
Tidak ada pilihan lain bagi Felicia selain mengizinkan suaminya untuk menginap bersamanya di kediaman Ferdinand. Meskipun suaminya itu menyebalkan, tetapi Felicia juga tidak tega untuk mengusirnya pulang.
"Ya sudah, kamu boleh menginap di sini," ucap Felicia.
"Aku tidak perlu izin darimu untuk menginap di sini," ucap Kenzo yang langsung membuat mata Felicia terbelalak.
"Aku mandi dulu, siapkan bajuku! Dan baju gantiku ada di dalam mobil." Kenzo berjalan masuk ke dalam kamar mandi seraya memerintah Felicia.
"Seenaknya saja menyuruh-nyuruh." Felicia mengerucutkan bibirnya seraya melipat kedua tangannya.
Dengan wajah merengut Felicia berjalan keluar dari kamar untuk mengambilkan pakaian ganti milik suaminya. Felicia berjalan menuruni anak tangga. Beruntung kedua orang tuanya sudah masuk ke dalam kamar mereka sehingga Felicia bisa menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan oleh mereka.
Langkah kaki Felicia berhenti di samping mobil milik Alan yang masih terparkir di depan rumahnya.
"Alan," panggil Felicia.
"Iya, Bu." Alan yang sedang mengobrol bersama dengan Gavindra menoleh ke arah istri dari atasannya.
"Ambilkan saya pakaian ganti milik bos-mu. Setelah itu kamu pulang saja. Kenzo akan menginap di sini," perintah Felicia.
"Baik, Bu." Alan membuka bagasi mobilnya untuk mengambil pakaian milik bos-nya yang memang selalu tersedia di dalam mobilnya.
"Ini, Bu." Kenzo menyerahkan paper bag berisi pakaian milik bos-nya. Ada satu setel pakaian santai dan satu setel pakaian kerja milik Kenzo.
"Terima kasih. Setelah ini kamu pulang saja," suruh Felicia yang langsung disambut anggukan kepala oleh Alan.
Felicia melangkah untuk kembali masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti saat adiknya memanggilnya.
"Kak Feli," panggil Gavindra.
Felicia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah adiknya dengan tatapan waspada. "Ada apa?"
"Kasih aku keponakan yang lucu-lucu ya," goda Gavindra.
Sudah Felicia duga, pasti adiknya akan mengganggunya.
"Diam kamu!" Felicia memilih untuk masuk ke dalam rumah dari pada mengurusi adiknya yang memang hobi mengganggunya.
Felicia kembali ke kamarnya, ternyata suaminya belum keluar dari dalam kamar mandi. Ditaruhnya paper bag berisi pakaian suaminya lalu mengeluarkan pakaian santai dari dalamnya.
Felicia melangkah ke arah kamar mandi untuk memberikan pakaian kepada suami.
"Kenzo kamu sudah mandi?" tanya Felicia seraya mengetuk pintu kamar mandi.
Tidak ada sahutan, tetapi tidak lama pintu kamar mandi terbuka dari dalam. Dari balik pintu kamar mandi yang sudah terbuka Felicia melihat tubuh atletis milik suaminya. Itu berhasil menciptakan rona merah di kedua sisi wajahnya.
"Ini pakaianmu." Felicia memberikan satu setel pakaian santai kepada Kenzo dengan wajah yang berpaling.
__ADS_1
"Terima kasih." Kenzo menerima pakaian setelah itu ia kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Felicia menarik napas panjang saat suaminya sudah kembali masuk ke dalam kamar mandi. Ia pegang dadanya, degup jantungnya sudah tidak sekencang sebelumnya. Tidak di pungkiri tubuh atletis suaminya memang bisa menggodanya.
"Lebih baik aku tidur lebih dulu," ucap Felicia.
Meski sudah pernah melakukan hubungan suami-istri, tetapi Felicia masih merasa canggung untuk tidur satu ranjang dengan Kenzo. Felicia berulang kali tidur dengan berguling ke kanan dan ke kiri. Matanya tidak berhenti melihat ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup. Di dalam ruangan itu masih ada suaminya yang masih mandi. Sudah setengah jam suaminya ada di dalam kamar mandi, tetapi selama itu Kenzo belum juga keluar.
"Sedang apa dia di dalam?" batin Felicia.
Sementara di dalam kamar mandi Kenzo sudah selesai mandi, tetapi ia tidak langsung keluar dari kamar mandi. Kenzo memilih diam sejenak di depan wastafel. Ia menatap pantulan dirinya yang seolah sedang menatapnya.
Kenzo berdiam sejenak untuk merenungkan sesuatu. Hal yang sedang ia renungkan adalah tentang pernikahannya dengan Felicia.
Kenzo tidak berbohong saat ia mengatakan kepada Felicia jika ia ingin melupakan Vera. Dengan tetap melanjutkan perjodohannya, sebenarnya Kenzo sudah mengambil keputusan untuk melupakan semua kenangannya bersama mantan kekasihnya itu.
