
Flora sedang menatap pantulan dirinya pada cermin yang ada di hadapannya. Badannya terlihat gemuk dan lebar, berbeda sekali saat dirinya belum hamil. Jelaslah, bobot tubuhnya selama hamil naik sampai 10 kilogram bertambah 10 kilogram lagi setelah Gio kembali.
“Gio ilfil gak sih lihat tubuh aku sekarang.” Flora membatin seraya menatap pantulan dirinya sendiri.
Sementara itu Gio yang baru saja keluar dari kamar mandi tidak sengaja melihat tingkah aneh istrinya. Gio menaikan satu alisnya, ia merasa bingung dengan apa yang sedang istrinya lakukan.
“Sedang apa dia?” batin Gio.
Gio terus memperhatikan Flora seraya menahan tawanya. Sesaat kemudian Gio justru fokus pada pakaian yang Flora kenakan. Daster berbahan tipis yang menampakan pakaian dalam Flora.
Glek
Gio menelan air liurnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering. Sepertinya istrinya memang sengaja menyiksanya.
Gio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mendekati istrinya. Gio langsung memeluk istrinya dari belakang.
“Kamu sedang apa, Sayangku.”
Flora tersentak saat tiba-tiba suara Gio masuk ke telinganya ditambah Gio memeluknya dari belakang.
“Kamu ngagetin deh,” ucap Flora.
Gio terkekeh mendengar perkataan Flora. “Kamu lagi ngapain sih?”
“Aku lagi ngaca?” jawab Flora. “Tubuh aku gemuk banget. Kamu malu gak sih?”
“Kenapa mesti malu? Aku 'kan pernah bilang ... kamu seksi kok kalau lagi hamil gini,” ucap Gio seraya mengusap perut buncit istrinya.
“Jangan bohong,” ucap Flora.
“Benar, Sayangku,” balas Gio.
Gio masih betah memeluk Flora, meletakan dagunya di pundak istrinya. Tangannya tidak berhenti mengusap perut istrinya.
“Tinggal dua minggu lagi, 'kan?” tanya Gio.
“Iya,” jawab Flora. “Aku sudah tidak sabar menanti kelahirannya.”
“Ya, aku juga,” imbuh Gio.
Tangan Gio mulai nakal, dengan perlahan Gio menggerakkan tangannya naik ke bagian atas tubuh Flora. Memijat salah satu dari dua gundukan di depan dada Flora.
Flora tersentak dengan kelakuan Gio. Namun, Flora tidak menyingkirkan tangan suaminya. Ia membiarkan suaminya, karena dirinya sudah mulai menikmati sentuhan itu.
Sudut bibir Gio tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Gio senang melihat istrinya merasa nyaman dengan apa yang ia lakukan.
“Kamu sengaja godain aku dengan memakai pakaian ini?” tanya Gio.
“Siapa yang mau godain kamu. Aku lagi kepanasan,” jawab Flora.
“Masa ...,” bisik Gio.
Tubuh Flora mendadak merinding mendengar bisikan Gio. Flora merasa seperti ada aliran listrik yang mengalir di sekujur tubuhnya.
Flora memutar tubuhnya. Kini Flora dan Gio berdiri saling berhadapan, jarak mereka terhalang oleh perut buncit Flora.
“Masih boleh, 'kan?” tanya Gio.
Flora tentu tahu apa yang Gio inginkan. Dengan malu-malu Flora menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Aku pernah baca artikel ... kalau berhubungan suami-istri menjelang hari lahir justru bagus untuk memperlancar persalinan,” ucap Flora.
“Ya, sudah. Kalau begitu apa lagi yang kita tunggu,” ucap Gio dengan senabbha.
“Yee, kalau gini aja maunya cepet-cepet,” ledek Flora.
“Iya, dong,” sahut Gio.
Meski dengan keadaan perut Flora yang sudah membesar, tidak menghalangi mereka untuk menghabiskan malam yang panjang dan memberikan kepuasan satu sama lain.
*****
Keesokan paginya, seperti biasanya Flora menyiapkan seluruh keperluan suaminya sebelum pergi ke kantor. Saat sedang menyiapkan pakaiannya, Flora mendadak merasakan rasa tidak nyaman di area intinya.
Flora merapatkan kakinya sembari meringis. Sesaat Flora duduk di atas tempat tidur kemudian menarik napas panjang.
Rasa tidak nyaman itu hilang, Flora pun kembali melakukan aktivitasnya. Flora mengeluarkan setelan jas yang akan dipakai oleh suaminya dari dalam lemari.
Mendadak rasa tidak nyaman itu kembali datang, Flora pun kembali meringis seperti sedang menahan sesuatu.
Gio yang baru selesai mandi dibuat terkejut saat mendengar suara rintihan istrinya.
“Sayang, kamu tidak apa-apa?” tanya Gio.
Ada kecemasan pada wajah dan pada nada bicara Gio.
Flora menggelengkan kepalanya untuk merespon pertanyaan dari suaminya.
