Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Menjelang Persalinan


__ADS_3

Gio membatalkan semua temu janjinya dengan semua rekan bisnisnya saat mendengar kabar jika Flora akan melahirkan. Padahal Flora baru pembukaan satu.


Gio sangat terkejut mendengar kabar itu. Padahal hari perkiraan lahir masih dua minggu lagi.


“Abi, apa kamu tidak bisa membawa mobil?” Gio mengomel pada Abi yang sedang mengendarai mobil. “Kenapa bawanya lamban sekali!”


“Jalanan lagi padat, Mas,” jawab Abi.


“Shit,” umpat Gio.


Gio berulang kali menarik napasnya untuk memberinya sebuah kesabaran. Sudah satu jam dirinya duduk di dalam mobil berkutat bersama kemacetan.


Rasa lega dirasakan oleh Gio saat mobil yang ia naikin masuk ke dalam area rumah sakit. Gio langsung turun dari mobil saat Abi memberhentikan mobilnya di lobby rumah sakit.


“Tetap di sini! Jangan ke mana-mana,” perintah Gio.


“Baik, Mas,” sahut Abi.


Gio turun dari mobil, sedangkan Abi mencari tempat untuk memarkiran mobilnya. Gio berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju tempat Flora dan ibu mertuanya menunggu.


*****


Flora masih ada di rumah sakit bersama Seruni. Sudah berulang kali juga Flora mengatakan pada suaminya untuk tidak khawatir. Dirinya masih pembukaan satu dan kemungkinan bayi itu lahir esok harinya.


Flora juga sudah mengatakan pada suaminya jika Dokter sudah menyuruhnya untuk pulang. Akan tetapi suaminya menyuruh dirinya untuk tetap berada di rumah sakit, menunggunya sampai datang.


Satu jam Flora menunggu suaminya di rumah sakit bersama ibunya. Saat menunggu Flora beberapa kali mengalami kontraksi palsu.


Rasanya Flora sudah tidak sabar menunggu suaminya. Usapan tangan suaminya biasanya mampu meredakan rasa sakit saat perutnya mengalami kontraksi.


“Gio lama banget ya, Bu?” tanya Flora.


“Mungkin sebentar lagi, Nak. Ini 'kan jam-nya macat,” ucap Seruni.


Baru saja Seruni selesai bicara, Gio terlihat sedang berjalan ke arah mereka.


“Nah, itu Gio.” Seruni menunjuk Gio yang sedang berjalan ke arah mereka.


Flora mengikuti arah pandang ibunya. Matanya melihat suaminya sedang berjalan terburu-buru.


“Kamu tidak apa-apa?” Gio bertanya pada Flora setelah berada di dekat istrinya.


“Aku 'kan sudah mengatakan jika aku baik-baik saja. Dokter juga sudah mengatakannya ... aku sudah diizinkan untuk pulang,” ucap Flora.


“Tidak kamu harus tetap di sini. Bagaimana jika sampai di rumah nanti kamu sakit lagi?” ucap Gio.


“Tapi —”


“Ibu, tolong beritahukan pada Flora untuk mendengarkan aku,” pinta Gio.

__ADS_1


“Flora, benar kata suami kamu. Lebih baik kamu di sini saja. Kalau kamu kenapa-kenapa jadi langsung bisa ditangani,” ucap Seruni.


“Iya, Bu ...,” ucap Flora.


Gio langsung memesan kamar VVIP untuk Flora. Gio sendiri juga yang menemani istrinya di rumah sakit.


Flora sendiri merasa bosan hanya makan dan tidur di rumah sakit. Ia merasa bosan, pemandangan yang membuat Flora bertahan adalah wajah tampan suaminya.


Flora yang awalnya merebahkan dirinya di tempat tidur kini berpindah duduk di samping suaminya.


“Kamu kenapa belum tidur?” tanya Gio.


“Aku belum mengantuk,” jawab Flora.


“Kamu juga kenapa belum tidur?” Flora bertanya balik pada Gio.


“Nanti saja, aku nunggu kamu tidur,” jawab Gio. “Lagi pula pekerjaanku belum selesai.”


”Tapi aku pengin diusap perutnya sama kamu,” rengek Flora.


“Eh, kok tiba-tiba jadi manja,” goda Gio.


“Memang gak boleh manja sama suami sendiri,” protes Flora seraya mengerucutkan bibirnya.