Meskipun memang rasanya sangat sulit untuk melupakan semua kenangan indah bersama Vera, tetapi ia harus melupakan perempuan yang sudah bukan miliknya. Kenzo sangat berharap bersama Felicia dirinya bisa melupakan Vera.
Tok Tok Tok
"Kenzo apa kamu tidur di dalam sana?"
Suara istrinya masuk ke dalam indra pendengarnya membuat renungan Kenzo menjadi buyar. Kenzo mendesah sebelum ia keluar dari dalam kamar mandi. Kenzo menarik gagang pintu untuk membuka pintu itu. Pintu kamar mandi sudah terbuka membuat Kenzo berhadapan langsung dengan istrinya.
"Ada apa?" tanya Kenzo.
"Memastikan apa?" tanya Kenzo.
"Jika kamu benar-benar mau tidak di dalam kamar mandi maka aku akan memberikanmu selimut dan juga bantal," jawab Felicia seraya melipat bibirnya untuk menahan tawanya.
"Tidak lucu," sungut Kenzo.
Felicia terawa melihat Kenzo merasa kesal. "Kamu lucu kalau lagi marah."
Kenzo berjalan menjauh dari Felicia dengan rasa kesal. Langkah kakinya membawanya ke arah tempat tidur. Rasa letih membuat Kenzo memilih untuk langsung merebahkan tubuhnya di sana.
Tangan kanannya ia jadikan bantal dengan pandangan mengarah ke langit-langit kamarnya. Mata Kenzo berkedip beberapa kali sebelum akhirnya mata-mata itu benar-benar terpejam.
"Eh cepet banget tidurnya?" Felicia terheran saat suaminya sudah memejamkan matanya. "Mungkin dia lelah."
Felicia menyusul suaminya ke tempat tidur. Sebenarnya Felicia masih merasa canggung tidur satu ranjang dengan Kenzo, tetapi dari pada dirinya harus tidur di sofa.
Saat akan merebahkan tubuhnya Felicia dikejutkan oleh suaminya yang tiba-tiba menaruh kepalanya di atas pangkuannya.
"Hei, apa-apaan ini?" tanya Felicia.
"Kepalaku sakit. Jadi ... pijat kepalaku," perintah Kenzo.
__ADS_1
"Tidak mau," tolak Felicia.
"Tidak boleh nolak perintah suami," ucap Kenzo.
"Selalu saja seperti itu," gerutu Felicia.
"Sudah cepat! Jangan cerewet! Pijat saja kepalaku," perintah Kenzo.
"Iya, iya," sahut Felicia.
Felicia menggerakkan tangannya untuk memijat kepala Kenzo, tetapi karena rasa tidak ikhlas membuat pijatan itu tidak terasa enak di kepala Kenzo.
"Apa kamu tidak memiliki tenaga? Kenapa pijitnya pelan sekali?" ucap Kenzo.
Felicia sengaja menekan pijatan di kepala Kenzo, hingga membuat suaminya itu memekik.
"Awww! Apa kamu ingin meremukkan kepalaku?" omel Kenzo.
"Ada apa lagi? Tadi bilang kurang keras," ledek Felicia.
"Iya, tapi jangan terlalu keras. Bukannya mengurangi rasa sakitku malah kamu justru menambah rasa sakit di kepalaku," omel Kenzo.
"Sudah cepat pijat yang benar!" suruh Kenzo.
"Iya, iya. Dasar bawel," ejek Felicia.
Tidak seperti sebelumnya, kini Felicia memijat kepala Kenzo dengan penuh perasaan. Mungkin karena merasa nyaman, Kenzo tidak lama tertidur pulas.
Felicia masih belum menyadari jika suaminya sudah tertidur. Ia terus memijat kepala suaminya. Felicia baru menyadari itu saat pertanyaannya tidak dijawab oleh suaminya.
"Besok kamu masuk kerja jam berapa?" tanya Felicia.
Tidak ada respon.
"Kenzo," panggil Felicia.
Masih tidak ada respon.
"Ken-zo ...." Alis Felicia terangkat sebelah saat melihat mata Kenzo sudah terpejam.
"Kenzo kamu tertidur atau berpura-pura?" tanya Felicia.
Tidak ada sahutan.
Felicia mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Kenzo untuk memastikan jika suaminya itu sudah benar-benar tertidur.
"Dia sudah benar-benar tertidur rupanya." Felicia tersenyum melihat suaminya sudah tertidur. Setidaknya ia tidak akan lagi mendengar ocehan suaminya.
__ADS_1
Felicia memindahkan kepala Kenzo ke atas bantal dengan hati-hati lalu menarik selimut untuk menyelimuti tubuh laki-laki yang berstatus suaminya. Felicia masuk ke dalam selimut yang sama dengan suaminya lalu mematikan lampu dan menyusul suaminya ke alam mimpi.