
Pesawat pribadi yang Felicia tumpangi baru saja mengudara di langit yang sudah gelap. Felicia duduk di dekat jendela dan di samping suaminya. Sudah beberapa kali Felicia menguap, tetapi matanya masih tetap terjaga.
"Kamu tidak mengantuk?" tanya Kenzo.
Felicia menggelengkan kepalanya. "Aku belum mengantuk."
Felicia berucap tanpa menoleh ke arah suaminya. Ia lebih fokus pada pemandangan di luar pesawat.
"Apa yang sedang kamu lihat?" tanya Kenzo.
Felicia menoleh sekilas ke arah suaminya lalu kembali melihat ke luar pesawat.
"Aku sedang melihat pemandangan di bawah sana," ucap Felicia.
Kenzo yang merasa penasaran ikut melihat ke arah yang ditunjuk oleh Felicia, dirinya merasa penasaran dengan apa yang dilihat oleh Felicia.
"Bagus, 'kan? Kaya taburan bintang," ucap Felicia yang langsung diangguki oleh Kenzo.
"Jangan terlalu lama. Penerbangan kita akan lebih dari dua jam. Jadi kamu tidurlah." Kenzo kembali duduk pada posisi semula.
Felicia mengangguk lalu membenarkan posisi duduknya. Felicia langsung merangkul lengan Kenzo dan menyandarkan kepalanya di pundak Kenzo.
"Kenzo, boleh aku bertanya?" tanya Felicia.
"Apa?" tanya Kenzo.
"Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Felicia.
Lagi-lagi perkataan Felicia membuat hati Kenzo dalam kebimbangan. Kenzo tidak tahu harus bicara apa, dirinya seperti kehilangan arah. Kenzo masih sulit untuk mengartikan perasaanya pada Felicia. Hanya dia sendiri yang tahu.
"Kenapa diam? Apa aku sama sekali tidak menarik hingga membuat kamu tidak mencintaiku," ujar Felicia.
"Tidak, kamu nyaris sempurna," jawab Kenzo.
"Lalu apa yang membuatmu belum bisa menerimaku. Apa kamu masih belum bisa melupakan Vera. Jadi kamu belum bisa membuka hatimu untukku?" Felicia bertanya lagi.
"Jangan banyak bicara. Aku menyuruhmu untuk beristirahat. Bukan mengoceh seperti burung beo." Kenzo bermaksud mengalihkan pembicaraan dan Felicia juga menyadari itu.
"Aku hanya bertanya? Lagi pula aku sudah mengatakan sebelumnya, aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggumu sampai hatimu sendiri bisa menerima keberadaanku," ujar Felicia.
Kenzo mendaratkan kecupan di ujung kepala Felicia lalu menyenderkan kepalanya di atas kepala Felicia.
"Tidurlah, kita akan mencari waktu untuk membahas semua itu," ucap Kenzo.
"Ya sudah, kalau begitu. Aku pasti akan menunggu waktu itu," ucap Felicia.
Susana berubah hening. Kenzo masih setia menemani Felicia yang sudah mulai memejamkan matanya. Kenzo melambaikan telapak tangannya di depan wajah Felicia, memastikan jika istrinya sudah tertidur pulas.
Kenzo menarik tangannya perlahan, menjauhkannya dari Felicia agar tidak membangunkannya. Setelah itu Kenzo beranjak dari tempat duduknya untuk bergabung dengan Alan dan Nina. Mereka membahas tentang presentasi yang akan mereka tunjukkan di depan investor dan rekan bisnisnya yang lain.
__ADS_1
Setengah perjalanan Kenzo merasa dirinya sangat lelah. Kenzo undur diri lebih dulu dan menyerahkan urusan pekerjaan kepada Alan dan Nina.
"Kalian teruskan saja. Jika kalian juga merasa lelah hentikan saja. Kita bisa melanjutkannya nanti," ucap Kenzo.
"Baik, Pak." Alan dan Nina menyahut bersamaan.
Kenzo beranjak dari tempat itu dan kembali ke tempat duduknya semula. Matanya berpijar, senyumnya mengembang saat melihat Felicia tertidur dengan begitu tenangnya. Kenzo kembali duduk di samping istrinya dan ikut terlelap bersama wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya.
*****
Kenzo dan Felicia merasa diri mereka baru saja tertidur dan suara Alan berhasil mengusik tidur mereka.
"Bapak, Ibu, kita sudah sampai," ucap Alan.
Mata yang tadinya terpejam mulai membuka. Beberapa kali mereka mengedipkan matanya agar matanya bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di ruangan itu.
Mata Kenzo dan Felicia terbuka sempurna. Mereka juga tidak lagi merasakan pergerakan dari pesawat itu.
"Apa kita sudah sampai, Alan?" tanya Felicia.
"Sudah, Bu ," jawab Alan.
Kenzo merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku, begitu juga dengan Felicia.
"Ayo kita turun." Kenzo mengajak turun istri dan dua bawahnya.
"Aku ambil tasku dulu," ucap Felicia.
"Kamu yakin tidak ada yang tertinggal?" tanya Kenzo.
Felicia kembali memeriksa tasnya lalu menggelengkan kepalanya setelah memastikan tidak ada barang-barangnya yang tertinggal.
Kenzo membantu Felicia untuk bangun dari kursi. Tangannya kembali ia satukan dengan tangan Felicia seakan tidak ingin istrinya jauh dari dirinya.
"Awas hati-hati." Kenzo menutun Felicia saat akan menuruni anak tangga pesawat itu.
