
Hening mengambil alih suasana di dalam mobil, tetapi kegaduhan ada di dalam batin Aura. Ketika Gavindra mengajaknya untuk bertemu dengan kedua orangtuanya pada saat itu juga terjadi peperangan di dalam batin Aura.
Bagaimana ini apa aku ikut saja?
Suara batin yang satunya lagi bicara.
Sudah santai saja sih. Ikut saja! Lumayan dapat mertua kaya.
Suara batin yang tadi bicara pertama kali kembali bicara.
Iya kalau mereka setuju. Jika tidak bagaimana?
Ya tidak apa-apa. Tidak ada ruginya, kan? Lagi pula kenapa harus mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Ayo Aura jangan menyerah.
Dan setelah itu pertarungan pun selesai.
Aura diam sambil mencerna semuanya. Benar apa yang dikatakan oleh suara hatinya. Untuk apa mencemaskan sesuatu yang belum terjadi.
"Sudah sampai," ucap Gavindra.
Lamunan Aura buyar ketika merasakan pergerakan mobil yang ia naiki berhenti. Aura melihat ke sekelilingnya, ia merasa asing dengan tempat itu. Tempat itu kosong, tidak ada siapapun. Hanya ada mobil yang berjejer di tempat itu.
"Ayo kita turun," ajak Gavindra.
"Ke mana?" Aura mencegah Gavindra untuk turun.
"Ck, sudah ikut saja. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Tidak napsu juga," ujar Gavindra yang membuat Aura ingin membungkam mulut Gavindra.
"Bisa tidak jika bicara jangan bawa-bawa napsu?" tanya Aura kesal.
"Entah!" Gavindra mengangkat kedua bahunya.
"Menyebalkan!" maki Aura.
Setelah itu Aura turun dari mobil menyusul Gavindra dan mengikutinya seperti anak ayam mengikuti induknya.
Aura masih bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya ke mana Gavindra akan membawanya? Setelah berjalan melewati pintu kaca besar Aura baru tahu mereka berada di pusat perbelanjaan. Aura tidak banyak bicara, ia terus mengikuti Gavindra sampai ke salon kecantikan.
"Di mana Irene?" tanya Gavindra pada salah satu pegawai di salon itu.
"Ada di ruangannya, Pak," jawabnya.
Tidak lama setelah itu ada seorang wanita cantik dengan pakaiannya yang seksi datang menghampiri. Aura melihat wanita itu dengan tatapan aneh. Apalagi saat tiba-tiba wanita itu langsung memeluk Gavindra bahkan tidak malu untuk mencium Gavindra.
Huh dasar tidak tahu malu!
"Apa kabar, Sayangku?" tanya Iren.
"Aku baik," jawab Gavindra.
"Apa kamu ke datang sini khusus untuk menemuiku?" tanya Iren dengan suaranya yang manja.
Aura yang mendengarnya merasa muak. Tidak tahu perasaan apa yang sedang Aura rasakan. Entah itu cemburu atau bukan yang jelas Aura tidak suka Gavindra terlalu intim dengan Irene.
"Tidak, aku hanya minta tolong. Rias gadis ini menjadi secantik mungkin," jawab Gavindra.
"Siapa gadis ini?" tanya Irene.
"Namanya Aura," jawab Gavindra.
"Apa dia keponakanmu?" tanya Iren dengan pandangan tidak suka dan Aura sebagai sesama wanita menyadari itu.
Gavindra menoleh sejenak ke arah Aura lalu membawa pergi Irene menjauh ke sudut ruangan yang tertutup oleh sebuah dinding. Aura berdecak tidak bisa mendengar percakapan mereka.
Sementara itu dirasa sudah aman Gavindra menjawab pertanyaan Irene.
"Dia calon istriku!" jawab Gavindra.
"Apa?" jelas Irene sangat terkejut.
Gavindra langsung membungkam mulut Irene agar suaranya tidak sampai terdengar orang lain.
"Jangan marah. Nanti malam kita bertemu dan akan aku jelaskan," jelas Gavindra.
"Baiklah, tapi aku tidak ingin hanya sekedar bertemu. Aku ingin melakukan hal lain juga. Aku sangat merindukannya," pinta Irene.
"Tentu saja," balas Gavindra.
Tanpa malu Irene menarik tengkuk Gavindra mencium bibir Gavindra dengan rakus bahkan membuat Gavindra kewalahan. Bukan hanya itu saja Irene berani mengusap-usap milik Gavindra yang merupakan bagian terlarang.
