Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Cinta Dalam Kebencian


__ADS_3

Betapa bahagianya Flora saat Abi mengatakan jika Gio masih sangat mencintainya. Semuanya terlihat semakin jelas, Flora yakin jika Gio dalam pengaruh Dini. Dalam kemarahan dan kekecewaannya Dini berhasil menghasut Gio.


Setelah bertemu dengan Abi, Flora memutuskan untuk pergi ke kantor untuk menemui suaminya. Kesalahanpahamannya dengan sang suami harus segera diselesaikan.


“Baiklah, Mas Abi aku pergi dulu. Terimakasih atas waktunya,” ucap Flora.


“Sama-sama. Jangan putus asa untuk membuat Gio sadar, Flora,” balas Abi.


“Sampai jumpa, Mas Abi.” Flora beranjak dari kursinya dan melangkah keluar dari cafe itu.


Flora melangkah ke tempat mobilnya terparkir dan tiba-tiba ada dua orang laki-laki menaiki sepeda motor melaju ke arahnya dan mencoba merampas tas Flora. Dalam keadaan terkejut, Flora mencoba menahan tasnya, tetapi yang terjadi justru lebih buruk. Pengendara motor itu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh membuat Flora terseret. Flora terjatuh dan terguling di jalanan hingga beberapa meter dari mobilnya.


Beberapa pengunjung cafe yang melihat itu langsung berteriak dan mencoba mengejar dua pengendara motor itu. Sebagian lagi menolong Flora yang terbaring di jalan dengan terluka hampir sekujur tubuhnya.


Abi yang masih berada di dalam cafe itu berlari saat tahu Flora yang mengalami kecelakaan itu.


“Flora.” Abi berulangkali menepuk pipi Flora, tetapi tidak ada respon dari istri bosnya itu.


Abi segera mengangkat tubuh Flora dan membawanya ke rumah sakit.


*****


Sementara di tempat lain.


Gio duduk di kursi di ruangan kerjanya. Pikirannya kacau bukan karena pekerjaannya yang menumpuk, melainkan masalahnya dengan Flora. Bukan maksudnya untuk melukai Flora, hanya saja rasa kecewa karena dirinya bukan anak kandung Farhan dan kenyataan tentang ibunya membuatnya bingung bagaimana harus bersikap.


Gio memutuskan untuk menyudahi pekerjannya dan berniat untuk merebahkan tubuhnya sejenak di atas sofa. Saat akan beranjak dari kursi, ponselnya berdering. Ada nama Abi tertera di layar ponselnya.


“Ada apa?” tanya Gio pada Abi yang ada di seberang panggilan.


“Mas Gio, Flora kecelakaan,” jawab Abi dari seberang panggilan.


Gio terdiam mendengar kabar jika Flora kecelakaan. Jantungnya bergerumuh dan pikiran negatif pun muncul di pikiran Gio. Tanpa berpikir panjang lagi, Gio memutus panggilan itu dan segera pergi dari kantor itu.


Gio terus berlari tanpa memandang arah. Gio bahkan tidak peduli saat ia menabrak karyawannya. Yang Gio pikirkan saat itu hanyalah Flora. Gio tidak tenang jika belum memastikan keadaan Flora baik-baik saja.


Gio berlari menuju tempat mobilnya terparkir dan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Gio terus berdoa berharap Flora tetap baik-baik saja. Meskipun Gio membenci Flora, tetapi masih ada cinta yang begitu besar di dalam dirinya untuk Flora.


“Jika terjadi sesuatu padamu aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri,” ucap Gio dalam hatinya.


Bersyukur jalanan sedang tidak dalam kondisi padat, membuat Gio cepat sampai ke rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, Gio langsung melangkah dengan berlari kecil menuju ke ruang UGD. Gio melihat Abi duduk di depan ruang UGD, wajahnya pun terlihat sangat cemas.


“Abi, di mana Flora?” tanya Gio. “Lalu bagaimana keadaannya.”


“Flora ada di dalam dan Dokter masih memeriksanya,” jawab Abi.


“Bagaimana ini bisa terjadi?” Ada kecemasan pada nada bicara Gio.

__ADS_1


“Aku juga tidak tahu pasti. Para pengunjung cafe itu mengatakan jika ada yang ingin mengambil tasnya, tetapi Flora menahannya. Orang itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Flora terseret,” jelas Abi.


Gio mengusap wajahnya kasar terlihat sekali kekhawatiran di wajahnya.


Tidak lama seorang perawat dan Dokter keluar dari ruang UGD. Segera Gio dan Abi menghampirinya.


“Dokter bagaimana keadaan istri saya?” tanya Gio.


“Jangan khawatir, semua baik saja. Tidak ada luka yang serius. Tapi untuk sementara istri Anda harus dirawat agar kami bisa memantau kondisinya,” jawab Dokter itu.


“Baiklah, Dok,” ucap Gio.


