Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 189


__ADS_3

Bohong jika Felicia tidak terpengaruh dengan ucapan Vera. Setelah Vera pergi Felicia masih tetap memikirkan hal itu. Felicia bangun dari kursi karena merasa gelisah. Ia berjalan memutari kursi dan berjalan ke dekat jendela ruangnya. Dari tempatnya berdiri Felicia bisa melihat hampir keseluruhan kota.


Helaan napasnya terlihat begitu berat. Rasa cemas benar-benar sudah menyelimuti hatinya.


"Benarkah anak yang dikandung oleh Vera memang benar anak Kenzo?" batin Felicia.


"Apakah Kenzo juga benar-benar masih menemui Vera di belakangku?" pikir Felicia.


"Aku harus bertanya sendiri tentang ini kepada Kenzo," guman Felicia.


Dari pada memikirkan hal yang belum pasti lebih baik dirinya kembali bekerja. Felicia duduk di kursinya dan memeriksa berkas yang sudah menantinya. Keningnya berkerut saat memeriksa salah satu berkas yang sedang ia periksa.


"Aku tidak pernah bekerja sama dengan perusahaan ini? Tapi kenapa berkasnya bisa ada di sini?" batin Felicia.


Felicia membolak-balikkan berkas itu. Setelah memeriksanya Felicia menemukan sesuatu.


"Ya Tuhan, ini milik Kenzo," ujar Felicia.


Felicia terkejut saat ia teringat akan sesuatu hal. "Semalam Kenzo mengatakan jika dirinya ada meeting dengan perwakilan dari perusahaan ini."


Dilihatnya waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan hampir jam makan siang.


"Meetingnya sehabis jam makan siang. Tinggal dua jam lagi. Pasti saat ini Kenzo sedang mencari berkas ini," ucap Felicia.


Felicia mengambil ponsel yang ada di meja kerjanya. Ia mencari nomor Kenzo. Setelah menemukannya Felicia menekan tombol panggil.


Beberapa kali Felicia mencoba untuk menghubungi nomor Kenzo, tetapi tidak ada respon. Felicia mencoba untuk menghubungi nomor Alan, tetapi sama saja, tidak ada respon.


"Apa yang sedang dilakukan dua pria itu?" gerutu Felicia.


Rencananya Felicia akan menghubungi perusahaan Kenzo, tetapi Felicia mengurungkan niatnya. Akan lebih baik jika dirinya menyerahkan sendiri berkas itu. Mungkin itu adalah kesempatan baginya untuk bertanya pada Kenzo mengenai anak yang sedang dikandung oleh Vera.


Tangan Felicia meraih gagang telepon yang ada di sampingnya. Ia meminta pada Tania dan juga Yuna untuk datang ke ruangannya. Selesai bicara dengan sekertarisnya gagang telepon Felicia taruh kembali di tempat semula.


Tok tok tok


"Masuk," suruh Felicia.


Pintu ruangan Felicia terbuka. Dua orang kepercayaannya muncul dari balik pintu.


"Ada apa ibu memanggil kami?" tanya Tania.


"Tania, Yuna tolong handle pekerjaanku. Aku ada urusan sebentar," perintah Felicia.


"Apa perlu saya antar?" tanya Tania.


"Tidak perlu. Kamu bantu Yuna saja di sini," tolak Felicia.


"Kamu suruh saja sopir di perusahaan ini untuk mengantarku," pinta Felicia.


"Baik, Bu," sahut Yuna.

__ADS_1


"Dan jika ada masalah langsung saja menghubungiku," ucap Felicia.


"Baik, Bu," sahut Yuna.


Felicia keluar dari dalam ruangnya. Ia melangkah ke lift khusus untuk turun ke lantai dasar. Sampai di lantai dasar Felicia keluar dari dalam lift. Dirinya masih harus melangkah untuk sampai di lobby.


Sepanjang perjalanan para karyawannya menyapanya dengan ramah, Felicia juga membalasnya dengan tidak kalah ramah.


Sampai di loby Felicia masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya ke kantor suaminya.


"Silahkan, Bu," ucap sopir khusus di perusahaannya.


"Ke Pramuja Group ya, Pak," ucap Felicia.


"Baik, Bu." Sopir itu menutup pintu mobil setelah Felicia sudah masuk ke dalamnya.


Felicia duduk di bangku penumpang belakang dengan memegang berkas perusahaan milik Kenzo di tangannya. Tidak lama mobil yang ia naiki melaju.


Sepanjang perjalanan Felicia duduk dalam diam. Pikirannya masih melayang memikirkan tentang Kenzo dan juga Vera. Felicia sangat berharap jika anak yang dikandung oleh Vera bukanlah anak dari Kenzo.


Awalnya keheningan mengiringi perjalanan Felicia. Namun, keheningan itu berakhir setelah bunyi klakson dari banyak mobil di sekelilingnya mendatangkan suara yang bising.


Lamunan Felicia buyar karena suara bising itu. Dilihatnya sekelilingnya tenyata jalan yang sedang dirinya lalui sudah padat bahkan hampir tidak ada celah bagi mobilnya untuk melaju.


Felicia kembali melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya pantas saja macat waktu sudah menunjukan hampir jam makan siang.


Awalnya Felicia masih sabar menunggu mobilnya bergerak, tetapi waktu terus berputar ia takut jika dirinya telat untuk memberikan berkas itu pada Kenzo.