"Tidak sekarang, Baby." Gavindra menjauhkan tangan Irene dari miliknya.
"Aku sudah tidak sabar, Sayang." Irene merangkul leher Gavindra dan segaja menempelkan dadanya ke tubuh Gavindra.
"Tunggulah sampai nanti malam. Harus ada yang aku urus sekarang." Gavindra menjauhkan tangan Irene dari lehernya lalu mengecup sekilas bibir Ireng.
"Ubah gadis kecil itu menjadi wanita yang sangat cantik. Demi aku," rayu Gavindra.
"Meskipun ini terdengar sangat menyebalkan. Tapi aku akan melakukan ini untukmu," ucap Irene.
__ADS_1
"Terima kasih, aku akan memberimu hadiah malam nanti yang tidak akan pernah kamu lupakan." Setelah mengatakan kalimat itu Gavindra kembali ke tempat Aura berada.
Dengan sabarnya Gavindra duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di salon itu. Sesekali ia melihat ke arah Aura yang sedang dirias oleh Irene sendiri. Setelah cukup lama menunggu Gavindra memutuskan untuk menghampiri Aura dan Irene.
Gavindra menarik salah satu kursi. Ia duduk di dekat Aura juga Irene. Pria itu melihat hasil karya Irene di wajah Aura.
"Bagaimana? Apa kamu suka?" tanya Irene.
"Perfect. Tidak salah aku mempercayakan ini padamu, Irene," puji Gavindra.
"Untuk ini, kamu harus membayarku lebih nanti malam," ucap Irene dengan suaranya yang dibuat manja.
"Halo, boleh aku muntah di sini." Aura bicara di dalam hatinya.
"Jangan khawatir. Aku pasti akan melakukan itu," ucap Gavindra. "Sekarang aku harus pergi," pamit Gavindra.
"Sampai jumpa nanti malam di tempat biasa," ucap Irene yang langsung dianggukki oleh Gavindra.
Gavindra kembali menggenggam tangan Aura membawanya pergi dari salon itu. Mereka kembali berjalan menuruni tangga eskalator menuju salah salah satu butik terkenal yang ada di pusat perbelanjaan itu.
"Tolong pilihkan gaun untuk wanita ini," ucap Gavindra pada salah satu pegawai butik itu.
"Baik, Pak. Mari Mba ikut saya," ucap pegawai itu yang langsung dianggukki oleh Aura.
Sambil menunggu Aura, Gavindra memilih berjalan-jalan untuk melihat-lihat apa saja yang dijajakan oleh butik tersebut. Langkah Gavindra sampai pada tempat untuk fitting baju. Bersamaan dengan itu muncul aura ddari dalamnya.
Dress warna hitam dengan panjang sampai batas lutut melekat di tubuh Aura. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Rambut lurus bergelombang dengan bagian bawahnya dibuat ikal dibiarkan terurai.
"Siapa kamu? Apa kamu gadis kecil itu?" tanya Gavindra membuat kening Aura mengerut.
"Jangan meledek. Aku ini Aura. Apa aku bertambah jelek sehingga kamu tidak mengenaliku." Aura memberengut karena ia pikir Gavindra sedang meledek. Padahal Gavindra tidak mengenali Aura karena gadis kecil itu nampak sangat cantik.
Ini si bukan jelek. Tapi cantik sekali.
Aura memang berubah setelah di rias oleh Irene. Namun kecantikannya makin terlihat jelas saat Aura berganti pakaian.
"Kenapa malah diam? Kalau ini ttidak cocok aku ganti saja." Aura berbalik ingin ke ruang ganti, tetapi langkahnya terhenti karena Gavindra mencegahnya.
"Jangan!" larang Gavindra.
"Kenapa? Aku tidak mau jadi bahan tertawaan oleh keluargamu nanti," ucap Aura.
Ck, bagaimana caranya aku mengatakan jika gadis ini sangat cantik. Jika aku mengatakannya secara langung ... pasti dia akan menertawakan aku. Gadis kecil ini juga akan besar kepala.
"Kenapa bengong lagi?" tanya Aura membuat lamunan Gavindra buyar.
"Jika kamu berganti pakaian lagi itu akan membuang-buang waktu," ucap Gavindra. "Sudah ini saja," imbuh Gavindra.
"Tidak ada tapi-tapian." Gavindra menarik tangan Aura membawanya pergi dari butik itu.
