baiklah, terima kasih sudah menemuiku. (Vera)
Felicia memutuskan untuk langsung memutus sambungan teleponnya dengan Kenzo.
Nah loh Kenzo ternyata bertemu dengan Vera. Ngapain ya?
__ADS_1
Tenang saja Felicia. Jangan sedih ya othor akan bikin Kenzo bucin sama kamu nanti. Kwkwkkw