Namun, lagi-lagi panggilannya tidak direspon oleh Kenzo maupun asisten pribadi suaminya. Felicia memutuskan untuk keluar dari mobil dan melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.


"Pak saya turun di sini saja ya," ucap Felicia.


"Tapi kita belum sampai, Bu," ujar sang sopir.


"Tidak apa-apa. Sudah tidak jauh ini. Jika menunggu sampai kemacetan ini berakhir akan sangat lama. Dan saya takut akan terlambat memberikan berkas ini kepada suami saya," terang Felicia.


"Baiklah, Bu. Hati-hati di jalan," ucap sang sopir.


"Bapak langsung pulang saja. Saya akan pulang bersama suami saya," ucap Felicia.


"Baik, Bu," sahut sang sopir.


Felicia turun dari dalam mobil setelah melingkarkan tali tas ke pundaknya. Langkah kakinya menyusuri trotoar di jalan sekitar gedung perusahaan milik suaminya. Perjalanan masih lumayan jauh kira-kira seratus meter lagi.


Felicia berjalan dengan langkah terburu-buru dengan membawa berkas di tangannya. Susana trotoar jalan itu memang sudah ramai. Banyak pejalan kaki yang melintas di tempat itu.


Beberapa saat kemudian Felicia merasakan seseorang mendorong tubuh bagian belakangnya hingga membuatnya jatuh tersungkur ke lantai trotoar itu.


"Awww!" pekik Felicia.


Tidak ada yang peduli pada dirinya. Orang-orang di sekitarnya hanya memandanginya saja.

__ADS_1


Felicia hanya bisa berdecak untuk meratapi nasibnya. Diambilnya berkas yang sempat jatuh dari tangannya. Saat akan bangun Felicia meringis karena merasakan sakit.


Felicia melihat ke bawah tubuhnya tepatnya di bagian lutut. Salah satu lututnya terluka.


"Awww!" Felicia mencoba untuk bangun dengan menahan rasa sakitnya.


Dengan susah payah akhirnya Felicia bisa berdiri. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat seseorang yang baru saja mendorongnya, tetapi dirinya tidak tahu siapa karena banyak orang berlalu lalang di tempat itu.


Meksipun terasa sakit, tetapi Felicia tetap melangkah menuju kantor suaminya. Usahanya tidak sia-sia, Felicia sampai di depan pintu masuk gedung perkantoran milik suaminya.


"Ibu Felicia."


Felicia menoleh saat ia mendengar ada yang memanggilnya. Matanya melihat laki-laki yang ia kenali sebagai asisten pribadi suaminya.


"Ibu kenapa?" tanya Alan.


"Ini semua gara-gara kamu dan juga bos-mu," omel Felicia.


Tentu saja Alan merasa bingung kenapa ibu bos-nya memarahi dirinya secara tiba-tiba.


"Ke mana saja kamu? Dari tadi saya mencoba menghubungimu dan juga Kenzo," tanya Felicia.


"Maaf, Bu ... saya sedang sibuk. Kami kehilangan —" Alan belum menyelesaikan ucapannya dan sudah dipotong oleh Felicia.


"Kehilangan ini!" Felicia menunjukan berkas yang ada di tangannya kepada Alan.


"Iya, benar, Bu." Alan menerima berkas yang diberikan oleh Felicia.


"Bagaimana ini bisa ada sama Ibu?" tanya Alan.


"Berkas itu terbawa saya. Dari tadi saya menghubungimu dan juga Kenzo, tapi tidak ada yang menjawabnya. Makanya saya mengantarnya ke sini," jelas Felicia.


"Terimakasih banyak, Ibu Felicia." Alan merasa sangat lega berkas yang ia cari sudah berada di tangannya. Jika tidak dirinya akan mendapatkan masalah dari bos-nya.


"Mari Bu saya antar ke ruangan bapak Kenzo," ucap Alan yang langsung disetujui oleh Felicia.


Felicia melangkah di depan Alan dengan langkah yang masih tertatih. Sementara Alan yang berjalan di belakangnya merasa tidak tega. Asisten pribadi Kenzo diam-diam menghubungi Kenzo dan memberitahukan pada atasannya mengenai keadaan istrinya.


"Anda tidak apa-apa?" tanya Alan.


"Apa aku terlihat baik-baik saja?" Felicia balik bertanya. "Ini sakit."


"Sebaiknya Ibu menunggu di sini saja. Sebentar lagi bapak akan turun untuk menjemput Ibu," terang Alan.


Felicia menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Alan. Belum sempat Felicia bicara kepada Alan, suara Kenzo sudah lebih dulu masuk ke telinganya.


"Felicia ... kamu tidak apa-apa?" tanya Kenzo.


Bukannya menjawab Felicia justru terpaku saat melihat keadaan suaminya. Tarikan napas Kenzo nampak tersengal-sengal, seperti orang yang habis berlari dengan terburu-buru. Bukan hanya itu saja, Felicia juga bisa melihat rasa cemas di raut wajah suaminya.


"Kenapa tidak menjawab? Kamu baik-baik saja?" Kenzo mengulangi pertanyaannya kembali.

__ADS_1


"Ya, hanya lututku ...." Felicia terkejut saat Kenzo tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kantornya.


__ADS_2