Gavindra berjalan dengan tergesa-gesa. Ia ingin segera pergi dari keramaian itu. Kegugupan karena melihat kecantikan Aura membuat ia terlihat bodoh dan Gavindra tidak ingin orang lain melihat kebodohannya. Akan tetapi apa yang tidak ingin Gavindra inginkan terjadi. Gavindra lupa akan sesuatu yaitu lupa membayar gaun yang dipakai oleh Aura. Saat keluar dari toko dan baru melewati pintu salah satu pegawai di toko itu memanggilnya.
"Pak, tunggu!" cegah pegawai toko.
Gavindra tidak berhenti karena tidak menyadari jika pegawai toko itu memanggil dirinya. Akan tetapi tidak dengan Aura.
"Hei, berhenti!" suruh Aura.
"Kita harus segera pergi," tolak Gavindra.
"Tapi itu di belakang ada yang memanggil kita," ucap Aura.
"Biarkan saja," ucap Gavindra.
"Tapi mereka mengejar kita," ucap Aura lagi.
"Sudah aku bilang biarkan saja." Gavindra menoleh sejenak ke arah Aura lalu mempercepat langkahnya.
Aura menoleh ke belakang. Matanya membulat saat melihat tiga orang mengejarnya dan dua orang di antaranya adalah petugas keamanan. Kening Aura mengerut, ia merasa bingung kenapa sampai ada petugas keamanan yang mengejar mereka.
"Tolong berhenti," pinta Aura lagi.
"Aku bilang tidak itu artinya tidak. Jangan mengajakku berdebat," ucap Gavindra tanpa menoleh ke belakang.
Aura menghembuskan napas kasar merasa kesal dengan Gavindra yang tidak mau mendengar perkataannya. Aura bingung bagaimana caranya lagi mengatakan kepada Gavindra apa yang sedang terjadi.
"Setidaknya berhenti dan lihat apa yang terjadi di belakang kita!" Aura menahan langkanya agar Gavindra juga berhenti.
"Ada apa lagi, Ra?" Gavindra menoleh dan betapa terkejutnya melihat beberapa orang dm sedang berlari ke arahnya. Ada apa ini?
"Ada apa sih?" Aura berbisik di dekat telinga Gavindra.
"Aku juga tidak tahu." Gavindra balas berbisik.
Mata Aura dan Gavindra terus melihat ke arah orang-orang yang mengejar mereka dengan tatapan bingung.
"Pak, mereka orangnya," ucap seorang wanita.
"Ada apa ini?" tanya Gavindra.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Sebaiknya kalian berdua ikut kami ke kantor keamanan," suruh salah satu satpam.
"Mau ngapain?" tanya Gavindra.
"Kalian sudah melakukan tindakan pencurian," jawab wanita yang bekerja di butik yang Gavindra datangi.
Kening Aura dan Gavindra mengerut, mereka saling memandang dengan pandangan bingung.
"Eh, maaf ya Pak, Mbak. Apa ada tampang pencuri di wajah kami?" tanya Gavindra seraya menahan rasa kesalnya. "Ada tidak?" ulang Gavindra.
"Memang tidak," jawab salah satu satpam.
"Mana ada pencuri ngaku," ucap wanita itu.
"Alasan apa Anda menuduh saya pencuri? Apa Anda tidak tahu siapa saya?" tanya Gavindra.
"Kalau kalian bukan pencuri kenapa kalian pergi dari toko tanpa membayar baju ini dulu? Saya panggil juga Anda tidak berhenti," ucap wanita itu.
Gavindra menepuk keningnya karena gugup melihat kecantikan Aura dirinya sampai lupa akan satu hal penting itu.
"Astaga!" Gavindra menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Tadinya Gavindra tidak ingin terlihat bodoh di mata orang karena rasa gugupnya, tetapi hal yang tidak diinginkannya justru terjadi.
"Berapa harga gaun ini?" tanya Gavindra.
"Bisa dicek di label," jawab wanita itu.
Gavindra membolak-balikkan tubuh Aura mencari label gaun yang dipakai oleh Aura. Namun tidak menemukannya.
"Di mana labelnya?" tanya Gavindra seraya menahan rasa kesalnya.
"Mungkin ada di bagian leher belakang," jawab wanita itu.
"Putar tubuhmu!" perintah Gavindra.
Aura menganggukkan kepalanya dan melakukan apa yang Gavindra perintahkan.
