
“Jadi istri saya beneran hamil, Dok?” tanya Gio.
“Menurut hasil lab dan tes dengan alat tes kehamilan memang membuktikan jika istri Anda benar-benar hamil. Usianya kira-kira baru memasuki Minggu ke 5,” terang Dokter Marisa.
“Jadi saya beneran nyidam?” tanya Gio lagi.
“Sepertinya begitu,” jawab Dokter Marisa.
“Bagaimana bisa, istri saya yang hamil dan saya yang ngidam,” tanya Gio lagi.
“Apa di dunia medis ada hal semacam itu,” gerutu Gio.
“Ya ampun, kamu sedang lemas begini tapi masih cerewet juga,” ejek Mariana.
Semua orang tertawa kecil mendengar ejekan yang dilontarkan Mariana terhadap Gio.
“Bisa saja. Banyak orang yang mengatakan jika istrinya yang hamil tapi suaminya yang mengidam itu tandanya suaminya sangat mencintai istrinya,” terang Dokter Marisa.
“Berapa lama suami saya akan seperti ini, Dok?” tanya Flora.
“Mungkin selama 3 bulan atau juga bisa lebih,” jawab Dokter Marisa.
“Apa? Selama itu?” Gio memegangi kepalanya yang mendadak terasa berat. “Apa aku harus berhenti mencintai istriku agar aku berhenti mengidam,” keluh Gio.
“Berhentilah bersikap konyol seperti itu, Gio.” Mariana menoyor kepala Gio.
“Bukan aku yang konyol, tapi Dokter itu. Dia bilang aku terlalu mencintai istriku makanya aku seperti ini,” ucap Gio.
“Tidak apa-apa kamu seperti ini. Coba bayangkan jika Flora yang mengalami ini, kamu tidak kasihan padanya,” ucap Mariana.
“Iya, tante,” sahut Gio.
“Yang ikhlas, kamu jangan mau ngerasain enaknya saja,” ledek Mariana lagi.
Tawa semua orang meledak di dalam ruangan itu.
“Baiklah, Ibu Flora,” panggil Dokter Mariana. “Saya sudah tulisan beberapa vitamin untuk Anda. Nanti minta seseorang untuk menebusnya.”
Flora menerima kertas bertuliskan beberapa vitamin untuk dirinya. “Terima kasih, Dok.”
“Biar aku yang menebusnya.” Daniel mengambil alih kertas resep yang dituliskan oleh Dokter Marisa.
“Baiklah, saya permisi dulu,” pamit Dokter Marisa.
Dokter Marisa keluar bersama perawat dan juga Daniel yang akan menembus vitamin untuk Flora.
“Syukurlah, semua baik-baik saja,” ucap Seruni.
“Gio, kamu sudah tahu jika istri kamu hamil. Jaga dia baik-baik,” pesan Mariana.
“Bagaimana mau jaga Flora, Tante? Aku lagi begini.” Gio menunjukkan jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya.
“Alasan saja. Kamu harus usaha dong, bagaimana caranya untuk jagain istri kamu sama calon anak kamu,” ucap Mariana.
“Iya, Tanteku sayang,” ucap Gio.
“Dasar anak nakal,” ejek Mariana.
Seruni dan Flora yang melihat itu hanya mampu menggeleng dan tersenyum tipis.
“Ibu, Tante ... kalian pulang saja. Aku yang akan menjaga Gio di sini,” suruh Flora.
“Apa kamu bisa sendirian saja?” tanya Seruni.
“Bisa, Bu. Lagi pula Gio tidak sakit, hanya sedang ngidam,” ucap Flora.
__ADS_1
“Baiklah, tapi jika terjadi sesuatu kamu harus langsung kabari kami,” ucap Seruni.
“Baik, Bu,” ucap Flora.
Seruni dan Mariana masih duduk di ruang rawat inap Gio, meraka menunggu Daniel dan setelah itu baru mereka akan pulang.
Tidak berselang lama, Daniel kembali dengan membawa vitamin untuk Flora.
“Ini vitamin kamu.” Daniel memberikan kantong plastik berisikan beberapa vitamin untuk Flora.
“Terima kasih, Daniel,” ucap Flora.
“Sama-sama,” balas Daniel.
“Sudah sana pulang,” usir Gio.
“Kalau aku gak mau pulang, bagaimana?” ledek Daniel.
“Daniel,” seru Flora, Mariana, dan Seruni secara bersamaan.
“Kamu jangan terus menggoda kakak kamu. Kasihan dia,” ucap Mariana. “Biasanya orang lagi ngidam itu perasaanya sensitif sekali,” lanjut Mariana.
Gio mendengkus kesal, ucapan Mariana terdengar seperti sebuah ledekan di telinganya.
“Baiklah kami pulang dulu. Jaga kondisi kalian baik-baik,” pesan Seruni.
Flora mengangguk, “Baik, Bu.”
Flora mengantar Daniel, Seruni, serta Mariana ke luar kamar rawat inap suaminya. Setelah mereka semua pulang, Flora kembali masuk ke dalam ruangan inap.
“Sudah merasa lebih baik?” tanya Flora.
Flora melangkah ke tempat suaminya terbaring.
