Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 230


__ADS_3

Kenzo sangat marah setelah mendengar pengakuan Reza. Ternyata Reza menaruh hati pada Felicia. Kenzo sangat menyesal, harusnya dari awal dirinya sadar mengenai hal itu.


"Dasar tidak tahu diri!" maki Kenzo.


Kenzo masih mencengkram kerah kemeja Reza, matanya juga menatapnya penuh kemarahan.


"Aku rasa kamu sudah gila!" Kenzo kembali memaki Reza.


"Ya, aku memang gila! Gila karena istrimu! Harusnya aku yang menikah dengan dia, bukan pria sepertimu!" Reza yang biasanya tenang berubah seperti seorang penjahat. Kenzo merasa tidak percaya saat melihat kelicikan di mata Reza.


"Tutup mulutmu!" tekan Kenzo.


"Aku akan melakukan apapun untuk memisahkanmu dengan Felicia," ucap Reza diikuti tawa liciknya.


"Sebaiknya jangan mengkhayal terlalu tinggi! Jangan pernah berharap kamu bisa menyingkirkan aku dari hidup Felicia! Karena aku tidak akan pernah membiarkan itu," tegas Kenzo.


"Sekarang pergi dari sini! Aku sudah menangkap anak buahmu. Aku hanya tinggal menunggu sebentar lagi untuk menjebloskan dirimu ke dalam penjara." Kenzo menekan ucapannya, tetapi tidak membuat Reza merasa takut.


"Silahkan, jika kamu bisa!" tantang Reza.


Kenzo dan Reza saling menatap. Keduanya beradu tatapan yang dipenuhi oleh kebencian untuk satu sama lain.


"Reza, ini minumnya." Felicia berucap seraya melangkah.


Kenzo melepaskan cengkraman tangannya dari Reza saat mendengar suara Felicia. Ia tidak mau sampai Felicia tahu apa yang sedang terjadi di antara dirinya dan Reza. Kenzo tidak ingin melibatkan Felicia.


"Silahkan, ini minumnya. Milk shake strawberry kesukaan suamiku dan jus mangga kesukaan sahabatku." Felicia membungkukkan tubuhnya, ia menaruh minuman yang ia buat ke meja.


Felicia mendongak, matanya menyipit saat melihat raut kesal suaminya.


"Ada apa? Kenapa sepertinya aku melihat ada ketegangan di sini?" tanya Felicia.


Kenzo melengos, ia malas untuk menjawabnya.


"Seperti biasa, suamimu mungkin cemburu padaku," jawab Reza.


"Kamu manis sekali jika sedang merasa cemburu, Suamiku," ledek Felicia membuat Kenzo mendengkus kesal.


"Feli, boleh aku minum jus mangga ini?" tanya Reza.


"Silah—" Sebelum Felicia menyelesaikan kalimatnya, Kenzo lebih dulu memotongnya.


"Cepat minum, dan pergi dari sini!" Kenzo kembali menatap Reza dengan tajam.


"Sayang, jangan seperti itu," ucap Felicia.


"Terus saja membelanya." Kenzo beranjak dari sofa dan melangkah meninggalkan ruang tengah. Kenzo terus melangkah, bahkan sampai tidak mempedulikan Felicia yang terus memanggilnya.


"Sayang, tunggu! Ck, ada apa dengan dia." Felicia berdecak saat Kenzo tidak mendengar panggilannya.

__ADS_1


"Reza, tolong maafkan sikap Kenzo," pinta Felicia.


"Tidak, aku yang harusnya minta maaf padamu. Dia seperti ini karena aku." Reza menaruh kembali gelas di tangannya ke atas meja.


"Baiklah, aku harus pergi. Terima kasih untuk jus mangganya," ucap Reza yang langsung dianggukki oleh Felicia.


"Ayo, aku akan mengantarmu sampai teras," ucap Felicia.


"Tidak perlu," tolak Reza. "Sebaiknya kamu kejar suamimu," ucap Reza.


"Tidak apa-apa. Aku akan bicara dengannya setelah mengantarmu," ucap Felicia.


"Baiklah kalau begitu." Reza beranjak dari sofa. Ia dan Felicia melangkah bersama menuju teras.


"Hati-hati di jalan. Dan terima kasih sudah mau datang ke sini," ucap Felicia.


"Tidak masalah, ini juga sudah menjadi tugasku. Jangan sungkan untuk memanggilku jika kamu butuh bantuanku," ucap Reza.


"Sekali lagi terima kasih," ucap Felicia.


"Baiklah, aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik," ucap Reza yang langsung dianggukki oleh Felicia.


Sebelum Reza pergi, pria itu mencium kening Felicia. Hal itu membuat Felicia merasa terkejut. Selama dirinya dekat dengan Reza pria itu tidak pernah sekalipun melakukan itu.


Felicia kembali masuk ke rumah setelah Reza pergi. Ia segera masuk ke kamarnya untuk menemui Kenzo. Felicia membuka pintu kamar dan melihat Kenzo sedang berdiri membelakanginya.