“Kalau begitu saya tinggal dulu. Silahkan untuk mengurus prosedur untuk perawatan istri Anda,” suruh Dokter itu.


“Boleh saya melihat kondisi istri saya?” tanya Gio.


“Tentu, silahkan. Saya juga sudah memberinya suntikan agar istri Anda bisa beristirahat,” jawab Dokter itu.


Gio masuk ke dalam ruang UGD untuk melihat kondisi Flora, sedangkan Abi mengurus prosedur untuk perawatan Flora.


Gio melihat Flora terbaring di atas ranjang rumah sakit. Matanya terpejam, mungkin ia sedang tertidur. Ada banyak luka di bagian tubuhnya. Kepalanya pun dibalut perban. Jarum infus sudah tertancap di pergelangan tangannya.


Gio menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala Flora lalu mendaratkan kecupan pada kening perempuan berstatus istrinya.


“Dasar perempuan bodoh,” maki Gio dengan suara lirih. “Hanya sebuah tas kenapa tidak kamu berikan saja. Kenapa harus melakukan hal yang bisa melukai dirimu sendiri seperti ini.”


Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Prosedur rumah sakit untuk perawatan Flora sudah selesai dilakukan dan Flora juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Gio masih setia menemani Flora dan menyuruh Abi untuk membawakan pekerjaannya ke rumah sakit.


“Gio ....”


Gio menghentikan gerakan tangannya. Dan mempertemukan pandangannya dengan Flora.


“Kamu sudah bangun?” tanya Gio dengan lembut.


Flora bergerak dan ingin mengambil posisi duduk. Namun, rasa sakit di sekujur tubuhnya menghentikannya.


“Awwww!” pekik Flora.


“Tidurlah! Jangan banyak bergerak,” suruh Gio.


Flora kembali pada posisi semula lalu mengedarkan pandangannya.


Ini rumah sakit


“Kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit?” tanya Gio.


Flora menganggukkan kepalanya, ”Seluruh tubuhku sakit.”

__ADS_1


“Akan aku panggilkan Dokter untukmu,” ucap Gio.


Gio menekan tombol yang ada di samping ranjang untuk memanggil Dokter. Dan tidak lama Dokter pun masuk ke ruangan itu bersama seorang perawat. Dokter mulai memeriksa keadaan Flora.


“Apa yang Anda rasakan?” tanya Dokter itu pada Flora.


“Seluruh tubuhku rasanya sakit semua,” jawab Flora.


“Baiklah. Sebelumnya saya sudah memeriksa keadaan Anda. Tidak ada luka yang serius. Tapi untuk beberapa hari ini Anda harus tetap dirawat agar saya bisa memantau kondisi Anda.” Dokter meminta pada seorang perawat untuk memberikan obat pereda nyeri pada Flora. ”Diminum tepat waktu ya,” pesan Dokter.


“Terimakasih, Dokter,” ucap Flora.


“Sama-sama. Kalau begitu saya permisi,” pamit Dokter itu.


Setelah Dokter itu pergi, Gio mengambil makan yang sudah disediakan untuk Flora. Gio pun mengambil posisi duduk di hadapan Flora dan mulai menyuapinya.


“Abi sudah menceritakan semua padaku,” ucap Gio seraya menyuapi Flora makan. “Jangan lakukan hal bodoh seperti itu lagi.”


“Aku hanya mencoba untuk mempertahankan milikku,” ucap Flora.


“Tapi setidaknya pikirkan keselamatanmu,” ucap Gio. “Itu hanya tas, kamu bisa membelinya lagi.”


“Di dalam tas itu ada ponselku,” ucap Flora.


“Aku akan membelikannya lagi,” ucap Gio.


“Di dalam ponsel itu ada foto-foto kita.” Flora menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya.


Akan tetapi Gio melihatnya, Gio melihat air mata itu. Gio meraih sisi wajah Flora untuk mengusap air matanya.


“Itu hanya sebuah ponsel dan foto, Flora. Yang terpenting bagiku kamu baik-baik saja,” ucap Gio.


Flora melihat ke arah wajah Gio, tidak ada kebencian di wajah suaminya. Justru Flora bisa melihat kekhawatiran di wajah suaminya. Melihat hal itu Flora memikirkan suatu untuk memastikan perasaan Gio yang sebenarnya.


“Kenapa kamu mengkhawatirkan keadaanku? Harusnya kamu senang jika aku celaka, bukan,” ucap Flora.


“Jangan pernah bicara seperti itu lagi, Flora.” Gio terkejut saat Flora tiba-tiba bicara seperti itu.


“Kenapa? Jika aku celaka, kamu akan bebas untuk bersama wanita lain, 'kan.”


“Hentikan Flora!”


“Kenapa? Bukankah kamu membenciku?”


“Flora ....”


“Jawab Gio!”

__ADS_1


“Karena aku masih mencintaimu, Flora.”


Segini dulu ya gaes. Lagi gak fokus.


__ADS_2