“Masih sedikit lemas,” jawab Gio.
“Ck, kamu ini,” decak Flora.
“Aku nyuruh mereka pulang karena aku gak mau mereka tahu apa yang kamu lakukan padaku jika kamu mau tidur. Malu kalau sampai mereka tahu,” ucap Flora.
“Tidur sini.” Gio menepuk sisi sampingnya.
“Sempit,” ucap Flora.
“Bagus dong, jadi kita bisa deket-deketan terus,” ucap Gio.
“Cari kesempatan dalam kesempitan ya.” Flora menarik hidung Gio karena merasa gemas.
Flora duduk di tepi ranjang, tangannya bergerak mengusap kening suaminya, matanya memperhatikan wajah suaminya yang terlihat pucat.
“Kenapa? Kenapa memandangku seperti itu?” tanya Gio.
Kedua manik mata Gio dan Flora saling memandang satu sama lain. Ada perasaan dalam diri suami itu yang mereka ungkapan dalam tatapan itu.
“Aku hamil,” ucap Flora lirih. “Kamu tahu gak sih, aku bahagia banget saat tadi aku lihat dua garis merah itu,” ungkap Flora.
“Rasanya gak percaya banget, secepat ini aku diberikan kepercayaan untuk menjadi calon ibu,” lanjut Flora.
Flora kembali menatap Gio, tetapi kini Flora menatap Gio dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Tidurlah, Sayangku. Jika kamu duduk terus aku tidak bisa memelukmu,” ujar Gio.
Flora tertawa kecil, suaminya selalu saja tidak bisa di ajak serius.
“Baiklah.” Flora merebahkan tubuhnya di samping suaminya.
__ADS_1
Setelah Flora merebahkan tubuhnya, Gio menelusupkan wajahnya ke perpotongan leher istrinya, menghirup bau tubuh istrinya seperti biasanya. Tangannya bergerak untuk mengusap perut istrinya.
“Aku bahkan sangat bahagia saat mendengarnya, sampai aku tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan rasa bahagia itu,” ucap Flora.
“Terima kasih untuk kebahagiaan ini, Sayangku,” lanjut Gio.
Flora pun mengangguk, “Terima kasih untukmu juga.”
“Aku baru ingat keanehan-keanehan yang terjadi sama kamu ataupun aku sendiri belakangan ini,” ucap Flora. “Aku tidak menyadari itu tanda-tanda jika aku sedang hamil.”
“Memang apa?” tanya Gio.
“Kamu belakang ini jadi sering makan, minta yang aneh-aneh, manja, dan seperti anak kecil,” ungkap Flora.
“Dan aku ....” Flora berpikir sejenak, ia berpikir kembali apa saja keanehan yang terjadi pada dirinya. “Kamu tahu Gio? Sebelumnya aku sama sekali tidak suka jus jeruk, tapi belakangan ini aku sering menginginkannya,” ucap Flora.
“Dan aku yang merasakan mualnya,” imbuh Gio.
Flora dan Gio tertawa bersama-sama.
“Apa ngidam sangat menyiksa seperti ini?” tanya Gio.
Flora mengangguk, “Iya, bahkan ada yang lebih parah dari ini. Kamu masih mending, masih bisa marah-marah.”
Gio menggigit leher Flora saat mendengar ejekan perempuan berstatus istrinya.
“Berhentilah mengejekku, apa kamu tidak merasa kasihan padaku yang sedang seperti ini,” rengek Gio.
“Baiklah, maafkan aku. Aku senang sekali jika menggodamu,” ucap Flora.
“Aku akan menghabisimu jika kamu berani meledekku lagi,” ancam Gio dan Flora hanya meresponnya dengan senyuman tipis.
“Sayangku, aku ingin makan sesuatu?” ucap Gio.
“Apa yang ingin kamu makan?” tanya Flora.
“Kamu,” seloroh Gio.
Mata Flora terbelalak saat mendengar permintaan suaminya. Flora pun langsung memberikan cubitan diperut Gio.
“Awww!” pekik Gio. “Ini sakit,” rengek Gio.
“Keadaan kamu yang sedang seperti ini, tapi kamu masih saja berpikiran mesum,” ucap Flora.
Flora ingin beranjak dari tempat tidur, tetapi Gio langsung melingkarkan tangannya ke perut Flora untuk mencegah istrinya itu pergi.
“Jangan pergi. Aku tidak bisa tidur jika tidak memeluk dirimu,” ucap Gio.
Flora pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk beranjak dari tempat tidur.
“Baiklah, aku tidak akan pergi,” ucap Flora.
Gio langsung menarik napas lega.
“Kapan kita akan pulang?” tanya Gio.
“Sampai kondisimu membaik,” jawab Flora.
“Besok saja kita pulang ya,” pinta Gio.
“Tapi bagaimana dengan kondisimu nanti?” tolak Flora.
“Aku masih bisa menahan rasa mual ini, tapi aku tidak bisa menahan untuk tidak menyentuhmu,” ucap Gio.
Flora memutar bola matanya karena merasa jengah dengan perkataan suaminya.
__ADS_1
“Ya ampun, Suamiku.” Flora menggelengkan kepalanya seraya menyunggingkan senyumnya.