
“Sayangnya aku masih hidup, Daren.”
Semua orang menoleh ke asal suara.
“Elang,” gumam Flora.
Ada keterkejutan di wajah semua orang, tetapi tidak dengan Abi dan Daniel. Meskipun wajahnya berbeda, tetapi mereka sudah memastikan jika laki-laki itu adalah Revaldo Giovanni Ferdinand.
“Siapa kamu?” tanya Daren.
“Kamu sungguh tidak mengenaliku, Daren?” Gio berjalan masuk ke kamar hotel itu, melangkah menghampiri Daren.
Dengan segera Gio menarik tangan Flora, menyembunyikan istrinya di balik tubuhnya. Dengan penuh amarah, Gio menarik kerah kemeja Daren.
“Apa kamu lupa dengan orang yang kamu keroyok di basemant hotel di Amerika?” teriak Gio.
“Tidak mungkin! Kamu pasti bukan Gio! Dia sudah mati.” Daren balas berteriak.
“Sayangnya dugaanmu salah. Aku masih hidup.” Gio memukul wajah Daren hingga membuatnya terpental ke atas tempat tidur. “Meskipun wajahku berbeda, tapi aku tetap sama. Aku Gio,” ungkap Gio.
“Apa kamu pikir, setelah aku tiada kamu bisa menjadikan Flora milikmu? Jangan bermimpi!” ucap Gio.
Gio mendaratkan pukulan bertubi-tubi pada seluruh tubuh Daren. Gio seolah sedang membalas apa yang sudah Daren lakukan padanya waktu di Amerika.
Flora berdiri di samping Seruni. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar karena merasa ketakutan saat melihat Daren dipukuli oleh laki-laki yang ia kenali sebagai Elang.
“Gio ... cukup! Jangan pukul dia lagi,” ucap Daniel.
Belum hilang rasa takut dan terkejut pada diri Flora, kini Flora dibuat bingung saat laki-laki yang ia kenal sebagai Elang, kini Daniel panggil dengan sebutan Gio.
“Jangan hentikan aku, Daniel! Aku akan memberikan pelajaran pada laki-laki ini,” ucap Gio. “Dia harus merasakan apa yang aku rasakan dulu.”
“Dia bisa mati!” Daniel menarik Gio dan menjauhkannya dari Daren yang sudah babak belur.
“Abi, bawa Daren pergi dari sini!” perintah Daniel.
Abi membawa Daren keluar dari kamar hotel itu. Abi berniat membawa Daren ke kantor polisi dibantu oleh tiga orang bodyguard yang dibawa oleh Gio.
Napas Gio masih naik turun, amarahnya masih berada di level akut. Rasanya ia sangat ingin menghabisi Daren, orang yang sudah mencelakai dirinya.
“Tenanglah, Gio! Kamu membuat istrimu ketakutan,” ucap Daniel.
Gio merendam amarahnya saat mengingat istrinya. Gio mengalihkan pandangannya ke arah Flora, benar saja Gio melihat tubuh istrinya gemetar karena ketakutan. Gio juga tahu jika istrinya berada dalam kebingungan.
Tidak ingin lagi menunda, Gio langsung mendekati Flora. Ada banyak hal yang harus ia jelaskan kepada sang istri.
“Flora ....” Gio menghentikan langkahnya tepat di hadapan Flora.
“Elang ...,” ucap Flora.
Gio langsung menangkup kedua sisi wajah Flora. “Aku Gio, Flora.”
“Hah, bagaimana bisa?” tanya Flora dengan suara lirih.
“Aku ....” Belum sempat Gio menjawab pernyataan dari istrinya, Gio lebih dulu terkejut saat tubuh Flora mendadak lemas sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
“Flora ... Flora.” Gio menepuk-nepuk pipi Flora berharap istrinya akan membuka matanya.
“Sebaiknya kita bawa Flora ke rumah sakit. Dia mungkin syok melihat kejadian ini,” ucap Seruni.
“Gio, bawa Flora ke lobby. Aku akan mengambil mobil,” ucap Daniel yang langsung dianggukki oleh Gio.
__ADS_1
Gio mengangkat tubuh Flora dengan hati-hati agar tidak terlalu menekan perutnya. Dengan langkah cepat, Gio membawa Flora ke lobby.
Sampai di lobby Seruni membukakan pintu mobil untuk Gio. Setelah Gio dan Flora sudah masuk ke dalam mobil, Seruni pun menyusul mereka.
“Ayo, cepatlah Daniel,” ucap Gio.
“Baiklah,” sahut Daniel.
Daniel segera melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
Mobil yang Daniel kendarai berhenti tepat di depan UGD. Daniel dan Seruni serta Adam turun lebih dulu untuk membantu Gio menurunkan Flora.
Flora sudah dipindahkan ke bankar dan dibawa ke ruang UGD. Gio masih setia menemani Flora, meski sedang diperiksa oleh seorang Dokter. Rasa cemas menyelimuti hati Gio. Namun, saat Flora sadar tarikan napas Gio begitu sangat lega.
“Flora, kamu baik-baik saja?” tanya Gio.
“Elang ... kamu ....” Flora masih memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
“Jangan terlalu banyak berpikir, Sayang.” Gio mengusap kepala Flora diikuti senyumannya. Gio tahu Flora masih merasa bingung.
Pandangan Gio beralih pada Dokter yang memeriksa Flora. Gio bertanya pada Dokter mengenai keadaan istri dan calon anak mereka.
“Bagaimana keadaan istri dan kandungannya, Dokter?” tanya Gio.