Kenzo bersikap lembut pada Felicia, ia tidak ingin istrinya sampai terluka sedikitpun. Hal itu membuat Felicia selalu berharap kepada Kenzo.
Kenzo berjalan keluar dari bandara masih dengan menuntun tangan Felicia. Di belakangnya ada dua bawahan yang setia menemani dirinya dan juga sang istri. Langkah mereka terhenti setelah sampai di samping mobil yang menjemput mereka.
"Silahkan masuk, Pak, Bu." Alan membuka pintu mobil mini bus yang siap mengantar mereka ke salah satu tempat peristirahatan yang sudah mereka pesan sebelumnya.
"Terima kasih, Alan," ucap Felicia.
Felicia dan Kenzo masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang paling belakang. Felicia masih merasa letih, ia kembali merangkul lengan Kenzo dan menyenderkan kepalanya di pundaknya. Posisi yang sangat nyaman membuat Flora kembali memejamkan matanya.
Mobil mini bus melaju meninggalkan area bandara setelah keempat orang itu masuk ke dalamnya. Posisi mereka ada di salah satu kota di pulau Sulawesi. Jarak dari bandara ke hotel tempat mereka akan menginap berkisar antara satu hingga dua jam. Hal itu membuat mereka kembali tertidur.
-
__ADS_1
-
Kenzo bangun dari tidurnya setelah merasakan mobil yang ia naiki berhenti bergerak. Tidak lama Alan dan Nina begitu juga Felicia bangun dari tidur mereka.
"Aku masih mengantuk," ucap Felicia.
"Ayo kita turun. Kamu bisa tidur dengan nyaman di kamar nanti," ucap Kenzo yang langsung diangguki oleh Felicia.
Hotel berbintang di tepi laut menjadi pilihan Kenzo untuk menginap. Kamar VIP juga sudah ia pilih untuk menghabiskan waktu bersama istrinya.
Kenzo, Felicia, dan Nina berada di kursi tunggu. Mereka menunggu Alan yang sedang mengambil kunci di resepsionis. Tidak lama Alan datang lalu memberikan kunci pada Kenzo dan Nina.
"Kalian istirahatlah. Besok kita harus bangun lebih awal. Banyak yang harus kita persiapkan," perintah Kenzo.
"Baik, Pak." Alan dan Nina menyahut bersamaan.
"Kami permisi." Alan berucap untuk mewakili Nina.
Alan dan Nina membungkukkan tubuh mereka sebelum pergi ke kamar mereka masing-masing. Kenzo dan Felicia juga melangkah menuju kamar mereka sendiri. Tangan Felicia masih betah merangkul lengan suaminya. Ia merasa lengan suaminya adalah tempat yang paling nyaman.
Keduanya masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke kamar yang akan mereka tempati. Lift berdengting saat mereka sampai di lantai 8. Setelah pintu lift terbuka Kenzo dan Felicia keluar dari dalamnya.
Mereka berdua masih harus melangkah menyusuri lorong-lorong di lantai delapan itu untuk sampai ke kamar yang akan mereka tempati. Mereka mengobrol di sepanjang perjalanan mereka ke kamar. Felicia lah yang mendominasi obrolan itu. Tidak jarang juga mereka tertawa di sela obrolan.
"Hei, buka matamu. Apa kamu mau tidur sambil berjalan seperti ini?" ujar Kenzo.
"Aku masih sangat mengantuk," keluh Felicia.
"Kamu pikir hanya kamu saja yang masih mengantuk. Aku juga merasakan hal yang sama," ujar Kenzo.
"Kamu sangat manis kalau sedang marah," goda Felicia.
"Sejak kapan kamu jadi suka menggoda orang?" tanya Kenzo.
"Bukan aku yang menggodamu. Tapi anak kita yang ingin menggodamu," kilah Felicia.
"Selain kamu suka menggoda, kamu juga pintar berbohong. Aku tidak mau jika anakku nanti seperti itu," ucap Kenzo diikuti tawa kecilnya. Felicia juga ikut tertawa, ia senang melihat senyum di bibir suaminya.
"Sebentar lagi kita sampai di kamar. Kamu bisa tidur sepuasmu," ucap Kenzo.
Mereka kembali fokus pada jalan yang sedang mereka lalui. Tinggal satu belokan saja maka mereka akan tiba di kamar yang akan mereka tempati. Namun, tiba-tiba saja langkah mereka terhenti saat dua orang yang sangat mereka kenali dan tidak ingin mereka temui muncul di hadapan mereka.
"Oh hai, Tuan dan Nyonya Kenzo. Kalian baru tiba?" tanya Wibowo.
Sebenarnya Kenzo dan Felicia merasa malas untuk membalas sapaan Wibowo, tetapi demi harga diri mereka mau membahasnya.
"Ya, kami baru saja sampai. Ada banyak sekali hal yang harus kami urus sebelum datang ke sini," jawab Kenzo.
Felicia yang berdiri di samping suaminya merasa sesak saat Vera terus saja melihat ke arah Kenzo. Felicia tidak suka melihat itu, ia merasa hari-harinya di tempat itu tidak akan seindah yang ia bayangkan saat masa lalu dari suaminya berada di tempat yang sama dengannya.
__ADS_1
"Sayang, bisa kita pergi ke kamar sekarang? Aku merasa sangat lelah," pinta Felicia.
"Tentu saja." Kenzo menarik tangannya dari Felicia memindahkannya ke pinggang Felicia. "Ayo kita pergi."