
Ada sesuatu yang mengganjal di hati Kenzo yang membuatnya merasa kesal. Kedekatan antara Felicia dan juga Dokter Reza membuatnya terkejut. Untuk pertama kalinya Kenzo melihat Felicia bisa sedekat itu dengan laki-laki selain dirinya.
Sudah sekitar sepuluh menit Kenzo menunggu Felicia di kamar. Dirinya sudah lelah menunggu atau lebih tepatnya kesal menunggu kedatangan Felicia.
"Apa yang sedang Felicia lakukan? Kenapa lama sekali," decak Kenzo.
Kenzo sudah tidak sabar lagi untuk menunggu. Ia pun memutuskan untuk menyusul Felicia saja.
"Lebih baik aku menyusulnya," gumam Kenzo.
Kakinya Kenzo turunkan dari atas tempat tidur lalu melangkah ke keluar kamarnya. Sepertinya Kenzo lupa akan sakit yang sedang ia alami, karena rasa kesal yang mendadak itu.
Keluar dari kamar Kenzo melangkah ke ruang tengah. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan sang istri. Sejauh matanya memandang Kenzo tidak melihat siapapun, kecuali asisten rumah tangganya yang melintas di dapur.
"Bibi," panggil Kenzo.
Asisten rumah tangganya berhenti melangkah, Kenzo pun berjalan menghampirinya.
"Bibi." Kenzo kembali memanggil asisten rumah tangganya.
"Ada apa, Pak?" tanya bibi dengan ramahnya.
"Felicia mana?" tanya Kenzo.
"Ibu tadi masih di teras depan, Pak," jawab Bibi.
"Di teras depan. Apa yang sedang dia lakukan di depan malam-malam begini?" tanya Kenzo.
"Ibu sedang mengobrol dengan temannya," jawab Bibi.
"Mengobrol?" Kenzo berucap untuk memastikan pendengarnya tidak salah.
"Iya, Pak. Saya baru saja membuatkan minum untuk bapak Reza," jelas bibi.
"Ck, aku suruh dia jangan lama-lama, tapi dia justru mengobrol dengan laki-laki itu," batin Kenzo.
Tanpa berpikir panjang lagi Kenzo meninggalkan dapur dan berjalan ke arah teras depan rumahnya. Sepanjang langkanya Kenzo tidak hentinya menggerutu. Semakin dekat dengan pintu utama Kenzo samar-samar mendengar suara tawa Felicia dan juga Reza.
Kerutan muncul di antara alis Kenzo melihat istrinya tertawa begitu lepas bersama teman laki-lakinya. Rasa penasaran muncul di dalam diri Kenzo.
"Apa yang mereka bicarakan hingga membuat mereka tertawa dengan begitu lepas di tengah malam seperti ini." Kenzo menggerutu di dalam hatinya saat dirinya tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh istrinya.
Kenzo tidak langsung menghampiri istrinya atau lebih tepatnya tidak berminat untuk bergabung dengan obrolan istri dan juga temannya. Ia memilih mengintip dari balik tirai saja.
"Jika bersamaku dia seperti singa betina yang sedang marah. Tapi lihatlah! Bersama pria lain dia bisa tertawa dengan begitu lepasnya," gerutu Kenzo.
Mata Kenzo melebar, rahangnya juga ikut mengeras saat melihat Reza lagi-lagi mengacak-acak rambut Felicia.
"Berani sekali dia," geram Kenzo.
Rasanya Kenzo ingin mematahkan tangan si Dokter itu yang sudah berani menyentuh istrinya. Tidak tahan melihat itu Kenzo memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya untuk menghampiri istrinya.
"Ehm." Kenzo berdehem untuk menghentikan tawa Felicia dan Reza.
Dua orang yang sedang mengobrol sembari tertawa itu mengalihkan perhatian mereka pada Kenzo.
__ADS_1
"Kenzo ... kenapa kamu keluar dari kamarmu?" Felicia menjauh dari Reza untuk menghampiri Kenzo.
"Kamu terlalu lama. Jadi aku mencarimu karena takut terjadi sesuatu denganmu," jawab Kenzo.
"Aku sedang mengobrol sebentar dengan Reza," ucap Felicia.
"Apa harus selama ini? Ingat angin malam tidak baik untukmu," ucap Kenzo. "Bagaimana jika kamu sakit? Itu tidak baik untuk anakku."
"Ck, jangan berlebihan," ucap Felicia.
"Jangan berlebihan bagaimana? Ayo cepat masuk." Kenzo memaksa Felicia untuk masuk ke dalam rumah dan menjauh dari laki-laki yang bernama Reza itu.
"Iya, sebentar lagi aku akan masuk ke dalam rumah," ucap Felicia.
"Permisi." Perkataan Reza menghentikan perdebatan yang sedang terjadi di antara Kenzo dan juga Felicia.
Felicia dan Kenzo diam lalu menoleh ke arah Reza bersamaan.
"Maafkan aku jika sudah mengganggu waktu kalian," sela Reza.