“Kamu yakin?” Gio bertanya lagi.
Flora kembali mengangguk.
“Awwww!”
Gio panik? Jelas!
Gio berjongkok di hadapan Flora kemudian mengusap perut Flora. Sakit pada perut Flora menghilang setelah Gio mengusapnya.
“Sudah merasa lebih baik?” tanya Gio yang langsung diangguki oleh Flora.
“Apa ini gara-gara semalam? Gara-gara kita berhubungan?” tanya Gio.
Wajah Gio nampak sangat khawatir dan itu terlihat oleh Flora. Flora menjadi tidak tega melihat wajah sedih suaminya. Ia tangkup kedua sisi wajah suaminya seraya menunjukan senyumnya.
“Gak kok, Sayang. Ini mungkin karena mendekati hari lahir,” ucap Flora.
Gio jelas tidak percaya begitu saja.
“Sudahlah, jangan pasang tampang kaya gitu. Gak pantas tahu,” ledek Flora.
“Aku khawatir saja. Takut kamu dan anak kita kenapa-kenapa,” ucap Gio.
“Gak, Suamiku. Nanti aku konsultasi ke Dokter,” ucap Flora.
“Oke ...,” balas Gio.
“Ayo cepat pakai kemeja kamu. Hari ini kamu ada rapat, 'kan?” ucap Flora yang langsung diangguki oleh Gio.
“Tapi kamu janji ya kamu periksakan kandungan kamu ke Dokter,” ucap Gio.
__ADS_1
“Iya, Suamiku,” sahut Flora.
“Kabari aku kalau kamu akan pergi. Aku akan menemanimu,” ucap Gio lagi.
“Iya, Suami. Kamu jadi cerewet sekali,” ledek Flora. “Lagi pula aku tidak apa-apa.”
“Aku akan tenang jika aku sudah mendengar sendiri jika Dokter yang mengatakan kamu dan anak kita baik-baik saja,” ucap Gio.
Flora hanya manggut-manggut mendengar perkataan suaminya. Sejujurnya Flora tidak menyangka kalau suaminya yang suka bicara asal, tengil, bisa begitu perhatian pada dirinya.
“Sini aku pakaikan dasinya.” Flora melingkarkan dasi ke leher suaminya lalu mengikatnya seperti biasanya.
“Sudah selesai,” ucap Flora.
“Terima kasih, Sayangku.” Gio mendaratkan satu kecupan di pipi istrinya.
Flora membereskan tempat tidurnya sambil menunggu suaminya bersiap. Mendadak rasa tidak nyaman pada area intinya datang lagi. Kontraksi pada perutnya juga terasa lagi.
Flora berusaha untuk menyembunyikan semua itu dari suaminya. Flora tidak ingin suaminya merasa khawatir membuatnya tidak jadi berangkat bekerja.
Akan tetapi Flora tidak tahu jika suaminya sudah tahu. Semua pergerakan dirinya tidak lepas dari mata elangnya Gio.
“Kamu sudah selesai?” tanya Flora.
“Sudah,” jawab Gio.
Flora mendekati suaminya dan memberikan tas kerjanya.
“Ayo kita sarapan! Ini sudah siang,” ajak Flora.
“Kamu benar tidak apa-apa, 'kan?” tanya Gio.
Flora kembali melihat ada kekhawatiran di wajah suaminya. Dengan menunjukan senyumnya Flora berharap bisa menghilangkan rasa kekhawatiran pada diri suaminya.
“Gak, Suamiku. Aku baik-baik saja,” ucap Flora.
Gio menghela napasnya mencoba untuk bersabar. Gio tahu jika istrinya mencoba untuk tidak membuatnya khawatir.
Keduanya keluar dari kamar mereka dan melangkah menuju meja makan. Flora mengambilkan sarapan untuk suaminya sedangkan dirinya hanya meminum susu yang sudah disiapkan untuk dirinya.
Selesai sarapan Gio berpamitan ke pada ibu mertuanya dan juga sang istri.
“Bu, aku antar Gio ke depan ya,” ucap Flora.
“Iya, Nak,” ucap Seruni.
Flora melingkarkan tangannya ke lengan Gio. Mereka melangkah ke arah teras depan rumah bersamaan.
“Ingat ya kabari aku jika kamu sudah sampai ke rumah sakit,” pesan Gio.
“Iya,” sahut Flora.
“Ya sudah aku berangkat dulu,” pamit Gio.
Flora menyalami tangan serta mencium punggung tangan suaminya. “Kamu hati-hati di jalan.”
Gio masuk ke dalam mobil lalu melambaikan tangannya ke arah istrinya sebelum mobil yang ia naikin melaju.
Flora sendiri kembali masuk ke dalam rumahnya setelah mobil yang membawa suaminya hilang dari pandangnya.
__ADS_1
Maaf ya semua baru bisa up lagi. Waktu terbagi dengan anak-anak yang sudah mulai sekolah.