
Entah bagaimana ceritanya, Felicia tiba-tiba saja mendapatkan kabar jika Kenzo mengalami kecelakaan. Padahal beberapa saat yang lalu dirinya mendapatkan kabar dari Kenzo jika dia sedang dalam perjalanan pulang.
Saat mendengar kabar itu, jantung Felicia seakan diremas kuat, rasanya sangat sakit, kakinya lemas bahkan hampir tidak bisa menopang tubuhnya. Jika saja Felicia jatuh pingsan jika saja waktu itu tidak ada bibi yang menahan tubuhnya.
"Ibu, kenapa?" Bibi menuntun Felicia duduk di sofa yang ada di dekat mereka.
"Kenzo, Bi. Kenzo ... kecelakaan." Felicia berkata dengan gagap, rasanya dadanya sesak, hingga dirinya kesulitan untuk bicara.
"Ya Gusti, kok yo bisa kecelakaan? Wong tadi bapak baru saja telepon." Bibi pun juga merasa tidak percaya dengan kabar mengenai Kenzo.
Felicia menggelengkan kepalanya, dirinya sendiri juga tidak percaya dengan kabar itu. Akan tetapi, ada seseorang yang menelpon dirinya menggunakan nomor ponsel Kenzo. Orang itu mengatakan jika Kenzo mengalami kecelakaan. Bahkan Kenzo sudah tidak sadarkan diri.
"Saya harus ke rumah sakit." Dengan sekuat tenaganya Felicia berdiri dari tempat yang ia duduki.
"Saya temani, Bu," ucap Bibi.
"Iya, Bu." Felicia menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapatkan kabar itu, Felicia tidak bisa menahan dirinya dan segera pergi ke rumah sakit dengan ditemani oleh bibi. Baru saja Felicia akan naik ke mobilnya, Kenzi lebih dulu datang, mengurungkan niat Felicia untuk masuk ke dalam mobil.
"Kakak ipar, kalian mau pergi?" tanya Kenzi saat baru saja turun dari mobil.
"Iya, Kenzi. Kami harus ke rumah sakit." Tanpa memberitahukan alasannya pada Kenzi, Felicia langsung saja masuk ke dalam mobil.
"Tunggu!" Kenzi menahan pintu mobil Felicia, mencegahnya masuk ke mobilnya.
"Ke rumah sakit? Untuk apa? Dan kenapa wajahmu terlihat sangat cemas?" Kenzi bertanya pada Felicia, dirinya juga ikut cemas melihat kekhawatiran di wajah kakak iparnya.
"Tadi ada yang meneleponku dengan memakai nomor Kenzo. Dia mengatakan jika Kenzo kecelakaan," jelas Felicia seraya menitihkan air matanya.
"Apa!" Jelas sekali Kenzi merasa terkejut, sama seperti saat Felicia baru saja mendapatkan kabar itu.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang. Ayo, Bi." Felicia dan bibi akan masuk ke dalam mobilnya, tetapi Lagi-lagi Kenzi mencegahnya.
"Tunggu! Aku akan mengantarmu," ucap Kenzi.
Pandangan Kenzi beralih ke bibi. Dia meminta pada bibi untuk tetap di rumah. "Bibi tolong jaga rumah. Biar saya yang akan mengantar Felicia ke rumah sakit."
"Baik, Pak," sahut Bibi.
"Ayo, Feli," ajak Kenzi.
__ADS_1
"Iya, ayo." Felicia kembali menutup pintu mobilnya serta menguncinya. Ia masuk ke dalam mobil yang sama dengan Kenzi.
"Kenzi dibawa ke rumah sakit mana?" tanya Kenzi.
"Aku baru menelpon, orang itu mengatakan akan membawanya ke rumah sakit terdekat. Kalau tidak salah rumah sakit Harapan Kasih," jawab Felicia
"Oke." Kenzi langsung mengarahkan mobilnya ke tempat yang Felicia beritahukan.
Sepanjang perjalanan mereka, Felicia tidak bisa berhenti menitihkan air matanya. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama yaitu Kenzo. Hatinya merasa tidak tenang jika belum melihat keadaan suaminya secara langsung.
"Kakak ipar, tolong kendalikan dirimu," ucap Kenzi.
"Aku benar-benar tidak tenang, Kenzi. Aku takut Kenzo ... dia ...." Felicia tidak sanggup untuk meneruskan kalimatnya. Dirinya berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan Kenzo, dan luka yang dialami suaminya tidak parah.
"Kenzi, bagaimana bisa dia kecelakaan. Belum ada setengah jam yang lalu dia menghubungiku. Dia memberitahu jika dia dalam perjalanan pulang?" ucap Felicia.
"Tenanglah, Feli. Kita berdoa saja. Semoga Kenzo baik-baik saja," ucap Kenzi.
Felicia mengangguk, dirinya juga sangat berharap suaminya akan baik-baik saja.