Dengan segera Gavindra mencari keberadaan label yang ditunjukkan oleh pegawai butik yang ia kunjungi sebelumnya. Setelah menemukannya, Gavindra melepaskan label tersebut dari gaun yang Aura pakai. Terlihat harga dari gaun yang Aura kenakan.
Gavindra mengambil uang cash dari dalam dompetnya sesuai nominal yang tertera di label tersebut dan memberikannya kepada pegawai butik.
"Ini! Kamu bisa ambil kembaliannya!" ucap Gavindra.
"Terima kasih, Pak," ucap wanita itu.
"Setelah ini, jika kamu berani menyebutku sebagai pencuri lagi makan bersiaplah untuk angkat kaki dari pusat perbelanjaan ini," ancam Gavindra.
Gavindra menatap satu per-satu orang yang mengejarnya dan menyebutnya sebagai pencuri.
"Saya Gavindra Abimana Ferdinand. Anak dari pemilik saham terbesar di moll ini," ucap Gavindra.
Jangan ditanya bagaimana reaksi pegawai butik dan para satpam mendengar nama Gavindra Abimana Ferdinand. Mereka hanya pernah mendengar nama itu, tetapi belum bertemu secara langsung dengan si pemilik nama.
"Enak saja menyebutku sebagai pencuri," gerutu Gavindra. "Ayo kita pergi," ajak Gavindra.
Gavindra membawa Aura pergi. Kali ini Gavindra tidak memegang pergelangan tangan Aura, melainkan menyatukan tangannya dengan Aura mengisi setiap ruang di sela-sela jari mereka.
Keduanya berjalan menuju tempat mobil Gavindra terparkir. Sepanjang perjalanan tidak hentinya Gavindra menggeruru, tetapi itu membuat Aura melipat bibir untuk menahan tawanya.
"Sial, bagaimana bisa mereka menyebut Gavindra Abimana Ferdinand seorang pencuri?" gerutu Gavindra.
"Sudah jangan marah-marah terus," ucap Bella masih dengan menahan tawanya.
"Bagaimana aku tidak merasa kesal mereka seenaknya menuduhku," ucap Gavindra.
"Tapi mereka tidak sengaja. Lagipula ini juga kesalahan kamu. Bagaimana kamu bisa lupa untuk membayar gaun ini, " ucap Aura.
"Ini terjadi semua gara-gara kamu." Gavindra bicara di dalam hatinya.
"Yang namanya kelupaan ya pasti tidak ingat," ucap Gavindra.
"Semua orang juga tahu itu," balas Aura.
Tidak ada pembicaraan setelah itu sampai mereka berada di parkiran mobil. Sampai di samping mobil Gavindra menekan salah satu tombol yang ada di kunci mobil untuk membuka kunci mobil.
"Masuklah!" Gavindra membukakan pintu mobil untuk Aura.
Aura sendiri tidak langsung masuk ia justru berencana ingin kembali menggoda Gavindra saat melihat wajah Gavindra yang masih terlihat masam.
"Ayolah, jangan cemberut lagi. Wajahmu tidak terlihat tampan saat ini" Aura menaik-turunkan kedua alisnya.
Gavindra melihat Aura membuat pandangannya bertemu di satu titik yang sama. Ada sesuatu yang Gavindra lihat di wajah Aura membuat miliknya tiba-tiba menegang. Gavindra menekan air liurnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba mengering.
"Apa kamu sengaja ingin menggodaku, gadis kecil?" Gavindra menarik Aura ke pilar penyangga parkiran yang ada di dekat mereka.
"Ka-mu ma-u ... apa?" Aura bicara tergagap. Iya gugup karena tatapan Gavindra yang terlihat nakal.
Gavindra menghimpit Aura di antara tubuhnya dan pilar. Kedua tangannya ia letakan di samping tubuh Aura untuk mengunci pergerakan gadis kecil itu. Gavindra kembali menelan air liurnya karena tenggorokannya kembali mengering. Sudah sedari tadi Gavindra mencoba menghindari Aura, tetapi gadis itu justru mancingnya.
__ADS_1
Cukup lama mereka beradu pandang dalam diam. Menciptakan rasa gugup dalam diri masing-masing. Jantung mereka berdegup begitu kencang. Satu sama lain berharap tidak ada yang mendengarnya. Gavindra sudah tidak tahan lagi. Bibir Aura seolah menariknya. Tanpa izin dari Aura Gavindra melahap bibir Aura.