“Ibu dan calon anaknya baik-baik saja. Hanya saja istri Anda terlalu lelah dan mungkin terlalu banyak pikiran yang membuat istri Anda pingsan,” jawab jawab.
“Itu berarti saya boleh pulang?” tanya Flora.
“Hei, Sayang ... apa yang kamu katakan?” tanya Gio.
“Aku ingin pulang. Aku janji akan banyak beristirahat di rumah. Aku merasa tidak nyaman di sini,” ucap Flora.
“Baiklah, tapi untuk malam ini Anda harus menginap. Jika besok keadaan Anda sudah lebih baik maka saya akan mengizinkan Anda pulang,” ucap Dokter.
“Baiklah.” Flora mengangguk.
“Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Dokter itu diikuti oleh perawat di belakangnya.
****
Flora sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Hanya ada Gio dan Flora di ruangan itu. Untuk beberapa saat hening mengambil alih suasana di antara mereka.
Flora dan Gio hanyut dalam pemikiran mereka sendiri. Flora diam seraya berpikir tentang Elang. Benarkan Elang itu Gio? Lalu kenapa waktu di pertama kali bertemu di Bali, Gio tidak mengenali dirinya?
“Apa kamu masih belum percaya jika aku ini Gio, Flora?” tanya Gio.
Flora yang sedari tadi melihat ke langit-langit kamar inap itu, menoleh ke arah Gio. Flora menatap Gio penuh arti. “Sejujurnya ... iya.”
“Kenapa? Apa karena wajahku?” tanya Gio.
“Iya.” Flora mengangguk.
Gio meraih tangan Flora untuk ia genggam. Gio mengarahkan pandangannya ke arah Flora.
“Tapi aku yakin perasaanmu tahu jika aku ini Gio. Aku masih ingat jelas waktu di Bali, saat aku masih hilang ingatan —”
“Apa? Kamu hilang ingatan?” tanya Flora.
“Ya, Flora. Makanya waktu kita bertemu di Bali ... aku sama sekali tidak mengenalimu?” jelas Gio.
“Lalu bagaimana kamu bisa ingat aku sekarang?” tanya Flora.
__ADS_1
“Aku mulai ingat saat aku mengalami kecelakaan di dekat rumah kita,” jawab Gio. “Aku langsung menghubungi Abi —” Lagi-lagi ucapan Gio terpotong oleh Flora.
“Jadi Abi tahu tentang ini?” tanya Flora.
“Ya, hanya Abi dan Daniel yang tahu,” jawab Gio.
“Lalu kenapa kamu mereka tidak memberitahukan ini padaku?” protes Flora.
“Aku yang melarang mereka memberitahukan ini padamu. Setidaknya sampai Daren tertangkap,” ucap Gio.
“Percayalah padaku, Flora ... aku Gio bukan Elang,” ucap Gio. “Kalau kamu masih belum percaya, aku akan melakukan tes DNA dengan om Adam.”
“Kalau kamu memang Gio ... lalu bagaimana kamu bisa berubah menjadi Elang?” tanya Flora.
“Mungkin hanya om Mahendra yang bisa menjawab pertanyaanmu ini, Sayang,” ucap Gio.
Flora memandang wajah suaminya dengan mata yang berkaca-kaca, sebelum akhirnya air mata itu jatuh dari matanya. Flora merasa bahagia saat bisa bertemu lagi dengan suaminya.
“Hei, Sayang ... kenapa kamu menangis?” Gio mengusap air mata Flora yang jatuh di pipinya.
Flora tidak menjawab, tetapi justru langsung memeluk Gio. “Aku sangat merindukanmu. Aku berpikir jika kita tidak akan bertemu lagi.”
Gio membalas pelukan Flora dan mendaratkan kecupan di ujung kepala Flora. “Aku juga sangat merindukan dirimu, Sayang.”
“Ehmmm.”
Suara deheman seseorang membuat Flora dan Gio menarik diri dari pelukan itu.
“Ibu ...,” ucap Flora.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Seruni.
“Iya, Bu. Aku baik-baik saja,” jawab Flora.
Seruni memandang wajah Gio, jujur Seruni juga belum mempercayai jika laki-laki yang ada di hadapannya adalah Gio, menantunya.
Flora pun menyadari kebingungan di wajah ibunya. Flora bisa menebak jika ibunya pun merasa tidak percaya jika Elang adalah Gio.
“Bu, dia itu beneran Gio,” ucap Flora. “Lebih ganteng dari yang dulu, 'kan?”
Seruni dan Gio terkekeh bersama setelah mendengar perkataan Flora.
“Iya, Bu ... aku Gio,” imbuh Gio.
Seruni mengusap sisi wajah Gio. “Kamu beneran Gio?”
“Iya, Bu.” Gio mengangguk.
“Kamu baik-baik saja 'kan, Nak?” tanya Seruni. “Ibu lihat kamu dipukuli sama orang-orang itu.”
“Aku sekarang baik-baik saja, Bu ... jangan khawatir,” jawab Gio.
“Sekarang lebih baik Ibu pulang dan istirahat. Biar Gio yang jaga Flora di sini,” ucap Gio.
“Iya, Bu. Ibu istirahat saja di rumah, aku baik-baik saja, kok,” imbuh Flora.
“Ibu tahu kalian ingin berduaan saja. Tapi ingat ... ini di rumah sakit,” ledek Seruni.
“Ibu apaan sih,” rengek Flora.
“Ya sudah, ibu pulang dulu. Sekalian ibu mau kasih kabar kembalinya menantu ibu ini pada tante Mariana,” ucap Seruni.
__ADS_1
“Ibu hati-hati di jalan ya,” ucap Flora.
“Kalian juga,” balas Seruni.