"Oh iya, apa Alan bersama Kenzo?" tanya Kenzi.
"Aku tidak tahu," jawab Felicia.
"Baiklah," ucap Felicia.
Felicia merogoh tas kecilnya untuk mengambil ponsel miliknya. Baru aja dirinya akan mencari nomor ponsel Alan, tetapi asisten pribadi suaminya sudah lebih dulu menghubunginya.
"Alan telepon." Felicia menoleh ke arah ke Kenzi yang sedang mengemudikan mobil.
"Cepat angkat!" suruh Kenzi.
Tidak menunda lagi, Felicia mengangkat panggilan dari Alan. Setelah benda pipih berada di dekat telinganya Felicia langsung mencecar begitu banyak pertanyaan kepada Alan.
"Alan kamu di mana? Kenapa suami saya bisa kecelakaan? Dan bagaimana keadaan suami saya?" tanya Felicia pada Alan yang ada di seberang panggilan.
"..."
"Kakak ipar, bertanyalah satu-satu padanya. Jangan membuatnya bingung," ucap Kenzi.
Felicia mencoba mengendalikan dirinya. Setelah merasa lebih tenang, Felicia mencoba kembali memberikan pertanyaan pada Alan. Ada ketenangan dalam diri Felicia setelah bicara dengan Alan. Ternyata asisten pribadi suaminya sudah berada di rumah sakit. Dia juga mengatakan jika Kenzo baik-baik saja.
__ADS_1
Tadinya Felicia ingin bicara dengan Kenzo, tetapi Alan mengatakan jika Kenzo masih ditangani oleh Dokter.
"Baiklah, aku dan Kenzi sedang dalam perjalanan ke sana." Setelah mengatakan kalimat itu, Felicia mengakhiri sambungan teleponnya.
Felicia menaruh kembali ponsel miliknya ke dalam tasnya. Setelah itu Felicia menyenderkan kepalanya di punggung kursi yang ia duduki. Napasnya lega setelah mendengar kabar jika suaminya dalam keadaan baik-baik saja.
"Apa katanya? Kenzo baik-baik saja, 'kan?" tanya Kenzi.
"Syukurlah dia baik-baik saja." Felicia mengangguk untuk merespon perkataan dari adik iparnya.
"Syukurlah." Kenzi ikut merasa lega mendengar saudara kembarnya baik-baik saja.
"Cepatlah Kenzi! Aku ingin melihat keadaannya," ucap Felicia.
"Sabarlah, kita tidak bisa ngebut dalam keadaan jalan padat seperti ini," ucap Kenzi.
Felicia langsung melihat ke jalanan yang ada di depannya, sangat padat oleh kendaraan. Tidak ada celah sedikitpun bagi kendaraan untuk melaju.
"Ya Tuhan!" Felicia menahan air matanya saat melihat kondisi jalan yang sedang dirinya lalui.
"Sabarlah, Feli. Yang terpenting kamu sudah mendengar kabar jika Kenzo baik-baik saja," ucap Kenzi.
"Iya, tapi tidak biasanya jalanan macet seperti ini," ucap Felicia.
Kenzi melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu baru saja menunjukan bahwa tiga sore. "Kamu benar juga."
Meskipun hatinya sangat cemas memikirkan bagaimana kondisi suaminya, tetapi yang bisa dirinya perbuat saat itu hanyalah bersabar.
Sudah berulang kali Felicia melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah sekitar satu jam dirinya dan Kenzi terjebak oleh kemacetan.
"Ck, kapan kemacetan ini akan berakhir?" ucap Felicia.
"Aku akan mencoba mencari jalan pintas," ucap Kenzi.
Beruntung sebelum Kenzi mencari jalan pintas, kemacetan berakhir. Ternyata ada sebuah mobil derek yang sedang mengangkut mobil bekas kecelakaan. Felicia melihat mobil itu, ia jelas mengenali mobil yang baru saja diderek.
"Itu mobil Kenzo, 'kan?" Felicia masih terus memandangi mobil berwarna hitam yang rusak parah di sebelah kirinya.
"Ya Tuhan, mobilnya sampai rusak seperti itu," ucap Felicia.
Kenzi mengikuti arah pandang Felicia. Benar saja, bagian kiri mobil Kenzo rusak parah. Hatinya kembali dirundung gelisah. Ia kembali merasa cemas memikirkan keadaan Kenzo.
__ADS_1
"Kenzi, aku tidak percaya jika Kenzo baik-baik saja. Lihat mobilnya sampai rusak parah seperti itu." Air mata yang sempat berhenti, kembali mengalir.
Meskipun Alan sudah mengatakan jika Kenzo baik-baik saja, tetapi melihat kerusakan pada mobil Kenzo, membuatnya kembali cemas. Bisa saja Alan berbohong mengenai kondisi Kenzo agar membuatnya tidak merasa khawatir. Kini perasaan khawatir Felicia justru lebih lebih dari sebelumnya.