“Ya sudah, ayo aku temani kamu tidur!” ajak Gio.


Flora dan Gio beranjak dari sofa, mereka menuju ke tempat tidur. Mereka sama-sama merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur yang sempit itu.


Sejujurnya Gio juga sudah merasa mengantuk, tetapi Gio takut jika sewaktu-waktu nanti Flora merasakan sakit lagi. Namun, rasa kantuk yang sudah tidak tertahan lagi membuat Gio ikut terlelap.


Waktu terus berjalan hingga jam di ruangan rawat Flora sudah menunjukan pukul 1 malam. Ruangan yang awalnya sunyi mulai ada suara yang mengisi.


Tidur Gio terusik saat suara rintihan Flora masuk ke dalam indra pendengarannya. Gio membuka matanya. Ia arahkan pandangannya ke arah istrinya.


“Sayang ... kamu kenapa?” tanya Gio.


“Perut aku sakit banget.” Suara Flora sudah terdengar tidak jelas.


Jawaban Flora langsung mengejutkan Gio. Dengan segera Gio beranjak dari atas tempat tidur. Ditekannya tombol di samping ranjang untuk memanggil Dokter.


Gio kembali mendekati istrinya yang masih merintih. Seketika kepanikan hinggap di dalam diri Gio saat melihat istrinya merasa kesakitan.


“Ibu ...,” panggil Flora.


Gio menggenggam tangan Flora seraya mengusap kening istrinya yang terlihat berkeringat.


“Aku telepon ibu ya,” ucap Gio.


Flora hanya mampu mengangguk untuk merespon perkataan suaminya.

__ADS_1


Saat Gio sedang menelfon ibu mertuanya pintu ruang rawat terbuka. Gio menolehkan pandangannya, matanya melihat seorang Dokter dan perawat masuk ke ruangan itu.


Perawat itu menutup tirai untuk menutupi Flora. Gio makin panik. Gio berpikir Flora akan melahirkan detik itu juga.


Gio berjalan mondar-mandir di dalam ruangan itu. Ingin sekali ia menembus tirai itu untuk melihat keadaan istrinya. Namun, baru saja Gio mau masuk Dokter muncul dari balik tirai.


“Istri saya kenapa, Dok? Apa dia akan melahirkan sekarang?” tanya Gio dengan paniknya.


“Kemungkinan besok pagi, Pak. Ibu Flora sudah masuk pembukaan empat,” jawab Dokter itu.


“Hah!” Wajah Gio nampak pucat mendengar jawaban Dokter.


“Suruh ibu Flora berjalan-jalan agar pembukanya lebih cepat,” pesan Dokter.


“Iya, Dok.” Gio berucap dengan diikuti rasa cemas.


“Baiklah, kami permisi dulu. Nanti setiap jam kami akan datang untuk memeriksa ibu Flora,” ucap Dokter itu sebelum keluar dari ruang rawat Flora.


Setelah Dokter dan perawat itu pergi Gio kembali menghampiri Flora. Gio kembali mengusap kening istrinya serta menggenggam tangannya.


“Sakit banget?” tanya Gio.


Flora mengangguk. “Lumayan ....”


“Kata Dokter perkiraan kamu melahirkan itu besok,” ucap Gio.


“Ya.” Flora mengangguk. “Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya.”


“Ya, aku juga,” sambung Gio.


“Sepertinya anak kita juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengah kita,” imbuh Gio.


Gio memberikan kecupan di kening dan juga di punggung tangan Flora, tidak lupa juga perut Flora.


Sesuai perintah dari Dokter, Flora harus banyak-banyak berjalan untuk mempercepat pembukaan. Kini Flora sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamar rawat inapnya ditemani oleh suaminya.


Flora akan duduk saat perutnya kembali mengalami kontraksi. Selama setengah jam itu juga Flora sudah bolak-balik ke kamar mandi untuk membuang air kecilnya.


Tanda-tanda jika dirinya akan melahirkan sudah terlihat. Jantung Flora pun makin berdegup kencang antara cemas, takut, dan bahagia.


Cemas?


Cemas karena rasa sakit yang makin terasa.


Takut?


Takut jika dirinya tidak kuat untuk melahirkan.


Bahagia?

__ADS_1


Bahagia karena sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu. Dan yang paling membuat Flora bahagia adalah suaminya yang selalu menemaninya.


__ADS_2