"Tidak masalah, Reza. Kamu datang ke sini karena aku yang memintanya," ucap Felicia.
"Terima kasih karena sudah memeriksa saya. Sekarang Anda bisa pulang," ucap Kenzo.
"Kenzo, jangan seperti itu." Felicia berbisik di dekat telinga Kenzo.
"Apa sih?" tanya Kenzo.
"Bicaralah yang benar," ujar Felicia.
"Tolong maafkan perkataan Kenzo." Felicia merasa tidak enak hati dengan perkataan yang Kenzo tunjukan untuk Reza.
"Tidak masalah. Aku memaklumi," ucap Reza.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Jaga kondisimu, dan juga suamimu," ucap Reza. "Dan sekali lagi selamat untuk kehamilanmu."
"Terima kasih, Reza," ucap Felicia.
"Terima kasih juga karena sudah repot-repot untuk datang ke sini," ucap Felicia.
"Repot-repot bagaimana? Itu memang sudah menjadi tugasnya." Kenzo terdengar kesal karena Felicia terus saja membela Reza.
"Sudah diam. Kamu sedang sakit, tapi masih bisa mengomel," ucap Felicia.
"Aku merasa baik-baik saja," kilah Kenzo.
"Kamu ...." Felicia merasa kehabisan kata-kata untuk menghadapi sikap Kenzo.
"Baiklah Felicia. Sampai jumpa," salam Reza.
"Sampai jumpa," balas Felicia.
Setelah Reza pergi dari rumah itu, Felicia menarik tangan Kenzo, membawanya masuk ke dalam rumah.
"Ayo kamu harus minum obat dan beristirahat," ucap Felicia.
__ADS_1
"Aku tidak sakit, kenapa harus minum obat," tolak Kenzo.
"Sudah diam." Felicia menarik Kenzo untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Felicia membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali setelah mereka berdua sudah masuk ke dalam satu kamar itu.
"Jadi apa kamu dan laki-laki itu sedekat itu." Kenzo menodong Felicia dengan pertanyaan saat mereka sampai di kamar mereka.
"Kami memang dekat, karena dia teman masa kecilku. Dia sudah seperti kakakku," jawab Felicia.
"Apa harus sedekat itu. Dia dengan seenaknya menyentuhmu! Dia bahkan tidak menghargaiku sebagai suamimu," protes Kenzo.
Felicia menangkap sesuatu yang aneh dari ucapan Kenzo. Jika memang benar apa yang dipikirkannya berarti Kenzo sedang merasa cemburu.
"Apa kamu sedang cemburu?" ledek Felicia.
Kenzo membeku seketika. Dirinya bingung harus menjawab apa. Karena Kenzo sendiri tidak tahu apakah rasa yang sedang dirinya rasakan adalah rasa cemburu. Dirinya hanya merasa tidak suka saat Felicia disentuh oleh laki-laki lain. Apakah itu dinamakan sebagai rasa cemburu?
"Ck, kenapa aku merasa menjadi orang bodoh sekarang." Kenzo menggerutu di dalam hatinya.
"Kenapa diam?" Felicia bertanya seraya menaik-turunkan kedua alisnya seolah sedang menggoda Kenzo.
"Sudahlah aku mau istirahat. Besok aku harus ke luar kota," ucap Kenzo.
Kenzo merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Felicia berdiri mematung seraya melihat ke arah suaminya yang tidur dengan membungkus dirinya dengan selimut.
"Kamu mau ke luar kota?" tanya Felicia.
Kenzo membuka selimut yang menutupi wajahnya. "Iya, ada pekerjaan penting."
Felicia mendadak kesal dan kecewa mendengar itu. Ia melangkah ke tempat Kenzo berada dan mendaratkan bokongnya di tepi tempat tidur tepat di sini Kenzo.
"Kenapa mendakak sekali." Wajah Felicia berubah murung. Ada rasa tidak rela jika Kenzo pergi jauh darinya.
"Aku tahunya juga mendadak." Kenzo bangun lalu mengambil posisi duduk.
"Tapi kamu 'kan lagi sakit." Felicia memutar otaknya, mencari cara untuk mencegah Kenzo pergi.
"Jika ini tidak penting, aku juga tidak akan pergi," ucap Kenzo.
Felicia kecewa berat.
"Berapa lama kamu di sana?" Felicia bertanya dengan wajah tertunduk.
"Sekitar satu atau dua minggu," jawab Kenzo.
"Kenapa selama itu." Felicia menatap Kenzo dengan mata yang berkaca-kaca.
Rasa sedih di dalam dirinya mendorong air matanya untuk keluar dari matanya.
"Kenapa kamu menangis?" Kenzo mengusap air mata yang mengalir di pipi Felicia. "Bukankah kamu akan merasa tenang jika tidak ada aku. Kamu tidak perlu bertengkar lagi denganku."
"Ck, Kenzo ...." Felicia masuk ke dalam pelukan Kenzo.
__ADS_1
"Aku pasti akan sangat merindukan itu." Felicia memeluk Kenzo dan terisak di pelukan suaminya.