Felicia melangkah dengan senyumnya ke tempat Kenzo. Ia berniat membujuk Kenzo, tetapi langkahnya terhenti, senyum yang sempat ada di bibirnya juga meredup saat melihat Kenzo berbalik dengan menunjukkan kemarahan.


"Kenapa kamu membiarkan pria lain menyentuhmu!" Kenzo mencengkram pundak Felicia, membuat Felicia meringis karena sakit.


"A-pa mak-sudmu?" Felicia menjadi gagap karena kemarahan yang ia lihat di mata Kenzo.


"Kenapa kamu mau dicium oleh Reza, Felicia?" Nada bicara Kenzo terdengar sangat marah.


"Ka-mu me-lihatnya?" gagap Felicia.


"Tentu saja aku melihatnya! Aku punya mata, Felicia!" bentak Kenzo.


"Maafkan aku, Kenzo. Aku sungguh tidak menduganya, aku tidak menduga dia akan mencium keningku. Dia tiba-tiba melakukannya membuat aku tidak bisa mengelak," jelas Felicia.


"Kenzo, tolong maafkan aku." Felicia bicara dengan wajahnya yang tertunduk, ia tidak sanggup melihat api kemarahan di mata Kenzo.


Kenzo memejamkan matanya erat-erat, ia mencoba menahan emosinya. Kenzo berbalik, ia kembali berdiri membelakangi Felicia. Telapak tangannya mengepal lalu meninju tembok di sampingnya untuk melampiaskan kemarahannya.


"Kenzo, tolong percaya padaku! Jika aku tahu dia akan menciumku, aku pasti akan menolaknya." Mata Felicia sudah dipenuhi oleh air mata.


Kenzo masih belum mau menatap Felicia, kemarahan dan rasa cemburunya masih menguasai dirinya.


"Tolong percayalah!" Felicia mulai terisak.

__ADS_1


"Kenzo ...." Felicia semakin terisak saat Kenzo tidak mau melihatnya.


Telapak tangan Kenzo masih mengepal erat, amarah di dalam dirinya juga belum mereda. Namun, air mata Felicia melemahkan dirinya.


Kenzo menarik napasnya dalam-dalam, meredam emosi yang menguasai dirinya. Semarah apapun Kenzo pada Felicia, air mata Felicia adalah kelemahannya.


"Feli ...." Kenzo membalik tubuhnya, tangannya menangkup kedua sisi wajah Felicia, mengusap air mata yang ada di wajah istrinya itu.


"Apa aku salah jika aku marah dan cemburu, saat ada laki-laki lain yang menyentuhmu?" tanya Kenzo.


"Tidak." Felicia menggelengkan kepalanya dengan wajah yang masih menunduk.


Felicia mendongakkan wajahnya, menatap wajah Kenzo secara langsung. "Tapi percayalah, aku tidak memiliki perasaan apapun pada Reza. Aku menganggapnya sebagai sahabat dan juga kakakku. Itu saja."


"Aku percaya, tapi aku tidak percaya pada pria itu," ucap Kenzo.


"Meskipun kamu menganggapnya seperti kakak, tetap saja dia adalah orang lain," lanjut Kenzo.


"Mengertilah, Feli. Aku ini suamimu, aku merasa kesal dan cemburu jika ada pria lain yang menyentuhmu," ucap Kenzo.


"Iya, ini memang salahku. Maafkan aku," pinta Felicia.


"Maafkan aku juga karena sudah membentakmu tadi." Kenzo mengecup kening Felicia, setelah itu menariknya ke dalam pelukannya.


"Kamu sangat menyeramkan saat marah." Felicia berucap di sela isak tangisnya.


"Itu karena aku tidak rela ada laki-laki lain yang menyentuhmu," ucap Kenzo.


"Tapi aku suka saat melihat kamu cemburu." Felicia sedikit menjauhkan kepalanya, agar bisa melihat wajah suaminya secara langsung.


"Kenapa?" Kening mengernyit.


"Itu artinya kamu sangat mencintaiku," ledek Felicia.


"Aku memang sangat mencintaimu. Apa aku salah jika aku mencintai istriku sendiri?" Kenzo memasang wajah kesal.


"Tidak, Sayangku." Felicia kembali menempelkan kepalanya di dada suaminya.


"Aku juga sangat mencintaimu, Suamiku." Felicia berucap dengan mata yang terpejam.


Hening mengambil alih suasana di antara mereka. Mulut keduanya tidak mengeluarkan kata-kata, membiarkan perasaan mereka yang bicara.


"Feli," panggil Kenzo.


"Hmm, ada apa?" tanya Felicia.


"Berjanjilah untuk menjaga jarak dari Reza," pinta Kenzo.


Felicia diam, ia tidak langsung merespon perkataan Kenzo. Felicia menarik diri dari pelukan itu, tangannya meraih kedua tangan Kenzo lalu menggenggamnya. "Aku berjanji padamu."

__ADS_1


__ADS_2